.. Tingkatan kultivasi
Tingkat Dasar
Tingkat Perak
Tingkat Emas
Tingkat Bumi
Tingkat Langit
Tingkat suci
Tingkat Dewa
Tingkat Surgawi
Masing-masing terbagi menjadi empat tahapan.
Tahap Awal, tahap menengah, tahap atas atau tahap tinggi dan tahap puncak.
Tingkat kultivasi Ye Chen masih berada di tingkat dasar menengah.
Di tahap ini, seorang kultivator hanya bisa membuka sedikit Dantian, umumnya kultivator akan lebih fokus berlatih jurus-jurus saja.
Ye Chen yang berada di tingkat dasar tahap menengah sanggup menghabisi lawan yang berada di tingkat Perak tahap Awal yang belum stabil atau baru saja menerobos.
Jika sudah stabil, akan sangat sulit untuk bisa dikalahkan.
.. Tingkatan Alkemis
Tingkat Pemula
Hanya bisa meracik tanaman herbal dengan cara menghaluskan, merebus dan membuat pil sederhana dengan efektifitas di bawah Lima puluh persen
Ye Chen saat ini baru di tahap pemula
Tingkat Rendah
Membuat pil dengan efektifitas di bawah enam puluh persen
Tingkat Menengah
Membuat pil dengan efektifitas di bawah tujuh puluh persen
Tingkat tinggi
Membuat pil dengan efektifitas di bawah delapan puluh persen
Tingkat Ahli
Membuat pil dengan efektifitas di bawah sembilan puluh persen
Tingkat Suci
Membuat pil dengan efektifitas di bawah seratus persen
Tingkat Alkemis ini hanya sebagai patokan yang biasanya dipakai atau diketahui secara umum tapi bagi seorang Alkemis sejati, ini bukanlah patokan.
Seperti halnya Ye Chen, meskipun masih berada di tahap pemula namun berkat pengetahuan dan kecerdasannya, Ia mampu membuat pil sederhana atau rebusan tanaman herbal dengan efektifitas di atas lima puluh persen.
Mungkin hanya Ye Chen saja yang bisa mencapai tahap ini di bidang Alkemis, metode pembuatan pil dengan memasang aray adalah hal yang terbilang baru.
Jika ditanya apakah ada Alkemis yang menguasai tehnik formasi, jawabannya adalah hampir mustahil.
Menekuni Alkemis saja sudah membutuhkan waktu yang tidak sedikit, bisa dikatakan seumur hidup belum tentu bisa mencapai tingkat yang di inginkan. Mana mungkin ada waktu lagi untuk belajar formasi.
Saat ini di seluruh benua, tak ada lagi kultivator yang lebih tinggi dari tingkat Langit tahap awal. Inipun bisa di hitung dengan jari, biasanya hanya pelindun atau leluhur kekaisaran yang berada di tahap ini.
Tingkat Surgawi dan tingkat Dewa di sebut hanya ada dalam mitos.
Di bidang Alkemis, paling hebat hanya berada di tingkat tinggi.
...
Berada di tingkat dasar kultivasi membuat Ye Chen sangat bersemangat untuk mulai berkultivasi. Setelah meracik pil kultivasi, Ia lalu masuk ke dimensi Batu Jajar.
"Hais tetap tidak bisa ke tingkat Perak., apakah kultivasiku macet lagi..?" gumam Ye Chen terlihat bingung bercampur sedih.
"Sepertinya ada yang salah dengan diriku, tapi apa..? aku ingat mulai bisa berkultivasi saat membaca kitab guru, tunggu... apa ada yang aku lewatkan..?" gumam Ye Chen kembali sambil berpikir berusaha mengingat kembali setiap kata dalam kitab.
Tidak menemukan apa yang terlupa, Ye Chen akhirnya menyerah.
Lebih baik melanjutkan belajar formasi dan Alkemis, pikirnya.
Begitulah, Ye Chen kini tidak lagi terlalu memaksa berkultivasi untuk naik tingkat.
Saat ini Ia telah berada ditahap puncak tingkat dasar.
...
Beberapa bulan berlalu, Ye Chen berniat turun menemui Song Yi, berharap Song Yi yang pergi membeli keperluan mereka telah kembali.
Sesampainya di bawah, Ye Chen sangat terkejut, kaki bukit yang dulunya terlihat sepi kini tampak ramai.
Rumah-rumah berjajar rapih meskipun masih sangat sederhana, bahkan rumah Song Yi sudah tak dapat Ia kenali lagi yang mana
cukup bagus penataan tempat ini, kakek Song Yi ini benar-benar dapat di andalkan. pikir Ye Chen
"Eh ada rumah makan juga.. mari kita coba, semoga ada yang enak." Ye Chen memasuki rumah makan dengan langkah besar.
"Bibi, aku lapar bolehkah aku meminta makan?" ucap Ye Chen kepada seorang ibu yang berdiri di sana.
Semua koinnya dibawa Song Yi, tak mungkin Ia bisa membeli sesuatu, jadi Ia hanya bisa meminta.
Memandang sebentar lalu berkata sambil tersenyum.
"Tuan muda silahkan duduk dulu, aku akan menyiapkan hidangannya."
"Wah masakan bibi sangat enak, terima kasih.. terima kasih." Ye Chen memuji masakan pemilik rumah makan yang memang enak, kemudian menanyakan dari mana Ia berasal.
Wanita pemilik rumah makan kemudian menceritakan asal usulnya.
Menurut ceritanya, Ia berasal dari benua Barat. Sebelumnya memang Ia mengelola rumah makan yang cukup besar di sana.
Ia kesini bersama anaknya mengikuti rombongan pengungsi yang lain, berniat ke benua Timur.
Belum sampai di tujuan, Ia bertemu dengan rombongan pengungsi dari benua Timur yang hendak ke desa Ye.
Lalu tanpa pertimbangan lagi, rombongannya kemudian berbalik arah lagi.
Di desa Ye ini tak banyak yang bisa dilakukan, tapi masih bisa bersyukur, paling tidak keadaan di sini aman, tak perampok atau pemburu budak.
Untuk bertahan hidup, para pengungsi berburu apa saja yang bisa diambil di hutan lalu ditukar dengan benda lain.
Ada yang menukar tanaman herbal dengan daging buruan dan ada juga yang membeli dengan koin.
Pemilik rumah makan lalu melanjutkan ceritanya. Ia sendiri tidak bisa berburu dan karena sebelumnya pernah mengelola rumah makan, maka di sini iapun membangun rumah makan.
Hasil buruan yang di bawa kesini biasanya ditukar dengan makanan, jadi Ia memasakkan buruan para pemburu dengan bayaran memasakkan makanan untuk mereka.
Kadang juga Ia menukarnya dengan pil herbal.
Koin di desa Ye ini tidaklah terlalu penting, asalkan bisa hidup tenang saja sudah cukup.
Pemilik rumah makan mengakhiri ceritanya.
"Hmm.. Entah siapa yang di sebut Ye itu, kabar yang aku dengar dari pengungsi yang lebih dulu di sini, Ia masih berusia muda.
Semoga Ia diberkahi umur panjang." Lanjut pemilik warung.
"Oh ya tuan, apakah anda mengenal tuan Ye? kabarnya Ia tinggal di bukit Ye di atas sana." Tanya pemilik warung.
"Bibi, dari manakah bibi mendapatkan pil untuk ditukar dengan hasil buruan..? Tanya Ye Chen tanpa menjawab pertanyaan pemilik warung makan sebelumnya.
Ia tertarik ada yang bisa membuat pil di desanya, yeah dibilang ini adalah desanya.
Mendengar ini Ia menjawab bahwa anaknyalah yang membuatnya, anaknya ini seorang Alkemis tingkat pemula.
"Oh baiklah.. Bibi, karena aku tak bisa membayar dengan koin, aku akan membayar dengan menukarnya sesuatu.
Ye Chen mengambil beberapa pil kultivasi dan sedikit tanaman herbal.
"Bibi.. ini untukmu. Oh ya apakah Bibi kenal dengan kakek Song? atau apakah Bibi tau dimana tempat tinggalnya..?"
"Tentu saja aku mengenalnya, dialah yang menerima kami semua di sini. Tapi rumahnya yang sekarang sudah dipindah dan dibangun using, bahkan Ia sendiri jika pulang nanti pasti tidak akan tau rumahnya sendiri." Jawab pemilik warung sambil tersenyum.
"Heh kakek tua ini, rumahnya bahkan lebih besar dan bagus dari rumahku... ah itu bukanlah rumah melainkan pondok." gumam Ye Chen sambil melihat kearah bukit tempatnya tinggal.
"Hei berhentii di situ..!!
Belum memasuki halaman rumah, Ye Chen mendengar suara teriakan menyuruh nya berhenti.
"Eh.. yang kau maksud aku? Tanya Ye Chen.
"Tentu saja, lalu siapa lagi" dua orang pria terlihat menghadang Ye Chen.
"Aku hanya ingin bertemu kakek Song, apakah dia sudah kembali? Tanya Ye Chen.
" Ketua Song memang sudah datang, tapi beliau sedang beristirahat, tidak boleh diganggu." Jawab satu pria tersebut.
"Heh pengungsi gembel, biar aku ingatkan kepadamu dan buka telingamu lebar-lebar. Meskipun desa ini menerimamu di sini tapi kau tidak bisa seenaknya, kau kira siapa kau ini berani bertemu ketua Song." Ucap pria yang lain yang disetujui rekannya.
"Oo kakek tua rupanya telah menjadi ketua sekarang, hebaat hebat."
Merasa diacuhkan, salah satu pria tanpa peringatan tiba-tiba saja melayangkan pukulan ke arah Ye Chen.
Tak mau menerima pukulan begitu saja, Ye Chen melompat mundur.
"Hayo bantu aku, kita patahkan kaki gembel pengungsi ini. " teriak pria yang memukul Ye Chen kepada temannya.
"Ingin mematahkan kakiku? hahaha baiklah kita main patah-patah. Ucap Ye Chen.
Ini bisa jadi bahan latihan, pikir Ye Chen. Selama ini Ia hanya berlatih sendiri dan melawan hewan buas tidak pernah bertempur dengan manusia.
" Jurus sampah begini mau mematahkan kakiku..? bangunlah, tidurmu terlalu nyenyak." Ucap Ye Chen.
Sejak awal sebetulnya Ye Chen ingin melihat jurus apa yang dikeluarkan dua pria didepannya.
Tapi melihat begitu melihat jurus yang mereka keluarkan, Ye Chen sedikit kecewa.
Ye Chen kemudian tersenyum dan mulai menyerang, pukulan dan tendangan kemudian bersarang di tubuh dua mereka.
Merasa tak sanggup lagi melawan, dua pria ini berlutut memohon ampun.
Tapi Ye Chen tidak mendengar mereka dan terus memukul.
Krakk.. Krakk
"Aaaaahh...!!" Suara teriakan terdengar keras.
"Eh kenapa berteriak? sini berikan lagi sebelah kaki kalian." Ucap Ye Chen tersenyum, berjalan menghampiri kedua pria tersebut yang duduk sambil berusaha bergerak mundur.
Ye Chen tidak buru-buru, hanya berjalan santai mendekati mereka.
Kraak..
Suara tulang yang patah kembali terdengar.
"Berhentii..!! sebuah tendangan bersarang di dada Ye Chen bahkan sebelum gema teriakan hilang.
Bukk...
Ye Chen terdorong mundur dua langkah sambil menhusap dadanya.
Di depannya kini berdiri tiga pria dengan tatapan yang penuh nafsu membunuh.
Satu pria tingkat Perak tahap menengah dan dua tingkat Perak tahap Awal.
Ye Chen yang saat ini berada di tinkat Dasar tahap puncak sudah bisa mengalahkan tingkat Perak tahap awal dengan sedikit usaha.
Tapi tingkat Perak tahap menengah, ini cukup berat.
Perbedaan antar tingkatan dalam kultivasi ini sangat jauh, berbeda jika dalam tingkatan yang sama, perbedaan setiap tahapannya tidaklah terpaut jauh.
"Ini akan berat.." ucapnya dalam hati.
Tersenyum, Ye Chen mengambil langkah pertama menyerang pria yang berada di tahap menengah. Sebuah tendangan lurus mengincar perut, tapi hanya ditepis ringan.
Gerakan tepisan ini sudah di prediksi Ye Chen, tendangannya lalu berubah arah ke pria yang berdiri paling dekat dengannya.
Belum siap menerima serangan, pria ini terlihat pasrah menerima tendangan tapi pria yang lain menahan tendangan Ye Chen.
"Fokuslah jangan melamun!" pria yang menahan tendangan Ye Chen mengingatkan temannya.
Ye Chen hanya tersenyum melihat ini, Ia kemudian bergerak menyerang mereka secara bergantian tapi tak satupun serangannya berhasil menemui sasaran.
"Dia cepat." Gumam salah satu lawan Ye Chen.
Pertarungan semakin cepat, Ye Chen yang sudah mengetahui kelemahan-kelemahan jurus lawannya terlihat mulai melakukan perlawanan.
Bukk...
"Jaga perutmu baik-baik" Ucap Ye Chen tersenyum setelah berhasil memukul salah satu lawannya.
Pertempuran yang nampak berimbang membuat lawan Ye Chen yang berada di tingkat Perak menengah mengeluarkan pedang, diikuti dua rekannya.
"Gunakan pedang ganda!" perintahnya kepada temannya.
Serempak mereka mulai menyerang kembali, kali ini dengan nafsu membunuh yang lebih besar.
Merasakan ini, Ye Chen hanya tersenyum.
Ye Chen yang baru kali ini bertarung melawan kultivator mulai terdesak hebat, beberapa luka sayatan pedang mendarat di tubuhnya. Darah mulai mengalir.
Beberapa kali Ye Chen terlihat menelan pil pemulihan.
"Baiklah..! sekarang saatnya, ucap Ye Chen dalam hati.
"Tapak Jiwa.." gumam Ye Chen saat merasakan sebuah tendangan hampir mengenai pinggangnya.
Ye Chen bergerak bergerak kesamping lalu menghantam pinggang. Tampak titik-titik darah muncul di pinggang sala satu lawannya.
"Formasi.." gumam Ye Chen lagi begitu tapaknya menghantam. Aray tipis menyelimuti luka akibat Tapak Jiwa.
Aray ini untuk berfungsi untuk menahan pemulihan luka, mustahil orang yang terkena formasi ini bisa memulihkan lukanya kecuali tingkatannya jauh di atas Ye Chen atau orang ini adalah ahli formasi.
"Satu tumbang..!" Ucap Ye Chen lalu mengambil pedang lawannya dan menusuk kedua pundaknya sambil tersenyum.
Tanpa berkata apa-apa, Ye Chen menelan pil lalu melesat kearah lawannya yang berada di tingkat Perak awal yang berdiri melihat temannya mengerang kesakitan.
"Tapak Jiwa... Formasi...
Lawan yang kedua terkena hantaman di bagian dada, Ye Chen bergerak cepat menusuk kedua pundaknya, sama seperti yang pertama.
Ye Chen kembali menelan pil, menyerang pria terkuat di antara lawannya.
Sementara lawannya mulai agak gentar, terlihat seolah enggan melanjutkan pertarungan.
Hal ini dimanfaatkan dengan baik oleh Ye Chen, musuh yang kehilangan semangat tempur lebih buruk daripada musuh yang menyerang dalam keadaan marah.
Sekali lagi Tapak Jiwa dan formasi memakan korban.
Ye Chen menarik kaki ketiga lawannya tanpa perlawanan.
Mereka Ia kumpulkan menjadi satu.
Tanpa peringatan, Ye Chen menebas satu kaki dari tiap musuhnya. Lalu menusuk paha mereka.
"Kenapa diam..? bukankah tadi kalian berteriak-teriak ingin membunuhku? di mana keberanian kalian tadi..?" Tanya Ye Chen.
"Bunuh.. Bunuhlah kalau kau berani!" teriak satu dari mereka.
Mendengar ini Ye Chen hanya tersenyum lalu pergi meninggalkan mereka.
Tak berapa lama Ia kembali dan terlihat membawa sesuatu di pundaknya.
Begitu Ye Chen mendekat tampak Ia membawa batu yang cukup besar. lalu menghantamkannya ke dada orang yang tadi berteriak padanya.
"Tentu saja aku akan membunuhmu, berani menyerangku dengan niat membunuh? heh.. kalian sungguh naif." Ucap Ye Chen.
Ia kemudian mancari batu lain lalu menghantamkannya ke dada musuhnya yang tersisa.
Ketika melihat kembali ke arah mereka, Ye Chen sedikit mengernyit menyadari musuhnya yang paling kuat ternyata masih hidup.
Ia lalu menusuk pedang di kepalanya dari depan tembus sampai melesak masuk ke tanah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 413 Episodes
Comments
Arie Chaniago70
namanya pendekar sadis,,,/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
2025-02-20
0
Iyan Har
ceritanya..melompat jauh..dari orang baik tiba tiba jadi sadis
2025-01-03
0
Winter Milo
/Good//Good/
2024-10-17
0