Hari berganti pagi, semburat keemasan membentang di ufuk timur terlihat sangat indah pertanda sebentar lagi sang surya siap memberikan kehangatannya.
Tampak seorang anak kecil berjalan pelan menuju sebuah bukit yang tak jauh dari desa.
Tidak terlalu lama, anak itu kemudian melepaskan pakaiannya hingga tersisa hanya sedikit kain yang menutup pinggang ke bawah.
Setelah meregangkan ototnya, Ia lalu memilih sebuah tanah lapang, duduk mengambil sikap lotus menghadap sang surya.
Bulir-bulir keringat tampak menghiasi seluruh tubuhnya saat matahari mulai menyinari bukit tempatnya duduk.
Namun itu semua tak menghentikannya. Ia masih duduk tegak seolah belum puas menyapa sang mentari pagi.
Ya, dia adalah Ye Chen.
Berbeda dengan anak lain yang seusia dengannya, saat anak lain masih tidur, dia sudah bangun dan melakukan aktifitas yang terlihat aneh.
Terlihat aneh di mata orang lain, tapi Ye Chen memiliki pandangan sendiri dan entah kenapa dia sangat menyukai aktifitas ini.
Kalo ada waktu dan hari terlihat cerah, dia pasti akan meninggalkan aktifitas lainnya di pagi hari.
Bukan hanya pagi hari yang cerah, saat bulan purnama, dia juga akan melakukan hal yang sama.
Duduk bertelanjang seperti menyerap energi rembulan.
Menurut sebuah kitab tua yang Ia baca, energi pagi hari sangat murni.
Energi ini bukan hanya menyehatkan tubuh tapi juga sangat berguna untuk jiwa dan spiritual dalam tubuh.
Jadi, meskipun Ye Chen belum bisa menggunakan Qi tapi kekuatan jiwa spiritualnya jauh lebih besar dari anak lain.
Setelah Kerala cukup, Ia lalu menuruni bukit dan kembali ke desa tempat Ia bermalam.
Berkeliling desa tak membuatnya lelah, entah apa yang Ia cari. Kaki kecilnya terus melangkah.
"Ah ketemu!" sepertinya harus aku kumpulkan dulu biar lebih mudah" gumamnya.
Setelah mengumpulkan apa yang Ia cari, Ia kemudian menuju tanah lapang di kaki bukit lalu mulai menggali.
"Satu, dua, tiga... Um, ada tujuh korban di desa."
"Para paman dan Bibi semua, aku berdoa untuk ketengan kalian."
Ye Chen berkhidmat setelah selesai mengubur semua korban di desa.
Kegiatan ini bukan yang pertama kali dilakukannya, sepanjang jalan Ia kadang berhenti hanya untuk mengubur jenazah yang Ia lihat.
Dibandingkan saat pertama kali, dengan alat seadanya, sebuah belati kecil pemberian A Kiu. Butuh waktu berjam-jam hanya untuk menggali satu liang di tanah.
Tubuh kecilnya saat itu seolah ingin berteriak, bisa dibayangkan usia sepuluh tahun menggali tanah kemudian mengangkat beban tubuh dewasa lalu menimbunnya bukanlah pekerjaan yang gampang untuk anak seusianya.
Belum lagi pemandangan orang mati yang dengan berbagai macam luka, ada yang tanpa kepala ada yang sudah membusuk sebagian.
Awalnya memang Ye Chen merasa takut, jijik tapi setelah beberapa kali, perasaan ini sudah mati, yang tersisa hanyalah rasa iba.
"Siapa sebetulnya anak ini, apakah tidak takut mati? bukan hanya bermalam seorang diri, tapi masih mau mengurus semua mayat-mayat itu." Tampak seorang pria tua berdiri melihat apa yang Ye Chen lakukan.
Ye Chen kembali ke penginapan, merapihkan tempatnya lalu keluar menuju hutan yang tak jauh dari desa.
Ia memutuskan tinggal di desa ini untuk sementara, lagipula Ia juga tidak mempunyai tujuan lain jadi tak ada salahnya tinggal di sini beberapa waktu.
Ke Selatan? itu memang tujuannya tapi tak usah buru-buru lagipula hanya ke Selatan, Ia sendiri tidak tau apa dan bagaimana di sana nanti.
Begitu pikir Ye Chen hingga akhirnya Ia pun tinggal di desa. Menjelang sore, terlihat Ia kembali dari hutan membawa seekor kelinci dan beberapa tanaman herbal yang Ia jumpai.
...
Malam berlalu
Setelah selesai menghirup energi pagi, Ye Chen kembali ke hutan membawa keranjang besar di pundaknya, Ia akan mengambil beberapa tanaman herbal yang belum sempat diambil kemarin.
Aktifitas ini terus Ia lakukan, akibatnya tanaman herbal menumpuk di depan penginapannya.
Bukan serakah tapi memang Ia membutuhkan semua ini, selain sebagai bahan untuk belajar, sebagian lain Ia gunakan untuknya sendiri.
Biarpun hanya untuk sekedar menghilangkan pegal-pegal atau hanya sekedar mengusir nyamuk tapi itu sangat membantu.
Beberapa kali terlihat Ia mengoleskan sesuatu di kaki dan tangannya, obat oles untuk menghilangkan luka-luka goresan duri dan ranting saat di hutan.
Pemahaman tentang berbagai jenis tanaman herbal memang patut di acungi jempol. Ia hafal betul jenis herbal dan manfaatnya.
Tak terasa sudah lima hari Ye Chen tinggal di desa, penginapannya tampak lebih bersih sekarang. Meja dan kursi Ia tata, teratur rapih.
Di halaman belakang tampak berjejer tanaman herbal yang mengering, bau herbal dari bisa tercium dari luar halaman penginapan.
Hari-harinya hanya Ia habiskan untuk meracik obat.
"Tuan..! atau siapapun yang di dalam, tolong... tolong saya." tampak seorang wanita paruh baya berlari menuju penginapan.
"Tu... an muda...?" wanita itu kaget setelah melihat Ye Chen yang terlihat seumuran dengan cucunya, dia adalah salah satu pengungsi yang melihat desa tempat Ye Chen tinggal.
Karena melihat asap dari penginapan, Ia memberanikan diri untuk singgah dan minta pertolongan.
Paling tidak bisa memberinya tempat untuk bermalam sementara.
Perasaan kecewa yang sempat terlihat di wajahnya perlahan menghilang saat Ia mendengar Ye Chen yang bersedia menolongnya.
"Nyonya silahkan masuk dulu, anda pasti lelah selama perjalanan." Sapa Ye Chen dengan sopan.
Setelah duduk, wanita itu menceritakan bahwa rombongannya dihadang sekelompok orang dan melukai anaknya dengan parah.
Ia memohon untuk mengobati luka anaknya.
Ye Chen kemudian memeriksa pria yang dibawa turun dari kereta, pria tampak sangat kesakitan.
Setelah memeriksa luka dan denyut nadinya, Ye Chen sedikit mengernyit.
"Ini luka beracun, hm.. apakah orang ini ahli racun juga.. " Pikirnya tapi Ye Chen tidak ambil pusing, Ia berjalan ke dalam lalu mengambil obat.
"Setelah tiga jam, oleskan lagi obat ini di sekitar lukanya, lalu minumkan ini padanya." Ye Chen berkata setelah melakukan perawatan pertama pada lukanya.
"Baik tuan terima kasih." Jawab si wanita
Wanita ini kemudian menyuruh yang lain menggotong si sakit, menyuruh mereka menempati rumah kosong yang memang banyak terdapat di sekitar penginapan.
"Senior, apakah anda yakin dengan ini..?" tanya salah satu pria yang menggotong si sakit.
"Sudah kau tenang saja, tunggu sampai tuan muda sadar." Jawab si wanita
Tak lama setelah mengoleskan dan meminum obat, pria yang sakit yang di panggil tuan muda ini perlahan membuka matanya.
"Tuan muda sudah sadar?" bagaimana keadaan tuan..?" Si wanita bertanya setelah melihat tuan mudanya berdiri dan terlihat sangat sehat.
"Sepertinya tubuhku sangat sehat. Obat yang diberikan anak itu sangat ampuh, tak kusangka racun ini bisa di sembuhkan.
Aku mendengar semua rencanamu dan aku setuju." kata tuan muda yang ternyata biarpun luka parah tapi kesadarannya tetap ada.
"Baik, malam nanti aku harap semua siap, lalu kita tinggalkan tempat ini." lanjutnya.
"Bunuh saja! jangan meninggalkan seorangpun saksi," perintah pria yang dipanggil tuan muda.
"Gunakan racun biar mayatnya membusuk." lanjutnya lagi lalu seorang pria kemudian memukul perut Ye Chen.
"Maafkan aku, semoga kau bisa mengobatinya. Ini akan mengurangi efek racunnya." Pria itu lalu menyelipkan sebutir pil kebajunya.
Samar-samar Ye Chen melihat seorang gadis kecil, entah apa yang Ia lakukan.
...
"Nak, kau terlalu naif, lihat apa yang mereka lakukan padamu. Apakah kau tidak bisa menduga siapa mereka dari racun di tubuhmu...?"
Terlihat seorang pria tua memapah Ye Chen yang berlumuran darah.
"Sial kenapa juga semalam aku harus pergi" gumamnya.
"Paman tolong bantu aku, ambilkan air yang di atas pintu"
Mendengar ini si pria tua bangun dan mengambil air yang dimaksud.
"Terima kasih paman, namaku Ye Chen."
"Baiklah, kau boleh memanggilku Lu Ping" ucap pria tersebut sambil menghela nafas.
Peristiwa ini terjadi tadi malam, orang yang disembuhkan oleh Ye Chen ternyata membokongnya setelah sembuh.
Ye Chen di hajar sampai babak belur karena tidak mau menyerahkan resep obat nya.
Kesal karena tidak mendapat apa yang di inginkan, akhirnya mereka megambil semua persediaan obat tanpa tersisa.
Penginapannya sekarang terlihat lebih buruk bahkan saat Ye Chen pertama kali kesini.
Menurut Lu Ping, mereka dari sekte Racun Darah.
Sekte ini kerap menyerang para pengungsi, dan mereka tidak akan pernah segan untuk membunuh.
Para pengungsi ini kemudian di kumpulkan dan dijual sebagai budak, para wanita yang tertangkap tentu akan bernasib lain.
"Jadi apa rencanamu selanjutnya?" tanya Lu Peng kemudian.
"Aku akan tetap di sini paman, aku akan memulai dari awal. Mengumpulkan tanaman herbal dan membantu pengungsi atau siapapun yang membutuhkan bantuan."
"Lalu bagaimana jika mereka datang lagi?"
"Kurasa mereka tidak akan datang lagi, aku yakin mereka pasti sudah pergi jauh." Jawab Ye Chen.
"Atau kau ikutlah denganku, kurasa dengan bakatmu ini kau akan menjadi kultivator hebat."
"Tidak paman, terima kasih atas tawaran paman tapi untuk saat ini aku akan tetap di sini."
"Apakah kau tidak berniat membalaskan dendam ini...?"
"Mereka pasti mendapatkan balasan atas apa yang mereka lakukan." ucap Ye Chen sambil tersenyum tipis.
Melihat senyum ini, Lu Ping sedikit kaget dan merasa bulu kuduknya berdiri.
Ditambah penampilan Ye Chen yang memang terlihat seram dengan darah yang mengering menghiasi senyum di bibir kecilnya.
"Perasaan macam apa ini." Gumamnya dalam hati.
"Baiklah... Baiklah, aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi, aku harap kau akan baik-baik saja.
Duduklah aku akan membantu meringankan lukamu dalammu."
Ye Chen sebetulnya ingin melarang hal ini, biarpun racun ditubuhnya sudah banyak berkurang karena pil pemberian pria yang memukulnya, tapi racun ini masih terlalu kuat.
Mengobati dengan menyalurkan Qi bisa menambah buruk keadaannya.
bukan hanya dia, pihak yang menyalurkan Qi itupun akan terkena racun.
"Paman, tolong di dekat pintu dapur di sebelah kiri keranjang obat. Galilah tanah di bawahnya." Ucap Ye Chen sambil menahan sakit.
"Jangan bergerak, biar kulakukan untukmu."
Lu Ping menyerahkan sebuah kotak kayu yang Ia temukqn sesuai permintaan Ye Chen.
Setelah mengambil tiga butir obat dari dalam kotak, Ye Chen kemudian menyerahkan kotak ke Lu Ping.
"Ini untuk paman, sebaiknya paman menelan satu sekarang."
Perasaan pusing segera hilang sesaat setelah meminum obat pemberian Ye Chen, tanpa sengaja Ia memperhatikan telapak tangannya yang tadi mengobati Ye Chen dengan Qi.
"Rupanya begitu, anak ini bukan tidak mau kuobati dengan Qi, tapi cara pengobatan ini memang tidak bisa di lakukan.
Pantas saja aku merasa pusing, dan anak itu terlihat lebih pucat." gumam Lu Ping menyadari kesalahannya.
Meski begitu anak ini tetap mau menerima maksud baikku dan menahan sakitnya sendiri, kalo tidak yakin dengan pengobatan sendiri maka dia tak akan setenang ini.
Pikiran inilah yang membuat Lu Peng takjub.
"Ha... ha sepertinya aku terlalu meremehkanmu, ambil ini, isinya kau lihatlah sendiri."
"Satu lagi, simpan baik-baik cincin itu, jika kau ke Barat. Cincin itu pasti akan sangat berguna." Lanjut Lu Ping lagi dan pergi meninggalkan Ye Chen sendiri.
"Terima kasih paman, akan kuingat baik-baik pesan paman." sahut Ye Chen.
Sebulan berlalu sejak Lu Ping meninggalkan desa, Ye Chen kini terlihat berkemas untuk melanjutkan perjalanan.
Ia sudah sepenuhnya sembuh dari racun sekte Racun Darah.
Bahan obat yang baru Ia kumpulkan lagi, dimasukkan ke dalam keranjang.
Satu-satunya kain yang ada, Ia pakai untuk membungkus bawaannya menjadi buntalan.
Tak lupa Ia membawa semua bumbu yang masih tersisa di desa.
"Huff sepertinya aku harus segera belajar membuka kekuatan jiwaku." Batin Ye Chen, sembari melihat kedua cincin penyimpanannya.
...
Tak ada halangan yang berarti selama perjalanan ini, beberapa kali Ye Chen memang dihadang perampok tapi Ia dibiarkan begitu saja.
Begitu juga dengan pedagang budak, tidak ada yang tertarik membawa dan menjualnya.
Naas tak dapat di tolak, suatu hari Ye Chen ditangkap.
Cuh...
Seorang perampok meludahi Ye Chen dan menendangnya di kepala sampai pingsan.
Saat terbangun, Ye Chen yang merasakan guncangan merasa aneh tapi setelah membiasakan diri, Ia akhirnya tau sedang di dalam sebuah kereta.
"Berhentiii..!!" Seorang berteriak menghentikan kereta.
"Turunkan anak itu, jaga dan ikat di tiang itu. Kita lihat apakah pancingan kita berhasil kali ini." Kata seorang pria memberi perintah.
Ye Chen ditarik paksa dari kereta, diseret lalu diikat dengan kasar di sebuah tiang.
Jangan ditanya bagaimana rasanya, tubuh kecilnya serasa mau remuk.
Hanya tatapan dalam dan senyum tipis yang bisa Ye Chen lakukan, sama sekali tak ada rasa sakit atau takut dalam senyum ini.
Keesokan harinya, Ye Chen yang masih dalam keadaan terikat, terbangun. perlahan kesadarannya mulai datang tapi ada yang berbeda, senyum yang biasa menghias bibirnya terasa aneh.
Ye Chen mulai memperhatikan sekelilingnya, "Mereka tidak di sini," batinnya dan mulai menggosok-gosok tangannya, berusaha melepaskan ikatan.
Tidak sampai hari terang Ye Chen berhasil membuka ikatan tangannya, Ia kemudian mengambil buntalan dan kotak tanaman herbalnya yang dibuang begitu saja oleh orang yang menangkapnya.
Baguslah mereka tidak memeriksa kotak-kotak ini, kalo tidak cincin ini sudah pasti mereka ambil, pikir Ye Chen.
Di bawah kotak memang ada sedikit celah yang dimanfaatkan Ye Chen untuk menyembunyikan cincinnya.
"Sebaiknya aku cepat meninggalkan tempat ini." ucapnya dalam hati.
Ye Chen lalu berlari masuk jauh ke dalam hutan, tidak perduli pakaian dan kulitnya terluka akibat duri, kakinya yang hanya beralas sepatu tipis sudah berdarah, entah apa yang Ia injak.
Ia juga tak sadar, belum lagi beberapa hewan buas yang mengejarnya karena mencium bau darahnya.
Nasib kemudian membawanya ke sebuah bukit, bukit yang indah dengan rumput menghijau.
Ye Chen yang sudah sangat lelah berbaring begitu saja dan tertidur pulas.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 413 Episodes
Comments
Arie Chaniago70
mantap,,,lanjut Thor,,, 👍👍👍
2025-02-20
0
Irda Wibisriami
cerita nya bagus
2025-01-31
0
Sihardi Aries
bagus
2025-01-30
0