Keadaan menjadi sepi setelah Ye Chen membunuh lawan terakhirnya.
Ye Chen hanya diam memandangi tiga korban pertamanya, perasaan membunuh pertama kali membuatnya sedikit merasa tidak nyaman, mmembunuh manusia membawa perasaan berbeda dibandingkan membunuh hewan tapi itu hanya sebentar.
Sejak kecil Ia sudah terlalu banyak melihat kematian di depan matanya, perasaan yang timbul sesaat tadi menguap begitu saja.
Tampak Ye Chen berjalan mendekati pria yang pertama kali menghadangnya sambil memegang pedang rampasannya.
Jangan di tanya lagi bagaimana perasaan perasaan pria itu, melihat kematian di depannya membuat seluruh tubuhnya merinding.
Yang tidak Ye Chen sadari adalah keadaan di sekitar rumah Song Yi saat ini telah penuh.
Suara pertempuran ditambah rumah ketua Song yang berada di tengah-tengah desa menarik penduduk untuk melihat apa yang terjadi.
Selama ini tak pernah ada perkelahian di desa, apalagi sampai ada yang terbunuh.
Sebagian dari mereka terlihat tak senang memandang Ye Chen. Menghabisi lawan dengan kejam yang tidak melawan lagi menurut mereka sangatlah tidak pantas.
Mungkin karena mempunyai nasib yang sama, sama-sama berstatus pengungsi membuat rasa persaudaraan antar sesama jadi tinggi.
Beberapa bahkan sudah bersiap akan menyerang Ye Chen.
"Berhenti..!!" sesosok bayangan melesat ke arah Ye Chen di susul bayangan lain.
"Kakek Song anda telah kembali ternyata.. kenapa, apakah kau juga menganggapku sebagai gembel pengungsi yang tidak pantas bertemu denganmu dan ingin mematahkan kakiku?" Tanya Ye Chen setelah melihat Song Yi dan empat orang berdiri di depannya.
"Oh atau apakah nona Ong dan kau Qin Gang juga beranggapan demikian? Tanya Ye Chen kembali setelah melihat bayangan yang lain yang datang adalah orang yang dulu Ia obati.
Kraakk..
"Aaaaaahh..!! kembali terdengar suara tulang yang patah.
"Berterima kasihlah kepada kakek Song dan dua orang itu, jika mereka tak datang, entah berapa tulangmu yang akan patah." Ucap Ye pelan sambil tersenyum.
Tapi dua orang yang di hajar Ye Chen hanya diam, jangankan berbicara, bahkan untuk bergerak saja sudah sangat susah.
Dua kaki patah wajah bengkak, belum lagi tubuh penuh luka pukulan.
"Kau kejam.." Ucap Song Yi dengan kecewa melihat ke arah Ye Chen lalu memeriksa para korban.
Song Yi sendiri tidak menyangka Ye Chen bisa kejam begini.
Beberapa hari yang lalu Song Yi memang telah kembali, Ia sempat kaget juga melihat perkembangan desa yang begitu cepat. Penduduk bertambah banyak.
Hari ini kebetulan Song Yi tidak berada di rumah, Ia keluar dari desa menemui pengungsi baru yang datang bersamanya yang Ia suruh menunggu di luar desa.
Melihat penduduk desa yang bertambah banyak, rombongan pengungsi yang Ia bawa terpaksa tidak Ia suruh menunggu di luar desa.
Ketua Song yang mendengar suara pertempuran melesat cepat dan kaget melihat siapa yang bertarung dan lebih kaget lagi melihat Ye Chen membunuh dengan kejam.
Di bagian depan penduduk yang menonton kejadian ini, seorang wanita muda berusia duapuluh Lima tahun terlihat berbisik pads wanita di sampingnya.
"Ibu, apakah pemuda ini yang Ibu maksud?" tanyanya pada wanita di sampingnya.
"Iya betul tapi tak kusangka, di balik sikapnya yang sopan, ternyata Ia adalah pembunuh berdarah dingin." Jawab si wanita.
Si wanita yang ternyata adalah Bibi pemilik warung datang bersama putrinya ikut menonton keramaian. Sebelumnya Bibi pemilik warung memberikan bayaran Ye Chen kepada putrinya.
Putrinya yang menerima ini tampak terkejut dan sekaligus heran, bagaimana tidak, yang di berikan Ye Chen adalah herbal langka Mawar Api.
Sebagai seorang Alkemis dan juga kultivator, tentu Ia senang dengan herbal ini. Ia tau herbal langka ini bisa di olah untuk meningkatkan kekuatan seorang kultivator.
Tapi pandangannya berubah melihat Ye Chen.
Ia bersama beberapa kultivator pengungsi tiba-tiba saja melesat ke hadapan Ye Chen dan menyerangnya, bukan ingin membunuh, hanya ingin memberi pelajaran saja.
Ye Chen yang melihat ini hanya diam, bukan tidak mau bertempur lagi tapi saat ini Ia sudah begitu lelah, pertarungannya barusan bukanlah pertarungan yang ringan, kekuatan nya sudah terkuras banyak lagipula Ia tak merasakan niat membunuh dari mereka.
Ia hanya sedikit bergumam, lalu aray tipis menyelimuti tubuhnya.
Setelah mereka dekat, Ye Chen lalu melambaikan tangannya memasang aray tipis lagi lalu menebarkan bubuk halus ke arah mereka.
Merasa ada sesuatu yang menyentuh kulitnya, mereka yang menyerang melompat mundur berusaha menghindar tapi terlambat.
mereka semua jatuh terduduk seolah tak memiliki tenaga lagi.
Ye Chen lalu menghilangkan aray tapi aray tipis yang menyelubungi tubuhnya belum hilang. Tak mau naif Ia hanya berjaga-jaga dan tetap waspada, tak mau kecolongan.
Sementara itu Song Yi yang tengah memeriksa para korban keganasan Ye Chen mengernyit melihat Ye Chen yang kembali melumpuhkan beberapa orang.
Ia lalu berjalan menghampiri Ye Chen.
Qin Gang dan juga nona Ong yang sudah selesai mengobati luka patah kaki juga datang, berdiri di samping Ye Chen.
Ye Chen hanya diam sambil diam-diam bersiap jika situasi buruk terjadi.
"Kembalikan cincinku, dan oh apakah kakek Song sempat membelikanku pakaian..? Lihatlah, baju dan celanaku sudah bertambah buruk." Ucap Ye Chen santai tanpa perduli ekspresi Song Yi.
Mendengar ini Ketua Song memberikan Cincinnya. "Semua yang kau butuhkan ada di dalam." kata Ketua Song.
Ye Chen menyimpan cincin tanpa memeriksanya.
"Kau tau siapa yang kau bunuh dengan kejam itu?" Tanya Song Yi kepada Ye Chen.
"Aku tak tau dan tak mau tau." Jawab Ye Chen singkat.
"Mereka adalah murid-muridku, anggota sekte Pedang Suci yang aku temukan saat keluar dan mengajak mereka tinggal di sini.
Aku sangat senang bertemu dengan murid-muridku yang selamat." Ucap Song Yi.
"Kakek Song.. oh ataukah harus kupanggil dengan ketua Song? Tanya Ye Chen sedikit menyindir Song Yi.
Ia terlalu malas berbicara sengaja menyindir Song Yi.
Uhuk..
Ye Chen memuntahkan segumpal darah, tubuhnya membungkuk, kedua tangannya memegang lututnya.
" Tuan muda..!!" Kata Qin Gang dan nona Ong serempak.
Ye Chen mengangkat tangannya, seolah berkata tidak apa-apa. Lalu berdiri tegak dan kembali menelan sebuah pil.
"Jika ada yang menghinamu, mencabut pedang lalu menyerangmu dengan niat membunuh, apa yang akan anda lakukan..? hah, anda adalah patriark sekte besar pikirkanlah sendiri." Lanjut Ye Chen.
Mendengar ini Song Yi hanya mendesah perlahan, Ia tidak bisa menyalahkan sikap Ye Chen. Ia tahu bagaimana Ye Chen.
Ia hanya menyayangkan pembunuhan yang terjadi.
"Baiklah.. aku mengerti. Karena kau sudah kembali, mari kuperkenalkan dengan penduduk desa. Biar bagaimanapun kau adalah tuan di sini, mereka harus tau dan mengenal tuannya." kata Song Yi.
"Panggil semua penduduk, katakan ada pengumuman penting. Panggil juga rombongan yang ada di sekitar desa, Ingat! semua ya harus berkumpul tanpa terkecuali." Song Yi memberi perintah.
Tampak beberapa orang sibuk berlarian, melaksanakan perintah Song Yi.
Ye Chen yang tampak sudah membaik memberikan beberapa pil kepada Qin Gang untuk mengobati anak pemilik warung makan dan beberapa temannya yang tadi menyerangnya.
Tak lama semua penduduk desa Ye berkumpul, halaman rumah Song Yi yang luaspun tak bisa menampung semua penduduk.
Melihat ini, Ye Chen mau tidak mau kaget juga.
"Jumlah orang-orang ini sangat banyak, hampir setara dengan sebuah desa besar." Gumam Ye Chen.
"Baiklah.. Karena semua telah berkumpul, aku akan memperkenalkan tuan kita.
Sebelumnya perkenalkan, aku bermarga Song." Belum selesai Song Yi berkata, tiba-tiba seseorang berteriak.
"Hidup ketua Song..!! teriakan ini diikuti teriakan lain, membuat suasana semakin ramai.
" Baiklah... kalian boleh memanggilku ketua Song." Ucap Song Yi.
"Yang berdiri di depan kalian adalah tuan Ye, pemilik tempat ini, kalian lihat bukit di depan sana? itu adalah bukit Ye tempat tinggal tuan Ye." Lanjut ketua Song.
Ketua Song tidak memberitahu nama lengkap Ye Chen, menurutnya tidak perlulah semua orang tau, cukuplah dengan mengenal marganya saja.
Semua pengungsi tentu saja tau apa itu bukit Ye, sebuah tempat yang menjadi tujuan para pengungsi. Yang tidak mereka duga adalah ternyata pemilik bukit Ye masih sangat muda. Benar-benar di luar prasangka mereka.
"Hidup tuan Ye...!!" Seorang tiba-tiba saja berteriak keras tapi sayangnya taking diikuti oleh penduduk lain.
"Hidup tuan muda Ye..!!" Ia kemudian merubah panggilannya dan seketika di ikuti oleh yang lain.
Semua mata kini terarah melihat Ye Chen. Win Gang dengan inisiatif mengambil sebuah meja kecil.
"Tuan muda, silahkan.. " Sambil manaruh meja dan mempersilahkan Ye Chen untuk naik.
Melihat ini Ye Chen tanpa rasa sungkan naik dan mulai berbicara.
Lama terdiam, Ye Chen akhirnya menghela nafas kemudian berkata.
"Semuanya dengarkan, aku ingin kalian membentuk sebuah kelompok berdasarkan keahlian kalian.
Kultivator, alkemis dan ahli bangunan, buatlah kelompok berdasarkan kriteria ini."
Penduduk yang terlihat tenang kini tampak sibuk mengikuti pemintaan Ye Chen.
Alkemis empat orang dan ahli bangunan sepuluh dan kultivator berjumlah lima ratus orang dan yang tidak memisahkan diri berjumlah lebih dari lima ratus orang menurut perkiraan Ye Chen.
"Baiklah.. Karena sudah berkumpul make dengarkan penjelasanku." Ye Chen kemudian mengatur penduduk desa sesuai keahlian masing-masing.
Kultivator bertugas menjaga keamanan desa, berburu untuk persediaan makanan dan tugas-tugas lain yang membutuhkan pengawalan.
Akemis bertugas membuat pil untuk kebutuhan penduduk desa dan ahli bangunan bertugas membangun desa.
Rumah ketua Song Ia minta diperbesar karena akan di fungsikan juga sebagai tempat pertemuan, sementara halaman disekitarnya harus luas.
Jalan-jalan di perlebar minimal sepuluh meter.
Ye Chen berpikir jauh ke depan, tidak menutup kemungkinan tempat ini akan kedatangan penduduk baru.
Ia sendiri tidak mempermasalahkan ini, daratan ini juga sangat luas, tidak masalah.
"Ingatlah siapa kita ini, kita adalah pengungsi. Kalau human kita yang berusaha merubah nasib kita lalu siapa lagi..?! Jangan bermalas-malasan, bantu yang lain, lakukan apa yang bisa kalian lakukan." Berhenti sejenak lalu berkata lagi.
"Aku tau kalian berasal dari tempat berbeda, status dan golongan yang berbeda.
Tinggalkan semua kenangan di tempat lama kalian. Sekarang, desa ini adalah rumah kita tempat kita. Mari kita bangun desa kita menjadi tempat yang nyaman tempat kita membangun kenangan-kenangan indah bersama. Bantu aku membuat desa ini makmur.
Melihat semua penduduk diam mendengarkan arahannya, Ye tersenyum puas.
"Yang paling aku benci adalah penghianat, jadi janganlah ada di antara kalian yang menjadi penghianat." Lanjut Ye Chen.
"Satu hal lagi, aku tidak mau mendengar ada perselisihan terjadi di desa, perselisihan apapun harus di selesaikan secara baik-baik. Jika ada yang melanggar, aku sendiri yang akan menghukumnya, ingat ini baik-baik..!!
Tidak perduli siapa, asal melanggar aturan yang kubuat, lihatlah bagaimana aku akan bertindak."
Lanjut Ye Chen dengan tegas.
Bagi penduduk yang tidak menyaksikan pembunuhan yang Ye Chen lakukan, kalimat ini dianggap sesuatu yang wajar dan memang sudah seharusnya.
Tapi bagi mereka yang melihatnya, pasti akan merinding dan bejanji pasti tidak akan melanggar aturan. Entah kematian yang seperti apa yang akan mereka alami jika di hukum Ye Chen.
"Hidup pemimpin Ye....!!"
Semua penduduk berteriak serempak beberapa kali, ini bankan lebih keras dari sorakan-sorakan sebelumnya.
Bahkan ketua Song juga ikut bersorak.
Ye Chen berdiri tegak dengan tubuh berlumur darah yang terlihat masih mengalir di beberapa bagian, ditambah luka sayatan pedang yang bisa terliha jelas menambah karisma Ye Chen, seperti seorang jenderal yang berorasi di depan prajurit yang baru saja memenangkan perang.
"Tuan muda Ye... Desa Ye... Terdengar sangat menjanjikan." gumam Song Yi memandang kagum melihat Ye Chen.
Mengangkat satu tangannya untuk meredakan sorakan-sorakan penduduk, Ye Chen kemudian berkata.
"Baiklah.. kalian boleh bubar, beristirahatlah, besok akan menjadi hari yang sibuk untuk kita semua. Kelompok alkemis harap tinggal sebentar, ada sesuatu yang akan kubicarakan."
Penduduk desa Kemudian membubarkan diri, peristiwa pembunuhan oleh Ye Chen di halaman rumah tadi sudah dilupakan, seolah menguap begitu saja.
Tapi tentu saja cerita ini akan menjadi cerita turun-temurun di antara para penduduk desa.
Hanya Ye Chen, ketua Song, Qin Gang, nona Ong dan empat orang alkemis yang tersisa di halaman setelah semua penduduk pergi.
Ye Chen kembali menelan sebuah pil lalu pelan-pelan berjalan, baru beberapa langkah berjalan, Ye Chen yang sudah merasa tidak kuat lagi terjatuh.
Untunglah dua sosok bergerak cepat menangkap lalu memapahnya.
"Bawa ke dalam, biar dia istirahat." Ucap Song Yi.
"Tuan muda.. anda terlalu memaksakan diri." Ucap nona Ong yang di iyakan oleh nona anak pemilik warung.
Ternyata mereka berdualah yang menolong Ye Chen ketika akan terjatuh tadi.
"Bersihkanlah tubuhnya, aku akan memasak air dan menyeduh teh untuk tuan muda." Pinta nona Ong kepada anak pemilik warung makan.
Dengan telaten anak pemilik warung makan lalu membersihkan tubuh Ye Chen, sebagai seorang alkemis, tentu saja Ia sangat paham apa yang Ia lakukan.
"Tolong panggilkan kakek Song." Pinta Ye Chen yang hanya bisa terbaring pasrah di tempat tidur.
Bukan hanya ketua Song yang datang, Qin Gang dan nona Ong juga ikut masuk, tak ketinggalan nona pemilik warung makan.
"Tuan muda, apakah anda memanggilku..? kata ketua Song begitu memasuki kamar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 413 Episodes
Comments
Sugab
menurutku masih sangat naif. bahkan patriak song masih membela muridnya. bukannya si mc cuek,ngapain ngurusin para pengungsi
2025-03-18
0
Arie Chaniago70
good good good
2025-02-20
0
Driyanto Kriswan
Agaknya Julukan PENDEKAR SADIS muncul dari sikap tegas dan tabiat Naganya yang terusik, dan tidak grogi terhadap luka daging dan tulang, darah muncrat/mengucur/meleleh, dan menyerang dengan metode brutal sadis tak mengenal pengampunan kepada yang telah menyerang dan menghendaki kematiannya... Wah!
2024-04-05
4