"Kakek Song, apa rencanamu sekarang?" Ye Chen yang telah selesai dengan urusan perutnya datang menghampiri Song Yi.
Ditanya begini dengan tiba-tiba, membuat Song Yi terkejut, Ia sebenarnya sedang melamun memikirkan rencana selanjutnya.
" Sejak kapan kau di sini?" Tanya Song Yi.
"Kakek Song sepertinya anda terlalu banyak berpikir, aku sejak berada di sini, aku hanya tak mau mengganggumu saja." Jawab Ye Chen.
Terdiam sesaat, Song Yi akhirnya berkata. "Aku sendiri belum memikirkan rencana lain." Aku bahkan tak dapat merasakan kehadirannya, anak ini terlalu misterius, pikirnya.
"Kalau kakek Song tidak keberatan, silahkan tinggal di sini, tapi seperti yang anda lihat, pondok ini sangat kecil mungkin tak cocok di sebut pondok."
Memang pondok yang Ye Chen bangun terlalu sederhana, biarpun cerdas dan banyak hal yang Ia ketahui, Ia tetaplah seorang anak kecil.
Membangun pondok yang bagus atau cukup bagus, pintar saja tidaklah cukup. Dibutuhkan pengalaman dan jam terbang untuk dapat melakukannya dengan baik.
"Apakah kau tidak keberatan?" tanya Song Yi, bagaimanapun Ia adalah seorang patriark sekte besar, Ia tak akan memanfaatkan sebuah situasi untuk belas kasihan.
"Tidak masalah, aku juga tinggal sendiri dan bukit ini cukup luas. Kalau mau, anda bisa membangun pondok di sana." balas Ye Chen sambil menunjuk arah selatan dari pondoknya.
"Mari kita berkeliling sebentar." Sambung Ye Chen lagi.
Kemudian mereka berkeliling sekitar bukit.
Ye Chen menunjukkan sumber air di atas bukit, sebuah kolam yang tidak terlalu besar.
Kebun sayur dan lain-lain, termasuk batu jajar juga Ia tunjukkan tapi Ia tak mengatakan apa-apa. Song Yi yang melihat ini pun tak berkata apa-apa, Ia berpikir itu hanyalah sebuah batu yang kebetulan berada di sana.
"Lakukan apa yang anda mau, kalau anda ingin mengisi perut, silahkan manfaatkan kebun di sini. Oh ya ayam-ayam itu sengaja aku pelihara, biasanya aku berburu di hutan di kaki bukit.
Jangan sungkan, panggang saja kalau anda mau, tapi... biasanya, aku turun lagi jika stok ayamku berkurang hehe."
Mendengar ini Song Yi tersenyum kecut.
"Sebetulnya kau ini ikhlas tidak sih, ini sama saja menyuruhku berburu sendiri untuk makan." Ucapnya
"Silahkan, jangan sungkan." Ye Chen berkata sambil tersenyum.
Pondok Song Yi akhirnya selesai, Ia juga sedikit memperbaiki pondok Ye Chen yang meskipun tidak jadi lebih baik tapi sudah cukup lumayan.
Hari berlalu, Kebiasaan Ye Chen yang suka makan menular ke Song Yi. Ye Chen mengiyakan saja ketika Song Yi menawarkan berburu sendiri, Ia jg ingin berguna sambil melihat-lihat keadaan hutan tengah.
"Ternyata usia memang hanyalah angka." Ye Chen tiba-tiba saja berkata, seolah berbicara pada diri sendiri.
Song Yi yang mendengar ini tentu saja mengerti, Ia yang sekarang berbeda dengan dulu. Hampir setiap kali Ye Chen makan, dia pasti juga makan, sekali makan menghabiskan satu ekor ayam sendiri.
"Anak nakal, tunggulah akan ku bawakan ayam yang banyak hahaha." Ucapnya kemudian melesat ke bawah bukit.
Ia sama sekali tak marah Ye Chen menyindirnya, Ia telah mengenal kepribadian Ye Chen setelah lama tinggal dengannya.
Seminggu berlalu, Song Yi belum juga kembali. apa orang tua itu tersesat, pikir Ye Chen.
Dua minggu kemudian Ye Chen berjalan turun ke bawah, Ia berniat berburu sendiri. Song Yi sudah tak Ia pikirkan lagi. Terserah mau kembali atau tidak Ia tak mengambil pusing, hanya perasaan kehilangan saja yang sedikit mengusiknya, orang tua itu punya pengalaman luas, banyak hal yang Ia pelajari darinya.
"Eh... bukankah itu kakek Song, kupikir Ia telah pergi jauh. Tapi kenapa malah tinggal di bawah, kenapa tidak naik ke atas?" Gumamnya ketika melihat seorang pria tua berdiri di depan sebuah pondok kecil, yang ternyata adalah Song Yi.
"Kakek Song...!!" teriaknya dari jauh sambil melambaikan tangannya.
"Apa yang terjadi, kenapa anda tidak naik ke atas dan malah mendirikan pondok di sini...?" tanya Ye Chen heran setelah tiba di depan Song Yi.
Song Yi menatap Ye Chen seolah memastikan sesuatu, lalu berkata.
"Apakah kau benar-benar tidak tau? Sebetulnya beberapa hari setelah turun aku berniat naik, tapi entah kenapa aku tak bisa menemukan jalan ke atas. Seminggu kemudian aku coba lagi tapi tetap saja hasilnya sama." ucap Song Yi.
Ye Chen juga tidak tau dan tidak memikirkan ini, menurutnya mungkin memang benar Song Yi tak tau arah.
"Masuklah, tiga hari yang lalu aku menemukan beberapa orang terluka, lihat apakah kau bisa menyembuhkannya." Lanjut Song Yi sambil membawa Ye Chen masuk.
Setelah memeriksa, Ye Chen kembali ke bukit lalu mengambil obat. Tak butuh waktu lama, mereka semua akhirnya sembuh.
Tiga orang laki-laki berusia antara tiga puluh sampai empat puluh tahun dan satu wanita paruh baya. Mereka semua adalah kultivator.
Song Yi mengajak Ye Chen keluar.
"Ada sesuatu yang akan ku bicarakan, apakah kau ada waktu?" tanyanya.
"Katakan saja, usahakan cepat yah kakek Song, aku lapar. Aku turun ini niatnya mau berburu." balas Ye Chen.
"Dasar kau ini, baiklah... begini, aku sudah memikirkan tawaranmu tempo hari. Aku akan tinggal di sini. Tapi bukan tinggal di atas, aku akan tinggal di bawah, membangun pondok di bawah."
"Itu saja...? baiklah, terserah saja, nah sekarang aku akan pergi berburu."
Belum beranjak dari tempat duduknya, Ia dikagetkan dengan empat orang yang sebelumnya disembuhkan Ye Chen berlutut kepadanya.
"Eh kalian, apa yang kalian lakukan?" meski begitu Ia tak menyuruh mereka untuk bangun.
"Tuan muda... sebelumnya kenalkan, kami adalah pengungsi dari kekaisaran Han, nama saya Qin Gang dan saya adalah murid salah satu sekte yang telah hancur di sana. Karena merasa senasib maka kami memutuskan untuk melakukan perjalanan bersama."
Mereka kemudian memperkenalkan dirinya masing-masing.
Dua pria lain adalah kultivator bebas yaitu kultivator yang tidak bergabung dengan sekte manapun. Sedang yang wanita bermarga Ong, juga murid dari sebuah sekte di Utara.
"Baik, bangunlah pondok kalian sendiri jika ingin tinggal di sini, aku tak bisa menjamin makanan atau yang lainnya, tapi jika kalian membutuhkan pil atau butuh pengobatan, kalian bisa datang padaku." ucap Ye Chen setelah mendengar niat mereka yang ingin menetap di sini.
"Terima kasih tuan muda." jawab mereka serempak.
Ye Chen hanya mengangguk, lalu berbalik meninggalkan mereka.
"Tunggu..!" Song Yi yang dari tadi hanya diam melihat percakapan mereka tiba-tiba berteriak memanggil sambil menghampiri Ye Chen yang melangkah pergi.
"Bagiamana dengan mereka? Tanya Song Yi.
"Mau bagaimana lagi...? bukankah aku sudah mengijinkan mereka untuk tinggal di sini? maaf saja aku tak bisa menjanjikan apa-apa, seperti yang tadi aku katakan." Jawab Ye Chen.
Song Yi menghela nafas lalu berkata.
"Mereka telah menganggapmu tuan muda di sini, paling tidak suruhlah mereka berdiri. Mereka tak akan berdiri sebelum kau suruh."
Ye Chen melihat mereka yang masih berlutut. "Berdirilah." ucap Ye Chen agak malas.
Song Yi hanya menggeleng melihat ini.
"Tuan muda, maaf jika aku lancang, apakah tuan muda hendak pergi berburu?" tanya Qin Gang yang rupanya menjadi juru bicara empat orang ini.
"Betul sekali, tapi ini hanya untukku jangan harap aku akan mencarikannya untuk kalian. Kalian tau? perutku sudah teriak dari dua minggu yang lalu."
"Anak ini benar-benar berbakat membuat orang jadi merasa bersalah." ucap Song Yi yang merasa dirinyalah yang ditargetkan oleh omongan Ye Chen.
"Tidak berani... sungguh tidak berani." Ucap Qin Gang menundukkan kepalanya seraya berlutut di ikuti teman-temannya.
"Biar kami yang berburu untuk tuan muda." Ucap Qin Gang masih dengan kepala tertunduk.
"Benarkah..? hehe baiklah kalau kalian memaksa, aku setuju. Aku paling suka ayam betina berbulu putih, kalau beruntung, dapat menemukan calon telur-telur di perutnya jika dimasak. Rasanya sungguh nikmat."
"Lalu aku juga paling suka burung belibis, ini sejenis dengan Itik tapi bisa terbang, kau bisa mencarinya di sebelah barat, di sana ada rawa-rawa tempat mereka bisa berkumpul."
"Nah di dekat rawa ini ada sungai kecil, ini adalah habitat ikan Gurame, ikannya berdaging tebal berbentuk pipih dengan kepala agak besar. Ini juga enak dibakar lalu dimasak kuah santan."
"Pergilah, jangan mati." Kata Ye Chen seolah tak perduli hidup mati mereka.
Empat orang ini saling landing kemudian melangkah dengan agak lesu. "Apakah kita salah memilih tuan...?" tanya wanita bermarga Ong kepada temannya tapi di jawab dengan gelengan dan helaan nafas oleh teman-temannya.
Kata jangan mati seolah ada sesuatu yang sangat menyeramkan.
"Kakek Song tenang saja, tak mungkin aku menyuruh mereka untuk mati. Toh mereka adalah kultivator, tak mungkin mati begitu saja kan." kata Ye Chen melihat pandangan Song Yi.
"Heh siapapun tau rawa itu tempatnya berbagai macam hewan buas, kau malah menyuruh mereka ke sana. Memang mereka kultivator tapi bagaimana kalau muncul hewan yang tidak bisa mereka lawan?" Protes Song Yi.
"Akan ku obati." bantah Ye Chen cepat.
"Kalau mau pergi menemani mereka, pergi saja tapi jangan lupa carikan juga ikan Patin emas, dulu aku pernah melihatnya di pinggir rawa, bentuknya pipih panjangnya kira-kira sejengkal, berwarna coklat dengan garis-garis emas dari kepala sampai ekor. Ingat jangan sampai mati ikannya."
"Oh ya satu lagi, di atas pohon-pohon di tepi rawa ada sebuah tanaman juga berwarna emas. Ambillah beberapa." Kata Ye Chen menambahkan.
"Apa kau juga suka memakannya?" tanya Song Yi yang merasa dipermainkan Ye Chen.
"Tak usah khawatir kakek Song... aku akan membuatkan makanan selamat datang, sebagai tuan muda yang tampan dan baik, aku harus ramah bukan? hehe...."
"Oh ya ciri pohon tempat tumbuh tanaman ini adalah pohonnya berwarna sedikit pucat dan tidak ada satupun daun yang tumbuh.
Ingatlah kakek Song, jangan mati." Ye Chen berkata Santa sambil tersenyum kecil.
"Aku akan membuatkan makanan istimewa, yang sangat berguna bagi kalian kultivator." sambung Ye Chen.
Setelah Song Yi pergi, Ye Chen kembali ke bukit mengambil beberapa tanaman herbal dan pil lalu ke dimensi Batu Jajar mengambil setetes air kehidupan dan kembali ke pondok Song Yi di bawah bukit.
"Jika perhitunganku tidak salah, seharusnya tanaman itu sudah siap di panen. Semoga dugaanku benar." Gumam Ye Chen.
Seminggu kemudian sebuah rombongan yang berjumlah lima puluh orang terlihat mendatangi Ye Chen, tampak beberapa dari mereka menggotong lima buah tandu.
"Oh bahkan kakek Song pun terlihat kewalahan." ucap Ye Chen ketika melihat Song Yi yang pingsan tanpa menyapa rombongan yang membawa Song Yi dan empat lainnya.
Ye Chen bergerak cepat, menotok, menusuk, dan memijit beberapa bagian dari mereka. Lalu memeriksa hasil buruan mereka dan tersenyum puas.
Setelah masuk ke dalam pondok, segera tercium aroma masakan yang bercampur aroma herbal.
"Sekarang satu tetes air kehidupan." gumam Ye Chen sambil menunggu.
Boom..!
Suara ledakan kecil terdengar.
"Sekarang..!!" dengan cepat Ye Chen memasukkan air kehidupan, menutup panci dan memasang formasi di sekitar panci.
Boom..!! Boom..!!
"Hah kalian akan berterima kasih padaku nanti."
"Kalian tunggu di sini, aku akan ke atas. Seraplah baik-baik apa yang kuberikan pada kalian, paling sedikit tiga hari, kalian baru bisa berhenti."
Song Yi dan yang lain hanya memandang mendengar ucapan Ye Chen.
Sebenarnya mereka berniat protes tapi apa daya, bahkan untuk menggerakkan satu jari saja tak bisa.
Seminggu kemudian Ye Chen kembali turun, Ia terlihat senang melihat wajah cerah Song Yi dan yang lain. Berhasil, pikirnya.
"Tuan muda terima kasih atas bantuannya." Qin Gang dan temannya memberi hormat ketika melihat Ye Chen, mereka tidak lagi berlutut sesuai perintah.
"Baguslah kalo kalian bisa mendapatkan manfaat, jangan berterima kasih, ini juga berkat bakat dan kegigihan kalian. Di mana kakek Song...?"
"Dia bersama para pengungsi." Jawab Qin Gang.
"Terima kasih," ucap Song Yi yang baru muncul bersama pengungsi. "Tapi metodemu sangat berbahaya, bagaimana jika aku tak pergi menemani mereka?"
Ye Chen hanya tersenyum mendengar ucapan Song Yi.
"Oh ya mereka adalah pengungsi, aku telah berbicara dengan mereka dan mereka semua berniat untuk tinggal di sini, sama seperti Qin Gang dan temannya. Apakah tidak masalah bagimu?"
"Tidak masalah, asal jangan merepotkanku saja, berapa jumlah mereka?" Tanya Ye Chen.
"Sekitar lima puluh orang."
Ye Chen kemudian berjalan menghampiri para pengungsi, rasa iba memenuhi hatinya.
Dari usia lanjut sampai yang masih menyusu pada ibunya ada di depannya.
"Apakah ada di antara kalian yang ingin mengikuti ujian seperti mereka?" Tanya Ye Chen tiba-tiba.
Diam. Tak ada satupun dari mereka yang mau, bahkan kultivator yang ada si antara merekapun enggan.
Bagaimana tidak, saat melihat kondisi mereka pertama kali saja sudah terbayang apa yang mereka alami.
Masih terbayang tubuh mereka yang penuh luka bakar, bahkan melepuh di beberapa tempat, belum lagi luka seperti gigitan dan cakaran.
"Ah sayang sekali padahal aku masih memiliki banyak metode yang lain yang bagus."
"Kakek Song, kakek aturlah bagaimana mereka tinggal nanti. Ambillah cincin ini di dalamnya terdapat beberapa pil yang cukup untuk mereka semua." Ye Chen kemudian menyerahkan cincin pemberian Shao Yun dulu kepada Song Yi.
Menimang cincin pemberian Ye Chen, Song Yi sepertinya mengenali cincin ini tapi lupa di mana pernah melihatnya.
"Kakek Song, kalau sempat pergilah ke desa terdekat, di dalam cincin itu ada beberapa kepingan emas. Belilah pakaian dan kebutuhan lain."
"Ajaklah Qin Gang dan berhati-hatilah, aku akan ke atas."
Ye Chen lalu kembali ke atas bukit, setelah menambahkan pesan untuk menerima semua pengungsi yang ingin tinggal dan menetap di bukit.
Desa Ye begitulah para pengungsi yang kini menetap menyebut tempat tinggal baru mereka, rumah mereka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 413 Episodes
Comments
Winter Milo
/Facepalm/
2024-10-17
0
Winter Milo
/Grin/
2024-10-17
0
Bamz
tjakep
2024-06-09
4