Suara kicauan burung membangunkan Ye Chen dari tidurnya.
Hal pertama yang Ia lakukan saat bangun adalah memastikan keadaan sekelilingnya, Ia kuatir ada yang mengejarnya.
Setelah memastikan situasi aman, Ia segera mengambil sikap lotus menghadap matahari dan mulai menyerap energi mentari pagi.
Seperti yang selalu Ia lakukan.
"hm.. energi di sini lebih padat, sepertinya saat ini aku berada di benua Tengah" Gumam Ye Chen dengan mata terpejam, yang masih menyerap energi alam.
Puas menyerap energi mentari pagi, Ia kemudian berkeliling memeriksa area di sekitar tempatnya berada.
Tempat ini cukup menarik menurut Ye Chen, mungkin lebih tepatnya aneh.
Area yang bisa dibilang bukit ini dikarena letaknya yang agak tinggi.
Jika berdiri di sini maka kita dapat melihat jelas daerah sekitar yang agak jauh.
Puncaknya sendiri cukup luas dan datar ditumbuhi rerumputan yang menghijau.
Yang membuatnya merasa aneh adalah tak ada satupun hewan yang hidup di sini.
Tapi jika melihat ke bawah, hewan-hewan ini dapat terlihat dengan jelas.
Tak ada satupun yang masuk ke area perbukitan.
Bukit ini seperti memiliki dunia sendiri, pikirnya.
Berpikir untuk menetap di sini, Ye Chen dengan susah payah hanya mengandalkan sebuah belati kecil, Ye Chen mengumpulkan batang-batang pohon, rencananya Ia akan membangun pondok sederhana.
Tempat tidur, dapur dan sebuah ruangan yang akan dia pakai untuk menaruh barang-barangnya, asalkan tidak kehujanan juga sudah cukup.
Setelah dirasa cukup, Ye Chen kemudian mulai mengumpulkan kembali segala macam tanaman herbal dan menata bukit tempatnya tinggal.
Ini dilakukan Ye Chen sampai usianya sebelas tahun, ini berarti sudah satu tahun Ia pergi dari rumahnya dan hampir setengah tahun Ia berada di bukit ini.
Suatu malam Ia berfikir untuk menjelajahi area Selatan bukit ini, ada satu hal yang menarik perhatiannya, yakni sepasang batu yang berdiri berjajar seperti sebuah gerbang.
Kalau diperhatikan lagi, di batu itu tertulis simbol-simbol yang sangat Ye Chen pahami sebagiannya, simbol formasi.
Tapi fungsinya untuk apa, Ye Chen belum tau, simbol-simbol ini adalah simbol kuno, begitulah menurut pemahamannya.
Keesokan harinya Ia bersiap memeriksa batujajar ini, begitulah Ye Chen menyebutnya.
"Aakh! sebetulnya ini apa, apakah sebuah artefak...?" Ye Chen merasa kesal, berulang kali Ia berteriak-teriak tidak jelas.
Tanpa sengaja Ye Chen tergelincir di tanah melewati batujajar.
"Eh..? dimana ini?" Ia merasa asing dan aneh, hutan di sini lebih lebat, energinya juga lebih padat dibanding bukit tempatnya tinggal.
Hanya satu kesamaan dengan bukitnya, hewan-hewan buas di sini juga tak ada yang mau masuk, seolah ada tembok yang menghalangi mereka untuk masuk.
" Mungkinkah aku berteleportasi? batinnya sambil mencari-cari sesuatu.
"Ah ini dia, sepertinya memang betul batujajar merupakan gerbang teleportasi. Mungkin tidak sempat di hancurkan di masa perang, atau mungkinkah tidak terlihat..?" gumam Ye Chen sambil terus mengamati batujajar yang memang sama persis dengan yang ada di bukit.
Lama berpikir, akhirnya Ia memutuskan untuk berkeliling memuaskan rasa penasarannya, toh di sini tak ada yang harus Ia khawatirkan.
Pernah sekali Ia ingin memastikan kumpulan hewan di luar tembok yang menurut pengamatannya, sering berganti.
Ada sekumpulan Serigala, kemudian jenis ular bertanduk dan masih banyak lagi jenis yang lain, dari yang kecil sampai yang berukuran besar seperti kelabang hitam yang panjangnya tidak kurang dari tiga meter.
Seolah menunggu sesuatu, mereka datang dan pergi, duduk diam kemudian pergi.
"hehe.. yang ini saja, coba kita lihat apa betul mereka tidak bisa masuk."
Ye Chen tertawa kecil melihat seekor kera berbulu putih yang duduk diam.
Ia lalu mengambil ranting pohon lalu menusuk-nusuk si kera putih.
Dia harus memastikan ini, bisa gawat kalo ternyata hewan-hewan ini bisa masuk ke sini.
Tak satupun hewan-hewan ini yang sanggup Ia kalahkan.
Merasa terganggu, Kera putih membuka matanya mencari sumber masalah.
"Manusia sialaaan..! apa yang kau lakukan..? apa kau cari mati..!" Kera putih melotot ke arah Ye Chen.
Kera putih setinggi empat meter ini mempunyai kulit tebal, senjata biasa aja tidak akan mampu melukai kulitnya.
Ye Chen yang cerdas juga tau hal ini, oleh karena itu rantingnya sengaja Ia tajamkan ujungnya dan Ia menusuk secara terus-menerus di tempat yang sama.
Mustahil Kera putih tidak merasakan ini. Jika dalam keadaan biasa, gangguan ini sama sekali tidak berarti.
Sayangnya saat ini Ia sedang berkonsentrasi menyerap energi alam, keadaan inilah yang membuat daya tahan tubuhnya menurun.
Meskipun tidak berbahaya namun perbuatan Ye Chen ini sangat mengganggu.
Melihat reaksi Kera putih, Ye Chen yang sempat ketakutan akhirnya bisa tenang saat menyadari Kera putih tak bisa berbuat apa-apa terhadapnya.
Tembok transparan membuatnya tak bisa menyentuh Ye Chen, seolah ada daya tolak yang sangat halus setiap ada hewan yang mendekat.
Pemahaman Ye Chen yang dalam ditambah kegemarannya membaca membuatnya menarik kesimpulan bahwa ada sesuatu di tempat ini.
Hewan-hewan ini tak bisa masuk bukan karena tak mau, jalan satu-satunya untuk ke sini sepertinya hanya bisa lewat portal batu jajar pikirnya.
Mereka hanya bisa menyerap energi dari luar.
Yang Ye Chen tidak habis pikir adalah, kenapa mereka ini seolah akur-akur saja tidak ada pertempuran yang biasa terjadi.
Memang sangat mengherankan melihat fenomena ini, dunia ini adalah dunia dimana yang kuat yang berkuasa.
Menindas yang lemah adalah hal yang biasa terjadi.
Bila diselidiki lebih jauh, fenomena di tempat ini sangat berkaitan dengan kepadatan energi yang keluar dari dalam tempat Ye Chen.
Ada beberapa titik yang menjadi tempat terbaik untuk menyerap energi.
Dan di titik inilah semua hewan berkumpul.
Ye Chen hanya tertawa kecil melihat tingkah si Kera putih, tapi tidak segera pergi.
Ia masih berniat melakukan beberapa kali percobaan lagi tapi dia urungkan karena melihat tatapan tidak senang beberapa pasang mata di depannya.
Beberapa pasang mata ini bahkan terlihat mau menelannya.
Tanpa disadari, kelakuan Ye Chen ini membuat yang lain menghentikan aktifitas mereka.
Mereka kuatir Ye Chen juga akan menganggu mereka karena masih memegang ranting.
...
Hari berlalu sejak Ye Chen menggangu Kera putih, Ia kemudian memutuskan untuk tinggal di sini dan mulai belajar membuka kekuatan jiwanya.
Sesekali Ia akan kembali ke bukitnya untuk membawa tanaman-tanaman herbal yang Ia kumpulkan untuk di jemur.
Suasana di tempat ini sangat berbeda, tidak ada malam ataupun siang yang terik.
Di sini terasa seperti pagi hari, dengan langit biru. Ia perlu kembali ke bukitnya untuk menyerap energi mentari pagi di sana.
Waktu berlalu, saat ini Ye Chen sudah bisa membuka kekuatan jiwanya, walaupun hanya di tingkat dasar tapi ini sudah cukup untuk membuka dan menyimpan sesuatu dalam cincin penyimpanannya.
Cincin pemberian Lu Pin berisi beberapa koin emas, perak beberapa potong pakaian dan sejumlah tanaman herbal.
Sedangkan cincin warisan ayahnya belum bisa Ia buka karena dikunci dengan segel formasi.
Harus belajar formasi untuk membuka cincin ini.
Ia juga terus melatih gerakan jurus-jurus dari kitab yang di hafalnya.
Ini Ia lakukan dalam dimensi portal batu jajar, jadi setelah menyerap energi mentari, Ia akan kesini untuk berlatih.
Tidak ada Qi tidak membuatnya malas berlatih, untuk apa menghafal ribuann jurus kalo tidak dilatih? pikirnya, dan lagi, latihan ini bisa meningkatkan kesehatan tubuh.
...
Suatu hari entah kenapa Ye Chen merasakan sesuatu terjadi di ruang dimensi portal batu jajar, bumi sedikit bergetar. Hewan-hewan yang berada di luar portal juga tampak gelisah seperti kehilangan sesuatu yang sangat berharga.
Yang paling terasa adalah berkurangnya kepadatan energi di tempat ini.
Keadaannya kini hanya sedikit lebih padat dibandingkan benua Tengah, bukit tempatnya tinggal.
Perasaan ini pernah Ia alami tak lama setelah memasuki dimensi ini.
Saat itu, saat Ia mencari tanaman herbal, secara tak sengaja Ia menemukan sebuah pohon yang diselimuti cahaya tapi tidak menyilaukan mata.
Tumbuh melayang di atas kolam berair sangat jernih.
Setiap helai daun yang gugur, begitu menyentuh air kolam, tiba-tiba lenyap begitu saja, bersatu dengan air kolam.
Daun ini masih berwarna hijau bukan kuning seperti umumnya.
Daun-daun yang berguguran inilah yang menyebabkan fenomena ini, fenomena seperti kehilangan sesuatu.
Waktu itu Ye Chen melihat pohon ini mempunyai satu buah yang berwarna keemasan.
Pernah sekali waktu Ia mencoba mengambil air kolam dan melihat pohon ajaib ini dari dekat. Tapi begitu menyentuh air, jiwanya seolah melayang.
Tak ingin mengambil resiko, Iapun mengabaikannya.
Mengingat ini, Ye Chen segera berlari ke arah pohon ajaib.
Ia terkejut menemukan pohon ajaib telah mati, dan kolam berair jernih bertambah luas beberapa kali dan airnya terlihat tidak sejernih dulu terutama di bagian dasar kolam.
Lalu Ia melihat buah berwarna hijau pekat yang memiliki garis-garis keemasan.
Buah yang seukuran telapak tangan ini tampak melayang di atas kolam.
Kembali Ia memeriksa sekitar kolam, Ia takut sesuatu terjadi yang akan membahayakan dirinya, lalu tiba-tiba pandangannya tertuju pada sebuah retakan yang muncul di gundukan tanah.
"Gua..? heh rupanya ada gua disini." Gumamnya.
Segera Ia memasuki gua dan memeriksanya, tak ada apapun di sana selain kerangka manusia yang tampak berserakan di belakang sebuah meja kecil.
Merasa tak enak, Ye Chen kemudian membungkukkan badannya dengan hormat. "Senior, maafkan kelancangan junior yang masuk tanpa ijin." Ucap Ye Chen.
"eh.. tulisan apa ini?" Posisi yang membungkuk membuatnya bisa melihat tulisan-tulisan kecil seperti guratan di atas meja.
Ye Chen kini duduk sedikit menunduk untuk melihat tulisan ini, posisi ini kalau diperhatikan akan tampak seperti murid yang mendapat pengajaran dari seorang guru.
Bukalah, saat engkau membaca ini berarti saat ini juga engkau resmi menjadi muridku.
"Apa yang dibuka..? semua yang ada di sini terbuat dari batu, tak mungkin aku bisa menghancurkannya." batin Ye Chen sambil mengusap-usap, meraba-meraba meja kecil yang terbuat dari batu di depannya.
Merasa putus asa, Ye Chen kemudian memutuskan mengangkat yang membuat tulisan ini sebagai gurunya.
Bukan karena terlalu ingin mengambil guru, menurutnya tidak ada salahnya menjadi murid seseorang.
Dia hanya berpikir sederhana, mengubur kerangka di depannya dan memberinya penghormatan terakhir. Penghormatan dari seorang murid mungkin membuatnya lebih tenang di alam sana.
"Guru.. terimalah hormat muridmu, meskipun aku tidak tau siapa engkau tapi yakinlah aku akan menjadi murid yang baik." terdiam beberapa saat, Ye Chen kemudian menambahkan lagi.
"Oh ya guru, aku tidak akan mau menurutimu jika itu bertentangan dengan hatiku."
Selesai mengucap janji murid, Ia kemudian bersujud, membenturkan kepalanya di lantai layaknya seorang murid kepada gurunya.
"Rasanya ada yang kurang, um.. oh iya teh penghormatan. Guru tunggu di sini, aku akan mengambilnya."
Tanpa Ye Chen sadari, sebuah retakan muncul tepat di tempat Ia bersujud membenturkan kepalanya.
Tak lama kemudian Ye Chen tampak masuk kembali membawa daun berisi air kolam. Sejak matinya pohon di atas kolam, Ia bisa dengan mudah menyentuhnya.
"Guru aku kembali, maaf menunggu lama dan maaf sekali lagi, tidak ada teh di sini, pakai air ini saja yah guru..."
Ye Chen kemudian menuangkan air di atas retakan yang tak Ia sadari.
Krakkk..!
"eh suara apa itu.?" melihat ke bawah, ternyata di sana terdapat lubang kecil, samar-samar ada cahaya kehijauan dari dalam lubang.
Ye Chen kemudian mengambilnya dan ternyata sebuah cincin berwarna hijau.
"Lagi-lagi formasi, hah apakah orang-orang di dunia ini gila formasi?" Ye Chen hanya bisa pasrah karena tak bisa melihat isi di dalam cincin.
Setelah menguburkan tulang belulang dan berdoa untuk ketenangan gurunya, Ye Chen duduk di kursi tempat kerangka sebelumnya berada.
Pemandangan dari sini memang beda pikirnya. "Hei kamu! baca yang keras, jangan seperti orang tidak makan berhari-hari." Ye Chen membayangkan dirinya adalah seorang guru kemudian tertawa keras.
Tiba-tiba matanya tertuju pada lingkaran di meja di depannya, dari sini memang terlihat jelas. orang yang berada di depan tak mungkin bisa melihat ini.
Lingkaran ini seolah tercetak pada meja batu kecil di depannya. Seolah mengerti, Ye Chen mengambil cincin hijau lalu memasukkannya dalam.
Klak..
meja kecil di depannya tiba-tiba terbuka, Ye Chen kemudian mengambil sebuah kitab yang terletak di dalamnya.
"Bukalah, oh rupanya inilah yang dimaksud tulisan itu." batinnya.
Tak ada sampul yang menerangkan ini kitab apa tapi dari tulisannya Ye Chen tau, ini adalah tulisan kuno.
Ini bukan masalah buat Ye Chen.
Mungkin bagi orang lain, kitab ini tidak akan berguna tapi tidak untuknya.
Dengan mudah Ia dapat membaca seluruhnya.
Merasa tak ada apa-apa lagi di dalam gua, Ye Chen memutuskan untuk keluar.
Ia sangat penasaran dengan isi buku ditangannya.
Mengambil tempat di dekat kolam, Ye Chen lalu membuka sampul pertama.
Catatan Perjalanan, begitulah tulisan dari bab pertama kitab ini.
Kitab ini terlihat sangat tua sangat rapuh, beberapa bagian bahkan ada yang sudah hancur menjadi bubuk.
Begitu halaman pertama di balik untuk melihat halaman selanjutnya, halaman pertama tadi hancur begitu saja, berubah menjadi bubuk.
Resapilah jika engkau merasakannya.
Halaman keduapun hancur menjadi bubuk setelah di balik.
Berjalan menembus waktu
Melangkah sampai batas atas
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 413 Episodes
Comments
Arie Chaniago70
ckckck CK,,,harus bisa memahami,,,nya semangat
2025-02-20
0
Rationatsu Studio
*Aktivitas*
2025-02-22
2
void
gogoggogo
2025-01-12
0