Up menyesuaikan respon. Terima kasih banyak 🥰🥰😘😘🙏🙏
🌹🌹🌹
"Mau bicara apa?" tanya Netta saat Bang Yudha meminta ijin pada Bang Rico untuk bicara berdua dengannya.
"Kamu apakan anak ku?"
"Bukan urusanmu Bang" jawab Netta.
"Dia anak ku. Abang berhak tau. Abang sudah bilang.. kamu akan berurusan dengan Abang kalau kamu tidak bisa menjaganya dengan baik" kata Bang Yudha.
"Masih peduli kah Abang? Tak ada usaha untuk mencari Netta. Tak mungkin Netta pertahankan anak dari seorang pembunuh"
"Lalu apa bedanya kalau kamu juga hilangkan nyawa anak kita????? Sekarang kamu malah pertahankan anak dari pria lain. Apa mau mu Netta??????" bentak Bang Yudha.
"Netta nggak mau mengingat bayang Abang di manapun. Kenapa Netta harus bertahan padahal hati Netta sesakit ini???" pekik Netta juga meluapkan isi hatinya.
"Katakan mau mu"
"Netta mencintai Bang Rico" ucapnya tanpa menatap mata Bang Yudha.
"Benarkah??" Bang Yudha meragukan ucapan Netta.
"Iya.." jawab Netta tapi terkesan ragu.
Bang Yudha menunduk menahan rasa marah yang membakar dalam dada. Rasa cemburu sungguh memukul perasaannya. Kepalanya terasa berat berpikir keras mengatasi situasi panas ini. Ia tau dan yakin akan perasaannya, tapi saat ini bukanlah saat yang tepat untuk berdebat yang akhirnya akan membuat Netta semakin menjauh.
"Netta mau kembali ke penginapan. Kasihan Lingga harus kalau hanya bersama Bang Rico dan bibi" pamit Netta kemudian beranjak dari tempat duduknya.
"Abang antar..!!"
"Nggak perlu, Netta bisa sendiri" jawab Netta.
Saat mereka berdua masih berdebat, terdengar suara bahwa ke arah tengah kota terjadi badai salju yang membuat jalanan tertutup dan menghimbau para pengunjung cafe agar mencari tempat yang aman karena jalan baru akan terbuka paling cepat besok malam.
Para pengunjung cafe sudah mencari tempat yang aman untuk bermalam. Bang Yudha pun menghubungi pihak pemilik cafe agar bisa mendapatkan tempat untuk bermalam.
:
"Ada, tapi di bukit dan rumah kecil itu tidak pernah di tinggali. Penginapan sudah penuh"
Bang Yudha melirik Netta yang hanya memakai pakaian satu lapis saja dan gadisnya itu mulai kedinginan.
"Oke.. saya kesana saja..!!" kata Bang Yudha.
"Netta nggak mau, Abang saja yang kesana..!!" tolak Netta.
"Terserah.. Teruslah bersikap seperti itu tanpa pikirkan anak mu. Lingga pasti menangis kalau terjadi sesuatu dengan ibunya" jawab Bang Yudha kemudian berjalan menjauh meninggalkan Netta.
Setelah beberapa saat akhirnya Netta mengikuti langkah Bang Yudha. Netta menggigil kedinginan hingga bibirnya nyaris membiru.
Bang Yudha memberikan jaketnya untuk Netta tapi Netta menepisnya. Bang Yudha tetap sabar dan tidak mengambil hati perlakuan Netta.
....
Badai bergulung-gulung menerpa penginapan berbahan kayu itu. Bang Yudha sibuk menutup celah kecil agar udara dingin tidak semakin menjadi.
"Pakai jaket Abang dan cepat masuk ke kamar, sudah Abang tutup semua" perintah Bang Yudha.
Netta masih tetap pada pendiriannya dan tidak mau beranjak dari ruang tamu. Bang Yudha hanya bisa menggeleng dan meneruskan pekerjaannya daripada udara dingin semakin menjadi di tengah badai salju.
Tak lama Netta merasakan tubuhnya kaku, bibirnya sulit berucap, detak jantungnya pun melemah.
Bang Yudha menoleh sekilas tapi kemudian melihat kembali ke arah Netta dengan jelas.
"Dek..!!" sapa Bang Yudha. Tak ada jawaban dari Netta.
"Dek..!!!" sapa Bang Yudha untuk kedua kali. Bang Yudha turun dari tangga dan mencuci tangan di wastafel dengan air yang nyaris menjadi es batu lalu mendekati Netta.
"Astagfirullah hal adzim.. Netta..!!!!!" Bang Yudha mengguncang tubuh Netta kemudian secepatnya membawa masuk ke dalam kamar.
Netta menggigil kedinginan. Bang Yudha langsung paham kalau Netta mengalami hipotermia. Bang Yudha menutup pintu kamar kemudian menyalakan penghangat ruangan tapi karena rumah tersebut jarang di gunakan, penghangat ruangan itu mati.
"Ya Allah.. bagaimana ini??" Bang Yudha kelabakan sampai akhirnya Netta terbatuk dan semakin menggigil.
"Cckk.. sudahlah.. mau kamu marah atau tidak, itu urusan belakang" Bang Yudha melepas pakaiannya lalu mengambil selimut. Ia memeluk dan mengapit Netta dengan erat.
"Netta nggak mau Bang....!!" ucapnya lirih dan memberontak. Ulah Netta itu tanpa sengaja menimbulkan rasa dalam benak Bang Yudha.
"Diam dek..!! Kamu bisa mati kedinginan..!!" tegur Bang Yudha.
"Di antara kita sudah tidak ada apa-apa lagi Bang..!!"
"Kamu masih istri Abang..!! Kenapa kamu lakukan sama Rico sampai bisa punya Lingga????" akhirnya Bang Yudha mengungkapkan rasa cemburunya yang luar biasa. Hatinya sakit tak terkira.
"Itu urusan Netta" jawab ketus Netta menahan rasa dingin yang seakan meremukan tulang.
"Jangan coba cari perkara kamu Netta. Kenapa kamu nggak pernah jujur dengan perasaan mu sendiri..!! Pelampiasan mu itu nggak benar..!!!!"
Netta menangis dan memukuli dada Bang Yudha, tak ada sedikit pun perlawanan dari Bang Yudha menghadapi kemarahan Netta yang luar biasa. Ia melunakan hatinya dan mencoba menerima omelan Netta yang semakin lama semakin menunjukan jika wanitanya itu sedang rindu berat.
"Sudah puas marahnya? Abang kurang bagaimana lagi?" Bang Yudha mengecup kening Netta.
"Abang tidak mau tau tentangmu dan Rico, apapun ceritanya.. Abang juga sakit dek. Tak sehari pun Abang lewati tanpa penyesalan, Abang terus mencarimu." mata Bang Yudha memerah.
"Tapi semua sudah berbeda Bang." bibir Netta semakin membiru.
"Apa yang beda? Abang belum sempat katakan apapun tentang ibumu" jawab Bang Yudha.
"Lepaskan Netta Bang..!!"
"Lalu kenapa kamu menghilangkan dia? Abang mau dia" Bang Yudha merasakan pedih dalam hatinya.
"Kamu harus tanggung jawab, Abang tak peduli mau kamu istri orang atau bukan. Abang tidak merasa pernah menceraikan kamu."
"Abaaaanngg..!!" pekik Netta kuat.
.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 36 Episodes
Comments
Alif Septino
lanjut kak Nara 🥰🥰💪🥰
2022-01-18
1
Ayuk Yayuk
terus2an liat notif kok.blm upnya... sampai hbs bantu melahirkan langsung deh nengok hp ada notif nggk hehehe....
please mbk nara makin penasaran ...
lanjut ttp semangat💪💪💪👍👍👍🥰🥰🥰
2022-01-17
1
Miaua
up thor
2022-01-17
1