Tiga bulan sejak Netta di keluarkan dari anggota Intel. Ia pun hanya bisa melakukan kegiatan ringan seperti kebanyakan perempuan lain sembari menyelesaikan kuliahnya dari rumah. Usia kandungannya kini sudah tujuh bulan.
"Assalamualaikum.." sapa Bang Rico.
"Wa'alaikumsalam.." Netta keluar dari kamar dan berjalan perlahan melihat Bang Rico menurunkan banyak barang bayi dari mobil.
"Abang.. kenapa harus beli? Nanti Netta bisa cari sendiri"
"Nggak apa-apa, lagian Abang senang kok dek" jawab Bang Rico.
"Maaf, selama Netta di kota ini sangat merepotkan Abang" kata Netta merasa tidak enak.
"Asal kamu bisa senyum bahagia.. Abang juga bahagia"
"Berhentilah bicara seperti itu Bang. Netta nggak bisa membalas segala kebaikan Abang" Netta selalu ingin menangis mengingat nasibnya.
"Abang tidak ingin balasan apapun dari kamu dek. Kamu bahagia sudah lebih dari cukup untuk Abang." jawab Bang Rico yang kemudian mendaratkan satu kecupan sayang untuk Netta.
"Netta nggak pantas Bang" ucapnya lirih.
"Kamu berhak bahagia sayang" panggilan itu kembali Netta dengar, ada rasa bahagia dalam hatinya tapi sungguh saat ini ia begitu ingin panggilan 'sayang' itu terucap dari bibir seorang.
"Netta membencinya Bang, sangat membenci Bang Yudhaa" pekik Netta tak tahan lagi dengan perasaan nya.
"Aaarhh.. Abaaang..!!!!"
"Netta.. kamu kenapa dek??"
"Ya Tuhan.. apalagi ini??" Bang Rico melihat ada cairan mengalir dari sela paha Netta.
"Cckk.. Ono wae sih" Bang Rico segera mengangkat Netta dan mengantarnya ke rumah sakit.
~
"Hmphhhh.." Bang Yudha meremas dadanya yang terasa sakit luar biasa.
"Allahu Akbar.. Netta..!!" terbayang wajah Netta di pelupuk matanya. Air matanya tiba-tiba mengalir mengingat sang istri.
"Bang.. Abang nggak apa-apa??" tanya Bang Ubed.
"Ubed.. sekujur tubuh Abang rasanya sakit sekali." Bang Yudha menggelinjang hebat.
"Astaga Bang.. kena santet kah Abang??" Bang Ubed kelabakan membantu seniornya itu.
-_-_-_-_-
Dokter melihat Netta jauh lebih tenang daripada pasien pada umumnya. Netta lebih banyak terdiam mengatur nafasnya. Bang Rico pun akhirnya juga bisa mengendalikan perasaan
"Sakit nggak dek?" tanya Bang Rico sembari mengusap peluh di kening Netta.
"Sakit sekali" jawab Netta menahan sakit tapi dirinya masih bisa tersenyum dan mondar mandir di temani Bang Rico yang gugup bukan main.
~
"Aarrhh.. Ya Tuhan.. apa aku mau mati sekarang??" ucap Bang Yudha merasakan kram dalam perutnya hilang dan timbul.
"Tenang dulu Yud, kalau kamu banyak gerak begitu mana bisa Abang periksa kondisi mu..!!" tegur dokter senior di rumah sakit yang memeriksa kondisi Bang Yudha.
"Saya periksa sendiri saja..!! Lima kali ganti dokter nggak ada yang tau saya sakit apa. Perut saya kram, punggung saya sakit, nafas sesak.. rasanya tulang saya mau patah" gerutu Bang Yudha tak hentinya mengomel.
"Abang.. mungkin sekarang Bang Yudha sudah mulai gila. Sejak istrinya pergi kondisi mentalnya down" bisik Bang Ubed.
"Kamu mau saya tindak?? Beraninya bilang saya gila" bentak Bang Yudha yang ternyata mendengar ucapan Bang Ubed.
"Maaf Bang, saya nggak sengaja" jawab Bang Ubed.
Tak lama Bang Yudha kembali merasakan sakit. Teriakan Bang Yudha itu terdengar sampai pos penjagaan rumah sakit, belum lagi enam orang harus memegangi tubuh gagah Bang Yudha.
"Allahu Akbar.." ucapnya saat tak tahan lagi merasakan sakitnya tak lama rasa sakit itu hilang total, tanpa sisa. Hanya rasa lelah membuat kondisi Bang Yudha drop. Pandangan matanya perlahan menghilang dan ia pun kehilangan kesadaran.
~
"Alhamdulillah.." Bang Rico bersandar di ruang tunggu tak berani menemani Netta di dalam ruang tindakan.
Tangis bayi terdengar lirih tak begitu kuat terdengar, mungkin karena bayi Netta masih berusia tujuh bulan lebih.
...
Bang Rico melihat bayi mungil dalam inkubator di samping ranjang Netta. Senyum getir tersinggung dari bibir Bang Rico. Wajah bayi Netta sangat mirip dengan sang Papa yang begitu tampan dan gagah bertinggi badan 178 centimeter.
"Hai boy.. bolehkah Om mencintai Mamamu yang cantik itu." ucapnya sembari menyentuh jemari mungil bayi Netta. Matanya sesekali melirik Netta yang tertidur lelah di ranjang.
Terdengar rengek kecil seolah baby boy menolak kehadiran Bang Rico.
"Om berharap kamu akan memanggilku Papa Rico."
Bang Rico menunduk sampai berlinang air mata kemudian mengusapnya berusaha tabah dan kuat melihat bayi tanpa dosa terlahir dari rahim Netta tapi bukan dari hasil cintanya.
***
Bang Winata keluar dari ruang rawat anggotanya yang baru saja mengalami kecelakaan lalu lintas. Tak sengaja matanya tertuju pada dua sosok yang baru keluar dari ruang rawat Netta. Bang Winata segera menghampiri keduanya.
"Netta??" sapa Bang Winata.
"Selamat siang Abang" Bang Rico menegakkan badannya melihat Bang Winata ada di hadapannya.
"Ada apa kamu disini????" tanya Bang Winata pada Netta.
"Perutmu?? Ini sudah melahirkan atau....?? tapi usia kandungan masih tujuh bulan"
Bang Rico ingin menjawabnya tapi Netta mencegah dan langsung menjawabnya.
"Tidak ada anak Bang Yudha.. Yang ada hanya anak ku dan Bang Rico." jawab Netta.
Bang Rico menelan ludahnya dengan kasar. Bingung harus memulai dari mana menjelaskan pada Bang Winata.
"Kamu ngomong apa Netta?? Yudha sudah hancur-hancuran memikirkan kamu. Dia stress, kehilangan arah dan selalu mencarimu kemana-mana"
"Tidak ada maaf untuk pembunuh mama ku juga Abang yang sudah menyembunyikan fakta ini dariku. Abang tau kenyataan ini tapi Abang pura-pura tidak tau. Di dunia ini tidak ada yang bisa kupercaya." teriak Netta histeris sampai merasa kesakitan kembali.
"Nettaaa.." Bang Rico panik melihat Netta kembali kesakitan.
"Ijin Abang.. tolong beri Netta waktu. Yang penting Abang sudah tau Netta bersama siapa. Saya akan coba bicara dengan Netta"
"Aku mungkin masih bisa menahan diri, tapi Yudha tidak akan terima." kata Bang Winata.
:
"Mereka terpisah bukan karena tidak ada rasa, Yudha tidak pernah menyakiti Netta. Kesalahan di masa lalu tidak bisa Netta terima. Seperti yang kamu dengar, Yudha sudah membuat nyawa ibunya meninggal. Perlu kamu tau.. Netta itu adik kandung Abang" Bang Winata mengajak Bang Rico bicara sesama pria saat Netta sedang mendapat penanganan.
"Siap..!!" Betapa terkejutnya Bang Rico saat itu.
"Saya memang sedih atas kematian Mama. Tapi saat itu Yudha menggertak dan menembakan peluru ke arah lain di samping Papa, Mama yang melihat itu menjadi panik dan menyongsong peluru hingga tanpa sengaja menembak Mama. Rasa sedih dalam hati Abang memang ada, tapi saat itu Mama yang salah paham dalam masalah negosiasi" kata Bang Winata menjelaskan.
"Netta yang masih sulit di tenangkan, menerima berita itu mentah-mentah tanpa penjelasan"
***
Hari ke lima Bang Yudha di rawat di rumah sakit. Perawat melepas jarum infus menusuk punggung tangannya. Ia meringis merasakan kaku sisa kram di perut yang kadang masih terasa.
"Akhirnya kamu pulang juga pot. Bisa-bisanya berita mu gempar. Pingsan seperti orang mati" tegur Bang Winata yang sudah sampai di wilayah Bang Yudha.
"Awwhh.. ini sakit sekali" Bang Yudha masih merasakan sakit meskipun rasa yang begitu hebat tak terasa lagi seperti kemarin.
"Aku kesini untuk mengantarkan surat keberangkatan kita. Kita akan pergi menjalani pendidikan ke Rusia.. selama satu tahun" kata Bang Winata.
Perasaan Bang Yudha kembali tergoncang. Pasalnya dalam negeri saja ia belum bisa menekan Netta apalagi mereka harus menjalani pendidikan ke Rusia.
"Aku akan keluar dari militer..!!"
"Jangan gegabah pot. Aku tau pikiranmu sedang kacau dan hancur. Tapi keluar dari militer bukan jalan terbaik untuk penyelesaian masalah ini" jawab Bang Winata.
"Kau sebagai Abangnya saja tak tau dimana Netta, apa masih ada gunanya aku????" Bang Yudha semakin frustasi memikirkan Netta.
"Lebih baik kau ikut saja. Ada Rico disana. Meskipun kita tidak satu lokasi pendidikan karena rolling."
"Aku malas"
"Bagaimana kalau ada kemungkinan Netta bersama Rico" ucap Bang Winata menggoyahkan hati Bang Yudha.
"Kau yakin???"
Bang Winata hanya menepuk bahu Bang Wira.
.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 36 Episodes
Comments
timbuljaya
sdh tumbuh rasa di hati netta tp krn rasa sakit nya atas kematian mamanya ditgn Yudha jd tertutup kemarahan dihati Netta. Tapi ikatan bathin mereka sangat kuat. cepat sadar Netta jgn lama" dgn kemarahanmu. Ada anak yg hrs bahagia n nyaman bersama ortunya. maafkan Yudha,hatinya hancur jauh dr mu n anaknya.
2022-09-12
1
Alif Septino
semangat kak Nara 🥰
2022-01-14
1
Mona Adimon
aku maulah jadi netta, dia yang melahirkan suami yang sakit perut.. hehe
2022-01-14
1