9. Mengajakmu adaptasi.

Kasur sudah di turunkan dari truk, sedangkan Netta masih mengunyah batagor khas anak sekolah.

Beberapa anggota melirik Netta yang dengan tenangnya memangku kaki hingga tanpa sengaja memperlihatkan paha mulusnya.

"Waahh.. incaran baru tuh, putih mulus cooyy" ucap seorang pratu melihat 'barang baru' di kompi mereka.

Bang Yudha ikut nimbrung dan melihat apa yang sedang anak buahnya bicarakan.

"Ada apa?" tanya Bang Yudha, kemudian Bang Ubed mengikut langkah seniornya itu.

"Waaahh, barang baru nih ceritanya??" Bang Ubed ikut berbinar berniat menggoda Netta.

Mata Bang Yudha seketika terbelalak membulat tajam melihat paha istrinya terekspos dengan jelas.

"Jangkriiiiiikk..!!!!"

Bang Yudha menampar pipi anggotanya satu persatu kemudian menghampiri Netta.

Kini para anggota yang terbelalak karena tak tau sebabnya Danki mereka marah.

Bang Yudha melepas seragamnya lalu menyepak kaki Netta dan menyampirkan seragamnya untuk menutupi paha Netta.

"Aaawwhh.. apa sih Bang" protes Netta.

"Abang sudah bilang untuk menutup pahamu..!! Kamu lihat itu banyak bujangan, banyak mata om-om jelalatan. Gimana kamu ini..!!!" tegur Bang Yudha.

"Maaf Bang, Netta nggak sengaja" Jawab Netta.

"Jangan di ulang lagi. Nggak sopan dek..!!"

Para anggota memalingkan wajahnya, ternyata wanita yang sedang mereka bicarakan itu adalah 'wanita milik' Komandan.

:

Wajah Bang Yudha masih tampak masam karena kejadian beberapa saat yang lalu

"Ini jus pare pesananmu" kata Bang Yudha.

"Abang marah ya?" tanya Netta.

"Abang nggak marah, cuma kecewa aja. Sekecil apapun darimu tidak boleh ada yang tau kecuali Abang. Abang ini laki-laki, Abang tau betul bagaimana isi pikiran mereka" ucap keras Bang Yudha.

"Netta belum terbiasa dengan lingkungan Abang. Kenapa Netta tidak bisa menjadi diri Netta sendiri disini???"

"Bukan tidak boleh, dimana pun kamu berada memang kamu harus menjaga dirimu sendiri..!!"

"Netta hanya istri siri, bisa saja suatu saat nanti Abang membuang Netta"

"Jangan kekanakan Netta..!!!!!!!!" bentak Bang Yudha.

"Tak sadarkah Abang.. Netta memang anak-anak" teriak Netta sampai menangis.

Bang Yudha mengatur nafasnya, ia pun menyadari kesalahannya.

"Maksud Abang bukan begitu"

"Bohong, Abang sengaja paksa Netta kesini karena pengen buat Netta sedih khan?" tuduh Netta.

"Laahh.. Yang ngotot minta ikut kesini khan kamu sendiri dek" jawab Bang Yudha.

"Sekarang Abang mau salahin Netta lagi??"

Bang Yudha mengusap wajahnya dengan gemas.

"Iyaa.. Abang yang paksa, sampai nangis-nangis memohon sama kamu biar mau ikut Abang" ucapnya mengalah.

"Sudah.. sekarang diminum jus nya"

"Ini dedek yang minta, papanya yang habiskan"

"Ya Tuhan.. Abang nggak doyan dek..!!" tolak Bang Yudha.

"Tapi anak Abang yang mau"

Mendengar kata anak sungguh membuat Bang Yudha mati kutu.

:

"Hhhkkk..." rasanya Bang Yudha sudah mau pingsan, perutnya terasa tercengkeram menolak jus pare hasil ngidam bumil.

"Pahiiiitt..!!!" wajah Bang Yudha sudah pucat bukan main.

"Habiskan lah Bang, biar tahan lama di ranjang" kata Bang Ubed.

"Nggak minum beginian Abang juga kuat bed. Itu di perut sudah ada calon komandan" jawab Bang Yudha kemudian kembali muntah.

"Tapi ini fakta Bang, makan pare bikin kuat" Bang Ubed begitu meyakinkan sampai membuat Bang Yudha yang sedang 'mabuk' mulai terpengaruh.

"Ya sudah lah, Abang habiskan saja.." Bang Yudha segera menghabiskan jus pare meskipun rasanya hampir memutus urat syaraf nya.

"Kamu sudah berapa kali test on bed?" tanya Bang Yudha.

"Ijin Bang, sama sekali belum. Ini juga baru Abang yang coba" Jawab Bang Ubed tanpa rasa bersalah.

"Ubeeeeeedddd.. kurang ajar kamu. Push up..!!!!!" bentak Bang Yudha saking kesalnya.

"Eghh.." Bang Yudha ambruk karena lemas terlalu banyak muntah.

"Dan.. masih kuat?" tanya seorang anggota Bang Yudha.

"Tolong ambilkan saya minum" pinta Bang Yudha.

Bang Ubed bermaksud membantu seniornya, tangannya tanpa sengaja menyambar gelas jus pare.

"Astagfirullah.. saya nggak mau pare itu lagi..!!!!!" Bang Yudha sampai histeris karena trauma meminum jus pare.

"Sudah habis Bang jus nya?" tanya Netta yang baru kembali dari toilet.

"Sudah"

"Enak nggak Bang?" tanya Netta.

"Enak" jawab Bang Yudha sekenanya.

Netta meminta gelas itu dari tangan Bang Ubed tapi Bang Yudha segera menyambarnya.

"Netta mau Bang"

Tanpa banyak buang waktu, Bang Yudha meneguk minuman masalah itu sampai habis meskipun itu berarti harus mengorbankan lambung dan kerongkongan nya lagi.

"Iiihh Abang, Netta mau" protes Netta.

"Hudi.. tolong belikan jus apa saja, asalkan jangan jus pare lagi" perintah Bang Yudha sembari memberi

Netta menghentak dan menangis melihat jus nya sudah habis.

"Dek.. itu Abang sudah belikan jus yang lain. Jangan minta jus pare lagi lah"

"Tapi Netta juga pengen jusnya" kata Netta.

"Tadi kamu bilang jus pare itu untuk Abang"

"Kapan Netta bilang???" Wajah Netta berkerut masam tak mau di salahkan.

"Lailaha Illallah.. lain kali segala apa harus ada permintaan tertulis, kalau begini caranya Abang terus nih yang salah" protes Bang Yudha.

Para anggota menunduk tersenyum melihat perdebatan komandan dan istrinya.

"Katanya Abang sayang sama Netta, begini saja sudah marah" mata Netta berkaca-kaca lalu pergi meninggalkan Bang Yudha.

Melihat Netta pergi, seketika membuat Bang Yudha panik. Ia pun beranjak mengikuti Netta meskipun perutnya masih terasa tak karuan.

"Abang nggak marah dek..!!"

"Kenapa Abang bentak Netta terus?" tanya Netta.

"Jusnya nggak enak dek. Sumpah nggak enak. Abang saja sampai muntah, Abang nggak mau kamu sampai muntah juga" ucap jujur Bang Yudha.

"Jadi pilihan Netta salah??"

"Ya Allah Ya Rabb.." Bang Yudha mengusap dadanya meluaskan sabarnya.

"Nggak salah dek. Cuma Abang nggak bisa makan pare"

"Itu sama aja Abaang..!!!"

"Ya sudah.. Abang salah. Maaf ya..!!" ucap Bang Yudha mengalah daripada harus terjadi perang di antara mereka.

"Netta maafin. Tapi jangan di ulang lagi...!!"

"Siap Bu" Bang Yudha sedikit menunduk takzim agar Netta tak lagi marah.

Kita di pertemukan dengan cara yang salah, tapi Abang yakin perasaan ini tidak salah. Biar seluruh dunia menentangnya, hanya kamu satu-satunya pelabuhan hati Abang.

...

Netta mencoba kasur barunya. Raut wajahnya terlihat datar saja.

"Itu sudah yang terbaik disini, Kalau mau yang bagus harus PO dulu dan datang satu bulan lagi. Abang langsung beli yang ini biar tidurmu nyaman, tak terasa perutmu akan cepat besar. Abang sudah paham kamu nggak nyaman berada di lingkungan baru ini" kata Bang Yudha.

"Netta nyaman kok" ucapnya tapi berbanding terbalik dengan ekspresi wajahnya.

"Nona besar kuat tinggal disini?" ledek Bang Yudha.

"Terpaksa.. si dedek minta di temani papanya" jawab Netta.

"Dedek apa mamanya dedek??" Bang Yudha mendekatkan wajahnya ke wajah Netta membuat istri kecilnya tersipu malu.

.

.

.

.

Terpopuler

Comments

Alif Septino

Alif Septino

dua duanya bang Yudha 🥰🥰
semangat kak Nara 💪

2022-01-12

1

M⃠Ꮶ͢ᮉ᳟Asti 𝆯⃟ ଓεᵉᶜ✿🌱🐛⒋ⷨ͢⚤

M⃠Ꮶ͢ᮉ᳟Asti 𝆯⃟ ଓεᵉᶜ✿🌱🐛⒋ⷨ͢⚤

mamanya dedek 🤣

2022-01-11

5

Iis Cah Solo

Iis Cah Solo

bumilnya memang paling pintar harus semua dituruti....sabar bang yudha...😊😊💪💪💪💪

2022-01-09

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!