Bang Winata terus teringat kejadian sesaat Netta syok saat tau dirinya dan Yudha adalah tentara.
Flashback on..
"Bang Alex.. tentara????" Netta tak percaya mendengarnya hingga kakinya terasa lemas.
"Iya, Abang dan Ori memang tentara. Nama aslinya adalah Armedya Yudha Kadedaha. Orion adalah nama tugasnya" jawab Bang Winata menjelaskan.
"Netta nggak mau jadi istrinya tentara Bang" ucap Netta berlinang air mata.
"Sayaang.. semua sudah terjadi. Yudha sudah menikahi mu. Lagipula.. ada anak yang harus kalian pikirkan. Jangan karena keegoisan orang tua, anak jadi korban" nasihat Bang Winata untuk Netta.
"Semua akan baik-baik saja dek. Abang mengenal siapa Yudha. Kalau sampai dia menyakitimu, Abang sendiri yang akan turun tangan" janji Bang Winata.
Bang Winata menyatukan tangan adiknya dan Bang Yudha. Mata itu terus menatap lekat pria di hadapannya.
"Apapun masalah di antara kita, aku ini tetap seorang Abang. Berat untuk ke melepas Netta ke dalam pelukan mu pot. Jika suatu saat nanti ada niatmu untuk menyakitinya.. ingatlah masih ada aku.. Abang kandung Netta"
"Akan ku sayangi adikmu selayaknya seorang istri dan Netta akan menjadi satu-satunya wanita yang ada di hatiku"
Ingin sekali rasanya Bang Winata menyembunyikan rasa bergulat tak menentu dalam dadanya. Tapi dirinya harus berbesar hati menerima garis yang sudah Tuhan takdirkan untuk mereka jalani. Linangan air mata itu akhirnya tumpah juga.
"Aku benar-benar titip adik ku"
Netta pun akhirnya ikut menangis karena baru kali ini ia melihat Abangnya sampai menangis seperti ini. Ia pun memeluk pria yang memakai nama Winata di baju seragamnya.
"Netta akan baik-baik saja Bang. Abang tau khan Netta tidak selemah itu" ucapnya berusaha tegar.
"Abang tau.. adik Abang ini memang kuat. Jadilah dewasa, hidup ini masih panjang" ucap Bang Winata.
:
"Aku sungguh minta maaf" kata Bang Yudha.
"Kau harus jaga betul agar Netta tidak tau kalau kamu yang sudah membuat ibuku hanya tinggal nama"
"Akan ku usahakan sebaik-baiknya Win"
"Netta sedang hamil, baru tau kita seorang tentara saja mentalnya sudah down dan begitu tertekan. Aku takut dia tidak akan sanggup menerima kenyataan kalau kamu yang menghabisi nyawa ibu" jawab Bang Winata.
Hati Bang Yudha pun terasa perih. Tak ada manusia yang bisa menolak jalannya roda kehidupan.. tapi saat kejadian itu, sungguh ia tidak tau kalau istri Pak Subrata itu akan menghadang tubuh suaminya menjadi tameng agar peluru panas tidak menembus tubuh Ketua mafia tersebut.
"Putuskan hubungan mu dengan Tania. Aku tidak mau wanita itu menjadi duri dalam rumah tangga kalian" Bang Winata memberi kode keras pada Bang Yudha.
"Tania sudah menikah"
"Kau salah pot, dia kabur di hari pernikahannya dan mencarimu" kata Bang Winata.
Bang Yudha terdiam sejenak, kini sungguh ia tak peduli lagi dengan apapun yang terjadi di dunia ini. Baginya Netta adalah prioritas hidupnya. Tak ada lagi wanita lain dalam hidupnya kecuali gadis kecilnya itu.
"Aku tidak peduli.. istriku Arnetta, bukan Tania"
"Ku harap itu bukan bualan mu saja" jawab Bang Winata.
flashback off..
-_-_-_-_-
"Akhirnya kamu cari Abang juga khan?"
"Bang.. Abaang..!!!!" Netta bangkit dan merabadi sekitarnya, tanpa cahaya.. ia benar-benar ketakutan"
Akhirnya Bang Yudha membuka pintu kamar dan masuk menemui Netta.
"Makanya kalau penakut itu jangan sok" ledek Bang Yudha.
"Lampu ini nggak akan menyala sampai besok pagi. Kamu mau tidur sendirian atau Abang temani?"
"Abang temani" ucap Netta lirih.
"Naahh.. gitu khan enak. Coba dari tadi. Nggak ribet begini urusannya" kata Bang Yudha.
Deru nafas Netta masih terdengar kencang. Ia begitu ketakutan.
"Apa nggak ada genset, lampu cadangan atau lilin Bang?" tanya Netta.
"Nggak ada, hanya ada Abang saja."
"Ayo kita ke kota beli lampu..!! Netta banyak uang banyak. Netta bawa kartu ATM, uangnya banyak kok Bang" ajak Netta.
"Selama kamu jadi istri Abang, kamu hanya akan hidup dari uang Abang. Dilarang keras memakai harta orang tua, hidup seadanya sama Abang. Abang ini tentara, meskipun ada kalanya kita mampu dan bisa membeli sesuatu itu.. biasakan untuk hidup sederhana" terang Bang Yudha.
"Lalu kartu ATM ini untuk apa?"
"Simpan saja..!!"
"Ada hal yang harus kamu patuhi. Abang kepala keluarga disini, jangan pernah kamu bertingkah tanpa ijin Abang. Tidak bersuara keras melebihi Abang, memakai pakaian yang sopan dan tidak mengundang syahwat pria kecuali di hadapan Abang. Sampai sini kamu paham?" ucap Bang Yudha menegaskan.
"Paham.. Om Yudha" Netta benar-benar takluk dalam pelukan Bang Yudha. Wibawa suaminya sungguh membuatnya tak bisa berkutik lagi.
Bang Yudha tersenyum, mungkin saja saat ini masih di anggap terlalu tua untuk Netta.
"Seorang istri wajib taat dengan perkataan suami. Abang imam keluarga yang memimpin kemana arah rumah tangga kita akan berjalan. Kamu boleh melawan Abang seandainya Abang tidak melaksanakan fungsi Abang sebagai suamimu."
Dengan tenang namun pasti, Bang Yudha memagutt bibir bersemu pink milik Netta. Ada rasa hangat, manis, wangi permen karet.. berbeda dengan dirinya yang lebih di dominasi asap rokok. Ia pun memberi jeda agar Netta bisa bernafas dan terbiasa dengan dirinya, terasa sekali Netta masih gemetar takut saat berduaan dengannya.
"Apa Om Yudha terlalu menakutkan bagimu? Abang rela kehilangan apapun demi mempertahankan kamu.. asalkan kamu setia. Jangan pernah bermain api di belakangku sayang" bisik kecil Bang Yudha kemudian mengangkat Netta dan merebahkannya di ranjang.
Netta mengangguk kehilangan tingkahnya.
"Rasa sayang Abang ini hanya untuk kamu" Bang Yudha menyelipkan tangannya di balik pakaian Netta.
:
Terbayang wajah Tania sesaat sebelum pelepasan, rasanya begitu sesak dan sakit mengingat wajah wanita yang pernah ada dalam hatinya, tapi semua itu sirna saat sekilas ia bisa menangkap raut wajah Netta yang masih kesakitan.
Tak lama lampu menyala, Bang Yudha memang meminta pada anak buahnya untuk menyalakan meteran listrik satu jam kemudian. Saat ini hatinya semakin tidak tega, Netta sungguh menggoyahkan batinnya. Rasa yang awalnya belum begitu terasa, berubah menjadi rasa sayang. Dengan sadar meminta Netta dan secara sadar pula ada benih rasa dalam hatinya. Ia menghapus air mata Netta.
Bang Yudha memejamkan matanya, ia mengerang merasakan nikmatnya surga dunia. Sesaat kemudian selesai lah sudah rasa rindu yang menyiksanya, bersamaan dengan Netta yang juga ikut gelisah dalam dekapannya.
"Jangan nangis dek, Abang nggak kasar khan?" ucapnya terengah mengatur nafas.
"Ranjangnya keras, badan Netta sakit" ucapnya mengadu.
Bang Yudha menahan senyum geli.
"Besok pagi Abang belikan ranjang yang baru."
"Sama jus pare, pakai gula merah ya Bang" pinta Netta masih merangkul kan kedua tangan di belakang tengkuk Bang Yudha.
Senyum Bang Yudha lenyap, ia menepuk dahinya.
"Abang belikan asalkan kamu nggak muntah"
"Nggak lah. Anak Abang nih yang minta"
Mendengar kata manja itu, Bang Yudha tak kuasa lagi menolak. Ngidam bumil memang selalu tak terduga.
"Siaaapp.."
.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 36 Episodes
Comments
Araya Raya
semangat kak
2022-01-13
1
Alif Septino
semangat kak Nara 🥰
2022-01-12
1
Iis Cah Solo
akhirnya luluh juga ...netha...💪💪💪💪...bang yudha😊😊😊
2022-01-09
1