Bang Yudha mengeringkan rambutnya setelah benar-benar mandi kembang karena Netta sangat marah.
"Buat dosa apa lu?" tegur Bang Winata yang bersiap pulang kembali ke Jawa.
"Adikmu ngamuk gara-gara Tania nyosor. Aku nggak sempat menghindar. Akhirnya ya sudah.. inilah hasil perkara itu" Bang Yudha menunjukan bibirnya yang bengkak.
uu
"Hahahaha... rasakan. Itulah rasanya kalau perempuan sedang cemburu." Bang Winata tak bisa menahan tawanya.
"Apa Rico dan Netta masih ada hubungan?" tanya Bang Yudha tiba-tiba.
"Sebenarnya aku juga tidak tau, yang ku tau terakhir kali Netta meninggalkan Rico karena dia sulit di hubungi. Kau tau sendiri Rico ketua team empat" jawab Bang Winata.
"Kau bohong.. ketua team empat sempat di nyatakan gugur. Pasti Netta sempat mengira seperti itu juga khan?" tanya Bang Yudha lagi.
"Jangan pikirkan itu. Netta sudah jadi istrimu, tentu kamu yang lebih berhak di atas segalanya" jawab Bang Winata.
"Apa menurutmu masih ada perasaan di antara mereka?"
Bang Winata menepuk bahu Bang Yudha.
"Ku ulang sekali lagi. Netta adalah istrimu pot"
-_-_-_-_-
"Apa benar Bang Rico masih hidup?" tanya Netta saat mengantar Bang Winata yang akan menaiki kapal.
Bang Winata mengangguk lalu memeluk adik perempuan satu-satunya itu.
"Jangan tanyakan tentang pria lain, Yudha pasti sangat terluka mendengarnya. Jadilah istri yang baik untuk Yudha. Setelah kalian melewati hari, Abang yakin pasti ada hati di antara kalian berdua"
"Katakan pesan untuk Bang Rico. Netta minta maaf sudah mengkhianati hubungan itu. Netta pun baru tau kenyataan tentang perempuan itu beberapa hari yang lalu" jawab Netta.
Bang Yudha sempat mendengarnya tapi ia menahan kuat perasaan dalam hatinya. Rasanya sungguh sakit menyadari sang istri masih memiliki perasaan untuk pria lain. Ia mencoba bersikap biasa saja saat menghampiri Netta dan Bang Winata.
"Hati-hati bro.. semoga nanti pernikahanmu dengan Anya lancar.. Sakinah mawadah warahmah dan cepat mendapatkan keturunan" do'a Bang Yudha sembari mengantar kepergian littingnya.
"Terima kasih. Aku titip Netta ya. Bimbing dia, tolong jangan sakiti dia. Kalau kamu tak lagi menginginkan kehadirannya.. kembalikan dia padaku" pesan Bang Winata.
"Selama aku masih ada di dunia ini, hidupku.. nafasku.. nadiku hanya untuk mencintai adikmu ini. Tania tidak ada lagi, meskipun mungkin nama ku belum sepenuhnya ada di dalam hatinya" ucapnya sembari melirik Netta.
...
Bang Yudha baru mengantar Netta pulang. Istrinya itu lebih banyak terdiam dan melihat bahu jalan, mungkin sedih Abangnya harus kembali bertugas di Jawa karena ijin cutinya sudah habis.
"Mau pulang atau mau jalan-jalan dulu?" tegur Bang Yudha.
"Pulang saja.. Netta capek Bang"
Bang Yudha mengusap rambut panjang Netta.
"Ya sudah.. kita pulang" meskipun hatinya terasa sakit, Bang Yudha masih mengembangkan senyum.
Netta terdiam dan sesekali menghapus air matanya.
Ya Allah.. apa perasaan Netta belum juga terbuka untuk ku. Sudah ada benih ku dalam rahimnya, tapi kenapa masih ada nama pria lain di hatinya. Rasa sakit ini seakan akan ingin menghilangkan nyawa Rico dari bumi ini.
Sesekali Bang Yudha membuang nafas dan mengusap dadanya berharap perasaanya bisa sedikit lebih tenang.
...
"Abang ke kantor dulu ya. Kamu istirahat.. jangan banyak pikiran..!!" pesan Bang Yudha.
"Iya Bang, jangan lama-lama ya. Netta malas sendirian di rumah" ucap Netta tanpa sadar.
Bang Yudha tersenyum mendengarnya, seolah ada secercah harapan dari hubungan yang sedang mereka jalani saat ini.
"Pasti.. tunggu Abang ya..!!"
:
Bang Yudha mengacak-acak meja kerjanya surat pernikahannya dengan Netta raib tanpa jejak. Hatinya gundah gulana karena hanya itu satu-satunya bukti yang ia miliki saat ini untuk memperkuat status Netta, apalagi surat itu sebagai acuan ke KUA agar buku nikah mereka bisa terbit.
"Apa Tania yang menghilangkan surat itu? Bagaimana data diri anakku nanti. Aku butuh surat itu untuk kekuatan hukum" Bang Yudha terduduk lemas, badannya tak bertenaga, pikirannya terasa buntu.
:
Netta merebahkan tubuhnya yang lelah, tangannya terselip di bawah bantal dan tanpa sengaja menyenggol sesuatu. Netta pun segera mengambil beberapa lembar kertas kemudian membacanya.
Terlihat ada berita 'penghargaan', ada apresiasi karena Bang Yudha mampu melumpuhkan musuh. Tertembaknya istri mafia di daerah Bandung. Hati Netta terasa hancur dan sesak menghadapi kenyataan bahwa suaminya sendiri yang telah menghabisi nyawa ibu kandungnya. Netta marah dan menangis sekuatnya. Ia meraba perut datarnya dan frustasi menyadari dirinya malah mengandung benih dari pembunuh ibunya.
"Aku nggak mau.. aku nggak mau anak ini..!!!!!" Netta memukuli perutnya dengan kencang, ia pun melompat berharap janin itu gugur karena tak bisa menerima kenyataan pahit ini.
"Heeh Netta..!!! Kenapa kamu dek..!!!!" Bang Yudha mendekap dan berusaha menenangkan Netta yang sedang kalap.
"Pembunuh..!! Abang membunuh Mama. Abang membuatku nggak punya ibu..!!!!" teriaknya histeris.
Bang Yudha melirik lembaran kertas yang ada di atas bantal.
"Abang bisa jelaskan. Kita bicara baik-baik ya dek..!!" bujuk Bang Yudha.
"Netta nggak mau anak ini. Netta nggak mau hamil anak dari seorang pembunuh..!!!!" Netta terus meronta memukuli perutnya.
"Jangan Netta.. istighfar.. Dia nggak salah dek. Jangan sakiti anak ini dek. Abang mohon..!!" Bang Yudha berlutut di kaki Netta. Hatinya benar-benar hancur berantakan dan ketakutan.
"Pilihannya hanya dua. Netta.. atau anak ini..!!" kata Netta memberi pilihan sulit.
"Itu bukan pilihan dek, Abang sayang kalian berdua" jawab Bang Yudha.
Tangan Netta menyambar sangkur yang tergantung di dinding, masih berada dalam sarungnya. Netta mengarahkan sangkur itu tepat di perutnya.
"Kalau Abang ingin anak ini, ceraikan Netta"
Sungguh Bang Yudha frustasi. Ia tidak mungkin menceraikan Netta tapi juga tak mungkin menghilangkan calon anaknya yang tanpa dosa.
"Apa ada pilihan lain??" tanya Bang Yudha sendu.
"Tidak ada"
"Tolong dek, Abang nggak sanggup kehilangan kalian" bujuk Bang Yudha.
"Netta sangat membencimu Bang, Sangat.. penyesalan terbesarku adalah menjadi istrimu..!!" ucap Netta.
Jantung Bang Yudha terhantam keras, hatinya berantakan tak sanggup memilih apalagi menghadapi kebencian Netta.
"Abang ingin jelaskan tapi waktunya belum tepat"
"Abang masih mau membela diri???? Tidak sadarkah Abang sudah menyakiti perasaanku??? Netta tak ingin hidup bersama pembunuh, Netta nggak mau anak ini Bang..!!!!!!!!"
Suara ribut itu terdengar sangat kencang. Dari tetangga melapor ke piket depan hingga Bang Ubed menerima informasi itu.
"Pergilah.. tapi tolong jaga dia. Abang memang salah..!!"
"Terima kasih..!! Tapi Netta tak inginkan anak ini..!!!" Netta membuang sangkurnya lalu mengemasi barang-barang seadanya. Masih ada rasa mual yang ia tahan sekuatnya. Rasanya ingin menangis kencang. Tak ada ibu yang tidak menyayangi anaknya, tapi sungguh sesak terasa di dada. Kenapa harus Bang Yudha menghabisi nyawa ibunya, juga kenapa harus Bang Yudha ayah dari bayi yang di kandungnya.
"Kamu akan berurusan denganku kalau sampai terjadi sesuatu dengan anak itu Netta"
"Aku bukan istrimu lagi Bang..!!"
.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 36 Episodes
Comments
timbuljaya
pasti ulah tania,yg ingin rmhtga yudha hancur n bisa msk k kehidupan yudha lg. sabar ya yudha. minta tlg kk nya Netta ya yudha.
2022-09-12
1
Dwi Ara
lepas dr 1 masalah dtg lagi masalah yg lain...
yg sabar y bang Yudha...
2022-04-26
1
Alif Septino
semangat kak Nara
2022-01-13
1