Netta terhuyung tak sanggup menyeimbangkan tubuhnya. Matanya berkunang-kunang, ia ambruk di bawah terik matahari yang baru masuk pukul sembilan pagi. Para anggota sampai kaget melihat Netta dengan wajah pucatnya.
"Mungkin ibu terlalu lelah perjalanan Pak" kata Pak Mufid.
"Istri saya hamil muda Pak. Makanya lemas sekali, masih mabuk-mabuknya" jawab Bang Yudha.
"Siap Dan.. Rumah dinas sudah siap huni. Danki dan ibu bisa langsung masuk"
"Terima kasih banyak Pak Mufid. Kalau boleh saya tau.. siapa wakil saya. Karena ini mendadak, saya belum tau siapa wakil saya." tanya Bang Yudha.
"Ijin.. Letda Mas Kelabed?" jawab Pak Mufid.
"Astaga.. kenapa si Ubed wakilku" gerutu Bang Yudha.
"Dasar bumbu dapur"
...
Bang Yudha memandangi tempat dinasnya yang baru. Pangkat Lettu akan di pandang sebelah mata di manapun juga karena seharusnya yang menjabat Kompi tersebut minimal berpangkat Kapten.
"Jangan berkecil hati komandan. Kami akan membantu dan mendampingi komandan. Kami tau kemampuan Komandan" kata Pak Mufid.
Bang Yudha menarik nafasnya dalam melegakan pikirnya.
"Saya belum melegalkan pernikahan saya di mata hukum dan militer, saya hanya membawa surat pernyataan bahwa memang benar Arnetta adalah istri saya"
"Kami paham Dan. Yang penting sudah jelas adanya kalau Bu Arnetta adalah istri Komandan"
"Terima kasih banyak Pak. Sementara biar istri Ubed yang handle segala kegiatan. Status saya masih bujangan" kata Bang Yudha.
Bang Yudha mendekap erat Netta yang baru bisa tidur sejak kemarin karena terus saja muntah.
-_-_-_-_-_-
"Kita sekamar Bang?" tanya Netta dengan polosnya.
"Kita ini bukan pasangan pisah ranjang. Kamu mau pisah?"
"Sejak Mama meninggal, Netta biasa tidur di temani bibi. Nggak pernah tidur sama laki-laki" jawab Netta.
"Ya sekarang biasakan tidur sama Abang. Nggak ada bibi disini, yang ada Abang.. Mau nggak?"
"Nggak mau. Nanti Abang curi kesempatan terus buat Netta sakit lagi" jawab Netta dengan ketus.
"Kita sudah menikah, apa salahnya kalau Abang tidur disini??" Bang Yudha sudah mulai kesal karena malam hari terasa sangat dingin menusuk tulang.
"Nggak ma_u" Netta menarik selimut tebalnya dan itu masih di tambah sehelai bed cover.
Ya ampun.. Ini bocah benar-benar ya. Mana dingin begini. Bisa beku nih satu badan.
"Abang keluar.. nikmati malam pertamamu di hutan belantara. Kalau nanti malam ada yang ketuk jendela kamarmu, jangan coba cari Abang. Abang mau ke pos" ancam Bang Yudha. Saat ini dirinya hanya sedang ingin melupakan bejibun masalah dalam hidupnya. Tapi malam ini rasanya malah akan tertimpa masalah baru karena Netta sedang tak ingin dekat dengannya.
"Terserah, Netta nggak takut. Ucapnya ringan."
Netta berbalik badan dan memejamkan matanya, Bang Yudha meradang dampai menendang pintu dengan kasar namun tak sedikitpun membuat Netta ketakutan.
"Aseemm.. cilik wae kok kakehan macem. Tak uleg nangis kowe dek" gerutu Bang Yudha.
...
gubraaaaaakkkk...
"Apa itu???" Bang Yudha berjingkat sangking kagetnya.
"Ijin.. Dan Ubed tercebur di parit" lapor seorang anggota.
"Ya Tuhan.." Bang Yudha menepuk dahinya.
:
"Malam bikin onar. Sebenarnya apa maksudmu tengah malam pakai kacamata hitam?" tegur Bang Yudha.
"Mau sambut Abang lah" jawab Lettu Ubed.
"Ya nggak usah buat onar juga lah bed"
"Saya nggak mau kalah ganteng sama Abang. Buktinya saya sudah kawin satu bulan yang lalu" ucap Bang Ubed sesumbar.
"Kau pikir.. kau saja yang bisa kawin?" tanya Bang Yudha.
"Jelas lah Bang.. sampai sekarang, status Abang masih bujangan" Ledek Bang Ubed.
Bang Yudha mengibaskan tangannya, gemas melihat Bang Ubed yang terlalu banyak tingkah.
"Eehh Bang, mau kemana?? Ngopi dulu kita..!!"
"Ngelonin bini, takut di gondhol luwak" kata Bang Yudha sembari mengusap lengannya. Malam terasa amat sangat dingin sekali, bahkan puncak gunung jaya tak jauh dari lokasinya.
...
Bang Yudha celingukan memanjat dan mengintip dari lubang ventilasi. Netta tidur dengan nyenyak dan tak ada tanda bisa di ganggu.
"Bisa-bisanya dia tidur senyenyak itu, apa dia nggak pengen aku colek tipis-tipis"
Masih tetap berusaha keras, tak lama ada dua orang anak buah Bang Yudha sedang patroli tengah malam. Mereka berdua menyoroti Danki yang tengah susah payah mengintip istrinya.
"Ada yang bisa di bantu Dan?" tanya aalah seorang anggota.
gubrakk..
"Aaawwhh.." Bang Yudha sedikit terpeleset, tapi dirinya langsung bersikap cool menutupi gugupnya.
"Ehh.. Nggak ada, kalian lanjut saja. Saya hanya cek lubang ventilasi"
~
Setelah dua orang anak buahnya pergi, Bang Yudha mondar-mandir di depan teras memikirkan bagaimana caranya agar bisa masuk ke dalam kamar. Udara dingin sudah membuatnya hampir mati beku.
"Byuuuuhh.. ademeee.. duwe bojo siji wae mokong tenan"
Bang Yudha mulai gelisah, bagaimanapun juga ia adalah seorang pria dewasa yang memiliki rasa sedangkan istrinya masih berusia delapan tahun di bawahnya dan belum begitu peka dengan arti hubungan ranjang.
"Tiba-tiba hamil, tiba-tiba nikah, sekarang tiba-tiba juga aku rindu sama istri kecilku, ini wajar atau memang pikiranku tercemar??" gumamnya pusing sendiri.
"Halaaahh terserah.. mau tercemar juga yang kupikirkan itu istriku sendiri" Bang Yudha menengok kanan dan kiri lalu menurunkan meteran listrik hingga lampu padam dan gelap gulita.
"Satu.. dua.. tiga..!!"
"Abaaaaang..!!!!!!" teriak Netta dari dalam kamar.
Senyum licik Bang Yudha tersungging nakal.
.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 36 Episodes
Comments
Risma Riskita
😆😆😆udah gk kuat nahan dingin.lngsung aja matiin lampu🤭🤭🤭
2022-10-12
1
timbuljaya
koooopplaaak dah Yudha...11 12 sm wakilnya neh kayanya.😅😅😅😅
2022-09-12
1
Lani Kusmaryani
jadi ingat bang garin yg selalu bersikap konyol ya gak thor
2022-01-18
1