Tania melihat kiriman bakso mercon yang di klaim adalah makanan pemberian Bang Yudha.
"Itu pasti pemberian dari bocah cilik itu. Bang Yudha pasti tau aku nggak suka makanan pedas dan tau kalau aku paling suka makan steak" gumamnya pelan.
Setelah semua anggota pergi.. Tania menuang isi mangkok bakso itu ke tong sampah.
***
Tania tersenyum sinis. Perlahan ia keluar dari ruang kerja Bang Yudha.
"Mbak Tania baru keluar dari ruangan Danki? Ada apa?" tegur Bang Ubed.
"Nggak ada, saya hanya penasarannya saja dengan ruangan calon suami saya" jawab Tania dengan percaya diri lalu meninggalkannya ruangan Bang Yudha dan kembali ke rumah.
Kening Bang Ubed berkerut melihat ada yang tidak beres dengan tamu Danki terutama sikap dan tingkah nya. Ia segera menghubungi Bang Yudha.
~
"Monitor.. terima kasih infonya Bed.." Bang Yudha menutup panggilan telepon, ia pun merasa cemas ada sesuatu yang tidak beres.
Tania itu wanita yang tidak mudah menyerah. Tapi apa maksudnya masuk ke ruanganku?.
***
Bang Yudha dan Netta kembali ke Kompi karena Tania ingin kembali pulang ke Jawa. Tepat hari ini ada pesawat menuju pusat kota.
"Aku pamit ya Bang..!!" Tania berjinjit dan mengecup bibir Bang Yudha. Bang Yudha yang terkejut dan tidak siap, refleks mundur menghindari Tania dan menjauh dari Netta dan Tania.
Wajah Netta nampak biasa saja seolah tak terjadi apapun disana.
Melihat Netta tidak marah, Tania pun menjadi kesal.
"Uuppss.. maaf..!! Aku lupa kalau Bang Yudha sudah punya kamu"
"Nggak apa-apa mbak. Santai saja, jangan merasa tidak enak begitu" jawab Netta dengan santai.
"Mbak hanya dapat bibir, lagi pula seleranya Abang bukan bibir, makanya Abang mundur"
"Maksudmu?????"
"Abang nggak selera kok sama perempuan yang dadanya cuma se cetakan nasi" ucap Netta.
"Heeh.. anak kecil. Kamu jangan bangga. Kamu itu sudah memperdaya Abang sampai kamu hamil. Bisa saja itu bukan anak Abang. Bukti kamu menikah dengan Abang saja tidak ada" bisik Tania dengan berani.
"Setidaknya aku sudah dinikahi dan tidak ada gunanya mengumbar kemesraan sama mantan, takut hatimu terbakar. Ingatkah kau bagaimana tergila-gila nya Abang sama aku sampai bertekuk lutut di hadapanku" Netta balik berbisik di telinga Tania.
"Itu hanya bualanmu saja" jawab Tania.
"Kau mau liat bagaimana sikap Bang Yudha padaku???"
Netta seolah meraba kursi dan memegangi perutnya, ia memercing kesakitan.
"Aduuhh.. Bang..!!" sapa nya memanggil Bang Yudha.
Seketika itu juga Bang Yudha menoleh.
"Netta.. kamu kenapa dek????" terlihat Bang Yudha panik. Pria itu langsung memeluk Netta dengan erat.
"Apa yang sakit???? Bilang sama Abang..!!!!!!!!!!"
"Perut Netta, rasanya seperti di peras" jawabnya membual penuh penghayatan.
"Tahan sebentar..!!" ucapnya sembari mengusap perut Netta.
"Ujoo..!! Antar saya ke klinik sekarang..!!!!!" perintah Bang Yudha.
Netta menjulurkan lidahnya menunjukkan tanda kemenangan di hadapan Tania kemudian Netta bersandar di bahu Bang Yudha.
"Sakit ya?? Sabar ya Mama sama dedek. Ini Papa carikan mobilnya suruh cepat" pandangan Bang Yudha terfokus pada anggotanya.
"Cepat Jooo.. lambatnya kamu aahh" bentak Bang Yudha.
"Siap.."
Tania semakin terluka karena Bang Yudha terlihat sekali sangat menyayangi Netta, si gadis kecil pembuat onar.
"Bang.. aku mau pergi sekarang" kata Tania mencoba mengalihkan perhatian Bang Yudha.
"Iya.." jawab Bang Yudha singkat.
"Abang sudah nggak peduli sama aku lagi?" tanya Tania.
"Eegghm" Netta semakin merosot dari pelukan Bang Yudha.
"Dek.. Aduuuhh.. kenapa kamu tiba-tiba drop begini????????" Bang Yudha semakin kelabakan cemas.
"Ujoooooooo..!!!!!!!!!!!!!!!!!!! semprul Kowe"
"Siap Dan..!!" ucapnya sembari turun dari mobil.
"Siap.. siap aja kamu daritadi. Gerakmu itu yang cepat..!!!! Lelet seperti keong kamu ini. Besok pembinaan ketat buat kamu..!!!" bentak Bang Yudha. Matanya memerah berkaca-kaca mencemaskan Netta.
Dengan sigap Bang Yudha menggendong Netta dan membawanya ke mobil tak peduli dengan Tania lagi.
...
"Nggak ada masalah Pak Yudha. Semua sehat ibu dan bayinya" kata Bu bidan.
Bang Yudha terduduk lemas di kursinya, ia menatap wajah Netta yang memang tidak menunjukan tanda sakit apapun.
"Terima kasih Bu" Bang Yudha terus menatap mata Netta tak mengalihkan pandangannya dari Netta.
:
"Baang.. Netta mau buah mahoni" ucapnya sudah kesekian kali karena Bang Yudha seolah tidak mendengarnya.
"Itu pahit.. Kamu bisa muntah..!!!!!" bentak Bang Yudha dengan geramnya.
"Abang marah???"
"Berhenti Uji..!! Keluar kamu dari mobil..!!"
Ujo segera menepikan mobilnya lalu keluar dari mobil.
Emosi Bang Yudha yang sudah di ujung tanduk akhirnya ia keluarkan juga.
"Kamu pikir Abang harus ngakak saat tau istri sakit? Abang hampir melabrak pihak hotel karena takut kamu keracunan. Tingkah seperti tadi itu sangat keterlaluan dek..!!" tegur keras Bang Yudha.
"Terus Netta harus senang saat lihat Abang di cium anak kuyang?? Status Netta nggak jelas, kita hanya nikah siri. Siapa yang akan bela diri Netta kalau nggak Netta sendiri? Abang kira Netta nggak sedih jadi simpanan om-om, orang berpangkat seperti Abang??" teriak Netta meluapkan kekesalannya sekuat mungkin.
plaaaaakkk...
Netta meneplak bibir Bang Yudha dengan kuat.
"Hilangkan bekas bibirnya dari bibir Abang.. Netta nggak suka.. Netta benci perempuan itu..!!"
Netta mendekatkan wajahnya lalu menggigit bibir Bang Yudha hingga berdarah. Bang Yudha cukup terkejut dengan kemarahan Netta.
Allahu Akbar.. kalau istri sudah ngamuk, habis sudah semua.
Bang Yudha hanya bisa diam pasrah dan memercing menahan sakit menerima kemarahan istrinya.
Setelah meluapkan marahnya, Netta pun melepasnya.
"Sudah puas?? Masih mau gigit mana lagi?" tanya Bang Yudha membuang sikap kerasnya menghadapi bumil. Tangannya menyeka darah bekas gigitan Netta.
Kini Netta yang memercing sakit sampai bersandar di bahu Bang Yudha.
"Aarrhh.. uugghh"
"Abang minta maaf. Semua terjadi di luar kendali Abang. Sumpah, rasa untuk Tania sudah pupus. Abang sudah mau punya anak, nggak kepikiran aneh-aneh lagi dek." bujuk Bang Yudha.
"Dia sudah sentuh Abang" Netta masih berontak tidak terima sembari memegang perutnya.
"Sampai rumah Abang mandi kembang tujuh rupa, buang sial" Bang Yudha pun akhirnya mengusap perut Netta.
"Di eman to dek, Abang pengen tenan lho"
"Mandinya di tambahin sabun kodok..!!!" pinta Netta.
"Mandi sama sabun colek juga nggak apa-apa, pokoknya anak Abang anteng disitu sampai waktunya lahir. Please dek..!!" jawab Bang Yudha tak ingin lagi berdebat dengan istri kecilnya.
.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 36 Episodes
Comments
Dwi Ara
paling suka sm cewek yg bs mempertahankan miliknya....dr depan tampil elegan dibelakang lgs ngenbanting musuh....
salut sm netta....👍👍👍
2022-04-26
1
Iis Cah Solo
mana ada sabun kodok netta..😀😀😀
2022-01-14
1
Araya Raya
semangat netta..lanjutkak
2022-01-13
1