2. Kesalahan pertama.

Ambil pelajaran, jangan hanya mengambil cerita buruknya.

🌹🌹🌹

"Kamu mau di mana cantik??" tantang Bang Ori yang sudah kehilangan akal karena pengaruh minuman haram meskipun ia masih dalam keadaan sadar tapi jelas sekali akalnya sudah mulai goyah.

"Up to you beib..!!"

...

"Astagfirullah hal adzim.. apa yang sudah kulakukan?" Bang Yudha ( Ori ) berusaha sadar dan menarik diri dari tubuh mulus wanita cantik yang sedang ia gagahi.

Baru saja mengangkat tubuh kekarnya, ia tak kuasa lagi menahan pelepasan tak sengaja, tubuhnya menolak menjauh dari Netta. Entah bisikan mana yang membuatnya malah mendekap erat Netta dan mencurahkan seluruh perasaannya yang salah.

"Eghm.." terdengar rintih kecil saat Bang Yudha menekan tubuhnya. Terlalu lelah menikmati pengalaman pertamanya, Bang Yudha pun tertidur. Air matanya menetes mengingat sosok sang ibu.

...

"Hwaaaaaa....!!!!!" pekik suara Netta mengagetkan Bang Yudha hingga pria itu tersentak dari tidurnya.

"Kencang sekali suaramu..!! Kamu mau satu kampung grebeg kita???" tegur Bang Yudha.

"Aaawwhh.. sakit sekali, kamu apakan aku? Kemana pakaianku?" tanya Netta cemas. Ia memercing merasakan nyeri pada pangkal pahanya. Ia sedikit mengintip ada apakah hingga ia merasakan sakit.

"Noda apa ini??" tanyanya lagi dengan wajah polos.

Bang Yudha memperhatikan raut wajah polos Arnetta hingga membuat perasaannya tak tega.

"Maaf.. maafin Abang ya dek" ucapnya semakin menutup tubuh Netta meskipun perasaannya antara ikhlas dan tidak.

Lebih terkejut lagi batin Bang Yudha saat ia juga melihat tanda palang dari Netta.

"Lailaha Illallah.." ucapnya lirih.

Ya Allah Tuhan, minuman itu membuat aku melakukan hal hina seperti ini. Aku menyadari tapi tak mampu menolaknya.

"Sebenarnya apa yang kamu lakukan? Kalau Papa tau.. Papa akan marah sekali karena tidak ada yang boleh melihat tubuhku kecuali Mama" kata Netta sampai sesenggukan.

"Bisakah kamu memanggil orang yang lebih tua dengan panggilan yang sopan..!!!" Tegur Bang Yudha.

"Kita sudah melakukan kesalahan besar. Sepulangnya dari sini, Abang akan bilang ke Papa mu"

"Jangan.. kamu.. maksudku.. Abang bisa mati di tembak Papa" Netta mulai ketakutan tak seperti pribadi yang biasa Bang Yudha kenal.

"Abang memang pantas mati dek. Laki-laki macam apa Abang ini.. nggak bisa menjagamu, malah merusakmu. Abang nggak akan lari, Abang akan tanggung semua perbuatan Abang"

"Nggak Bang, tolong rahasiakan ini. Netta malu. Abangnya netta pasti juga akan mencincang Netta hidup-hidup" Netta memegangi lengan Bang Yudha.

"Abang akan melindungimu dan nggak akan membiarkan kamu menanggung semua beban ini sendirian"

...

Bang Yudha memasukan Netta diam-diam ke dalam rumah tanpa ada seorang pun yang tau. Hari masih menunjukan pukul setengah tiga lagi dan rata-rata pekerja di rumah megah itu masih terlelap dalam tidur.

"Masuklah, Abang kembali ke ruangan"

Netta mengangguk dan masuk ke kamarnya. Langkahnya berjinjit tertatih. Bang Yudha sampai ikut meringis melihat langkah Netta.

"Langsung tidur..!! Jangan bertingkah..!!"

***

Bang Yudha bersujud dan menangis di atas sajadah. Hatinya bergulat hebat. Entah sholatnya itu di terima atau tidak, yang jelas ia ingin bersujud mencurahkan kekalutan batinnya. Kini pikirannya hanya terfokus pada Netta sampai melupakan Tania yang besok akan menikah dengan pria lain.

Nada dering telepon terdengar. Bang Yudha duduk kemudian melirik ponselnya. Ada nama Tania disana tapi Bang Yudha tak ingin menggubrisnya. Selain soal pernikahan Tania, orang tua Tania pun tak pernah merestui hubungan di antara mereka bahkan apapun yang sudah ia lakukan dan berikan pada keluarga Tania tak pernah di hargai.

Ponsel Bang Yudha berhenti berdering. Ia mengingat perkataan orang tua Tania yang begitu menyakitkan hati.

flashback on..

"Setinggi apapun pangkatmu dalam militer, gajimu tak akan pernah bisa menyamai pengusaha. Putriku harus mendapat pria berkelas, aku tak mau putriku di rendahkan hanya karena kemana-mana harus menaiki bus kota atau berpeluh di angkutan kota. Pacaran dengan putriku harus punya mobil" kata Ibu Tania.

"Akan saya penuhi Bu"

"Kalau kamu beli mobil, putriku mau makan apa? Gajimu pasti akan habis untuk mencicil mobil. Rongsokan murah saja kau tak mampu beli"

"Jika hanya mobil second saja saya masih mampu Bu" ucap Bang Yudha merendah kala itu.

"Second???? Aku mendidik putriku sekolah tinggi dan membuatnya hidup enak. Lalu hidup bersamamu akan jatuh miskin dan susah?? Jangan mimpi kamu Yudha. Sekarang lebih baik kamu keluar dari rumah ini. Pasangan yang cocok untuk Tania akan segera datang. Jangan sampai dia melihatmu yang gosong terbakar matahari..!!" usir Ibu Tania.

"Maa.. jangan begitu. Kasihan Mas Yudha" cegah Tania.

"Kalau kamu pengen jadi gelandangan menikah sama tentara yang gajinya kecil.. silakan kamu ikut dia dan jangan anggap Mama Papamu ini ada Tania..!!!!!!!" bentak Mama.

"Baiklah Bu, saya pamit pergi. Tapi jujur saya masih berharap bisa meminang Tania. Saya tulus mencintainya" kata Bang Yudha.

"Cinta tidak akan membuat putriku kenyang. Cepat pergi..!!" usir Mama Tania.

flashback off..

"Ya Allah Tuhan, hatiku sakit sekali mengingatnya" ucapnya mengusap dadanya yang terasa sesak.

Bang Yudha mengingat wajah Netta, hatinya lebih tertusuk nyeri mengingat gadis yang masih belasan tahun itu.

"Kesalahanku pada Netta teramat fatal. Aku sudah berzina dan menggauli Netta tanpa ikatan pernikahan. Aku harus bilang Papanya. Ini sudah resiko dari perbuatanku"

...

"Ori.. kamu jemput Mbak Netta di kampus. Mbak Netta pingsan, sedangkan bos besar berangkat ke Singapura tadi pagi dan Tuan muda sedang berada di Medan" kata Rekan Bang Yudha di rumah besar.

"Pingsan?? Apa sakit?" tanya Bang Yudha.

"Nggak tau, kamu kesana saja..!!"

"Baik Pak, saya berangkat sekarang..!!"

:

"Kamu sudah dapat info apa?" tanya Komandan Markas.

"Ijin Komandan.. baru sebagian informasi. Putri bandit bertopeng sedang sakit" jawab Bang Yudha.

"Saya nggak peduli itu, saya hanya mau kamu dapat info secepatnya. Kalau perlu kamu pacari dia lalu tinggalkan tanpa jejak. Ini taktik Yudha..!!!"

Bang Yudha terdiam, tak mungkin ia meninggalkan gadis yang sudah renggut kehormatannya dan yang utama paling ia takutkan adalah bisa saja gadis itu mengandung benihnya.

"Siap.. akan saya usahakan komandan. Tapi bagaimanapun kerasnya pekerjaan saya, saya tidak ingin ada yang tersakiti" jawab Bang Yudha.

:

Bang Yudha langsung menuju ruang kesehatan kampus dan melihat seorang gadis menemani Netta.

"Apa Mbak Netta belum sadar?" tanya Bang Yudha.

"Belum. Om siapa ya?" Baru kali ini Anya sahabat Netta melihat sosok Bang Yudha.

"Saya anak buah Papanya Netta dan di tugaskan khusus untuk mengawal putri Tuan besar" jawab Bang Yudha masih menjaga kerahasian.

"Oohh.. Iya. Saya Anya sahabatnya Netta. Netta demam, lebih baik di bawa ke ke klinik untuk di periksa kesehatannya"

"Baik Mbak Anya.. saya akan bawa Mbak Netta ke rumah sakit"

...

"Bapak baru menikah? suaminya Bu Netta?" tanya seorang dokter.

"Haaa.. Hmm.. memangnya ada masalah apa dok?"

"Ada pesan dari bagian kebidanan. Saya tidak bisa menerka, mungkin karena bapak dan ibu adalah pengantin baru.. ada bekas trauma di tubuh Bu Netta. Jadi untuk sementara bapak bisa mengurangi aktivitas ranjang sampai istri bapak bisa beradaptasi" Jawab dokter.

Mata Bang Yudha membulat besar. Tangannya menggaruk pelan kepalanya yang tidak gatal.

Merasakan nyaman saja masih mengambang. Semalam bahkan aku masih mabuk berat. Aku mana ingat betul semalam pakai gaya apa sampai buat Netta KO.

.

.

.

.

Terpopuler

Comments

Risma Riskita

Risma Riskita

hadeh 🤦‍♀️bang yu bikin netta kao. kasihan lo bang netta masih polos?

2022-10-12

1

timbuljaya

timbuljaya

ayyyoooo yudha....gmn itu nasib Netta?!

2022-09-12

1

Araya Raya

Araya Raya

❤❤❤❤❤

2022-01-13

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!