Jangan spoiler dan terlalu menebak. Banyak teka teki di cerita Nara..!!
🌹🌹🌹
Pagi ini Netta sudah bisa keluar dari rumah sakit, dua hari menjalani perawatan di rumah sakit sudah membuatnya jenuh.
Bang Winata pun ikut menjemput adik kesayangannya.
bruugghhh..
"Aawwh" seorang gadis jatuh tersungkur tertabrak badan kekar Bang Winata.
"Maaf.. apa ada yang sakit?" tanya Bang Winata sembari membantu Anya berdiri.
"Nggak ada"
"Adek mau kemana?" tanya Bang Winata lagi.
"Mau ketemu teman di kamar ini" tunjuk Anya.
"Kamu temannya Netta?"
"Iya Om"
"Jangan panggil Om.. saya ini kakaknya Netta" jawab Bang Winata sedikit kesal.
Bang Yudha sedikit menunduk menahan tawanya karena ternyata tidak hanya dirinya yang disapa om-om.
Bang Winata berjalan melenggang melewati Bang Yudha.
"Ini incaran bulldog." bisik Bang Winata.
"Sudah kubilang aku tidak suka berebut. Seleraku tidak sepertimu" jawab Bang Yudha.
"Kau mau bilang seleraku murahan??" Bang Winata melirik Bang Yudha dengan kesal.
"Sekarang aku tanya. Vela lebih memilihku apa itu salahku? Kita laki menang memilih, wanita menang menolak. Dia menolakmu pasti punya alasan"
Bang Winata mengibaskan tangannya seolah tak mau tau dengan segala ucapan Bang Yudha.
~
Bang Winata tersenyum memperhatikan paras wajah Anya yang sedang asyik berbicara berdua dengan Netta, sedangkan Bang Yudha masih terpaku melihat senyum manis Netta. Denyut nadinya mengalir kencang berdesir dalam dada.
Ya Allah Tuhan.. sebenarnya aku ini kenapa? Bayangan Arnetta begitu mengganggu. Aku ingin menolak bayangnya tapi seakan menetap dalam jiwaku.
:
"Kamu pengawal pribadi adikku. Jaga dia dengan baik. Aku kembali ke Batalyon ku sore ini dan akan datang lagi Jum'at sore atau jika ada sesuatu yang amat sangat mendesak"
"Iya pot, aku paham"
"Tugasmu hanya menjaga, tolong kamu tidak keluar dari jalur pekerjaan mu. Saat ini posisiku tidak berpihak pada keluargaku atau dirimu" kata Bang Winata.
***
"Jadi papamu supplier senjata ilegal untuk dalam dan luar negeri? juga untuk peredaran obat terlarang dan perdagangan manusia?" tanya Bang Yudha.
"Iya ganteeeng.. aku tau semuuuuuua bisnis keluarga. Berapa istri Papa dan juga selingkuhannya" jawab Netta setengah sadar.
"Senjata yang di supply Papamu, apa salah satunya untuk kegiatan pembelotan terhadap pimpinan??" Bang Yudha memperjelas pencarian informasi nya.
"Iya Bang, dan tak ada yang bisa membongkar kegiatan papa ini. Dulu.. dua tahun lalu, kegiatan papa ini hampir terbongkar oleh seorang perwira tentara tapi berhasil di gagalkan dengan pengorbanan Mama. Mama tertembak oleh perwira itu" Jawab Netta meracau panjang lebar.
deg..
"Astagfirullah hal adzim" Dada Bang Yudha terasa begitu ngilu dan nyeri. Ia teringat pada tugas pertamanya sebagai Komandan team Scorpio.. team pembasmi pemberontak.
"Apa kejadian itu di gudang Lokahita daerah puncak?" tanya Bang Yudha.
"Iya, nama perwira itu Yudha.. Letda Armedya Yudha Kadedaha" jawab Netta.
Jantung Bang Yudha serasa berhenti berdetak. Entah apa yang membuatnya begitu merasa sakit, melihat Netta bersedih karena dirinya yang telah mencabut nyawa ibu kandung Netta atau karena rasa bersalahnya sudah menodai gadis polos anak bos besar mafia.
Tanpa sadar Bang Yudha memeluk erat Netta yang masih meracau mengucap banyak hal.
"Aku mimpi Bang Ori naik ke atas tubuhku, aku takut sekali tapi aku harus tunjukan kalau aku berani agar tidak ada laki-laki yang bisa menipuku" ucapnya tak tentu arah.
"Kasihan sekali kamu dek." kini Bang Yudha menemui jalan buntu. Ia bingung menentukan arah di saat batinnya mulai goyah. Gadis cantik ini bahkan tak berani banyak bergerak saat dirinya menggaulinya layaknya pasangan suami istri, hanya tangis dan rintih kecil yang mengartikan bahwa saat itu juga pengalaman pertama bagi Netta.
***
Satu bulan kemudian.
Bang Yudha melihat Netta duduk menangis memeluk pakaian lorengnya. Tangis itu membuat batinnya tak tega. Ia pun mendekati Netta.
Tiba-tiba Netta memeluknya dan menangis sesenggukan sembari menarik tangan Bang Yudha. Netta mengarahkan tangan Bang Yudha agar bisa mengusap perut datarnya.
"Ini anakmu Bang. Netta hamil anak Abang"
Begitu kagetnya Bang Yudha sampai tak sengaja dirinya terjatuh dari ranjang.
bruugggh...
"Astagfirullah.." Bang Yudha mengusap wajahnya. Hati dan pikirannya langsung tertuju pada Netta.
"Ya Allah.. ini hanya mimpi, tapi kenapa hatiku rasanya sakit sekali melihat Netta menangis walaupun hanya dalam mimpi" gumamnya.
"Gusti Allah, jika memang ada anakku di dalam rahimnya, tolong ijinkan aku menjaga keduanya.. berikan dia satu hati untuk menyayangi calon bayi kami. Akan kucintai hadiah dariMu seperti aku menaruh cinta pada Mamanya"
***
Terjadi kegemparan besar saat Pak Subrata marah besar. Gudang senjata dan obat terlarangnya tercium oleh musuh.
"Gudang kita di ketahui musuh..!!!" Pak Subrata bos besar mafia bandit bertopeng.
"Siapa pengkhianat di antara kita??????" bentaknya mengamuk dan menghantam seluruh barang di atas meja.
Seluruh anggota tertunduk waspada dengan amarah bos besar.
"Selidiki lagi siapa dalang di balik semua ini..!!!!!!" bentak bos besar lagi.
...
"Hhhkk.."
"Bi.. tutup magic com nya. Netta nggak kuat bau uap nasi matang" Netta berlari sampai tak sengaja menabrak Bang Yudha yang saat itu berniat menyeduh kopi di dapur.
"Non Arnet kenapa?? Apa masuk angin?" tanya bibi cemas.
"Jauhkan nasinya bi..!!!" pinta Arnetta kemudian memuntahkan isi perutnya di wastafel.
Bang Yudha mengekor di belakang Netta dan meminta bibi untuk menjauhi mereka berdua. Tangan kekar itu kemudian mengambil karet gelang yang tercecer di meja dapur lalu mengikat rambut Netta seadanya.
"Kamu kenapa?" bisiknya sambil memijat tengkuk Netta.
"Jangan urusi Netta Bang" ucapnya lalu menghindari Bang Yudha.
"Satu bulan sejak kejadian itu. Apa tamu bulanan mu sudah datang?" tanya Bang Yudha.
"Nggak sopan, itu urusan perempuan. Apa Abang pengen coba rasanya pakai pembalut??" jawab jengkel Netta.
"Abang hanya mau tanya sesuatu sama kamu"
"Apa?? Nggak ada lagi yang perlu di bicarakan antara kita Bang..!! Netta sudah melupakan Abang pernah buka baju Netta sampai........."
"Sampai menekan perut bawah Netta kuat-kuat"
Bang Yudha menghela nafas panjang. Tak tau harus menjabarkan segala kata ini darimana.
"Iya Abang salah"
"Tapi kita harus bicara serius dek"
"Sejak kapan Netta jadi adikmu Bang?? Netta adiknya Bang Alex" jawab Netta.
"Apa kamu hamil??" tanya Bang Yudha langsung pada pokok persoalannya.
"Bukan urusan Abang"
"Jelas itu urusan Abang dek. Abang bapaknya"
"Yakin sekali kau Bang. Netta ini gadis modern dan tidak hanya berinteraksi dengan Abang saja" jawab Arnetta dengan sombongnya.
"Kamu jangan main-main dek. Abang serius..!!"
"Apapun yang terjadi, Netta tak akan meminta belas kasihan mu Bang. Netta bisa urus hidup Netta sendiri" ucap tegas Netta sembari menatap mata Bang Yudha.
"Sekuat apapun kamu. Tidak akan kuat kamu memikul beban ini sendirian. Semua ini terlalu berat untuk kamu jalani..!!"
"Hhhhkkkk..!!!!" tiba-tiba Netta kembali mual.
Bang Yudha pun kembali sigap membantu Arnetta.
:
Arnetta bersandar di dada bidang Bang Yudha. Rasanya tak kuat lagi menyangga tubuhnya sendiri.
"Kita ke rumah sakit ya..!!" ajak Bang Yudha. Dirinya begitu mencemaskan keadaan Netta.
"Ori.. Tuan Besar ingin bicara denganmu..!!" kata seorang anak buah tuan besar saat Bang Yudha akan mengajak Netta ke klinik kesehatan.
"Baiklah, tolong urus Non Arnetta dengan baik. Saya akan temui Tuan Besar sekarang..!!"
:
Di suatu ruangan khusus, badan Bang Winata sudah disergap dua orang anak buah Pak Subrata dan sekujur tubuhnya babak belur, ia menatap mata Bang Yudha dengan lekat.
Seorang pria menjegal kedua kaki Bang Yudha hingga pria itu berlutut.
"Sebenarnya.. siapa identitas asli kalian berdua???????" bentak Pak Subrata menanyai putra kandungnya dan juga Bang Yudha.
.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 36 Episodes
Comments
Lani Kusmaryani
karya nara itu dari awal pasti aja bikin jantungan tapi suka lanjut nara
2022-01-18
2
Araya Raya
wah wah mulai deg deg kan
2022-01-13
2
Alif Septino
🥰🥰
2022-01-12
1