Netta mengukur lebar perutnya menggunakan pita ukur jahit yang tidak pernah tertinggal dari tasnya. Obsesi badan seksi menggoda selalu melekat pada dirinya.
Tanpa di sadari Netta, Bang Yudha mengintip istri kecilnya dari balik daun pintu. Memang harus ia akui tubuh Netta memang sintal dan itu membuatnya selalu was-was 'barang' miliknya akan menjadi tontonan pria lain.
Awas saja kalau kamu bertingkah dek. Kamu hanya milik Abang seorang, kalau sampai ada pria lain yang berani mendekatimu.. Abang tebas leher nya sampai ma*pus.
"Lihat apa kamu?"
"Perut Netta kok nggak besar ya Bang? Netta khan sudah positif hamil" tanya Netta.
"Sekarang usia kandungan mu masih lima minggu, mau besar dari mananya? Kalau sudah dua belas minggu ke atas baru besar." kata Bang Yudha menjelaskan. Tapi raut wajah Netta tetap tidak bahagia.
"Kamu pengen apa? Kenapa murung begitu?"
"Bang.. bolehkah Netta kuliah lagi? Netta nggak punya teman bicara disini" tanya Netta.
"Boleh, tapi Abang sedang ajukan cuti kuliah untuk kamu. Lagipula sekarang sedang libur. Abang nggak mau kehamilanmu terganggu. Kuliah banyak menguras pikiran yang membuat stress" jawab Bang Yudha.
"Ngomong-ngomong.. kamu ambil jurusan apa?"
"Netta ambil jurusan AI" jawab Netta.
"Artificial Inteligent?????" tanya Bang Yudha.
"Iya Bang" Netta menatap mata Bang Yudha penuh arti.
Bang Yudha terdiam. Pikirannya terasa buntu mati akal, tapi ia berusaha menguasai diri dan keluar dari kamar.
:
"Aku suaminya pot, katakan dengan jelas atau aku akan mencarimu..!!!!!"
"Nama lahirnya Arnetta Nuli Sabadilla. Lahir 17 tahun lalu. Papa yang bersifat keras, menyekolahkan adikku di sekolah khusus karena bakatnya yang luar biasa, tujuannya untuk membantu bisnis papa. Tapi.. adik ku menyimpang, aku masuk tentara.. dan Arnett yang kamu kenal itu bekerja untuk Intel kita juga. Makanya dia tidak begitu kaget dengan identitas mu, dia hanya tidak suka profesimu"
"Ya Allah Ya Rabb.. kau ini bodoh atau dungu??? Kenapa kamu beri identitas palsu saat akad nikah kemarin??? Aku sudah menggagahi adikmu dan itu haram hukumnya pot..!!!!" tegur keras Bang Yudha.
"Sebelum menikah kau juga sudah mencicilnya"
"Tapi tidak untuk di ulang..!!! Sekarang kau harus datang ke sini. Nikah ulang..!!!"
"Aku belum bisa ambil cuti"
"Kurang ajar sekali kamu ya. Aku nggak mungkin bisa tahan diri dalam jangka waktu yang lama. Aku punya batas pertahanan pot" bentak Bang Yudha.
"Lagipula kenapa adikmu diam saja??? Arnetta baru bilang semua ini sekarang"
"Pertama.. saat akad nikah, Arnetta berada di ruangan yang berbeda. Kedua.. Arnetta butuh waktu untuk mengenalmu dan itu wajar. Asal kau tau.. Arnett itu gadisku yang lugu karena keegoisan orang tua. Arnetta hanya bergantung apapun padaku. Sejak dia lahir, aku yang lebih banyak bersamanya. Tolong maklumi keadaan keluarga kami yang berantakan." jawab Bang Winata.
"Itu di pikir nanti saja, sekarang cepatlah kau atur datang kesini. Arnett ujian berat untuk ku. Kau pasti paham maksudku"
***
"Sah"
"Alhamdulillah.."
"Kau ini keterlaluan, tiga hari baru datang. Aku harus kucing-kucingan mencari cara untuk tidak dekat dengan Netta" gerutu Bang Yudha.
"Berlebihan sekali, tiga hari itu tidak lama" kata Bang Winata yang sengaja menggoda Bang Yudha.
"Daripada banyak bicara, cepatlah kau menikah..!!" saran Bang Yudha.
"Aku sedang pengajuan nikah sama Anya" jawab Bang Winata.
"Apa dia juga bagian dari Intel?" tanya Bang Yudha.
"Bukan, kampusnya saja yang bersebelahan. Anya guru TK" jawab Bang Winata.
"Aku merasa di bodohi karena tak tau apa-apa tentang istriku sendiri." nada suara Bang Yudha terdengar begitu kecewa.
"Kau harus terima, kembalikan pada dirimu sendiri. Semudah itu kah kau membongkar identitas mu?? Kau tau.. IQ adikku itu setingkat denganmu"
Bang Yudha menepuk dahinya menggeleng kepala.
"Kalau aku ribut dengan adikmu itu, aku bisa mati sia-sia"
Bang Winata meyodorkan map di hadapan Bang Yudha.
"Bacalah..!!"
Bang Yudha menerima dan mulai membacanya.
Jantung Bang Yudha rasanya seakan hampir terlompat dari raga. Banyak persyaratan yang harus di penuhi Netta salah satunya adalah untuk tidak menikah selama masa kerja.
"Bisakah Netta membatalkan surat kontrak kerja itu. Netta hamil pot, aku khawatir sekali kalau pekerjaannya seperti ini"
"Sayangnya nggak bisa, aku memutuskan memperbolehkan ikut denganmu karena satu hal"
"Apa??" tanya Bang Yudha sudah kehilangan semangatnya.
"Kau bacalah berita yang sudah aku screenshot dari tugas group satu..!!" Bang Winata mengirim salinan berita dari ponselnya ke ponsel Bang Yudha.
"Venus pergi di wilayah timur dan menyamar sebagai anak SMA untuk menilik perdagangan senjata ke negara tetangga"
"Ini gila, terlalu beresiko pot. Nyawa anakku taruhannya"
"Semua sudah terjadi. Kalau melapor atasan.. sudah tidak ada waktu lagi" jawab Bang Winata.
Bang Yudha segera keluar dari ruangan untuk menemui Netta di rumah, benar saja. Istrinya itu memiliki dua ponsel dan diam-diam menghubungi seseorang. Tanpa basa-basi Bang Yudha menyambar ponsel itu lalu mematikan sepihak.
"Kenapa kamu bohong sama Abang?"
"Abang juga menyembunyikan identitas. Sekarang kita sudah saling kenal dengan profesi yang sepaham." jawab Netta lebih tegas.
"Abang tau, tapi masalahnya kamu ini berbadan dua"
"Netta sudah bilang akan menanggung semua ini sendiri. Netta tidak pernah minta untuk Abang nikahi" Netta menatap mata Bang Yudha dengan kuat tapi tatapan itu jelas menunjukan sisi Netta yang rapuh.
"Kamu terlalu lugu dalam kepintaran mu" Wanita yang berbahaya"
Netta mengacungkan senjata yang ia ambil dari balik roknya.
"Jangan cegah Netta pergi..!!"
"Tembak saja..!! Abang ikhlas kalau kamu menginginkan nyawa ini." tantang Bang Yudha.
Tangan Netta gemetar hebat, tiba-tiba saja ia takut jika peluru itu menembus tubuh ayah dari anak yang di kandungnya.
Bang Yudha menurunkan tangan Netta kemudian secara perlahan mengambil pistol di tangan istrinya kemudian menyimpan di belakang pinggangnya.
"Netta akan menghabisi nyawa Abang kalau Abang melakukan kesalahan fatal" ucap tegas Netta.
Bang Yudha memeluk Netta dengan erat.
"Terserah apa maumu. Abang pasrah" kecupan manis membujuk Netta agar bisa lebih tenang. Satu persatu tangan lincahnya membuka kancing baju Netta.
"Abang nggak ingin kamu bawa anak kita pergi jauh. Abang akan buat kamu tidak bisa lupa sama Abang"
:
Bang Winata menutup pintu rumah Bang Yudha perlahan. Degub jantungnya ikut tak terkendali.
"Setaaaaaann.. bisa-bisanya buka layar nggak tutup pintu" Bang Winata meninggalkan rumah Bang Yudha dengan cepat saat tidak sengaja melihat jantannya Bang Yudha menangani Netta.
"Inilah pentingnya nikah. Pikiranku jadi kacau gara-gara Yudha"
:
Usai menuntaskan hasrattnya, Bang Yudha mengambil ponselnya Netta setelah sengaja membuat istrinya lelah. Ia ingin tau jati diri Netta yang sebenarnya.
Dengan cepat Bang Yudha menyelidiki isi file Netta dan fokusnya tertuju pada satu nama.. Rico.
"B*****t, dia ini pacarnya Rico?? Berarti pacar yang di sebut Netta ini si Rico??" Bang Yudha mulai meneliti lebih dalam lagi. Terdapat banyak foto kebersamaan Netta dan Rico disana dan foto mesra itu baru terjadi sekitar dua bulan yang lalu.
"Awas saja kamu kalau masih berharap sama di tikus sawah ini dek" kepala Bang Yudha rasanya berat memikirkan banyaknya masalah yang berkelebat silih berganti.
.
.
.
.
Jangan spoiler.. cerita belum usai..!!!
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 36 Episodes
Comments
Yeni Mulyati
ceritanya bagus ka nara💝
2022-06-05
1
Mhd fathir al khory daulay
mantap ceritanya kk nara.....semangat terus
2022-03-22
1
Alif Septino
semangat kak Nara 🥰💪
2022-01-13
1