Raila benar-benar cemas, ia tahu restoran ini dari Vanya, dia pernah bilang kalau restoran ini salah satu restoran Jepang ter-enak, tapi Raila lupa untuk menanyakan harga makanannya, alhasil saya ini Raila sedang was-was karena harga yang ahrus dibayar Farel.
.
Disisi lain Farel menuju kearah kasir, "Mbak untuk meja 7 semuanya berapa ya?" tanya Farel.
"Untuk meja nomor 7, semuanya jadi sembilan ratus dua puluh ribu rupiah, Pak," ucap kasir.
"Ini, mbak," ucap Farel lalu memberikan kartunya.
"Maaf, Pak, kartunya sudah tidak bisa lagi digunakan," ucap kasir.
Henry yang mendengar jika kartu Farel tidak dapat digunakan pun langsung menghampiri Farel dan menepuk bahu Farel, "Wah wah wah, ternyata kartunya tidak bisa digunakannya, gimana kalau lo pinjam uang gue dulu, ah ralat gue tadi kan bilang bakal kasih secara cuma-cuma lo, gak perlu balikin uang gue gimana?" tanya Henry.
"Makasih atas tawarannya, tapi gue gak perlu," ucap Farel yang mulai menggunakan lo-gue.
"Wah, lo songong banget, mana udah Bernai paket lo-gue lagi," ucap Henry.
"Tadi disana ada Raila, jadi gue harus baik-baik dong sama mantan kelurganya, tapi karena sekarang cuam ada gue sama lo ya gue juga harus ngelakuin apa yang lo lakuin ke gue," ucap Farel.
"Jadi ceritanya lo ini bermuka dua," ucap Henry.
"Ya, lo bisa anggap gue kayak gitu," ucap Farel.
"Rel, kenapa? gak bisa ya?" tanya Raila.
"Bisa kok, kamu gak usah khawatir, lebih baik kamu tunggu disana aja," ucap Farel.
"Bisa gimana sih, orang kata kasirnya kartu lo gak bisa digesek tuh," ucap Henry yang dengan sengaja mengeraskan suara sehingga beberapa pengunjung pun melihat kearah Farel.
"Bener, Rel?" tanya Raila.
"Gak kok," ucap Farel.
"Tanya aja ke kasir kalau gak percaya," ucap Henry.
Huh, mbak apa benar kartu ini gak bisa?" tanya Raila dengan menunjukkan kartu yang tadi Farel gunakan.
"Iya, mbak, kartu itu tidak bisa digunakan," ucap kasir tersebut.
"Yasudah, kalau begitu pakai kartu yang ini saja," ucap Raila.
"Jangan, biar aku yang bayar," ucap Farel.
"Tapi, kartu kamu gak bisa," ucap Raila.
"Gapapa, aku ada cara kok," ucap Farel.
"Tapi, gimana? kamu mau minjem ke Henry?" tanya Raila.
"Gak akan," ucap Farel.
"Ck, udah gak punya uang masih aja sombong, pake nolak segala," ucap Henry.
'Dasar bodoh, gimana bisa lo lupa bawa dompet lo, tapi lo malah bawa kartu yang udah gak lo gunain,' ucap Farel dalam hati.
Ya, Farel lupa membawa dompetnya, lebih tepatnya dompet pribadinya karena semua kartu yang berfungsi tidak ada di dompet yang saat ini ia bawa dan terlihat jelas jika dompet itu sudah mulai rusak. Farel memang sering menggunakan dompet ini dan diisi uang beberapa lembar seolah-olah ia benar-benar tidak memiliki uang dan karena uang yang ada di dompet itu diambil oleh Pak Lukman tadi, jadi dalam dompet tersebut tidak ada uang sama sekali, di dompet itu juga lebih banyak kartu diskon untuk belanja.
"Mbak saya bisa membayar makanannya, tapi apa bisa bicara sebentar dengan manager atau pemilik restoran ini?" tanya Farel.
"Hah! maaf mas, saya tidak bisa mengizinkannya," ucap kasir.
"Mbak bisa bilang ke pemilik restoran kalau yang ingin bertemu namanya Farel," bisik Farel pada kasir tersebut.
"Baik, sebentar akan saya coba, tapi saya tidak menjaminnya" ucap kasir dan diangguki Farel.
"Alah, sok-sokan mau ketemu pemilik restoran ngimpi lo," ucap Henry.
"Bisa diam tidak!" bentak Farel dan langsung membuat Henry menutup mulutnya rapat-rapat, Raila yang melihatnya pun tersenyum, ia senang karena Henry dibentak oleh suaminya.
"Maaf, pemilik restoran sedang tidak ada di restoran," ucap kasir.
"Mbak mungkin bisa bicara dengan salah satu pegawai ditempat yang lebih sepi," ucap Farel.
"Kalau begitu sama saya saja mas," ucap salah satu pelayan pria dan diangguki Farel.
"Sayang, kamu duduk dulu ya, aku janji gak akan lama kok," ucap Farel.
"Kenapa gak pake uangku aja sih?" tanya Raila dengan kesal.
"Gak sayang, pokoknya pake uangku," ucap Farel.
Saat ini Farel dan pelayan tersebut sudah berada di dapur, disana tidak hanya mereka, tapi ternyata terdapat beberapa pegawai restoran, tapi Farel tidak terlalu mempermasalahkannya, "Mas, bisa pinjamkan saya ponsel," ucap Farel.
"Untuk apa ya?" tanyanya.
"Saya ingin menyelesaikan masalah ini," ucap Farel.
"Baik, ini," ucap pelayan tersebut dan memberikan ponselnya.
Saat Farel tengah fokus pada ponsel tersebut datanglah beberapa pelayan, "Kenapa ada orang lain disini?" tanya salah satu pelayan.
"Dia tidak bisa bayar," ucap pelayan yang bersama Farel.
"Kalau gak mampu bayar jangan makan disini, malu-maluin aja," ucap salah satu pelayan.
Farel tidak menanggapi sindiran mereka, "Apa kau punya nomor pemilik restoran ini?" tanya Farel yang tentunya membuat seluruh pegawai yang ada disana terkejut.
"Untuk apa?" tanyanya.
"Ini penting," ucap Farel.
Pelayan tersebut pun menunjukkan nomor pemilik restoran tersebut lalu Farel mulai menekan tombol telepon dan tentunya hal itu membuat para pegawai takut karena mereka tahu jika pemilik restoran sangat dingin bahkan terkesan cuek.
"Woy, begi dimana lo cepet ke restoran Nagoya dalam waktu 10 menit lo gak ke restoran gue bakar nih restoran!" teriak Farel lalu memutuskan sambungan telepon tersebut.
Ucapan Farel tentunya kembali membuat para pegawai terkejut bukan main, "Apa maksud anda berbicara itu pada pemilik restoran?" tanya salah satu pelayan.
"Bukan apa-apa, saya akan menyelesaikan pembayaran saya setelah pemilik restoran datang," ucap Farel.
"Kalau begitu anda akan berada disini sampai pemilik restoran datang," ucap pelayan yang bersama Farel.
"Oke," ucap Farel.
Beberapa saat kemudian, pintu dapur pun terbuka dan menampilkan seorang pria yang menggunakan pakaian tidur, kedatangan pria tersebut pun membuat para pegawai terkejut apalagi dengan pakaian tidur tersebut, "Gila ya lo, lo nyuruh gue dateng ke restoran padahal gue lagi mimpi bareng pacar haluan gue," omel pria tersebut.
"Dompet gue ketinggalan," ucap Farel.
"Terus hubungannya sama gue apa ogeb," ucap Joven. Ya, pemilik restoran ini adalah Joven sahabat Farel.
"Gue gak bisa keluar karena gak bisa bayar ogeb," ucap Farel.
"Ya, itu mah urusan lo gue gak peduli, lo makan di resto gue ya lo harus bayarlah," ucap Joven.
"Oh, lo nyuruh gue bayar," ucap Farel.
"Ya iyalah gue gak aku rugi," ucap Joven.
"Oke, gue bakal bayar dua kali lipat makanan gue," ucap Farel dengan dingin dan hal itu membuat Joven kicep.
Joven yang awalnya masih belum benar-benar sadar pun akhirnya sadar dan menatap Farel, "Hehehe bercanda kali pak bos, lo boleh kok gak bayar bahkan lo boleh bungkus," ucap Joven dengan senyum cerianya.
"Cepetan lo bilang ke pegawai lo, gue masih ada urusan ini," ucap Farel.
"Oke, kalian dengar kan tadi saya bilang, biarkan dia pergi tanpa membayar," ucap Joven.
"Baik, bos," ucap pelayan yang tadi bersama Farel.
Semua pegawai pun bertanya-tanya siapa Farel karena berhasil membuat Joven yang terkenal akan sikap cuek dan dinginnya pada pegawai mengalah bahkan terlihat jika Joven menuruti semua perintah Farel, namun mereka tidak berani untuk menanyakannya, yang jelas Farel dan Joven sangat akrab bahkan mereka memanggil dengan santai layaknya teman.
"Tunggu, lo nyuruh gue kesini cuma gara-gara itu?" tanya Joven dan diangguki Farel, farel yang merasakan bahaya pun segera pergi.
"Dasar Farel gila!" pekik Joven yang kembali mengejutkan para pegawainya, entahlah hari ini banyak yang membuat para pegawai terkejut.
.
.
.
Tbc.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 156 Episodes
Comments
Imam Sutoto Suro
mantap thor lanjutkan seruuuu banget
2023-02-04
0
Bennydeh Kong
sombong bangat ni feral...di bantuin lunasi malah sobong amatttt
2023-01-20
0
Mochi🐈🌹
😆😆 seruu bnget😆😆
2022-02-01
0