"BRENGSEK! Bukankah kau dulu sangat mencintaiku, Milan. Kenapa kau tega berbuat seperti ini padaku?" kata Bella sambil menangis di dalam kamar.
Sedangkan Vania kini tampak mengendap-endap keluar dari kamar meninggalkan Gibran yang telah tertidur lelap. Dia lalu menelpon Arvin yang saat ini juga akan pulang ke Indonesia.
[Halo Arvin, kau dimana?]
[Aku di bandara. Ada apa Vania?]
[Tadi Tante Hana marah besar pada Bella.]
[Lalu? Bukankah memang itu yang kita inginkan?]
[Ya, tapi ada yang lebih penting.]
[Apa?]
[Tante Hana akan memberikan seluruh hartanya untuk Gibran jika Bella gagal kembali pada Milan.]
[Wow benar-benar berita bagus, Vania.]
[Ya dan itulah tugasmu Arvin, buatlah agar Bella selalu gagal mendekati Milan.]
[Tentu aku akan melakukan apapun agar Bella tidak kembali lagi pada Milan sampai rencana kita berhasil.]
[Iya Arvin, aku tutup dulu teleponnya.]
[Iya sayang, sampai bertemu besok.] kata Arvin sambil menutup panggilan telepon dari Vania.
'Aku sudah tidak sabar menguasai harta milik Gibran dan Bella, karena sudah setahun ini sejak bisnis orang tuaku bangkrut aku sedikit kesulitan untuk membiayaiku kuliah disini. Untungnya ada Bella yang selalu memberikan aku uang dan memenuhi semua kebutuhanku disini sampai aku lulus kuliah satu bulan yang lalu. Hahahaha.' kata Arvin dalam hati sambil melangkahkan kakinya ke counter check in.
***
Rachel mengecup pipi Milan yang kini masih tertidur pulas. "Milan, aku berangkat dulu ya."
"Iya sayang, aku mulai ke kantor besok. Hari ini aku masih sangat lelah."
"Iya Milan, aku sudah menyiapkan sarapan untukmu, kalau kau lapar ambil saja di meja makan."
"Makasih Ra." kata Milan kemudian bangun dari tidurnya dan memeluk Rachel.
"Aku berangkat dulu ya."
"Mau kuantar?"
"Tidak usah, aku tahu kau masih lelah, kau istirahat saja."
Milan pun kemudian mengangguk sambil melihat Rachel yang kini sudah pergi untuk berangkat ke kantor.
***
"Selamat pagi Nad." kata Rachel saat sampai mulai duduk di kubikelnya.
"Pagi juga Ra." jawab Nadia yang sedang sibuk dengan ponselnya.
"Ini buat kamu, tolong bagikan juga ke temen-temen ya." kata Rachel sambil memberikan beberapa bungkus teh dan cokelat.
"Apa ini Ra?"
"Buka saja."
Nadia lalu membuka paper bag yang ada di depannya. Raut wajahnya begitu berbinar saat melihat isi paper bag tersebut.
"Wow ini teh dan cokelat asli London Ra?"
Rachel pun mengangguk.
"Wow kapan kamu ke London sampai bisa membeli sebanyak ini?"
"Itu pacarku yang membelikan untukku, kemarin dia pergi ke London selama beberapa hari."
"Oh pacarmu juga orang kaya ya Ra? Pantas saja kamu ga tertarik sama Pak Milan karena ternyata pacarmu juga orang kaya." kata Nadia yang membuat Rachel tersedak saat sedang meminum tehnya.
"Kamu kenapa Ra?"
"Gapapa Nad, cuma tersedak."
"Oh makanya kamu kalau minum hati-hati, ya udah aku bagikan dulu oleh-oleh dari pacarmu ke temen-temen ya."
Rachel pun mengangguk mendengar kata-kata Nadia, dia lalu membagikan teh dan cokelat pada sepuluh orang yang ada di divisi mereka. Semua orang pun sangat bahagia dan langsung mengucapkan terimakasih pada Rachel kecuali Dinda yang tampak begitu sinis menerima pemberian itu.
"Oh jadi pacar kamu orang kaya Ra?" tanya Dinda yang hanya dijawab senyuman oleh Rachel.
"Baguslah kalau pacar kamu orang kaya, asal bukan jadi sugar baby nya om-om atau cuma jadi partner ranjang aja." kata Dinda dengan sinis yang membuat Rachel meneteskan air mata.
"Dinda, jaga kata-katamu! Aku pernah melihat sendiri pacar Rachel dan dia bukanlah om-om seperti yang kamu pikirkan. Lagipula memangnya kenapa kalau Rachel bisa mendapatkan pacar kaya raya? Dia memang cantik, dan bisa mendapatkan laki-laki kaya dan tampan."
"Aku kan cuma tanya baik-baik ke Rachel, siapa tahu dia cuma jadi sugar baby atau partner ranjang aja." kata Dinda sambil tersenyum sinis.
"Apa urusanmu bertanya seperti itu pada Rachel? Apa kamu iri tidak bisa mendapatkan kekasih seperti Rachel? Mendapatkan cinta Adit yang karyawan biasa aja ga bisa apalagi mendapatkan cinta seorang bos. Hahahaha." kata Nadia yang membuat beberapa orang yang ada di ruangan itu pun ikut tertawa.
Rachel yang awalnya tampak sedih pun kini ikut tersenyum melihat mereka semua tertawa. Sedangkan Dinda yang begitu kesal mendengar kata-kata Nadia kembali duduk di kubikelnya sambil menggerutu.
'Awas saja, akan kuselidiki siapa pacar Rachel yang sebenarnya. Aku yakin dia hanyalah simpanan seseorang.' kata Dinda dalam hati sambil menatap tajam pada Rachel yang kini masih tersenyum.
***
TEEETTTT... TEEETTTT
Milan beranjak dari meja makan saat mendengar bel pintu yang berbunyi.
"Siapa sih, untung gue udah selesai makan." gerutu Milan sambil berjalan ke arah pintu. Namun saat Milan membuka pintu itu, dia begitu terkejut karena tiba-tiba Bella sudah menghambur ke pelukannya.
"Bella apa-apaan ini?"
"Maafkan aku Milan, maafkan aku. Aku ingin kembali padamu dan kita bisa kembali seperti dulu."
"Bella bukankah sudah kukatakan kalau kau jangan pernah menemui aku lagi karena aku sudah sangat muak denganmu!" bentak Milan.
"Maafkan aku Milan, aku khilaf." kata Bella sambil menangis tersedu-sedu.
"Baik aku akan memaafkanmu, tapi tolong tinggalkan aku sekarang juga!"
"Tidak Milan, aku ingin kembali padamu, aku ingin kita bisa kembali lagi seperti dulu!"
"Kembali seperti dulu? Bukankah saat kau berpacaran denganku kau juga sudah memiliki hubungan dengan lelaki itu? Kembali saja kau pada kekasihmu itu! Memangnya aku tidak punya harga diri selama ini sudah dibohongi olehmu! Selama ini ternyata akulah pacar keduamu atau lebih tepatnya akulah selingkuhanmu di belakang lelaki itu!!! Sungguh kau benar-benar telah menghinaku dan merendahkan harga diriku!"
"Tapi Milan itu semua kulakukan karena aku mencintaimu, aku mencintaimu jadi terpaksa menjadikanmu sebagai yang kedua."
"Apa kau bilang? Cinta?"
Bella pun kemudian mengangguk.
"Jika kau benar-benar mencintaiku, kau pasti lebih memilihku dan meninggalkan lelaki itu, tapi apa kenyataannya? Kau tetap memiliki ikatan dengan kami berdua, bagaimana jika kemari aku tidak memergokimu saat sedang bersamanya? Tentu kau tetap akan menduakanku entah sampai kapan! Benar-benar sangat menjijikan!"
"Milan tolong ampuni aku, sekarang aku sudah memutuskan hubunganku dengan Arvin dan lebih memilihmu karena aku mencintaimu."
"Simpan saja kata-kata cintamu karena aku tak butuh itu, sekarang kau pergi dari sini sebelum kesabaranku habis atau aku akan memanggil petugas keamanan untuk mengusirmu."
Mendengar perkataan Milan, Bella pun tak kunjung pergi namun justru mendekat pada Milan dan mencium bibirnya dengan bertubi-tubi. Milan pun begitu marah, dia lalu mendorong tubuh Bella.
PLAK PLAK
"KAU SUDAH KETERLALUAN BELLA! JIKA KAU TIDAK MAU PERGI LEBIH BAIK AKU SAJA YANG PERGI KARENA AKU SUDAH MUAK MELIHAT WAJAHMU!" kata Milan kemudian pergi meninggalkan Bella yang masih menangis di apartemen milik Milan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 130 Episodes
Comments
BudeAtin BundaMuzzha
Bella GK tau malu😠😠
2022-01-31
3
Mbak Rin
bela emang dah ndak punya malu
2022-01-29
0
Rtqueenami
karena benci dan cinta jaraknya sangaatt tipis Bella,jangan gede rasa luuu
2022-01-14
3