Saat sedang menikmati makan malam, tiba-tiba ponsel Milan pun berbunyi.
"Papa? Tumben sekali papa meneleponku." kata Milan sambil menggaruk kepalanya.
"Siapa Milan?" tanya Rachel.
"Papa " jawab Milan.
"Cepat angkat, mungkin dia merindukanmu."
Milan pun kemudian mengangkat telepon dari Papanya.
[Ya, halo pa.]
[Milan, beberapa hari yang lalu papa lihat kau datang ke kantor. Apa kau sudah berubah pikiran dan mau meneruskan bisnis papa?]
[Emh.. E.. Itu.]
[Milan, papa sudah tua nak, papa yakin kau memiliki kemampuan yang baik dalam mengelola bisnis papa. Lebih baik kau tinggalkan bisnis recehan mu itu sekarang juga nak.]
[Beri Milan waktu.]
[Sampai kapan? Dari dulu hanya itu yang kau katakan.]
[Enam bulan pa, beri waktu Milan selama enam bulan untuk menuntaskan semua pekerjaan Milan.]
[Baik papa pegang kata-katamu.]
[Iya pa.] jawab Milan kemudian menutup teleponnya.
"Kenapa Milan?"
"Papa memintaku untuk meneruskan bisnisnya."
"Bukankah memang itu yang harus kau lakukan. Kasihan papamu, dia sudah tua. Sudah waktunya dia untuk menikmati hidupnya, sudah bukan saatnya lagi dia untuk bekerja mengurusi semua pekerjaan kantor yang begitu berat."
"Kau benar juga Rachel, kau memang pintar." kata Milan sambil mencubit pipi Rachel.
"Lalu bagaimana dengan bisnis kecilmu bersama teman-temanmu?"
"Akan kujual aset yang kumiliki pada teman-temanku, aku sudah meminta waktu pada papa selama enam bulan untuk menyelesaikan semua pekerjaanku."
"Ide yang bagus, kau juga pintar Milan."
"Hahahaha akhirnya kau mengakui jika aku pintar."
"Terserah apa katamu, aku mau tidur dulu." kata Rachel kemudian masuk ke dalam kamar.
"Tunggu aku Rachel, memangnya kau bisa tidur tanpaku di sampingmu?" teriak Milan pada Rachel yang hanya mendapat cibiran darinya.
'Haruskah sekarang aku mengatakan yang sebenarnya padamu Rachel? Ah tidak aku tidak mau membuat hubungan kita menjadi berantakan.' gumam Milan sambil mendekat pada Rachel yang kini sudah tidur di atas ranjang.
***
Enam bulan kemudian.
"Jadi hari ini, serah terima jabatan posisi Papamu di kantor, Milan?" tanya Rachel yang melihat Milan kini telah rapi menggunakan kemeja dan stelan jas di tubuhnya.
"Ya." jawab Milan dengan gugup.
"Kau terlihat tampan memakai pakaian seperti ini." kata Rachel sambil menutup mulutnya.
"Rachel, memakai pakaian apapun aku selalu terlihat tampan."
"Ya.. Ya.. Ya."
"Em... E.. Rachel, bagaimana jika pagi ini kau naik taksi online saja. Sepertinya aku tidak bisa mengantarmu ke kantor."
"Tidak masalah, aku juga tidak mau membuatmu terlambat."
"Terimakasih Rachel, aku pergi dulu." kata Milan sambil mengecup kening Rachel.
'Maafkan aku Rachel, maaf aku sudah begitu pengecut hingga membiarkanmu mengetahui sendiri tentang kenyataan yang sebenarnya.' kata Milan dalam hati sambil menatap Rachel yang kini tersenyum bahagia.
"Hati-hati." jawab Rachel.
Milan kemudian pergi dari apartemen itu lalu menuju rumah orang tuanya untuk menjemput papanya.
Beberapa saat kemudian, Rachel pun juga keluar dari apartemen dan menaiki sebuah taksi online yang sudah dipesannya. Rachel begitu terkejut saat dia tiba di kantornya sudah begitu banyak karangan bunga menghiasi seluruh halaman gedung yang berisi ucapan selamat pada CEO baru di perusahaannya tersebut.
Namun yang menyita perhatian Rachel adalah nama yang terdapat pada karangan bunga tersebut yang bertuliskan MILANO ARKANA PUTRA.
"Oh tidak." kata Rachel sambil menutup mulutnya.
"Kenapa aku baru menyadarinya? Kenapa dari dulu aku tidak sadar jika nama tengah Milan adalah nama perusahaan ini. Dan kenapa selama ini Milan tidak pernah mengatakannya padaku?" kata Rachel sambil memijit keningnya. Dia kemudian mendekat pada petugas security yang berdiri di depan gedung.
"Permisi Pak, saya mau tanya, apa ini adalah Pak Milan, CEO baru kita?" tanya Rachel sambil memperlihatkan foto Milan pada petugas security tersebut.
"Benar Mba, itu Pak Milan." jawab security tersebut yang membuat perasaan Rachel kian tak menentu.
"Apakah aku bisa masuk ke perusahaan ini karena campur tangan Milan?" kata Rachel sambil menyandarkan tubuhnya pada dinding. Perasaannya kini terasa begitu kacau, hingga tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya.
"Rachel, kau sedang apa disini?"
"Tidak apa-apa Nadia, aku hanya sedikit pusing."
"Jika kamu pusing, lebih baik kau beristirahat saja Rachel."
"Tidak Nad, aku baik-baik saja." jawab Rachel sambil tersenyum kemudian masuk ke dalam kantornya.
Beberapa saat kemudian, kantor itu pun terasa semakin ramai dengan kedatangan seluruh dewan direksi dan para pemegang saham untuk menghadiri pergantian kepemimpinan dari dari Danu Arkana pada putranya, Milan.
"Rachel, lihat itu para direksi dan pemegang saham sudah masuk ke ruang rapat, sebentar lagi Pak Milan datang. Kau tidak ingin melihat Pak Milan? Ayo kita ke depan, aku ingin lihat Pak Milan dari dekat. Yang kudengar dia sangat tampan, tapi sayangnya dia sudah memiliki seorang kekasih dari perusahaan sebelah."
DEGGGG
Dada Rachel pun kian sesak mendengar kata kekasih yang diucapkan Nadia. "Kau saja, aku sedang banyak pekerjaan." jawab Rachel sambil sibuk mengetik sesuatu di keyboardnya.
"Dasar mentang-mentang kau sudah punya kekasih, kau jadi tidak pernah tertarik pada laki-laki lain." gerutu Nadia yang membuat Rachel tersenyum. Namun tiba-tiba kepala Rachel terasa begitu berat, rasa sakit yang dia tahan kian tidak dapat dibendungnya. Tanpa Rachel sadari, air mata pun mulai menetes di pipinya.
"Hei kau kenapa Rachel? Kau tampak pucat, lalu kenapa kau menangis? Sebaiknya kau pulang saja Ra."
"Tidak aku baik-baik saja."
"Rachel, kau mau kondisimu semakin bertambah buruk?" kata Nadia sambil memelototkan matanya.
"Iya.. Iya aku pulang sekarang deh." kata Rachel kemudian membereskan barang-barangnya.
"Eh tapi ada baiknya sebelum pulang kau melihat Pak Milan dulu Ra, kamu kan cantik siapa tau Pak Milan tertarik padamu." kata Nadia sambil terkekeh.
"Kamu ada-ada aja, udah ah aku pulang dulu ya." kata Rachel kemudian meninggalkan kubikelnya.
"Hati-hati Ra."
Rachel pun kemudian mengangguk dan mempercepat langkahnya agar tidak bertemu dengan Milan di kantor itu. Sedangkan Milan masuk ke dalam gedung kantor dengan perasaan tak menentu.
'Aku tidak tahu bagaimana perasaanmu saat ini Ra? Apakah kau sudah marah padaku?' kata Milan dalam hati. Dia lalu melangkahkan kakinya ke dalam lift menuju ruang rapat di lantai delapan.
'Oh tidak, bukankah meja kerja Rachel juga berada di lantai ini?' gumam Milan sambil mencari sosok Rachel diantara beberapa karyawan yang menyambutnya, namun dia tidak menemukan sosok Rachel.
'Ra, kamu dimana?' gumam Milan sambil masuk ke dalam ruang meeting dengan perasaan yang begitu tak menentu.
'Milan, kamu jahat.' gumam Rachel yang kini berjalan meninggalkan gedung itu dengan air mata yang mengalir deras di wajahnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 130 Episodes
Comments
Ayraputri
hmmm masih lanjut membaca
2022-08-13
1
Nna Rina 💖
cinta segi banyak 😆
saling menduakan dan saling membohongi
2022-01-14
10
sarinah najwa
lanjut lagi 💪💪💪💪💪💪💕💕💕
2021-12-27
4