TETTTT TEEEETTTT
"Milan lepaskan pelukanmu, aku mau membukakan pintu. Itu pasti kurir yang mengantar makanan untuk kita." kata Rachel sambil melepaskan pelukan Milan di tubuhnya. Namun saat sedang memungut pakaian mereka yang tercecer, tiba-tiba Milan pun ikut beranjak bangun.
"Biar aku saja yang membukakan pintunya, aku tidak ingin melihat kurir makanan itu terpesona pada wajahmu." kata Milan sambil mengenakan pakaiannya kemudian berjalan keluar dari kamar.
Rachel pun kemudian tersenyum mendengar kata-kata Milan. 'Milan, sadarkah dengan yang kau katakan?' gumam Rachel kamudian berjalan keluar dari kamar dan melihat Milan yang kini tampak sibuk menyiapkan makan malam yang baru saja diantarkan untuk mereka.
"Ayo makan Rachel."
Rachel pun menganggukan kepalanya, lalu duduk di samping Milan yang kini sudah begitu lahap menyantap makanannya.
"Kau sepertinya sangat kelaparan Milan?" tanya Rachel sambil tersenyum.
"Ya, kau yang membuatku seperti ini." kata Milan disertai senyuman jahil pada Rachel.
"Kau juga makan yang banyak karena sepertinya malam ini kita akan menghabiskan malam yang panjang."
"Hahahaha, malam yang panjang?"
"Ya, aku ingin kau menemaniku menonton film, aku sudah lama tidak menonton film disini."
"Tapi jangan bilang kalau kita akan menonton film horor, aku benci film horor Milan."
"Lalu kau ingin kita nonton film apa?"
"Drama korea."
"Oh tidakkk." teriak Milan sambil mengusap kasar wajahnya.
"Please." kata Rachel sambil mengiba.
"Baiklah nanti akan kucarikan drama korea untukmu." kata Milan sambil menggerutu.
"Terimakasih Milan." jawab Rachel kemudian memeluk tubuh Milan. Milan pun kemudian menatap tangan Rachel yang kini melingkar di tubuhnya.
"Maaf." kata Rachel.
"Mengapa harus minta maaf? Bukankah memang seharusnya seperti itu?" kata Milan yang membuat Rachel salah tingkah.
***
Tiga orang laki-laki berperawakan besar tampak mendekat pada seorang lelaki yang sedang duduk di atas mobil sambil sesekali menghembuskan asap rokoknya ke udara.
"Bagaimana apa sudah kau temukan?" tanya Gibran pada tiga orang lelaki yang mendekatinya.
"Sejak pemakaman ibunya, Rachel belum pernah terlihat di rumah itu. Tetangganya pun tidak ada yang tahu keberadaan Rachel saat ini, tapi salah seorang pemilik warung makan itu sempat melihat Rachel pergi dengan seorang lelaki dengan membawa barang-barangnya."
"Siapa lelaki itu? Bukankah Rachel belum memiliki seorang kekasih? Bukankah sejak kecil Rachel hanya menyukaiku? Bahkan sampai dewasa, Rachel tidak pernah dekat dengan lelaki lain kecuali diriku." kata Gibran dengan penuh tanda tanya.
"Tidak ada yang tahu siapa lelaki itu karena Rachel memang sama sekali tidak pernah pergi dengan seorang lelaki sebelumnya." jawab salah seorang anak buah Gibran.
"Siapa lelaki itu?" kata Gibran lagi sambil mengerutkan keningnya.
"Mungkin saudara Rachel karena disini Rachel tidak punya siapa-siapa lagi kecuali orang tuanya."
"Jadi menurutmu Rachel pulang ke kampung halamannya?"
"Iya bos, jika Rachel tidak memiliki seorang kekasih, bagaimana mungkin dia tiba-tiba pergi dengan seorang lelaki? Apalagi kata bos, hanya bos laki-laki yang dekat dengannya."
"Kau benar juga, jadi saat ini posisiku dan Bella aman karena Milan tidak mungkin bertemu dengan Rachel? Hahahaha." kata Gibran sambil tertawa.
Tawa Gibran pun terhenti saat melihat panggilan di ponselnya.
"Bella, kebetulan sekali." kata Gibran kemudian mengangkat panggilan dari Bella.
[Halo Bella, apa kabarmu di London?]
[Sudah Gibran, aku tidak ingin berbasa-basi. Sekarang cepat katakan apa kau sudah menemukan Rachel?]
[Santai saja Bella tidak usah panik seperti itu. Hahahaha.] jawab Gibran sambil tertawa.
[Jangan main-main Gibran, cepat katakan padaku, apakah kau sudah menemukan Rachel?]
[Belum Bella.]
[Apaaaa? Kau belum menemukan Rachel tapi kau masih bisa tertawa padaku?]
[Bella, tenanglah, jangan terbawa emosi. Aku memang belum menemukan Rachel tapi aku bisa memastikan jika Rachel tidak akan bertemu lagi dengan Milan, karena Rachel saat ini sudah kembali ke kampung halamannya.]
[Benarkah?] tanya Bella sambil menjerit bahagia.
[Ya, kita tidak perlu repot-repot mengusirnya karena dia sudah pergi dengan sendirinya. Hahahaha.]
[Bagus sekali Gibran, keberuntungan mungkin sedang berpihak pada kita. Hahahaha.] kata Bella sambil ikut tertawa.
[Sekarang tugasmu adalah memastikan agar hubunganmu dengan Milan tetap berjalan dengan baik. Kau jangan sampai terlena akan kebersamaanmu dengan Arvin sampai mengabaikan Milan.]
[Kau tenang saja, aku akan membuat Milan tetap tunduk padaku.] jawab Bella sambil tersenyum menyeringai.
[Ya, meskipun kalian berjauhan tetap lakukan tugasmu dengan baik, pastikan jangan sampai ada yang mengganggu hubungan kalian sampai kita mengeluarkan video skandal Milan dengan Rachel.]
[Iya Gibran.] jawab Bella kemudian menutup teleponnya.
***
"Bagaimana yang ini saja ya?" tanya Milan sambil memperlihatkan judul film korea pada Rachel. Rachel pun kemudian menganggukkan kepalanya.
Setelah selesai memutar film, Milan kemudian mendekat pada Rachel yang kini duduk di atas sofa bed dengan tubuhnya yang ditutup oleh selimut. Dia lalu ikut masuk ke dalam selimut dan langsung memeluk tubuh Rachel. Rachel pun menatap Milan sambil tersenyum kemudian menggelengkan kepalanya.
"Kenapa kau menatapku seperti itu? Memangnya salah kalau aku masuk ke dalam selimut bersamamu? Hujan diluar masih turun begitu deras, memangnya kau tega membiarkanku menonton film sambil kedinginan?" gerutu Milan.
"Ternyata kau lucu juga jika sedang kesal."
"Jadi kau sudah berani meledekku? Kemarin kau begitu malu-malu padaku." kata Milan sambil tersenyum yang membuat Rachel tersipu malu.
"Kau semakin menggemaskan jika bertingkah seperti ini." kata Milan kembali sambil mencubit pipi Rachel lalu mulai memeluk tubuhnya semakin erat.
Beberapa saat kemudian, film yang mereka tonton pun memperlihatkan adegan mesra di atas ranjang. Seketika Milan pun mulai ikut terbuai dan mulai menciu*i tengkuk Rachel yang kini ada dalam pelukannya.
"Milan jangan ganggu aku, aku mau menonton film lebih dulu."
"Aku ingin melihat seberapa kuat kau menahan pesonaku." kata Milan sambil menciu*i setiap bagian tubuh Rachel.
Rachel pun kemudian mengalungkan tangannya pada leher Milan. "Milan kau benar-benar sudah menggangguku." kata Rachel kemudian mendekatkan wajahnya pada Milan dan men*ium bibir Milan dengan begitu bergairah.
"Hahahaha kau yang mudah tergoda." jawab Milan saat melepaskan ciu*an Rachel dari bibirnya lalu melepas pakaian yang Rachel kenakan.
"Milan." de*ah Rachel yang membuat Milan semakin kencang memainkan ping*ulnya dengan begitu lincah di atas tubuh Rachel.
Tiba-tiba ponsel Milan pun berbunyi. "Milan sepertinya ada yang menelponmu."
"Sudah biarkan saja." jawab Milan, hingga beberapa saat kemudian keduanya pun berteriak karena sudah sampai pada puncak kenikmatan.
Ponsel Milan yang terus menerus berdering pun membuat keduanya merasa terganggu. "Milan lebih baik kau angkat saja panggilan itu." kata Rachel pada Milan yang kini masih berada di atas tubuhnya.
Milan pun kemudian bangkit dan mengambil ponselnya. Mata Milan kini melotot dengan tajam saat melihat seseorang yang sejak tadi meneleponnya adalah Bella.
'Oh tidak.' gumam Milan sambil menelan kasar ludahnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 130 Episodes
Comments
nadya_hime
Entah siapa yg bener disinih..??!
2024-04-14
0
Ayraputri
lanjut
2022-08-13
0
Riyanti Cdr
sama-sama selingkuh adil
2022-01-30
0