Milan menuntun Bella yang kini berjalan dengan menggunakan penutup mata.
"Pelan-pelan Bella."
"Aku sudah lelah Milan, sepertinya kita sudah berjalan begitu jauh," gerutu Bella.
"Sabar, sebentar lagi sampai," sahut Milan sambil tersenyum.
"Sudah sampai," ujar Milan sambil membuka ikatan di mata Bella.
"WOW." teriak Bella. Kini mereka berdiri di tepi pantai lalu ada sebuah meja untuk menikmati makan malam, di samping meja itu ada beberapa buah lilin yang dibuat membentuk hati dan namanya, lalu di sekitar tempat itu juga sudah di dekor penuh dengan bunga-bunga yang sangat cantik.
"Terimakasih, ini luar biasa Milan."
"Because i'm loving you," bisik Milan di telinga Bella yang membuat perasaan Bella sedikit dihinggapi rasa bersalah.
"Ini untukmu," ucap Milan sambil memberikan sebuah buket bunga berukuran besar. Bella pun kemudian memandang Milan, begitu jelas terpancar di wajahnya rasa cinta dengan penuh ketulusan yang kini membuat hatinya terasa begitu sakit.
'Tidak, aku tidak boleh terpengaruh oleh suasana. Hatiku tidak boleh goyah untuk menghancurkan bisnis keluarga Milan,' gumam Bella dalam hati.
"Ayo kita ke sana!" perintah Milan sambil menarik tangan Bella.
'Kenapa tiba-tiba perasaanku jadi seperti ini? Tidak Bella, besok kau harus meninggalkan Milan, kau harus bisa menjaga perasaanmu,' batin Bella lagi.
"Aku harus pulang sekarang Milan," ucap Bella saat sudah selesai menyantap makan malamnya.
"Kenapa kau begitu terburu-buru Bella? Aku masih ingin menghabiskan malam denganmu, ini malam terakhir kita bersama."
"Aku harus mempersiapkan keberangkatanku esok hari."
"Baik jika itu maumu," jawab Milan sambil tersenyum meskipun kini perasaannya terasa begitu kesal.
Setelah selesai makan malam, Milan lalu mengantar Bella pulang ke rumah meskipun rasa kecewa begitu menyelimuti hatinya.
"Terimakasih untuk hari ini Milan, kau sebaiknya langsung pulang karena besok aku melakukan penerbangan pagi."
Milan pun kemudian mengangguk, namun dia tidak mengarahkan mobilnya ke rumah ataupun ke apartemennya.
***
"Selesai!" ujar Rachel kemudian menutup laptopnya.
"Jam berapa ini?" sambung Rachel sambil melirik ke arah jam dinding di dekatnya.
"Astaga, sudah pukul satu malam. Aku terlalu asyik membuat dan mengirimkan beberapa lamaran pekerjaan sampai aku lupa waktu seperti ini," sesal Rachel sambil memukul keningnya.
"Lebih baik sekarang aku tidur, Milan pasti malam ini tidak pulang," ujar Rachel kemudian mematikan seluruh lampu apartemen kemudian masuk ke dalam kamarnya.
Namun baru saja Rachel masuk ke dalam kamarnya, tiba-tiba dia mendengar pintu apartemen telah dibuka.
"Siapa itu? Bukankah Milan mengatakan jika dia ingin menghabiskan malam ini bersama dengan Bella," ujar Rachel sambil berjalan ke arah pintu.
Namun tiba-tiba dia dikejutkan oleh tubuh Milan yang kini ambruk di depannya. "Astaga, kau mabuk Milan?" tanya Rachel sambil membantu Milan untuk bangun.
"Bella jangan tinggalkan aku, aku membutuhkanmu Bella," rancau Milan.
"Milan kau mabuk berat, lebih baik kau tidur di kamar, biar aku yang tidur di atas sofa," ujar Rachel sambil memapah Milan ke dalam kamar.
"Sekarang tidurlah!" kata Rachel sambil mengusap keringat di dahinya. Dia kemudian duduk di atas ranjang karena merasa sedikit lelah telah memapah tubuh Milan yang kekar.
Namun saat Rachel akan bangun meninggalkan Milan, tiba-tiba tangannya ditarik oleh Milan hingga terjatuh di atas ranjang dan kini terbaring di sampingnya.
"Bella jangan tinggalkan aku Bella," rancau Milan sambil memeluk tubuh Rachel dari belakang.
"Milan sadarlah, aku Rachel bukan Bella."
"Tidak usah berpura-pura menjadi orang lain Bella," rancau Milan kemudian mendekap erat tubuh Rachel sambil sesekali menciumi tengkuk dan bahunya.
"Bagaimana ini?" gumam Rachel, dia lalu mencoba melepaskan pelukan Milan namun dekapan Milan ternyata begitu erat dan membuat dirinya tak berdaya.
"Jangan pergi!" pinta Milan lagi saat Rachel berusaha melepas pelukan itu.
Akhirnya Rachel pun merasa putus asa, dia lalu memilih tidur dalam dekapan Milan karena rasa kantuknya semakin tak tertahankan.
Suara alarm dari ponsel Milan yang begitu nyaring, kini membuat Rachel dan Milan terbangun. Milan begitu terkejut karena ada Rachel yang kini tidur di sampingnya dan berada dalam pelukannya.
"Rachel?" ujar Milan sambil terheran-heran.
"Tadi malam kau mabuk dan mengira aku adalah Bella, lalu kau menyuruhku tidur dalam pelukanmu."
"Oh tidak, maafkan aku Rachel," ucap Milan sambil mengusap kasar wajahnya.
"Tidak apa-apa, lagipula tadi malam kau sedang mabuk," balas Rachel sambil berjalan menuju dapur.
"Oh tidak aku melakukan kesalahan lagi," gerutu Milan sambil menepuk dahinya.
Rachel berjalan menuju dapur dengan perasaan yang kian berkecamuk.
"Tuhan, kenapa tiba-tiba hidupku jadi berantakan seperti ini? Kehilangan satu-satunya orang tua, mendapat ancaman dari para preman lalu harus hidup dengan laki-laki seperti Milan yang entah harus kusebut apa."
'Sebenarnya dia adalah lelaki yang baik, hanya saja dia belum bisa mengendalikan hidupnya. Apakah aku sebaiknya pergi dari sini saja?' gumam Rachel dalam hati sambil membuat sarapan di dapur.
"Kau melamun? Apa yang kau pikirkan?" tanya Milan pada Rachel yang kini termenung. Rachel lalu menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
"Rachel sekali lagi maafkan aku, aku berjanji tidak akan mengulangi hal seperti itu lagi. Tadi malam aku hanya sedikit kecewa dengan Bella."
"Kecewa?"
"Sudah tidak usah dibahas. Ini untukmu," ujar Milan sambil menyerahkan sebuah kardus kecil pada Rachel.
"Ponsel?"
"Itu untukmu agar aku bisa menghubungimu, kau pasti juga membutuhkan itu."
"Tidak Milan, aku sudah begitu merepotkanmu. Ini berlebihan, kau tidak harus membelikan ponsel untukku."
"Bukankah kita teman? Sesama teman harus saling membantu bukan?" kata Milan sambil tersenyum yang membuat Rachel tersipu malu.
"Ayo sarapan, aku sudah membuatkan sarapan untukmu."
"Wow kau memang teman yang baik Rachel," balas Milan yang membuat Rachel tersenyum. Milan pun memandang Rachel yang kini tersenyum hingga membuat Rachel salah tingkah.
"Kenapa kau memandangku seperti itu?"
"Sepertinya sejak kita bertemu, kau belum pernah tersenyum. Apakah kau tahu senyummu sebenarnya begitu indah, kau sangat cantik jika sedang tersenyum, Rachel," ujar Milan sambil menatap Rachel yang tersipu malu.
'Tolong hentikan ini Milan,' batin Rachel sambil melirik wajah Milan yang terus menatapnya sambil tersenyum.
"Milan daripada kau meledekku, lebih baik kau cepat habiskan sarapanmu lalu mandi, bukankah sebentar lagi kau harus mengantarkan Bella ke bandara?"
"Kau benar Rachel." kata Milan kemudian menghabiskan sarapannya.
***
"Lebih baik aku mencoba menggunakan ponsel ini." kata Rachel sambil menyalakan ponsel yang diberikan oleh Milan.
"Wah sudah ada beberapa nomer, pasti Milan yang sudah mengisi nomer-nomer ini," ujar Rachel sambil terkekeh.
Dia lalu membuka aplikasi berwarna hijau untuk mengirimkan pesan pada Milan, tapi di saat itu juga dia melihat sebuah story Milan yang kini sedang mencium kening Bella saat mereka sedang di bandara.
Melihat kemesraan Milan dan kekasihnya mendadak perasaan Rachel kian tak menentu.
"Perasaan apa ini? Kenapa rasanya begitu sakit?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 130 Episodes
Comments
Rosmika Mintawani Sianipar
waduhh cemburu dong
2022-01-18
3
Wasita Ningsih
kutungguin lanjutannya ya ..
2022-01-14
3
💋ShasaVinta💋
cemburu donggg, milan sih bikin baper. jangan di PHP in anak org itu ,blh baca ceritaku jg ' menikah karena amanat ' trmks
2022-01-13
1