Milan kemudian mengangkat tubuh Rachel ke dalam mobilnya lalu membawanya ke rumah sakit terdekat. Beberapa orang perawat yang melihat kedatangan mereka pun kemudian ikut membantu mengeluarkan Rachel dari dalam mobil kemudian membawanya ke ruang UGD dan langsung mendapat penanganan dari seorang dokter.
Milan menatap seorang dokter yang tengah memeriksa keadaan Rachel dengan raut wajah begitu khawatir.
"Bagaimana dok?" tanya Milan.
"Sebenarnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Nona Rachel hanya mengalami dehidrasi dan kurang asupan makanan. Mungkin beberapa hari ini pola makannya tidak teratur."
"Jadi dia tidak apa-apa kan?"
"Tidak apa-apa, Nona Rachel tidak harus dirawat inap di sini, dia diperbolehkan pulang setelah dia sadar dan infusnya sudah habis."
"Oh iya dok, terimakasih."
"Sama-sama," jawab dokter itu kemudian pergi dari bilik ruangan UGD.
Milan kemudian mengambil ponsel di sakunya lalu tampak sibuk mengetik sesuatu di ponselnya.
Dia kemudian menatap wajah Rachel yang kini terlihat begitu pucat. 'Ternyata dia cantik,' gumam Milan saat mengamati wajah Rachel dengan seksama hingga tanpa sadar tangannya kini mulai menyentuh wajah Rachel.
Tepat saat ujung jarinya menyentuh pipi Rachel, tiba-tiba perlahan Rachel pun membuka matanya.
"Kau?" tanya Rachel dengan raut wajah begitu terkejut saat melihat Milan yang kini duduk di sampingnya.
"Em.. E... Tolong jangan berfikir yang tidak-tidak, tadi aku menemukanmu pingsan di jalan, jadi aku membawamu ke sini."
"Oh," jawab Rachel dengan sedikit gugup. Perasaannya sebenarnya begitu campur aduk, masih terbayang bagaimana saat dia mulai mencium dan menikmati setiap bagian tubuh Milan di malam itu hingga membuatnya kini merasa begitu canggung.
Milan pun merasakan hal yang sama, saat dia mengingat bagaimana dia mulai memeluk tubuh Rachel dan merenggut keperawanannya.
Ditengah kecanggungan itu tiba-tiba mereka dikejutkan seorang lelaki yang mengantarkan makanan yang dipesan oleh Milan.
"Permisi, atas nama Tuan Milan?" tanya lelaki itu.
"Iya."
"Ini makanan yang anda pesan Tuan."
"Iya terimakasih," jawab Milan sambil mengambil makanan itu kemudian memberikannya pada Rachel.
"Ini makanlah."
"Apa ini?" tanya Rachel dengan penuh tanda tanya.
"Makanan untukmu, tadi dokter mengatakan jika kau kurang asupan makanan dan dehidrasi sampai membuatmu pingsan."
"Oh."
"Makanlah jangan malu-malu."
Perlahan, Rachel mengambil makanan itu karena perutnya kini terasa begitu lapar. Milan pun tersenyum sambil memandang Rachel yang kini menikmati makanan itu dengan begitu lahap.
"Maaf sudah merepotkanmu," ucap Rachel saat selesai memakan makanan itu.
"Tidak apa, anggap saja aku temanmu."
"Teman?" tanya Rachel.
"Emh.. Iya teman. Rachel sebenarnya aku ingin meminta maaf padamu.. Eeee, malam itu..."
Milan pun mengigit bibirnya, lidahnya terasa begitu kelu.
"Aku juga minta maaf padamu," jawab Rachel.
Milan begitu terkejut mendengar kata-kata Rachel. "Kau tidak perlu meminta maaf karena aku yang sudah berjanji padamu untuk tidak menyentuhmu, tapi entah setan apa yang tiba-tiba merasukiku hingga aku tiba-tiba menyentuh tubuhmu."
"Sudah, tolong jangan dibahas," jawab Rachel dengan tatapan kosong.
'Maafkan aku jika ini terlalu menyakitkan bagimu Rachel,' gumam Milan dalam hati.
"Aku ingin pulang, apa aku bisa pulang sekarang?" tanya Rachel.
"Sebentar aku panggilkan perawat dulu untuk melepas infusmu, bagaimana keadaanmu?"
"Aku sudah baik-baik saja."
"Baik tunggu sebentar."
Milan pun kemudian pergi meninggalkan Rachel lalu datang kembali bersama seorang perawat untuk melepas infusnya.
"Ayo kita pulang, akan kuantar sampai rumahmu karena tubuhmu masih lemah," ucap Milan saat perawat itu sudah selesai melepas infus Rachel.
Rachel pun berjalan di belakang Milan dengan tatapan begitu syahdu. Sesekali Milan melirik pada Rachel yang tampak menghapus air mata di salah satu sudut matanya.
'Apa dia jadi seperti ini karena aku?' gumam Milan dengan dipenuhi perasaan bersalah.
Beberapa saat kemudian, mereka sudah ada di dalam mobil Milan. Namun hanya ada keheningan yang tercipta diantara keduanya karena sepanjang perjalanan Rachel hanya memandang ke arah depan dengan tatapan kosong.
'Kenapa dia tampak begitu sedih?' gumam Milan kembali sambil melirik Rachel.
"Aku turun di sini saja, rumahku masuk ke dalam gang itu." kata Rachel pada Milan.
"Iya." jawab Milan.
"Terimakasih." kata Rachel sebelum turun dari mobil.
Milan pun kemudian mengangguk, dia lalu memandang Rachel yang kini berjalan di sebuah gang menuju rumahnya. Namun saat sosok Rachel sudah tidak lagi terlihat, Milan baru menyadari jika tas milik Rachel tertinggal di dalam mobil.
"Aku harus mengembalikan tas ini," ujar Milan kemudian turun dari mobil dan berjalan ke arah rumah Rachel. Namun, baru saja Milan sampai di depan halaman tiba-tiba dia melihat Rachel yang sedang berhadapan dengan dua orang preman.
"Tolong kau turuti kata-kata kami. Pergilah dari kota ini sekarang juga!" kata salah seorang preman.
"Apa hakmu mengusirku? Aku tidak akan pergi dari kota ini karena aku memiliki banyak kenangan dengan almarhum ibuku!"
"Jadi kau berani menantang kami?"
"Tentu saja karena kau tidak berhak mengatur hidupku!" bentak Rachel kembali.
"Hahahaha kau punya nyali juga cantik. Sekarang hidupmu akan kubuat hancur, rasakan ini!" kata salah seorang preman sambil mengayunkan bogem pada wajah Rachel.
Namun belum sampai bogem mentah itu mengenai wajah Rachel, sebuah tangan tiba-tiba menghentikan ayunan tangan preman itu.
"Kalian berdua benar-benar pengecut karena sudah berani menyakiti seorang wanita!" bentak Milan.
"Siapa kamu? Apa urusanmu ikut campur dengan kami!"
"Aku adalah kekasihnya! Aku berhak ikut campur karena dia adalah tanggung jawabku!" bentak Milan lagi pada para preman itu.
DEGGG
Jantung Rachel pun seakan berhenti mendengar perkataan Milan, dia lalu menatap Milan yang kini sedang berkelahi dengan kedua preman itu.
"Kalian salah jika berani menantangku! Aku bisa saja membuat hancur hidup kalian hanya dengan menjentikkan jariku saja," ancam Milan sambil tersenyum menyeringai.
Kedua preman itu pun kemudian bertatapan.
"Sepertinya dia memang anak orang kaya," bisik salah seorang preman pada temannya.
"Lebih baik kita tidak usah macam-macam dengannya, kemungkinan orang tuanya adalah orang berpengaruh."
"Hei kenapa kalian hanya berbisik? Cepat lawan aku lagi!" bentak Milan namun kedua preman itu malah saling berpandangan lalu keduanya pun kabur.
"Dasar pengecut!" kata Milan sambil melihat kedua preman itu yang lari meninggalkannya.
Milan pun kemudian mendekat pada Rachel.
"Bagaimana keadaanmu?"
"Tidak apa-apa. Terimakasih banyak aku sudah merepotkanmu lagi, aku lelah, aku mau istirahat dulu." jawab Rachel kemudian berjalan ke arah pintu. Namun sebelum Rachel masuk ke dalam rumah, Milan mencekal tangannya.
"Ikutlah denganku!" titah Milan sambil menatap Rachel dengan tatapan tajam.
***
"Apa bodoh sekali kalian, mengurus satu orang wanita saja tidak becus!" bentak Gibran saat tengah menelepon seseorang.
"Sudah, aku tidak mau berurusan dengan kalian lagi dan ingat aku tidak akan membayar kalian karena tidak bisa menyelesaikan pekerjaan semudah itu! Dasar preman bodoh mengurus pekerjaan sepele seperti itu saja tidak bisa!" bentak Gibran lagi sambil menutup teleponnya.
Disaat itu pula Bella pun mendekat pada Gibran.
"Bagaimana Gibran?"
"Gagal," jawab Gibran dengan begitu kesal.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 130 Episodes
Comments
BudeAtin BundaMuzzha
org klo berniat jahat pasti ada aja kendalanya, makanya jgn sok PD yg lemah🤭🤭🤭
2022-01-31
0
Sweet Girl
bakal gagal terus kejahatan mu Gibran ...
2022-01-24
0
Rini Q Ririn
rasain gagal tuch teman macam apa itu jahat sekali
2022-01-14
4