"Benar kau tidak mau ikut datang ke pesta di kantor?" tanya Milan sambil memeluk pinggang Rachel.
"Tidak Milan, aku sedikit pusing."
"Jika kau mau ikut denganku, akan kuperkenalkan pada semua orang jika kau adalah kekasihku."
"Tidak, itu sama saja bencana bagiku Milan. Biarkan hubungan kita seperti ini dulu, tanpa ada yang tahu."
"Memangnya kenapa?"
"Milan, semua orang tahu kau sedang menjalin hubungan dengan Bella, apa kau mau jika orang-orang berfikir jika aku telah merebutmu dari Bella? Kau boleh memperkenalkan diriku jika kau sudah memutuskan hubunganmu dengan Bella."
"Baiklah jika itu maumu, besok aku akan langsung pergi ke London. Aku harus menemui Bella. Aku tidak mau menjadi lelaki pengecut jika memutuskan hubungan dengannya lewat sambungan telepon."
"Iya Milan, kau sebaiknya menemui Bella secepatnya."
"Iya sayang, sekarang kau istirahat saja. Jangan lupa makan obat, aku pergi dulu, aku janji hanya pergi sebentar saja." kata Milan sambil mencium pipi Rachel.
"Iya hati-hati, Milan," jawab Rachel sambil menatap kepergian Milan.
'Aku tidak menyangka jika hari ini akhirnya kau mengatakan cinta padaku, kupikir selama ini cintaku bertepuk sebelah tangan. Kukira posisiku hanyalah pemuas nafsumu di atas ranjang, ternyata aku salah. Terimakasih banyak Milan, aku cinta padam,'' batin Rachel sambil terus menatap Milan hingga sosoknya tidak lagi terlihat.
***
Milan langsung menghampiri kedua orang tuanya saat dia sampai di acara pesta perayaan serah terima kepemilikan perusahaan di kantornya.
"Akhirnya kau datang juga Milan, mama pikir kau tidak jadi datang malam ini," sapa Citra Arkana saat melihat putranya yang kini berdiri di sampingnya.
"Bukankah tadi Milan sudah berjanji untuk datang? Mama kan tahu Milan bukan orang yang suka mengingkari janji."
"Iya.. Iya. Kemana saja kau selama enam bulan terakhir ini?"
"Bukankah setiap akhir pekan Milan sering pulang ke rumah, tapi Mama sama Papa juga jarang ada di rumah, jadi Milan pergi lagi," jawab Milan sambil meringis.
"Dasar anak nakal, atau kau sering pergi mengunjungi Bella di London?"
"Mama tolong jangan ungkit Bella lagi, Milan sudah memiliki kekasih lain. Dia wanita polos yang mencintai Milan dengan begitu tulus meskipun saat itu dia belum tahu Milan pemilik perusahaan ini."
"Wow benarkah? Lalu bagaimana dengan Bella?" jawab Citra.
"Milan akan memutuskannya Ma."
"Bagus sekali Milan, papa mendukung keputusanmu untuk memutuskan Bella, sejak awal Papa memang tidak menyetujui hubunganmu dengan Bella karena papa yakin dia tidak mencintaimu dengan tulus."
"Jangan bilang seperti itu pa, setahu mama Bella anak yang baik."
"Mama, papa yakin dia mendekati Milan pasti karena memiliki maksud yang tidak baik. Sejak dulu perusahaan milik keluarga mereka sudah menjadi musuh bebuyutan dengan perusahaan kita, sudah berulangkali keluarga mereka berusaha menghancurkan perusahaan keluarga kita."
"Benarkah seperti itu pa? Kenapa papa tidak mengatakan pada Milan sejak dulu?"
"Milan, papa tahu sifatmu, saat itu kau begitu tergila-gila pada Bella. Jika saat itu papa mengatakan semua ini padamu, papa yakin kau tidak akan mempercayai papa. Benar begitu kan ma?"
"Ya, papa benar. Milan lebih baik kau memutuskan Bella secepatnya."
"Iya Ma, besok Milan akan pergi ke London untuk menemui Bella."
"Iya Milan, kau bereskan dulu hubunganmu dengan Bella, setelah itu kau bisa mulai mengurusi perusahaan ini."
"Iya Pa, terimakasih. Milan ke belakang dulu." kata Milan kemudian berjalan ke arah toilet.
***
"Hei lihat itu Pak Milan sangatlah tampan. Rachel sungguh rugi tidak bisa ikut datang ke pesta ini," kata Nadia pada Dinda.
"Memangnya kenapa dia tidak datang Nad?"
"Oh dia sakit, tadi pagi dia juga ijin."
"Memang lebih baik seperti itu, jika Rachel ikut ke pesta ini, dia pasti jadi pusat perhatian. Bahkan mungkin Pak Milan bisa saja jatuh cinta dengannya." jawab Dinda.
"Hahahaha, kau bisa saja Dinda."
"Memang seperti itu, bukankah semua laki-laki di kantor banyak yang tergila-gila pada Rachel?" jawab Dinda.
"Tapi sayangnya Rachel sudah memiliki seorang kekasih, dia sepertinya juga tidak tertarik dengan Pak Milan."
"Yang benar saja?"
"Ya, dia sangatlah cuek jika aku bercerita tentang Pak Milan."
"Rachel memang bodoh." gerutu Dinda.
"Hei Dinda, jangan pernah bilang Rachel bodoh atau kau akan berhadapan denganku," ujar Adit yang kini berdiri di sampingnya.
"Apa-apaan sih Dit?"
"Tidak ada yang boleh mengolok-olok Rachel karena dia adalah milikku."
"Kau terlalu percaya diri. Setahuku Rachel sudah memiliki kekasih."
"Tidak Nadia, lihat saja suatu saat nanti Rachel pasti menjadi milikku." jawab Adit sambil tersenyum menyeringai. Di saat itu pula Milan yang sedang berjalan di dekat mereka saat baru saja kembali dari toilet mendengar perkataan Adit.
Milan kemudian mendekat pada Adit sambil tersenyum. "Pa.. Pak Milan." Adit terlihat gugup saat tiba-tiba Milan ada di hadapannya. "Siapa namamu?"
"Adit, Pak Milan."
"Oh ya Adit, sekarang kau dengarkan aku, mulai besok kau kupindahkan ke kantor cabang yang ada di Surabaya," ucap Milan sambil tersenyum.
"Kenapa mendadak seperti ini Pak?"
"Tidak ada apa-apa hanya rotasi karyawan saja," jawab Milan kemudian meninggalkan mereka yang masih terkejut dengan keputusan Milan.
***
Pukul sembilan malam, Milan sudah pulang ke apartemen. Rachel yang sedang menonton televisi begitu terkejut karena Milan tiba-tiba sudah duduk di sampingnya.
"Cepat sekali? Bukankah acaranya mulai pukul delapan malam, Milan."
"Ya tapi terasa ada yang kurang karena tidak ada dirimu, jadi aku pulang."
"Gombal."
"Rachel, sebenarnya ada yang ingin kukatakan padamu."
"Apa?"
"Setelah aku memutuskan hubunganku dengan Bella aku ingin mengenalkanmu pada kedua orang tuaku."
"Apa itu tidak terlalu cepat Milan?" .
"Tidak karena aku sudah menceritakanmu pada mereka."
"Lalu?"
"Lalu apa? Tentu saja mereka ingin mengenalmu."
"Tapi aku takut Milan, aku takut jika mereka tidak menyukaiku."
"Kau tenang saja, ada aku disini." kata Milan sambil memegang wajah Rachel kemudian memeluknya.
"Baik jika itu maumu," jawab Rachel sambil menyandarkan tubuhnya pada Milan.
"Tapi ada satu lagi Rachel."
"Apa lagi Milan?" tanya Rachel sambil mengerutkan keningnya.
"Aku ingin semua orang di kantor tahu kau adalah kekasihku."
"Oh tidak, aku belum bisa. Kenapa tiba-tiba kau berfikir seperti itu Milan?"
"Ya, karena aku tidak ingin ada seorangpun lelaki di kantor yang berusaha mendekatimu."
"Hahahaha."
"Kenapa kau tertawa? Aku baru tahu jika di kantor ternyata banyak lelaki yang menyukaimu."
"Kenapa kau tiba-tiba jadi cemburu seperti ini Milan? Bukankah kau tahu hatiku hanya untukmu?"
"Iya tapi aku ingin semua orang tahu kau adalah kekasihku, hanya milikku." gerutu Milan.
"Iya baik Milan, tapi tolong beri aku waktu untuk mencari saat yang tepat."
"Baik, tapi jangan terlalu lama."
"Iya sayang," jawab Rachel sambil mencium bibir Milan yang membuat Milan tersenyum kemudian membalas ciuman Rachel dengan begitu bergairah lalu menerjang tubuh Rachel di atas sofa.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 130 Episodes
Comments
Benazier Jasmine
bagus ceritanya thooor tnp bertele2👍👍👍💖
2022-02-18
2
Risma Linar
lanjuuùuut
2022-01-30
0
Ayytaehyung💜
😂😂😂ᵐⁱˡᵃⁿ ᵏᵐᵘ ᶜᵐᵇʳᵘ ˢᵏˡⁱ ʸᵃ ˢᵐᵖᵃⁱ² ᶜ ᵃᵈⁱᵗ ᵏᵐᵘ ᵖⁱⁿᵈᵃʰⁱⁿ . .
2022-01-24
0