"Gagal?"
"Ya, mereka memang preman yang begitu bodoh! Mengurus seorang wanita saja tidak becus!"
"Gibran kau harus segera membereskan Rachel. Aku takut suatu saat nanti Rachel akan menjadi bumerang bagi kita."
"Kau tenang saja Bella, besok aku akan membereskan masalah ini."
"Ya, kau harus menyingkirkan Rachel secepatnya sebelum dia bertemu lagi dengan Milan."
"Iya Bella, kau tenang saja." jawab Gibran. Bella pun mengangguk, sedangkan Gibran kini terlihat memainkan ponselnya dengan raut wajah begitu serius.
***
"Rachel, ikutlah bersamaku."
"Apa maksudmu?"
"Apa kau tidak sadar akan kedatangan preman itu? Seseorang pasti sedang ingin berniat buruk padamu."
"Tidak mungkin, aku tidak memiliki urusan dengan mereka, aku juga tidak memiliki musuh," balas Rachel dengan raut wajah kebingungan.
"Ya kau berfikir seperti itu, tapi mungkin ada orang yang menganggap keberadaanmu mengancam mereka."
"Tapi siapa?"
"Entahlah, kemasi barang-barang mu lalu ikut denganku, aku akan menyelidiki semua ini setelah aman kau boleh kembali ke rumah ini lagi."
Rasa takut pun mulai datang setelah mendengar perkataan Milan, Rachel pun kemudian menganggukkan kepalanya. Dia lalu bergegas masuk ke dalam rumah kemudian mengemasi beberapa barang penting lalu keluar menghampiri Milan.
"Sudah?"
"Iya."
"Ayo kita pergi dari sini!" perintah Milan sambil menarik tangan Rachel berjalan ke arah mobilnya.
Rachel pun menatap tangan Milan yang kini menarik tangannya dengan berbagai perasaan yang tak menentu. Beberapa saat kemudian mereka sudah sampai di sebuah apartemen mewah di pusat ibu kota.
"Ayo masuk!" titah Milan sambil mempersilahkan Rachel masuk ke dalam apartemennya.
Rachel pun perlahan melangkahkan kakinya masuk ke dalam apartemen dengan tatapan sedikit bingung, seketika timbul rasa penyesalan karena dia menuruti perkataan Milan begitu saja.
'Kenapa aku tiba-tiba mau menuruti kata-katanya? Bagaimana jika ternyata dia bermaksud jahat padaku,' batin Rachel hati sambil melirik Milan.
"Kenapa kau ragu? Aku hanya ingin menolongmu, aku tidak pernah berniat jahat padamu. Bukankah sudah kukatakan padamu jika malam itu aku tak sengaja melakukan itu padamu."
Rachel pun menganggukkan kepalanya, meskipun dia masuk ke dalam apartemen dengan penuh keraguan.
"Masuklah ke dalam kamar itu, jika kau takut padaku kau bisa menguncinya rapat-rapat. Ini sudah malam, tidurlah. Kau pasti lelah."
Rachel pun menelan ludah kasar mendengar perkataan Milan, rasa bersalah pun mulai datang karena sudah mencurigainya.
"Terima kasih Milan," jawab Rachel kemudian masuk ke dalam kamar kemudian menguncinya.
Dia merebahkan tubuhnya di atas ranjang sambil menutup wajahnya dengan kedua matanya.
"Ma, belum lama kau meninggalkanku, kenapa hidupku tiba-tiba berubah seperti ini?" ucap Rachel sambil terisak.
Sementara di balik tembok, tampak Milan sedang sibuk menghubungi seseorang, namun nomor yang dia panggil terdengar selalu sibuk. Milan pun mengurungkan niatnya, dia lalu merebahkan tubuhnya di atas sofa sambil memejamkan matanya.
***
Rachel keluar dari dalam kamar dan melihat Milan yang kini tertidur di atas sofa. 'Astaga, semalaman dia tidur di sini? Kasihan sekali,' gumam Rachel sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Lebih baik aku membuatkan sarapan untuknya sebagai ucapan terima kasihku," ucap Rachel lalu bergegas ke arah dapur.
Mencium aroma masakan yang begitu harum membuat Milan perlahan membuka kedua matanya.
'Siapa yang memasak?' gumam Milan kemudian mulai duduk dan melihat Rachel yang kini tengah sibuk menaruh aneka makanan di atas meja makan.
"Kau sudah bangun?" tanya Rachel pada Milan yang kini duduk di atas sofa.
Milan pun menganggukkan kepalanya, lalu bangkit dari sofa dan berjalan ke arah meja makan.
"Wow sepertinya ini sangat lezat." kata Milan saat melihat ayam panggang keju yang sudah ada di atas meja.
"Hahahaha kau bisa saja, hanya ini yang bisa kubuat karena di dalam kulkasmu hanya ada ayam, keju, saos tomat dan mayonaise, bahkan tidak ada bumbu dapur."
"Maaf aku tidak pernah memasak, aku juga jarang ke apartemen ini. Apartemen ini hanya kugunakan saat berkumpul bersama dengan teman-temanku," sambung Milan sambil sibuk menyantap makanan yang ada di depannya.
"Jika kau butuh sesuatu, kau tinggal pesan saja lewat ojek online, biar aku yang membayarnya."
Mendengar perkataan Milan, Rachel pun tertunduk. "Maaf, aku sudah tidak memiliki ponsel, sudah kujual untuk biaya pengobatan mama," jawab Rachel lemah.
"Apa sekarang kau ingin menemui mamamu?"
"Tidak, mamaku sudah meninggal. Saat kau menemukanku pingsan aku baru saja pulang memakamkan jenazah mama."
DEGGGG
'Jadi sejak kemarin dia terlihat begitu sedih itu karena mamanya baru saja meninggal?' gumam Milan sambil menatap Rachel yang kini terlihat meneteskan air matanya.
"Maaf, maafkan aku Rachel. Maaf aku sudah membuatmu kembali bersedih."
"Tidak apa-apa, kau tidak bersalah, aku saja yang masih terbawa perasaan karena belum siap kehilangan mama."
Milan pun kian dirasuki perasaan bersalah, apalagi kini Rachel tampak menangis dengan begitu terisak. Milan pun kemudian mendekatkan tangannya pada wajah Rachel, berniat untuk menghapus air matanya, namun disaat itu juga terdengar suara bel di apartemen itu. Milan pun terlihat panik.
"Rachel sebaiknya kau bersembunyi. Masuklah ke dalam kamar."
Rachel pun menganggukan kepalanya, kemudian bergegas masuk ke dalam kamar sedangkan Milan berjalan ke arah pintu. Baru saja Milan membukakan pintu itu tiba-tiba seorang wanita sudah menghambur ke pelukannya.
"Selamat pagi sayang," sapa wanita itu sambil bergelayut manja di tubuh Milan.
"Emh.. E.. Selamat pagi Bella," jawab Milan sedikit gugup.
"Kenapa kau tidak bilang padaku jika kau mau datang ke sini?"
"Aku rindu kamu sayang," jawab Bella sambil meringis.
"Tadi malam aku menghubungimu tapi ponselmu selalu sibuk."
"Em, itu aku sedang menelepon teman lamaku," jawab Bella sedikit gugup.
"Oh pantas saja, tidak seperti biasanya kau bersikap seperti itu."
'Sebenarnya aku sedang menelepon Arvin, Milan. Karena sebentar lagi aku bisa bertemu dengannya dan akhirnya aku bisa bebas untuk tidak berpura-pura lagi mencintaimu karena enam bulan berpura- pura menjadi kekasihmu ini sangat menyakitkan untukku. Jika bukan karena mama yang selalu memohon padaku untuk mendekatimu aku tidak mau melakukan semua ini,' gumam Bella sambil tersenyum menyeringai.
"Aku rindu kamu sayang," ucap Milan kemudian mendekatkan wajahnya pada Bella.
Bella pun tersipu malu, terlebih saat ini Milan sudah mulai mencium bibirnya dengan begitu bergairah. Perlahan Milan pun menciumi tengkuk dan leher Bella, tangan nakalnya pun mulai membuka kancing kemeja yang dikenakan oleh Bella.
"Jangan disini Milan, lebih baik di kamar saja," protes Bella sambil melepaskan tangan Milan dan berjalan ke arah kamar.
Milan pun kini terlihat begitu panik, secepat kilat dia menghampiri Bella yang sudah mulai membuka pintu kamar.
"Jangan Bella!" teriak Milan saat Bella mulai membuka pintu kamar itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 130 Episodes
Comments
akoh ghaghal vhakum
duhh knp aq yg panik saat Milan teriak☺️
2022-01-20
0
Rosmika Mintawani Sianipar
waduh..bella si ular betina
2022-01-18
1
💋ShasaVinta💋
idiihh.. si bela mau juga gituan sm milan pdhl katanya gak cinta .. blh baca ceritaku jg ' menikah karena amanat ' trmks
2022-01-13
0