Tiba-tiba ketukan pintu pun terdengar.
TOK TOK TOK
"Siapa?"
"Bian, aku hanya ingin mengantarkan air minum ini untuk kalian," jawab Bian.
Milan pun membuka pintu tersebut.
"Ini untuk kalian, kalian pasti membutuhkan ini agar tidak kehausan," ujar Bian dengan tatapan jahil.
"Terimakasih," jawab Milan kemudian masuk ke dalam membawa air putih yang dibawa oleh Bian.
"Kau mau minum Rachel? Aku tahu kau pasti haus karena mengeluarkan banyak air mata."
Rachel pun kemudian mengangguk, dia lalu meminum air minum yang diberikan oleh Milan.
"Sekarang pakai bajumu dan naiklah ke atas tempat tidur, biar aku saja yang tidur di sofa," sambung Milan sambil tersenyum.
Rachel pun kemudian ke naik ke atas tempat tidur.
"Kenapa kau tidak memakai bajumu?"
"Bajuku basah," jawab Rachel.
Milan kemudian mendekat pada Rachel lalu membuka jaketnya. Dia lalu membalut tubuh Rachel dengan jaket itu.
"Sebentar, kucarikan selimut dulu untukmu," sahut Milan kemudian membuka sebuah lemari dan mengambil selimut di dalamnya lalu memberikan selimut itu pada Rachel.
"Terimakasih"
"Sama-sama," balas Milan.
Sebelum tidur Milan terlebih dahulu meminum air yang dibawakan oleh Bian.
***
"Bagaimana?" tanya Gibran pada Bian
"Dia menerima minuman itu, sepertinya dia tidak curiga," jawab Bian.
"Bagus, nanti mereka juga akan meminum air itu." jawab Gibran sambil tersenyum menyeringai.
"Kenapa kau harus memberikan obat perangsang itu di minuman Milan? Bukankah itu hak dia untuk menikmati wanita itu atau tidak?" tanya Bian.
"Karena jika tidak diberikan obat perangsang, aku tahu dia tidak akan menyentuh Rachel."
"Apa pentingnya itu untukmu?"
"Itu bukan urusanmu Bian, lebih baik kau diam atau kubuat kariermu hancur jika kau sampai berani membocorkan rahasia ini!" bentak Gibran.
Beberapa saat kemudian, ponsel Gibran pun berbunyi.
[Halo Bella.]
[Halo Gibran, apa kau sudah melakukan tugasmu?]
[Tentu, semua berjalan lancar. Milan sudah kubuat menang taruhan dan dia saat ini sedang ada bersama wanita yang kusewa di dalam kamar.]
[Apa kau sudah memastikan Milan mau menikmati tubuh gadis itu?]
[Tentu saja Bella, aku sudah memasukkan obat perangsang ke dalam minuman mereka berdua.]
[Hahahaha, bagus Gibran. Kau memang selalu bisa diandalkan.]
[Tentu saja Bella, jangan sebut aku Gibran jika melakukan hal seperti itu saja aku tidak bisa.] kata Gibran sambil tertawa kemudian menutup panggilan dari Bella.
***
Hampir satu jam lamanya Milan merebahkan tubuhnya di atas sofa namun matanya belum juga terpejam. Namun perasaan di dadanya kian berkecamuk, jantungnya semakin berdegup kian kencang apalagi saat melihat tubuh indah Rachel di atas ranjang, sesekali terlihat bu*h da*anya yang menyembul di balik lingerie tipisnya membuat perasaan Milan semakin berdesir.
Rachel pun merasakan hal yang sama, jantungnya berdegup kian kencang, perasaannya begitu tak menentu, sekujur tubuhnya terasa begitu panas. Dia lalu membuka selimut yang menutupi tubuhnya kemudian duduk dan mengikat rambutnya.
Melihat Rachel yang kini duduk di atas ranjang, Milan pun tidak dapat lagi membendung jiwa kelaki-lakiannya, apalagi saat Rachel mengikat rambutnya yang memperlihatkan leher jenjangnya dan tengkuknya yang terlihat begitu menggoda.
Tanpa sadar Milan pun berdiri, dia lalu mendekat pada Rachel yang kini duduk di atas ranjang dengan posisi tubuh membelakanginya. Semakin dekat, perasaan Milan pun semakin bergemuruh. Meski ragu, dia pun kemudian mendekap tubuh Rachel.
"Rachel," panggil Milan meskipun dengan perasaan takut, namun ternyata Rachel membalas nya membalikkan tubuhnya dan men*ium bibir Milan.
Rachel kini pun semakin tak bisa menguasai dirinya sendiri, perasaannya semakin tak menentu, na*su yang semakin berkecamuk membuatnya membiarkan Milan kini menguasai tubuhnya. Milan pun kemudian melepas seluruh pakaiannya dan mulai memasukkan asetnya dengan sedikit kesusahan. Rachel pun terlihat sedikit menahan rasa sakit namun tetap menikmati sentuhan Milan di setiap bagian tubuhnya yang membuatnya merasa begitu terbuai, karena dia belum pernah merasakan itu sebelumnya.
'Kenapa rasanya seperti ini? Susah sekali,' gumam Milan dengan terus berusaha memasukkan asetnya meskipun dengan sedikit kepayahan.
"Akhirnya berhasil," finish Milan, hingga keduanya berteriak saat mencapai puncak kenikmatan.
Milan pun menjatuhkan tubuhnya di atas tubuh Rachel sambil meninggalkan tanda merah di atas b*ah da*a Rachel yang ada di depan matanya.
"Maaf," bisik Milan di telinga Rachel saat mulai tersadar dengan apa yang telah dia perbuat, namun sepertinya Rachel tidak mendengar perkataannya. Dia kini terlihat asyik memejamkan matanya meskipun satu benangpun belum menempel di tubuhnya.
Milan kemudian bangkit dan merebahkan tubuhnya di samping Rachel yang kini tertidur begitu pulas.
'Kenapa aku melakukan semua ini?' gumam Milan.
'Apa yang terjadi padaku? Kenapa tiba-tiba aku begitu bergairah saat melihatnya?' gumam Milan kembali sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
"Bella, maafkan aku. Maafkan aku sudah menghianatimu!" sesal Milan sambil menjambak rambutnya.
Dia lalu memandang tubuh telanjang Rachel yang kini terlelap, kemudian mengambil selimut untuk menyelimuti tubuh Rachel. Namun saat itu juga Milan baru tersadar jika terdapat beberapa bercak noda darah di atas seprei.
"Oh tidak," kata Milan dengan begitu panik.
"Pantas saja tadi terasa begitu sulit, ternyata dia masih perawan?"
Dia lalu memandang Rachel yang kini tertidur begitu pulas. "Kau sangat cantik, meskipun aku tidak tahu alasanmu merelakan tubuhmu untuk mau menjadi taruhan dalam pesta lajang ini tapi aku tidak sepantasnya mengambil kesucian yang masih kau miliki. Rachel maafkan aku." kata Milan sambil menatap Rachel dengan sendu.
Namun tiba-tiba kepala Milan terasa begitu pusing, matanya pun terasa begitu berat dan pandangannya pun berkunang-kunang. Akhirnya Milan merebahkan tubuhnya di samping Rachel karena sudah tidak lagi sanggup menahan rasa sakit di kepalanya.
***
Milan membuka matanya saat mendengar bunyi ponsel yang ada di sampingnya. Dia lalu mengambil ponsel itu lalu menjawab panggilannya tanpa melihat seseorang yang menghubunginya.
[Milannnnnn kamu dimana?] teriak seorang wanita di ujung telepon.
'Bella,' gumam Milan.
[Milan kau dimana? Sebentar lagi pernikahan Gibran akan dimulai dan kau belum menunjukkan batang hidungmu!]
[Oo..oh iya Bella sebentar lagi aku datang. Tunggu aku.] jawab Milan. Dia lalu menutup teleponnya kemudian mengusap wajahnya dengan kasar.
'Kenapa semua terasa begitu berantakan.' gumam Milan lalu mengambil pakaiannya yang tercecer. Di saat itu pula dia melihat noda di atas seprei di bawah baju yang baru saja diambilnya.
"Jadi dia benar-benar masih perawan? Rachel kau dimana? Kenapa kau meninggalkanku begitu saja? Aku harus mencarimu, ya aku harus mencarimu, Rachel," ujar Milan sambil mengusap kasar wajahnya dengan perasaan yang begitu campur aduk memenuhi isi hatinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 130 Episodes
Comments
Vita Zhao
ternyata semuanya rencana bella dan gibran, apa tujuan dari rencana bella, kenapa dia malah menjebak milan kekasihnya sendiri🤔.
kasian Rachel, dia berkorban demi ibunya🥺
2022-08-20
1
Fany Jaya
skrng hareudang nya d skip ya thor..sblomny crita hareduang itu vulgar dlam aturan bahsa kok mnurut sya🙏
2022-05-29
0
lovely
novel sebelah malah vulgar bngetrr thour 😇
2022-05-22
0