Milan kemudian mengangkat panggilan video dari Bella.
[Milan, memangnya kau sedang ada dimana? Kenapa kau baru mengangkat teleponku?]
[Aku di apartemen Bella, aku tadi sudah tidur saat kau menghubungiku.]
[Jika kau sudah tidur kenapa kau tidak menggunakan pakaianmu?]
[Oh itu karena aku kepanasan jadi aku melepas bajuku.] jawab Milan sambil meringis.
[Kepanasan? Bukankah ada AC di kamarmu?]
[Emh.. E.. AC di kamarku sedang rusak, bukankah kau tahu udara Jakarta sangat panas, jadi aku membuka pakaianku.]
[Oh.]
[Memangnya kenapa kau menelponku malam-malam seperti ini Bella?]
[Di London masih pagi Milan, aku baru saja bangun lalu teringat padamu karena tadi aku sudah mengabaikan teleponmu. Aku rindu padamu, Milan. Apakah kau merindukanku?]
[Tidak apa-apa Bella, sekarang lebih baik kau bersiap-siap untuk berangkat ke kampus, aku juga sudah ngantuk. Aku tidur dulu ya.] kata Milan sambil menguap.
[Hei, kau belum menjawab pertanyaanku.]
[Pertanyaan? Pertanyaan yang mana?] tanya Milan sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
[Sepertinya kau benar-benar mengantuk sampai melupakan pertanyaanku begitu saja, aku ulangi lagi pertanyaanku. Milan apakah kau merindukanku?]
[Emh, ya tentu saja]
[Hanya itu?]
[Ya memangnya kenapa Bella? Bella aku sudah sangat lelah dan mengantuk, bisakah kita melanjutkan besok?]
[Baiklah.] jawab Bella kemudian menutup teleponnya.
Rachel yang mendengar percakapan Milan dan Bella hanya bisa tersenyum kecut. 'Maafkan aku Bella, sebenarnya aku tidak bermaksud merebut Milan, tapi perasaan cinta memang terkadang tidak bisa menggunakan logika.' gumam Rachel sambil berpura-pura menonton film yang ada di depannya.
"Apa yang kau pikirkan Rachel?" tanya Milan yang kini duduk di sampingnya sambil memeluk tubuh Rachel.
"Tidak ada, aku hanya sedang menonton film."
"Tidak usah berbohong, aku tahu kau tadi mendengarkan percakapan kami berdua."
Rachel pun tersenyum kecut. "Maaf aku sudah mengganggu hidupmu."
"Apa gunanya kau meminta maaf padaku? Kau tidak pernah mengganggu hidupku."
"Tapiiii."
"Tapi apa? Ingatlah Rachel mulai hari ini dan selamanya kau adalah milikku. Kau hanya milikku dan aku akan selalu menjagamu." bisik Milan di telinga Rachel yang membuatnya tersipu malu.
"Lebih baik sekarang kita tidur." kata Milan sambil menarik tubuh Rachel ke dalam pelukannya.
'Apa maksud kata-katamu Milan? Hubungan apa ini? Tanpa ucapan cinta kau memintaku untuk menjadi milikmu, lalu bagaimana dengan kekasihmu? Apakah di matamu aku memang hanya menjadi partner ranjang saja bagimu?' gumam Rachel sambil menatap Milan yang kini terlelap di sampingnya sambil memeluk tubuhnya.
Rachel pun mendekap tubuh Milan kian erat. 'Aku tidak mau kehilanganmu, pantaskah aku berharap seperti itu padamu?' kata Rachel dalam hati sambil meneteskan air mata.
'Maafkan aku Rachel, maaf aku sudah begitu egois ingin memilikimu seutuhnya meskipun sudah ada Bella dalam hidupku. Aku telah merenggut kehormatan milikmu, aku hanya ingin bertanggung jawab dengan menjadi satu-satunya lelaki yang pernah ada di hidupmu. Mungkin aku harus memikirkan kembali hubunganku dengan Bella.' kata Milan dalam hati sambil mengecup kening Rachel.
"Kau belum tidur Milan?" kata Rachel saat Milan mengecup keningnya.
"Sudah, tapi aku lupa belum menciummu jadi aku bangun lagi sebentar hanya untuk menciummu."
"Hahahaha. Gombal!" jawab Rachel sambil tertawa terbahak-bahak.
***
"Kenapa Milan terasa aneh sekali hari ini? Bukankah biasanya dia begitu tergila-gila padaku? Kenapa hari ini dia sedikit dingin padaku?" kata Bella sambil menatap wajah Milan di ponselnya.
"Ah mungkin hanya perasaanku saja, di Indonesia ini sudah malam, wajar jika Milan sudah mengantuk dan sedikit mengabaikanku." kata Bella lalu berjalan ke arah balkon apartemen menghampiri Arvin yang tampak sedang sibuk menelepon seseorang.
"Arvin, kau sedang apa?" tanya Bella yang membuat Arvin tampak begitu gugup.
"Emh tidak, aku hanya sedang menelepon temanku."
"Kenapa kau terlihat gugup Arvin?"
"Aku tidak gugup, aku hanya kaget kau tiba-tiba sudah ada di sampingku sayang." jawab Arvin kemudian memeluk tubuh Bella yang membuat Bella tersipu malu.
'Hampir saja ketahuan.' gumam Arvin sambil menghembuskan nafas panjang.
***
"Selamat pagi, kau sudah bangun Milan?" tanya Rachel saat melihat Milan yang berjalan ke arah meja makan.
"Aku bangun karena mencium bau masakanmu." jawab Milan sambil menguap.
"Lebih baik kau mencuci dulu wajahmu setelah itu baru sarapan."
"Memangnya kenapa? Tanpa mencuci wajahku pun kau takkan menolakku jika aku menciummu."
"Sudah cukup Milan, lebih baik kau habiskan sarapanmu dulu."
"Kau tahu saja jika aku sedang lapar, menghabiskan waktu denganmu memang selalu membuatku merasa kelaparan." kata Milan sambil mengambil makanan di depannya.
"JANGAN TERUS MELEDEKKU MILANNNNN" teriak Rachel yang membuat Milan menutup telinganya.
"Hahahaha, kau begitu lembut Rachel, kupikir kau tidak bisa galak, tapi ternyata kau sama galaknya seperti mama."
"Jangan banyak bicara saat makan Milan." gerutu Rachel sambil menatap tajam pada Milan.
"Iya.. Iya." jawab Milan kemudian melanjutkan sarapannya.
Setelah Rachel dan Milan selesai menghabiskan sarapan, tiba-tiba ponsel Rachel pun berbunyi. Rachel pun mengangkat panggilan di ponselnya. Raut wajah Rachel pun seketika berubah saat mengangkat panggilan telepon itu.
"Siapa yang menelponmu?" tanya Milan saat Rachel menutup panggilan telepon itu.
"Dari perusahaan kemarin."
"Apa katanya?"
"Aku diterima kerja Milan, mulai besok aku sudah bisa bekerja!" teriak Rachel disertai raut wajah yang begitu bahagia.
"Bagus sekali Rachel, jadi bulan depan kau sudah bisa mencicil hutangmu padaku." ledek Milan sambil mengedipkan matanya.
"Tentu, akan kubayar semua hutangku padamu."
"Hahahaha tidak usah, kau hanya berhutang padaku untuk menemaniku sepanjang hidupmu." jawab Milan yang membuat jantung Rachel berdegup kian kencang.
"Milan, tapi kenapa ini terasa cepat sekali? Bukankah biasanya tidak secepat ini pemberitahuan setelah wawancara kerja?" kata Rachel untuk mengalihkan pembicaraan agar Milan tidak selalu meledeknya.
"Mungkin perusahaan itu benar-benar sedang membutuhkan karyawan."
"Kau benar juga."
'Tentu saja cepat karena tanpa kau sadari, kau masuk perusahaanku lewat jalur khusus Rachel.' kata Milan dalam hati.
***
"Bagaimana hari pertamamu bekerja Rachel?" tanya Milan saat menjemput Rachel di kantornya.
"Lumayan menyenangkan, rekan kerjaku sangat bersahabat dan mau mengajariku dengan baik."
"Bagus sekali, sepertinya kau cocok bekerja di sini."
"Ya, hanya saja Pak Danu CEO di perusahaan ini aku dengar sedikit galak dan menyebalkan." kata Rachel yang membuat Milan terbatuk.
UHUK UHUK UHUK
"Kau kenapa Milan?"
"Tidak apa-apa Rachel, hanya tersedak permen yang kumakan."
"Kau memang tidak pernah bisa berhati-hati." gerutu Rachel sambil memijit tengkuk Milan.
"Sudah, aku sudah baik-baik saja, lebih baik kita pulang." kata Milan kemudian mengemudikan mobilnya keluar dari gedung itu.
Di saat itu pula, Danu tampak mengamati mobil Milan yang keluar dari halaman gedung kantor miliknya.
"Apa itu Milan? Milan sudah mau datang ke kantor ini? Syukurlah ini perkembangan yang bagus, jadi dia sudah bisa secepatnya menggantikan pekerjaanku disini." kata Danu sambil tersenyum bahagia.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 130 Episodes
Comments
nadya_hime
Njiiir ga jelas beud kelian, Bela ga tulus sm Milan krn cintanya sm Arvin, Arvin ga tulus sm Bela krn cintanya sm bininya Gibran..
eh Gibran cuma dimanfaatin sm bininya, krn bininya cintanya sm Arvin.
Milan lama² jatuh cinta beneran sm Rachel, untung Rachel jg cinta & nerima² aja gmn kampretnya Milan..
Smoga akhirnya kecurangan Bela & Gibran ketahuan sm Milan sih..
Milan sm Bela yg asal celap celup siih.. iiiyuuuh..
2024-04-14
0
Yati Rosmiyati
pak Danu calon mertua mu Rahel kalau author ngizinin ha🤭
2022-05-19
1
mamika
menjalani hubungan tanpa nama,tanpa merugikan satu sama lain...dan saling memahami satu sama lain
2022-02-18
1