Chris hanya diam memandangi apa yang terjadi dari ruang private tamu VIP ada di atas panggung itu. Dia hanya memegang gelas champagne-nya. Harus diakui dia juga cukup terhipnotis dengan nada yang dilantunkan oleh Athena. Tak menyangka wanita dengan pakaian seperti itu bisa memainkan lagu yang begitu rumitnya tapi tetap indah.
“Bravo! Permainan yang bagus,” seru Edward seketika saat Athena selesai menarikan jari-jemarinya di atas tuts piano itu. Edward yang dari tadi juga berdiri di samping Chris menyaksikan permainan Athena mengangguk-angguk kecil saat Chris melihatnya.
Chris tentu merasa terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Edward. Dia tahu persis bagaimana terobsesinya Edward - kakak kedua Chris - terhadap piano, sehingga tidak banyak orang yang bisa mendapatkan pujian dari Edward.
“Kau harus membantuku untuk mencari dan memeriksa semua informasi tentang wanita itu, aku ingin tahu lebih banyak tentangnya,” ujar Edward sembari memutar tubuhnya dan menyeruput champagne yang ada di tangannya sebelum akhirnya kembali duduk ke sofa empuk yang ada di sana.
“Baik kakak,” ujar Chris patuh.
****
Athena segera menutup tuts piano itu. Dia langsung berdiri dan turun dari panggung yang ada di depan restoran. Riuh tepuk tangan masih saja mengikutinya tatkala dia berjalan menuju ke arah manager yang tampak tak menyangka Athena nyatanya tak main-main dengan apa yang dia katakan. Dia bahkan memandang Athena dengan tatapan begitu kagumnya.
“Manager, aku minta bayaranku,” ujar Athena menadahkan tangannya ke depan manager yang tidak bisa menghentikan senyumannya. Seorang yang dia anggap menghancurkan karirnya ternyata adalah dewi penolongnya. Jika tadi Athena tidak muncul, dia yakin karirnya juga akan hancur karena sudah membuat Tuan muda yang ada di ruang VIP itu kecewa.
“Baik Nona, boleh minta nomor rekening Anda,” ujar Manager itu cepat.
Athena segera memberikan nomor rekeningnya dan Manajer itu mentransferkan uangnya ke dalam rekening Athena. Athena memeriksanya sejenak pada ponselnya, rekeningnya yang awalnya kosong karena seluruh uangnya diambil kembali oleh keluarga Delaveto setelah mereka tahu bahwa Athena bukanlah anak mereka, langsung terisi sejumlah uang. Untung pula dia tidak lupa mengambil ponselnya sesaat sebelum dia setuju melakukan akupuntur pada si Arabella itu.
“Baiklah, terima kasih Manager,” ujar Athena tak ada ramah-ramahnya. Tentu saja dia tidak ingin beramah tamah dengan orang yang sudah merendahkan harga dirinya dan juga memanggilnya pengemis.
“Nona, maafkan kelakukan saya yang tadi. Tapi bolehkah saya menawarkan kerja sama jangka panjang pada Nona sebagai pianis di restoran ini?” tanya Manager itu dengan senyum sungkan dan nada yang begitu sopannya.
Athena yang mendengar itu hanya menyeringai dengan sinis. “Kalian tidak akan membutuhkan ku. Bukannya kalian sudah punya pianis yang begitu handal seperti manajer ini yang tadi mengaku bisa memainkan lagu-lagu terkenal di dunia?”
Mendengar itu Manager itu langsung mengubah wajahnya menjadi kaget. Tentu dia malu pernah mengakui hal itu pada Athena, lagi pula dia mengatakan hal itu hanya untuk mengejek Athena tadi.
Athena terus mempertahankan senyuman sinisnya. Dia segera berbalik dan dengan suaranya yang keras dia berteriak pada semua orang yang ada di ruangan itu. “Aku sudah selesai memainkan permainanku!” teriakan Athena mengundang semua perhatian dari para pelanggan restoran itu.
Manager yang mendengar dan melihat tingkah laku dari Athena tahu apa yang akan dilakukan oleh wanita itu. Seketika wajahnya kembali memucat. Dia langsung mencoba menarik lengan Athena yang tentunya langsung menghempaskan tangan manager tua itu.
“Nona, tidak perlu melakukan hal seperti itu, saya minta maaf kepada Anda, saya hanya bercanda tadi,” ujar Manager itu memelas. Dia sama sekali tidak bisa memainkan piano.
“Pikirkan dulu apa yang kau ucapkan sebelum kau bercanda pada orang lain,” ujar Athena masih tak ingin mengurungkan niatnya. Orang seperti manajer yang hanya melihat seseorang dari penampilannya benar-benar membuat Athena muak dan harus diberikan pelajaran.
“Selanjutnya, Manager restoran ini akan memainkan lagu terkenal yang ada di dunia, Canon in D! silakan Tuan Manager!” teriak Athena yang segera bergeser menunjukkan sosok Manager yang langsung terkaku pucat dan berkeringat dingin akibat perlakukan dari Athena. Manager itu langsung tertunduk malu dan merasa sangat menyesal sudah memandang rendah Athena sebelumnya.
Athena tidak ingin berlama-lama ada di sana. Toh tujuannya untuk mendapatkan uang sudah tercapai. Setelah melakukan pengumuman itu, dia langsung keluar dari restoran itu.
Athena sedikit terkejut melihat anak lelaki yang dia selamatkan tadi masih menunggunya di luar restoran. Berdiri di dekat pintu masuk restoran ini. Athena hanya memandang anak itu sekilas. Tentu saja baginya anak itu akan merepotkannya jadi lebih baik untuk mengabaikannya lagi. Apa yang terjadi pada dirinya ke depan saja dia tidak tahu, apalagi harus mengurusi bocah itu, pikir Athena yang merasa hidup dalam novel ini sudah cukup merepotkan.
Athena kembali berjalan dan lagi-lagi langkah kecil itu mengikutinya. Tiba-tiba saja perutnya bergemuh. Semua emosi dan tenaga yang dia keluarkan malam ini membuat perutnya menjadi lapar. Dia lalu mencari sebuah tempat makan.
“Selamat malam nona, silakan masuk, tapi sepertinya anak ini tidak bisa masuk ke dalam karena keadaannya begitu kotor. Maaf, tapi kami takut pengunjung yang lain akan terganggu karenanya,” ujar pelayan yang berdiri di depan pintu restoran itu pada Athena.
Athena melirik ke arah bocah laki-laki yang memang sangat lusuh dan juga kotor, belum lagi wajahnya yang sudah babak belur akibat dipukuli. Tentu siapa pun enggan menerimanya.
“Aku tidak bersamanya, aku tidak mengenalnya,” ujar Athena enteng.
Ya, bukannya dia tidak kenal dengan anak ini? Kebetulan saja dia menolongnya dan entah kenapa dia malah mengikuti Athena. Dia juga tidak peduli anak ini sudah makan atau belum, yang dia pedulikan sekarang adalah bagaimana bisa mengisi perutnya. Bocah laki-laki itu hanya menatap Athena yang sudah masuk ke dalam tempat makan itu dengan tatapan sendunya.
“Terima kasih Nona, selamat jalan dan semoga datang kembali,” ujar pelayan itu mengantarkan kepergian Athena yang sudah mengisi perutnya yang tadi keroncongan.
Saat Athena melangkah keluar dia bisa melihat anak lelaki yang dia kira akan pergi karena ucapannya yang kasar tadi malah tergeletak pingsan di tanah. Setidak peduli apapun Athena tapi dia tidak bisa meninggalkan anak laki-laki yang pingsan itu sendirian di sana. Dia bisa mati kedinginan jika terus begini.
Sial! Sial sekali, kenapa anak ini tidak pergi saja! Bukannya Athena sudah menolongnya! Kenapa dia harus menambah beban dirinya lagi! Ah! Dasar anak yang tak tahu diuntung, umpat Athena dalam hatinya sambil menggendong tubuh anak laki-laki itu dari tanah.
Athena akhirnya memutuskan untuk membawa anak laki-laki itu dan merawatnya di sebuah hotel terdekat yang bisa dia temukan. Athena langsung melihat tubuh anak laki-laki yang penuh dengan lebam.
Athena bisa saja sekali lagi tidak peduli dengan apa yang terjadi pada anak ini. Tapi jika dia terus saja seperti ini, yang ada malah merepotkan Athena. Lebih baik dia merawat anak ini.
Athena langsung mengambil alat akupunturnya. Membakar ujungnya sejenak untuk mensterilkannya lalu mulai menusukkan jarum akupuntur itu ke titik-titik yang menurut Athena bisa membuat keadaan anak itu membaik.
Tapi ketika dia menusukkan jarum ketiga ke tubuh anak itu. Tiba-tiba saja anak itu terbangun dan langsung menapis tangan Athena yang tentu kaget dengan kelakukan anak ini. Walaupun tahu anak ini kaget dan juga ketakutan tapi Athena malah geram melihatnya.
“Kalau kau masih bergerak sembarangan, lebih baik keluar saja dari sini! aku paling benci dengan orang dan hal yang merepotkan!”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments
yuhuwww
.
2022-06-09
0
Murniyati
Tidak ada ruginya menanam kebaikan karena akan menuai kebaikan pula
2022-06-08
0
Klara Rosita
Galak juga yaa.. 😄😄
2022-05-29
0