Athena berjalan cepat memasuki restoran mewah itu. Tanpa memperdulikan situasi dari restoran itu Athena terus saja menuju ke arah piano. Semua mata para pengunjung menatapnya, tentu karena penampilannya sangat berbeda. Restoran ini adalah restoran fine dining dimana para tamunya saja diminta untuk berpakaian formal. Melihat wanita yang hanya menggunakan baju biasa dan juga celana jeans tentu saja menjadi pemandangan yang aneh di dalam restoran itu.
Melihat tingkah Athena, Manager yang tadi berbicara dengan Athena langsung gelagapan.
“Hei! Kau mau ke mana?” awalnya berteriak untuk memanggil Athena. Tapi karena teriakannya itu para tamu restoran itu menjadi terusik. Manajer itu hanya tersenyum sungkan karenanya.
Dia lalu melihat para pelayan yang tak jauh dari tempat dia berdiri. “Hentikan dia!” perintah manajer itu pada pelayannya.
“Siap Tuan!” ujar pelayan itu mengangguk dan langsung mengejar Athena.
Athena yang sadar dia akan di cegat, berjalan lebih cepat menuju ke arah grand piano klasik itu. Saat para pelayan sudah hampir mendekati Athena. Athena dengan cepat duduk di kursi kecil di depan grand piano itu dan segera meletakkan tangannya di tuts pianonya.
Melihat hal itu tentu para pelayan yang tadinya mengejar Athena langsung berhenti dan terdiam. Mereka tak mungkin menyeret Athena keluar sekarang. Mereka segera melihat ke arah Manager yang tampak tidak percaya dan juga marah. Mau apa wanita ini!
******
“Kenapa pianis itu datang terlambat?” keluh Chris yang mondar mandir di ruangan VIP restoran itu. Melihat ke arah grand piano yang masih saja kosong tapi dia langsung terdiam ketika tiba-tiba seorang wanita duduk di depan piano itu. Melihat penampilannya Chris tampak sedikit mengerutkan dahinya. Apakah dia adalah pianisnya? Mengapa penampilannya seperti itu? “siapa wanita itu?”
Seorang pelayan yang tadinya melayani tamu VIP tiba-tiba turun dan segera mendekati manager yang masih berwajah masam melihat kelakukan dari Athena. Jika begini dia bisa dipecat.
Mata manager itu membesar ketika pelayan itu membisikkan sesuatu padanya. Dia mengangguk-angguk dan dengan cepat segera berjalan naik menuju ke ruangan VIP. Manager itu juga sesekali masih melihat ke arah Athena. Rasa kesalnya bertambah, wanita itu sudah begitu menyusahkan dirinya.
Manager itu mengetuk pintu ruangan privat khusus tamu VIP. Ketika mendengar suara yang mengizinkan dia masuk ke dalam, manager itu perlahan membuka pintunya dan dengan berwajah sungkan masuk ke dalamnya.
“Siapa wanita itu?” tanya Chris lagi. Dia diberi tahu bahwa pianis yang ingin mereka dengarkan adalah seorang pria dan penampilan wanita itu sangat tidak pantas.
“Maafkan Tuan, tapi ada sedikit kesalahan. Kami akan segera memperbaikinya,” ujar manager itu sangat sungkan kepada Tuan muda dari salah satu keluarga paling kaya dan berpengaruh di kota ini.
Chris hanya menyipitkan matanya ke arah Manager itu, wajahnya sudah tidak enak. Tentu dia tidak suka dengan hal seperti ini. Tapi dia tidak berkomentar apa pun. Tapi hal ini malah membuat Manager itu makin gugup.
“Tuan, saya izin dulu,” ujar Manager itu lagi agar dia bisa segera mengurus semua hal yang sudah dihancurkan oleh wanita pengemis itu.
Manager itu segera keluar dan turun ke lantai dasar restoran itu. Dia memasang wajahnya yang memelas kesal, bagaimana wanita itu bisa memainkan piano itu? Bukan hanya manajer itu saja yang berpikiran seperti itu. Bahkan para pelanggan di restoran itu juga berpikir yang sama seperti apa yang dipikirkan manajer itu.
Sorot cahaya lampu membuatnya menjadi pusat perhatian semua orang, terutama dengan penampilannya. Athena menarik napasnya. Dia segera meletakkan jari-jemari lentiknya ke atas tuts pianonya. Tetapi kala jarinya menekan tuts dingin itu, sekelebat ingatan mengalir begitu saja ke dalam pikirannya. Gambaran tentang cemoohan dan ejekan dari orang-orang pada perjamuan sebelumnya yang begitu mengganggu dalam pikiran Athena. Ingatan itu adalah milik dari Athena yang ada dalam novel ini. Saat itu, di dalam pesta yang didatangi oleh Athena yang ada di dalam novel, dia dihina sedemikian rupa dengan latar belakang suara dentingan piano.
Tanpa sadarnya, tubuh Athena bergetar. Sepertinya pemilik tubuh asli ini sangat takut dengan piano ini. Traumanya bisa dirasakan oleh Athena. Athena bahkan tidak bisa mengontrol tubuhnya sekarang. Tentu hal ini membuat nada-nada yang dihasilkan oleh jari-jemari Athena yang gemetar itu menjadi sangat buruk.
“Apa-apaan ini?” suara salah satu dari pelanggan itu terdengar. Sebagian pelanggan juga terdengar mengeluh sambil menutupi telinga mereka. Suara alunan nada yang diciptakan oleh Athena seperti nada dari neraka yang begitu menyakitkan telinga.
“Hei! kau ingin membunuh kami dengan mendengarkan permainan piano ini!” suara marah mulai terdengar dari pelanggan.
“Berhenti! Hei! Kau menyakiti telingaku!” saut yang lain karena permainan Athena.
Restoran yang seharusnya begitu senyap itu tiba-tiba menjadi begitu riuh dengan amarah para pelanggan yang begitu kesakitan mendengar nada piano dari Athena. Keadaan menjadi begitu mencemaskan sehingga membuat Manager itu mencoba untuk menenangkan para pelanggan dengan wajah yang memucat takut. Sudah pasti! Sudah pasti kali ini tamat sudah riwayatnya, pikir Manajer itu yang segera memerintahkan salah satu pelayan untuk menghentikan permainan dari Athena.
Athena mencoba untuk mengontrol dirinya dan juga tubuhnya. Dia menggigit bibirnya dengan begitu kuatnya hingga rasa anyir darah menyeruak dalam rongga mulutnya. Dia melakukan hal itu agar dia segera sadar dan tidak terlarut dalam ingatan tubuh Athena yang ada di dalam novel ini. Untung saja, usahanya untuk tetap sadar itu perlahan akhirnya membuahkan hasil. Gambaran-gambaran tentang cemoohan dan juga hinaan itu perlahan memudar dari ingatannya dan menghilang dari otaknya.
“Hei! rupanyanya itu si nona palsu, memangnya dia mengira dirinya adalah Arabella? Bisa-bisanya dia diundang untuk bermain piano! Benar-benar mem ….” provokasi Demian pada para pengunjung. Dia memang sengaja ingin membuat Athena malu sehingga menghinanya seperti itu.
Dong!!!
Athena sekali lagi menekan tuts piano itu dengan keras sebelum pelanggan yang hingga berdiri untuk menyampaikan sumpah serapahnya itu selesai. Seketika keadaan yang tadinya riuh langsung menghening seketika karena aksi dari Athena. Damian pun diam terbungkam.
Damian terbungkam dan tampak menjadi malu karena tiba-tiba saja terdengar nada yang begitu indah dan merdu yang keluar dari grand piano itu. Begitu indah dan merdunya hingga sekarang semua orang terpaku mendengarnya. Athena memainkan nada dari lagu yang palin sulit untuk dimainkan dengan penuh penghayatan. Indahnya suara yang dimainkan oleh Athena membuat mereka bagaikan membuat mereka masuk ke dalam dunia khayalan. Banyak diantara tamu-tamu yang berpakaian rapi dan mewah itu sampai ternganga mulutnya, tak sadar terbuai oleh alunan indahnya.
Suasana masih begitu hening bahkan setelah Athena selesai memainkan lagunya. Semua masih tidak bisa keluar dari kekaguman dan keterbuaian mereka akibat permainan Athena. Hampir satu menit setelahnya baru orang tersadar bahwa Athena sudah selesai memainkan pianonya dan saat mereka tersadar semuanya bertepuk tangan begitu meriah hingga mereka semua bersorak dan memuji permainan dari Athena.
“Benar-benar bagaikan permainan dari surga!” pujian itu menggaung riuh untuk Athena.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments
Klara Rosita
Woooww...
2022-05-29
0
Neneng Aaa
manusiawi
2022-05-12
0
bunda fz
tadi aja menghina...itulah manusia
2022-02-01
0