Bocah itu menggelengkan kepalanya dengan cepat. Melihat wajah bocah yang ketakutan Athena jadi merasa bersalah karena sudah terbawa emosinya padanya. Bagaimana pun dia tidak seharusnya membentak anak ini tadi. Athena mengulurkan tangannya tapi bocah itu awalnya masih tampak ragu untuk menggapainya.
“Tidak apa-apa, aku tidak akan melakukan apa pun padamu,” ujar Athena sedikit menurunkan nada bicaranya. Athena juga sedikit tersenyum agar menenangkan bocah laki-laki itu.
Bocah itu melihat senyuman dan nada bicara Athena yang sudah melunak akhirnya menyambut tangan Athena. Athena segera menarik bocah itu agar dia bisa berdiri.
“Baiklah, kau sudah aman. Tidak perlu ada yang ditakutkan lagi. Mereka tidak akan bisa menghajarmu lagi malam ini. Pergilah!” ujar Athena melirik ke arah pria-pria yang sudah terkapar di tanah. Mengerang kesakitan akibat ulahnya tadi.
“Terima kasih, Nona,” ujar anak itu sambil memberikan hormat pada Athena.
“Sama-sama. Jaga dirimu. Aku pergi sekarang.”
Athena mulai melangkahkan kakinya. Dia melihat beberapa bagian tangan dan jarinya yang ternyata terkena percikan darah yang entah dari mana asalnya. Mungkin dari hidung dan bibir kedua orang pria yang sobek karena pukulan keras Athena tadi. Athena tentu risih dengan percikan darah itu dan segera ingin mencari tempat dia bisa mencucinya.
Saat mencari tempat untuk mencuci tangannya, Athena merasa seseorang mengikutinya. Dia sesekali melihat ke arah belakang dan menemukan bocah laki-laki itu malah mengikutinya. Athena tidak ingin ambil pusing dan terus saja melangkah. Untung saja tak jauh dari sana dia melihat sebuah toilet umum. Athena langsung memasukinya.
Athena membuka keran yang membuat air seketika mengalir dengan deras. Dia segera membasuh jari-jemari dan tangan atasnya yang terkena darah para penyerang tadi. Di sudut matanya Athena bisa melihat bocah itu bahkan mengikutinya masuk ke dalam toilet. Tapi sekali lagi, Athena mengabaikan kehadirannya.
Setelah Athena membersihkan semua percikan darah di tubuhnya. Athena segera keluar dari toilet itu. Dia melirik ke arah anak itu saat dia keluar. Tapi anak itu hanya diam dan menunduk mendapatkan lirikan tajam dari Athena.
Athena kembali menyusuri jalan-jalan di kota yang semakin malam semakin terasa dingin tapi tetap saja tidak membuat keadaan menyepi. Lalu lalang kendaraan seperti tidak ada habisnya. Athena masih bisa mendengar langkah kecil yang mengikuti di belakangnya. Tapi lagi-lagi Athena tidak peduli dengannya, selama bocah itu tidak mengganggu dan juga menyusahkannya. Dia tak keberatan diikuti olehnya.
“Ah! di mana dia sekarang? kenapa dia belum muncul juga? piano itu tidak akan bisa bermain sendiri! Sial sekali!” terdengar omelan seorang pria yang bisa di dengar jelas oleh Athena dari sebuah restoran mewah di dekatnya. Hal itu membuat Athena seketika berhenti.
“Maaf Pak Manager, tapi kami tidak tahu ke mana pianis ini pergi. Kami dari tadi juga sudah menghubunginya, tapi dia tidak mengangkat panggilan kami,” jelas pria lain yang sedang diomeli oleh manajer itu. Wajahnya tampak begitu sungkan.
“Sial! Bagaimana ini? malam ini akan ada tamu penting yang akan datang dan tidak banyak orang yang bisa memainkan Chopin – Etude Op. 25 No. 6 in G minor. Itu adalah salah satu dari nada yang paling sulit untuk dimainkan di dunia! mau di mana cari pianis pengganti? Kau harus terus menghubunginya! Aku tidak mau tahu!” kata Manager itu panik sambil memegang dahinya menandakan bertapa pusing dirinya sekarang.
Athena yang mendengar itu langsung menuju ke arah pria tambun dengan setelan jas mewah dan tampak begitu rapi itu. Di dadanya tersemat pin emas bertuliskan manager.
“Maaf Tuan, kalau boleh saya bertanya, tadi saya tidak sengaja mendengar perkataan Anda, apakah Anda mencari seorang pianis yang bisa memainkan Chopin – Etude Op. 25 No. 6 in G minor?” tanya Athena langsung.
Manajer yang melihat dan mendengar apa yang Athena katakan hanya mengerutkan dahinya. Dia melihat penampilan wanita yang sekarang berdiri di depannya. Matanya memandang Athena dari atas hingga bawah lalu berpindah ke pada bocah yang sepertinya datang bersama dengan wanita ini. Lusuh dan sangat tidak menyakinkan sama sekali bahwa dia bisa memainkan piano, bahkan mungkin dia sama sekali belum pernah menyentuh piano klasik yang ada di dalam restoran itu.
“Pergi! Pergi, kalian hanya akan mengotori tempatku. Tidak mungkin pengemis seperti kalian bisa bermain alat musik mahal seperti piano itu! Pergi! Jangan menambah masalahku! Sekarang ini kepalaku sudah mau pecah!” ucapnya lagi seraya mengibas-ngibaskan tangannya tanda meminta Athena dan anak itu pergi dari sana. Mengusir mereka secara langsung.
Athena mengerutkan dahinya mendengar perkataan dari manager itu. Wajahnya langsung berubah ketika mendengar kata-kata pengemis.
“Siapa yang kau sebut pengemis?” tanya Athena dengan suara tak ramah. Lagi-lagi harga dirinya dijatuhkan hingga membuatnya geram.
“Tentu kalian! siapa lagi? melihat penampilan kalian saja aku sudah tahu. Lihat dirimu dan bocah itu, kalian hanya akan membuat keributan di sini, pergilah!” culas manajer itu melihat sekali lagi Athena dari atas hingga bawah, tentu hal itu membuat Athena semakin risih dengan kelakukan manager sombong ini. Athena sampai menyipitkan matanya melihat tingkah manajer itu.
“Jadi Anda kira aku pengemis hanya karena penampilanku?” tanya Athena lagi tidak percaya. Masih saja ada orang yang melihat orang lain dari penampilannya. Hal yang paling tidak disukai oleh Athena.
“Hei, tak usah berlagak lagi. Bajumu saja terlihat sekali barang tiruannya! tidak mungkin baju asli Louis Vuitton seperti ini! Kau kira aku tidak bisa melihat mana barang yang asli atau yang palsu?”
Athena memandang baju yang sedari tadi tidak dipedulikannya. Saat melihat baju itu, sebuah informasi masuk begitu saja dalam otaknya. Faktanya, baju ini adalah baju yang dihadiahkan Arabella pada Athena yang ada di dalam novel ini karena dahulu ternyata mereka berdua adalah sahabat sehingga Athena novel ini menerimanya. Tapi kenapa Athena yang ada di dalam novel tetap saja memakai pakaian yang diberikan oleh Arabella? Tanya Athena kesal pada dirinya sendiri hingga dia berwajah masam.
“Hei! Masih di sini! Kau masih berpikir kau bisa memainkan Chopin – Etude Op. 25 No. 6 in G minor? Cih! Jangan berangan! Pengemis seperti kalian hanya bisa banyak berbual! Dengar ya! kalau kau bisa memainkan lagu tersulit itu, maka aku bisa memainkan lagu Canon In D!” ujar Manager itu dengan wajah yang sangat sombong.
“Oh! Benarkah? Kalau begitu aku berharap Anda akan memainkan Canon In D setelah aku memainkan chopin – etude Op. 25 No. 6 in G minor. Bagaimana apakah Anda berani menerima tantanganku?” tantang Athena yang tidak pernah mau di rendahkan harga dirinya.
“Pengemis sepertimu memberikan tantangan padaku? hah? apa tidak salah?”
“Tidak! Bukankah Anda merasa Anda lebih segalanya dari saya?” pancing Athena lagi agar Manajer ini bisa menerima tantangannya.
“Baiklah! Aku terima tantanganmu! Aku akan bermain Canon In D, setelah kau memainkan Chopin – Etude Op. 25 No. 6 in G minor itu! Bagaimana kau puas?”
“Puas! baiklah, ayo kita mulai!”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments
Neneng Aaa
wih
2022-05-12
1
Winda E Ansor
Athena yg serba bisa...😍😍
2022-03-25
1
anie
next
2022-03-07
0