Peduli

...💠Selamat Membaca💠...

Orion membuka matanya berat, kepalanya terasa berdenyut nyeri. Kadang ia merasa menyesal kenapa harus meminum minuman laknat itu setiap kali rasa sakit akibat pengkhianatan itu menggerayangi dadanya. Efek yang dirasakannya setiap pagi sungguh menyiksa.

"Di mana ini?" Orion memerhatikan ruangan yang kini ditempatinya. Walaupun penglihatannya masih buram, tapi ia yakin jika saat ini ia bukan berada di dalam kamarnya.

"Sudah bangun?" Sebuah suara dingin dan berat menyapa telak indra pendengaran Orion. 

Orion mengedarkan pandangan, ia menemukan sesosok yang menjulang tinggi tengah menatap dirinya dengan pandangan datar sembari berpangku tangan.

Mata Orion melotot begitu mengetahui siapa yang kini tengah berdiri di hadapannya. "Nicho-las?" Ucapnya terbata.

"Bersihkan dirimu, setelah itu segera pergi dari sini!" Kata Nicholas ketus, lalu segera beranjak meninggalkan kamar.

"Argghh..." Orion mengacak kasar rambutnya yang memang sudah tidak beraturan bentuknya, sama seperti hidupnya yang sudah tidak jelas ini. Orang tua dan sahabat yang membenci dirinya, serta kekasih yang berkhianat. Kepada siapa lagi ia bisa bercerita dan berkeluh kesah.

Tak ingin berlama-lama merutuki kemalangan dirinya. Orion memutuskan untuk membersihkan diri, ia sudah tidak tahan dengan bau busuk dari alkohol di tubuhnya.

Setelah membersihkan diri, Orion keluar dari kamar dengan pakaian yang rapi dan bersih. Selesai mandi tadi, ia menemukan pakaian baru di atas tempat tidur. Pasti itu pakaian Nicholas, pikirnya.

Orion harus melewati ruang makan saat akan menuju pintu depan, niatnya ingin langsung pulang karena tak ingin bertemu lagi dengan Nicholas, ia takut sahabatnya itu akan semakin membenci dirinya jika ia berlama-lama di sini. Namun, penampakan tiga manusia yang sedang duduk di meja makan, tak bisa ia abaikan begitu saja.

"Terima kasih atas bantuannya, kalau begitu aku pamit pulang," ucap Orion seraya menundukkan sedikit kepalanya.

"Orion, sebaiknya kau duduk. Kita sarapan dulu!" Pinta istri Nicholas yang bernama Glori.

Orion terdiam, ia masih berdiri mematung di tempatnya. Sekilas, ia melihat Nicholas yang tetap santai menyantap makanannya.

"Hm, sebaiknya aku pulang saja. Silakan kalian lanjutkan sarapannya. Maaf mengganggu waktu kalian," balas Orion yang merasa tidak enak hati karena terlalu lama berada di sana.

"Tidak baik pergi sebelum sarapan, ayo duduklah!" bujuk Gloria.

"Tidak masalah, lagi pula aku tidak terlalu lapar," tolak Orion.

Kruk... Kruk...

Tepat setelah Orion mengatakan hal itu, bunyi perutnya yang keroncongan memecah keheningan yang terjadi. Gloria yang mendengar itu hanya bisa tersenyum, sedang Nicholas tetap dengan ekspresi datarnya. Sementara Orion? Jangan ditanyakan lagi betapa malu dirinya saat ini. Wajah dan telinganya memerah.

"Permisi..." Orion melangkah pergi dengan cepat, namun suara berat Nicholas menghentikan langkahnya.

"Duduk dan sarapan. Setelah itu, aku ingin membicarakan sesuatu denganmu."

Terdiam sejenak, baru setelah itu Orion melangkahkan kakinya menuju meja makan dan duduk di kursi yang berseberangan dengan Nicholas.

"Sayang, tolong pangku Samuel sebentar! Aku mau mengambilkan makanan untuk Orion," pinta Gloria pada suaminya.

Nicholas menghentikan makannya dan mengambil alih tubuh gendut sang putra.

Orion yang terlalu canggung hanya bisa diam di tempat duduknya. Ia memerhatikan Gloria yang sedang sibuk mengambil makanan, kemudian matanya bergulir menyaksikan Nicholas yang tengah asyik bermain dengan sang putra.

Melihat keakraban antara anak dan ayah itu membuat Oriom tersenyum sendu. Andai orang tuanya merestui hubungannya dengan Sophia, pasti sebentar lagi mereka juga akan memiliki anak yang lucu dan menggemaskan seperti Samuel. Namun, kini semuanya hancur. Hubungan, harapan serta harga dirinya. Memiliki seorang anak hanyalah impian semu, bagaimana mungkin pria tak sempurna seperti dirinya bisa memiliki keturunan.

"Makanlah!" Gloria meletakkan piring berisi makanan di hadapan Orion.

"Terima kasih."

...----------------...

"Papa, mama kenapa?" Hansel menatap sedih sang ibu yang sedang terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Beberapa waktu lalu, nenek yang sekaligus merupakan ibu angkatnya itu ditemukan pingsan di kamar mandi.

"Ibu kelelahan, Nak. Papa harus menjaga mama di sini. Hansel, ayah antarkan pulang, ya?" ucap suami Camelia dan ayah angkat Hansel yang bernama Robert.

Hansel menggelengkan kepalanya. "Aku mau di sini saja, menjaga mama."

Pria itu menghela napas pelan. "Hansel belum mengganti baju sekolah, kan? Terus tadi di sekolah ibu guru memberikan PR atau tidak? Kalau iya, Hansel harus mengerjakannya."

Hansel diam dan berpikir, perkataan ayahnya memang benar. Ia harus mengganti baju sekolah dan mengerjakan PR. Jika tidak, nanti ibu guru bisa marah.

"Baiklah, Pa. Hansel diantar Pak sopir saja supaya papa bisa menjaga mama di sini."

Robert tersenyum dan mengelus kepala bocah tampan itu dengan sayang. "Ayo, Nak. Papa antarkan ke mobil." Pria itu menggandeng lengan kecil Hansel.

Sebelum benar-benar keluar dari ruang rawat Camelia, Hansel melirik kembali pada ranjang pesakitan sang ibu. Wanita itu masih menutup mata, membuatnya sedih dan juga khawatir.

Di parkiran...

"Pa, mama pasti bangun, kan?" Tanya Hansel sebelum memasuki mobil. Ia tidak bisa tenang kalau belum mengetahui bahwa keadaan ibunya baik-baik saja.

"Iya, Nak. Mama sebentar lagi akan bangun dan pulang ke rumah. Sekarang masuk ke mobil dan tunggu ayah dan ibu di rumah, ya?" pinta Robert.

"Iya, Pa."

Selep as mobil yang membawa putranya pergi, Robert kembali ke ruang rawat istrinya. Sampai di sana, ternyata Camelia sudah membuka mata.

"Sayang, kau sudah sadar?" Pria itu menghampiri sang istri.

"Hm..." Camelia mengangguk lemas. "Kenapa aku bisa ada di rumah sakit?"

"Sayang, kau jangan bangun dulu, ya! Tetap berbaring!" peringat Robert ketika Camelia mencoba bangkit dari berbaringnya.

Camelia menatap suaminya heran. "Kenapa? Apa ada yang salah pada tubuhku? Apa aku memiliki penyakit serius? Katakan padaku!" Wanita itu mulai panik.

Cup

Robert mengecup bibir Camelia singkat, kemudian memberikan satu senyuman manis. "Saat ini kau sedang mengandung, sayang. Di perutmu ada calon anak kita. Natsu akan punya adik." Ia mengusap perut istrinya yang masih rata.

Deg

Camelia terdiam, ia belum mencerna dengan baik maksud dari ucapan suaminya. Setelah beberapa detik kemudian, baru wanita itu sadar dan terpekik. "Apa!? Aku hamil? Rob, jangan bercanda! Aku tidak suka dengan candaan yang seperti ini!" Sanggah Camelia yang belum sepenuhnya percaya.

"Kau bisa merasakannya sendiri!" Roebrt mengambil tangan Camelia dan menempatkannya di perut wanita itu.

Jantung Camelia berdetak cepat saat tangannya perlahan mengusap perut, ia merasa memang ada sebuah kehidupan di dalam sana. Tangisannya langsung pecah. Air mata berduyun-duyun keluar dari pelupuk matanya. "Terima kasih, Tuhan. Akhirnya Kau menganugerahi kami seorang malaikat kecil. Akan ku jaga baik-baik titipanmu ini."

Robert berjanji akan menjaga istri dan calon anaknya dengan baik. Dokter mengatakan jika kandungan Camelia sedikit lemah, selain karena ini kehamilan pertama, umur Camelia yang sudah melewati 35 tahun juga menjadi penyebabnya. Mereka harus ekstra hati-hati dalam menjaga kehamilan ini agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.

...Bersambung...

Jangan lupa Like, Vote & Comment

Terima kasih sudah membaca 🙏🏻😊

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!