Amarah Ayah

...💠Selamat Membaca💠...

Enam Tahun Lalu

"Orion!"

Orion yang sedang menenggak air minum di dapur langsung tersedak begitu mendengar suara teriakan yang memanggil namanya. Nada suara penuh amarah milik sang ayah membuat ia diserang rasa panik luar biasa. Apakah perbuatannya semalam telah diketahui? Buru-buru, pemuda itu berlari keluar dapur menuju asal datangnya suara.

Di ruang tengah, terlihat ayah dan ibu berdiri menanti kehadirannya. Bukankah sejam yang lalu orang tuanya pamit pergi ke luar, kenapa cepat sekali kembalinya. Perasaan Orion semakin tak tenang dibuatnya.

"Ada apa?" tanya Orion setelah sampai di hadapan Felix dan Megan. Suara pemuda itu terdengar dingin, ia masih ingat kelakuan sang ayah yang main perempuan di belakang sang ibu.

Felix tidak menjawab, wajah pria paruh baya itu merah padam, rahangnya mengeras dan napasnya terengah-engah dengan dada yang kembang-kempis secara cepat. Sesuatu dilemparnya dengan kasar ke muka Orion.

"KATAKAN, APA YANG SUDAH KAU LAKUKAN?" hardik Felix, murka.

Orion menyingkirkan sebuah jaket yang tadi dilemparkan sang ayah tepat di mukanya. Ia memerhatikan jaket di tangannya itu dengan ekspresi kaget luar biasa. Dalam hati, ia merutuki kebodohannya yang lupa mengenakan kembali jaketnya setelah melakukan tindakan keji semalam. Namun, semua itu tak lantas membuatnya takut, ia menyeringai, mungkin sudah saatnya ia bongkar kebusukan ayahnya di hadapan sang ibu.

"Kenapa? Apa ****** kecilmu mengadu?" Orion menantang Felix dengan mata menyorot tajam dan bibir melukiskan seringai penuh kepuasan. Ia sudah tidak peduli lagi dengan apa yang akan terjadi pada kehidupan rumah tangga kedua orang tuanya, yang pasti akan ia jauhkan sang ibu dari suami pengkhianat macam ayahnya.

"****** kecil? Apa maksudmu, Nak?" tanya Megan. Wanita yang masih terlihat cantik di usia tuanya itu tak paham kenapa bungsunya mengatakan hal yang tidak pantas seperti itu.

"Tanyakan saja pada suamimu, Mom!" pinta Orion.

"Dad, ada apa ini? Siapa ****** yang dimaksud putra kita? Aku sama sekali tidak mengerti." Megan menuntut jawaban dari suaminya.

"****** itu bernama Jasmine. Dia adalah kekasih gelap suamimu, Mom." Felix yang terdiam membuat Orion akhirnya mengungkap siapa sebenarnya ****** kecil yang tengah mereka bicarakan.

BUGHH

Satu pukulan dari Felix telak mengenai rahang Orion. Pemuda itu terhuyung akibat kerasnya tinjuan sang ayah. Tak hanya sampai disitu, pria pemilik wajah merah penuh amarah itu menarik baju Orion dan mencengkramnya dengan erat.

"AKU TANYA SEKALI LAGI, APA YANG SUDAH KAU LAKUKAN PADA JASMINE?!" teriak Felix tepat di depan wajah sang anak. Bahu putra keduanya itu diguncang dengan keras sebagai penyalur rasa frustasinya.

"Aku memperkosanya."

Hening. Jawaban bernada santai yang keluar dari mulut Orion membuat dua orang tua di sana membeku di tempat mereka berdiri. Perlahan cengkraman di baju Orion terlepas, tubuh si pelaku jatuh merosot ke lantai.

Jiwa Felix terasa dicabut paksa dari jasadnya setelah mendengar pengakuan sang anak. "Dosa apalagi kali ini, ya Tuhan." Bibir Tua itu bergetar, getir.

PLAKK

Orion terkejut luar biasa saat mendapat tamparan keras di pipinya dari sang ibu. "Kenapa mommy menamparku?" Matanya menatap sendu wajah ibunya yang memerah.

"Aku kecewa padamu, Orion! AKU KECEWA!" pekik Megan histeris. Tubuh wanita itu terduduk lemas di sofa yang ada di belakangnya.

Deg

Orion langsung menghampiri sang ibu dan berlutut di depannya. Diabaikannya rasa perih bekas tamparan di pipi.

"Seharusnya mommy kecewa pada daddy, bukan padaku, Mom" Digenggamnya kedua tangan yang mulai keriput itu dengan lembut.

"Bagaimana bisa kau memperkosa gadis yang masih sangat belia. Kenapa kau tega sekali menyakiti gadis yatim piatu seperti itu, Rion? Kau tahu, hati mommy sangat sakit saat ini. Putra yang mommy banggakan ternyata tidak lebih dari seorang bajingan!"

Deg

Jantung Orion serasa diremas paksa oleh tangan tak kasat mata, sakit sekali rasanya. Melihat wanita yang ia cintai berlinang air mata dan sedih karena perbuatan yang sudah dilakukannya.

"Maafkan aku, Mom. Aku kalap, aku benci perempuan itu karena dia sudah merebut daddy darimu. Dia itu perempuan murahan, Mom. Dia rela menjual tubuhnya hanya untuk mendapatkan harta suamimu. Apakah aku salah jika memberi pelajaran pada perempuan busuk seperti itu?" Orion masih mencari pembenaran atas langkah yang telah diambilnya.

Felix masih terduduk lemas di atas lantai marmer yang dingin. Ingatannya mundur pada masa sejam yang lalu. Saat ia berkunjung ke apartemen yang ditempati Jasmine, bersama sang istri. Putri angkatnya itu tidak berada di tempat. Padahal hari ini ia akan mempertemukan Jasmine dengan istrinya untuk pertama kali. Selama ini Megan hanya mendengar cerita tentang Jasmine darinya, karena memang belum sempat bertemu. Namun, saat mencoba menghubungi gadis belia itu, suara dering ponsel terdengar nyaring dari dalam kamar. Ia dan sang istri langsung masuk ke dalam kamar yang tidak dikunci tersebut. Alangkah kagetnya mereka melihat keadaan kamar yang berantakan. Ada pecahan vas bunga yang berserakan di lantai. Dan yang membuat dua pasang mata tua itu membola adalah, terdapat noda darah mengering dan juga noda cairan seperti ompol yang mengotori sprei. Felix tahu jika itu adalah bekas cairan sp*rma. Pikiran buruk langsung menggerayangi benaknya. Kemungkinan besar yang bisa ia pikirkan adalah tentang Jasmine yang diperkosa. Dan berita terburuknya adalah sang istri menemukan sebuah jaket persis seperti milik Orion di sana. Tanpa banyak berpikir lagi, mereka langsung pulang menemui anak bungsunya.

Benar, apa yang ditakutkannya sungguh terjadi. Putra yang dibanggakannya telah menodai seorang gadis malang yang sudah dianggapnya sebagai anak sendiri, hanya karena salah paham dan kurangnya komunikasi.

"Tarik lagi kata-katamu itu, Orion!" ucap Felix. Ia tidak terima jika Jasmine dilabeli sebagai perempuan murahan. Padahal kenyataannya tidak seperti itu.

"Untuk apa?" Orion berdiri dan menghadap sang ayah yang juga sudah bangkit dari keterpurukannya.

Deg

Pupil Orion mengambang saat melihat ayahnya yang terkenal tegas dan berwibawa kini menangis tepat di hadapannya. Apakah sebegitu sedihnya sang ayah karena ****** kecilnya telah dilukai.

"Jasmine bukan simpananku. Bukan..." ucap Felix bergetar.

"Lalu apa? Kenapa kau begitu royal kepadanya? Mengajak jalan-jalan dan membelikannya barang-barang mewah. Untuk apa semua itu?" tanya Orion tak habis pikir.

"Semua itu ku lakukan sebagai bentuk tanggung jawab karena telah membuat Jasmine kehilangan ibunya."

Deg

"Ma-maksudnya?" Orion merasakan perasaan tidak nyaman merayapi dadanya.

"Aku bertanggung jawab karena telah menyebabkan kecelakaan hingga membuat ibu Jasmine, satu-satunya orang tua yang ia miliki, meregang nyawa. Singkatnya, aku telah membunuh ibu Jasmine."

Deg

"Hari ini kami datang ke apartemen untuk menemui Jasmine. Rencananya kami akan membawa dia ke rumah ini dan mengadopsinya sebagai putri kami. Tapi, semuanya gagal karena ulahmu. Kenapa kau tidak bertanya terlebih dahulu sebelum bertindak. Jika sudah begini, APA YANG HARUS KU LAKUKAN!" Suara Felix meninggi pada akhir kalimat. Pria itu tidak bisa lagi membendung rasa sesak yang bercokol di hatinya.

"Arrgghhh...." Tiba-tiba Felix merintih sembari memegangi dadanya yang sakit. Tubuh pria itu lalu terkapar tak sadarkan diri di atas lantai..

"Daddy!" Megan menjerit menyaksikan keadaan suaminya. Ditepuknya pipi Felix beberapa kali untuk menyadarkannya. Namun, cara itu tak berhasil.

"Orion!"

"Orion!"

"ORION!"

Orion tersadar dari lamunannya saat mendengar teriakan Megan. Ia menoleh dan mendapati ayahnya sudah terbaring pingsan di atas pangkuan sang ibu.

"Daddy kenapa, Mom?" tanyanya panik.

"Jangan banyak tanya, cepat angkat ayahmu. Kita bawa ke rumah sakit!"

...----------------...

Orion dan Megan menunggu dengan resah di luar ruang UGD. Felix sedang ditangani dokter di dalam sana.

"Mom..." panggil Orion.

"Apa?!" sahut Megan ketus.

"Apa benar, gadis itu akan kalian angkat menjadi anak?" tanyanya.

"Iya. Tapi kau menghancurkan segalanya. Setelah melakukan tindakan bejat itu sekarang kau membuat daddymu masuk rumah sakit. Apa kau sangat ingin aku menjadi janda, HUH?" bentak Megan.

"Maafkan aku, Mom." Orion tertunduk dalam penyesalan.

"Sebaiknya kau pergi dari sini. Hatiku masih sakit saat melihat wajahmu. Lebih baik kau cari Jasmine, ku rasa dia kabur karena ulah bejatmu!"

Tanpa membantah lagi, Orion bangkit dan pergi meninggalkan rumah sakit. Perasaannya sungguh kacau, di satu sisi ia mencemaskan keadaan Felix, lalu sisi lainnya ia merasa bersalah karena telah membuat Megan kecewa dan penyesalan terbesarnya adalah telah memperkosa Jasmine dengan keji.

Sampai di parkiran, pemuda itu menghubungi seseorang.

...---------------...

"Apartemen siapa ini?" tanya Nicholas saat Orion mengajaknya mampir di sebuah apartemen yang pintunya terganga lebar. Sepertinya Felix dan Megan lupa menutup kembali pintu saat mereka akan pergi tadi. Ya, itu adalah apartemen milik Jasmine yang dihadiahkan Felix padanya.

Orion membawa sahabatnya masuk dan duduk di ruang tengah yang ada sofanya.

"Kau kenapa?" tanya Nicholas. Ia bisa melihat penampilan Orion saat ini sangat kacau. Terdapat beberapa lebam dan luka di wajahnya.

"Nick, bagaimana rasanya bercinta untuk yang pertama kalinya?"

"HUH!?" Wajah Nicholas memerah. "A-apa yang kau tanyakan ini? Kau sehat, kan?"

"Jawab saja pertanyaanku!" tuntut Orion dengan wajah serius.

Nicholas berdehem. "Y-ya, rasanya menakjubkan. Apalagi saat itu aku dan Gloria sama-sama masih polos, jadi kami mempelajarinya bersama-sama." Ia ingat, waktu melakukannya pertama kali, ia masih kelas satu di sekolah menengah atas, sementara Gloria saat itu sudah kelas tiga. Kekasihnya memang tua dua tahun dari padanya.

"Aku ingin menunjukkan sesuatu!" Orion mengajak Nicholas masuk ke dalam kamar, di mana ia menggagahi Jasmine.

Sampai di dalam, Nicholas terkaget melihat keadaan kamar yang berantakan. Mata sipitnya pun melebar melihat noda di seprei putih yang membungkus tempat tidur.

Otak jeniusnya mencoba mencerna semua yang ditunjukkan juga ditanyakan oleh Orion kepadanya. Dan ya, kini ia sudah bisa menarik kesimpulan.

"Apa kau baru saja memperkosa seorang gadis di sini?" Walau tidak yakin sahabatnya melakukan hal itu, tapi begitulah analisis yang didapatkan oleh Nicholas.

"Kenapa kau bisa berpikir seperti itu?" tanya Orion. Ia belum ingin mengakui, ia hanya ingin mendengar bagaimana pendapat sahabatnya.

Nicholas berjalan menghampiri tempat tidur. Lalu, ia menunjuk noda yang ada di seprei. "Ini noda bekas cairan sp*rma, aku ingat betul karena sering melihatnya. Dan ini..." Kini tunjuk Nicholas mengarah pada noda yang paling mencolok. "Noda darah. Ini adalah darah yang keluar saat kau memerawani seorang gadis."

Deg

"Apa kekasihmu juga begitu sebelumnya?"

"Ya, pertama kali melakukannya Gloria memang berdarah. Katanya itu adalah tanda bahwa selaput daranya sudah pecah. Itu biasa terjadi saat melakukan hubungan badan untuk pertama kali. Tapi keperawanan tidak selalu ditandai dengan adanya darah, kita para lelaki pasti bisa membedakannya. Mana perempuan yang baru pertama kali melakukannya dan mana yang sudah sering melakukannya," jelas Nicholas gamblang. Ia tidak ingin Orion buta akan masalah ini. Bagaimanapun juga sahabatnya itu terlalu cuek, takut jika suatu saat nanti ia justru dimanfaatkan oleh perempuan licik yang mendekatinya.

Orion termenung, kini terjawab sudah semua pertanyaan yang berputar di otaknya. Ia telah memperkosa seorang gadis perawan yang tidak bersalah. Menyesal, sungguh ia menyesal. Jika waktu dapat diputar kembali, ia ingin memperbaiki semuanya.

"Jadi?" Nicholas menyentuh bahu Orion, menyadarkan pria berambut hitam itu dari lamunannya.

"Kau ingat, perempuan yang bersama ayahku di mall waktu itu?" tanya Orion.

"Y-ya." angguk Nicholas, ingat. "Perempuan yang diduga Kevin sebagai sugar baby ayahmu," lanjutnya dalam hati.

"Aku telah memperkosanya, di kamar ini."

BUGH

...----------------...

Orion kembali ke rumah sakit dengan keadaan memprihatinkan. Ia pikir masalahnya akan sedikit berkurang dengan menceritakannya pada Nicholas, tapi sahabatnya itu justru semakin menambah penderitaannya. Dua bogem mentah dari Nicholas berhasil membuat sudut bibir Orion pecah. Sahabatanya itu sangat menyayangkan tindakan gegabah yang sudah ia lakukan.

"Bagaimana keadaan Daddy, Mom?" Tanya Orion saat melihat ibunya menunggui sang ayah yang belum membuka mata.

"Dia serangan jantung karena ulahmu. Untung saja masih bisa diselamatkan, kalau tidak aku akan segera menyandang status janda." Megan menjawab dingin. Ia enggan melihat wajah putra bungsunya itu.

"Maaf, Mom." Perasaan bersalah pada diri Orion semakin menggunung. Apa yang harus ia lakukan untuk memperbaiki semuanya.

"Kau sudah menemukan Jasmine?" tanya Megan kemudian.

"Be-belum, Mom." Jelaslah belum ketemu. Ia sama sekali tidak mencarinya.

"Jangan pernah menampakkan wajahmu di hadapan kami sebelum kau berhasil membawa Jasmine kembali dalam keadaan baik-baik saja!"

Deg

"Ta-tapi, Mom..."

"PERGI!"

Luka seperti apa yang sudah ditorehkan Orion pada orang tuanya hingga membuat dua orang yang disayanginya itu kini berbalik membencinya.

Pemuda itu melangkah gontai meninggalkan ruang rawat sang ayah.

...Bersambung...

Jangan lupa Like, Vote & Comment

Terima kasih sudah membaca🙏🏻😊

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!