...💠Selamat Membaca💠...
Di dalam sebuah kamar hotel yang cukup mewah, sepasang kekasih tengah bercumbu mesra di atas ranjang berukuran besar. Si pria menindih tubuh si wanita di bawah kungkungan kedua lengan berototnya. Baju keduanya sudah tersingkap memperlihatkan kulit putih yang tampak berkeringat.
Wanita bersurai panjang itu kembali menarik kepala kekasihnya untuk mengulangi ciuman yang memabukkan. Sophia, namanya. Seorang model yang terkenal akan kecantikan dan kemolekan tubuhnya. Si pria yang tak lain adalah Orion pun, menikmati permainan bibir dari kekasihnya, tak lupa ia juga membalas setiap perlakuan sensual si wanita.
Permainan yang sudah berlangsung hampir setengah jam itu terhenti tatkala tangan nakal Sophia mampir di bagian pusat tubuh Orion yang masih terbungkus celana berbahan satin. Pria itu segera bangun dan menyugar rambutnya yang sedikit berantakan.
"Sebaiknya kita membersihkan diri terlebih dahulu, baru setelah itu beristirahat."
Perkataan Orion sukses membuat wajah Sophia cemberut. Padahal tadi mereka akan masuk ke permainan inti, tapi lagi-lagi Orion menghentikannya. Terhitung, sudah berapa kali kejadian seperti ini terjadi, dan itu selalu membuat Sophia kecewa.
"Kita mandi bersama, ya?" Sophia bangkit dari ranjang dan memeluk tubuh Orion. Dengan suara manjanya ia merengek pada sang kekasih agar mau mandi bersama.
"Kau mandilah terlebih dahulu, aku ingin istirahat sebentar!" Orion berjalan ke arah sofa dan merebahkan tubuhnya di sana. Pria itu memejamkan mata.
Sophia menghentakkan kakinya kesal, kemudian berlalu masuk ke dalam kamar mandi.
"Kenapa Orion tidak pernah mau melakukannya denganku. Apa aku tidak terlihat menarik baginya?" Sophia memerhatikan tubuh polosnya di depan cermin besar yang ada di dalam kamar mandi. Ia sudah melepas semua kain yang tadi melekat di tubuhnya.
Ia pindai tubuhnya dengan seksama. Wajahnya tidak perlu diragukan lagi kecantikannya. Kulitnya putih, mulus dan berseri. Dadanya padat, kencang dan berukuran luar biasa. Setiap pria yang melihat pasti akan meneteskan air liur. Apalagi bagian inti tubuhnya, indah dan terawat. Kenapa kekasihnya sama sekali tidak tergiur dengan segala apa yang dimilikinya ini.
"Apa dia imp*ten?" pikirnya. Kemudian ia tertawa sendiri. Hal itu sangat tidak mungkin.
"Baiklah, sekarang aku harus berendam, nanti akan kulancarkan lagi godaan untuk membuat Orion mau menyentuhku."
Orion menatap nanar pintu kamar mandi yang baru saja tertutup. Pria itu menghela napas pelan. Ia melirik benda pusakanya yang masih tersimpan rapi di balik celana bahan yang digunakannya. Setelah kejadian malam kelam itu, keperkasaannya tidak pernah lagi bisa berdiri. Seperti apa pun bentuk godaan yang datang, tidak pernah bisa membuatnya bereaksi. Ingin sekali memeriksakan kondisinya ini pada dokter yang ahli, tapi dirinya terlalu gengsi dan juga malu. Mau ditaruh di mana mukanya jika orang tahu jika pria tampan, mapan, gagah dan macho seperti dirinya ternyata mempunyai kelemahan. Sungguh, memalukan. Kadang Orion berpikir, apakah ini adalah bentuk balasan yang diberikan Tuhan karena perlakuan keji yang sudah dilakukannya enam tahun lalu pada seorang gadis yang tidak berdosa.
"Sial." Orion mengumpat.
Sudah dua tahun ia menjalani hubungan dengan Sophia, tapi ia sama sekali tidak dapat menyentuh kekasihnya itu. Rasanya ingin sekali menyatu dengan wanita pujaannya tapi apa daya, alat tempurnya tidak bisa digunakan. Sungguh, ia merasa gagal menjadi seorang pejantan.
Alasan apalagi yang harus ia berikan jika Sophia kembali mengajaknya untuk memadu kasih. Orion sudah kehabisan stock alasan.
"Ck, tidak ada cara lain. Aku harus rela menebalkan muka untuk berkonsultasi ke dokter ahli." Orion tidak sanggup berlama-lama menjalani ketidakmampuannya sebagai seorang pria. Bagaimana pun juga, suatu saat nanti ia akan menikah dan juga punya anak. Jika masih menderita imp*tensi, lalu dari mana ia bisa mendapatkan penerus untuk melanjutkan garis keturunan keluarganya.
Cklek
Pintu kamar mandi terbuka, Sophia keluar dengan mengenakan bathrobe. Lalu, ia berjalan menghampiri Orion dengan berlenggak-lenggok menggoda. Tepat sampai di hadapan sang kekasih yang tengah duduk menatap lurus dirinya, Sophia perlahan membuka ikatan jubah mandinya hingga tubuh polos tanpa sehelai kain itu pun terpampang nyata di depan mata Orion.
Pria itu meneguk ludah sendat, pemandangan yang tersuguh sungguh membuatnya tergoda, hanya saja yang di bawah sana masih setia lemas, tak bereaksi apapun.
"Aku mandi dulu." Tak tahan berlama-lama di sana, Orion bangkit dan tubuhnya menghilang di balik pintu kamar mandi.
Sophia tercengang, Orion benar-benar tidak tergoda dengan tubuh polosnya. Apakah pria itu terlalu suci hingga tidak mau menyentuh dirinya? Lihatlah! Dia bahkan sudah berpenampilan seperti wanita murahan yang haus akan belaian.
"Aku akan melakukannya saat kita sudah menikah nanti."
Tiba-tiba kalimat Orion waktu itu terngiang kembali di benak Sophia.
"Ck, dasar aneh! Memangnya dia hidup di zaman apa sampai melakukan hubungan intim saja harus tunggu menikah dulu. Menyebalkan!" gerutu Sophia. Ia memasang kembali tali jubahnya, lalu menghambur ke atas ranjang. "Lebih baik aku tidur daripada terus kesal karena punya kekasih yang tak bisa memberi kenikmatan," dumelnya sebelum memejamkan mata.
Dalam kamar mandi, Orion mengumpat berkali-kali. Dia menyumpahi senjata tempurnya yang tidak pernah bisa berdiri walaupun sudah disuguhi pemandangan seerotis apapun.
"Sepertinya aku memang benar harus berobat."
...----------------...
"Jam berapa kita pulang?" tanya Sophia setelah mereka sampai di kamar sehabis sarapan.
Walaupun masih kesal dengan kejadian semalam, tapi Sophia tidak ingin memperpanjang kegiatan merajuknya. Ia kapok, dulu ia pernah melakukan hal yang sama dan berakhir dengan Orion yang mendiamkannya selama berhari-hari. Sophia bersumpah tidak akan mengulangi hal seperti itu. Saat ini ia hanya perlu bersabar untuk perlahan mengubah Orion menjadi seperti yang ia inginkan.
"Aku akan menyerahkan laporan yang diminta Mark terlebih dahulu baru setelah itu kita berangkat."
"Hm, baiklah."
...----------------...
Mobil Orion sampai di depan kantor milik Mark Davidson.
"Aku tunggu di sini saja," kata Sophia. Ia sedikit malas untuk berjalan memasuki gedung perusahaan milik kakak sepupunya itu.
"Baiklah, aku tidak akan lama."
Orion keluar membawa beberapa laporan di tangannya. Ia memasuki gedung perkantoran itu dengan tampang dingin tak tersentuh. Walaupun begitu, tidak sedikit para karyawan wanita yang berbisik-bisik tentang dirinya.
"Ms. Jasmine, Mr. Davidson sudah menanti kehadiran dirimu di ruangannya."
"Hm."
Deg
Orion yang sedang berjalan pelan menuju ruang CEO sembari memeriksa kembali laporan di tangannya berhenti saat seseorang menyebut satu nama yang begitu dikenalinya.
Tepat saat ia hendak menoleh ke belakang, seorang wanita berpostur tinggi langsing lewat di sampingnya. Orion tidak sempat melihat wajah wanita itu karena sudah terlanjur berjalan terlebih dahulu. Namun, ia masih bisa membaui aroma parfum yang ditinggalkannya, yang memiliki wangi seperti perpaduan antara aroma bunga yang segar dan vanila yang manis. Tiba-tiba Orion merasakan aliran darahnya berdesir seketika.
Ia memandang wanita yang berjalan semakin menjauh itu, dengan langkah pasti, Orion pun berjalan mengikuti. Kebetulan arah yang mereka tuju sama.
"Apakah wanita itu adalah wanita yang dipanggil Jasmine tadi?" pikir Orion.
Ia terus membuntuti si wanita yang masih berjalan. Diperhatikan dari belakang, wanita itu memiliki tubuh yang sangat indah. Orion menerka jika tinggi wanita itu adalah 170 cm. Blazer berwarna hitam membalut pas tubuh rampingnya, lalu rok span sebatas lutut dengan warna senada memperlihatkan kaki jenjang yang sangat memesona. Oh, dan jangan lupakan rambut pirang yang dicepol ala balerina. Orion sangat penasaran, bagaimana rupa wanita itu jika dilihat dari depan.
Setelah sampai di ruang yang dituju, wanita itu masuk ke dalam tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Terlihat seperti sudah terbiasa.
Deg
Jantung Orion berdegup kencang saat melihat penampakan wanita itu dari samping. Terasa tidak asing. Ia pun berjalan semakin mendekat ke arah ruangan.
Tok...tok...tok
Tanpa basa-basi ia langsung mengetuk pintu ruang CEO. Biasanya akan ada seseorang di bagian depan ruangan yang bertugas memberitahu jika sang pimpinan kedatangan tamu, tapi di perusahaan ini terlihat sedikit berbeda. Orion tak melihat siapapun di lorong ini. Sepi.
"Ma-masuk!" Terdengar perintah dari dalam.
Orion menekan knop pintu dan membukanya. Terlihat Mark tengah duduk di kursi kebesarannya.
"Oh, Mr. Cannavaro." Pria itu bangkit dari tempat duduknya menyambut kedatangan Orion. "Apa kau membawa laporan yang ku minta?"
Orion mengangguk kemudian menyerahkan laporan tersebut. Pria itu sedikit menarik salah satu sudut bibirnya ke atas, saat melihat noda lipstik samar di bibir rekan bisnisnya.
"Affair, kah?" pikir Orion. Ia menerka jika sebelum dirinya masuk, Mark pasti tengah berciuman dengan wanita pirang yang baru masuk tadi.
"Silakan duduk. Aku akan meminta office girl untuk membuatkanmu minum!"
"No, thanks. Aku harus kembali. Sophia sedang menunggu di mobil." Orion menolak.
"Baiklah. Berhati-hatilah di jalan. Sampaikan salamku pada Sophia."
"Hm."
Orion berbalik pergi, namun saat tubuhnya mencapai daun pintu. Suara wanita terdengar di belakangnya.
"Siapa tamunya?"
Deg
"Suara itu?" gumam Orion tak percaya. Ia segera membalikkan tubuh.
"Oh, rekan bisnis kita. Dari Cannavaro Corporation." Suara Mark menjawab.
Deg
Mata Orion terbelalak saat sepasang jelaga hitamnya bertubrukan dengan sepasang mata biru yang terlihat sama terkejutnya dengan dirinya.
"Dia..."
...Bersambung...
Jangan lupa Like, Vote & Comment
Terima kasih sudah membaca 🙏🏻😊
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 27 Episodes
Comments
Anonymous
diiaa adik angkat qu yg aq nodai skrng menjadi pelakor..
OMG dunia sempit
2021-12-27
0
Anonymous
diiaa adik angkat qu yg aq nodai menjadi pelakor
2021-12-27
0