...💠Selamat Membaca💠...
"Dad, Mom, aku ingin memperkenalkan seseorang pada kalian." Malam ini Orion datang ke rumah membawa kekasihnya. Ia ingin memperkenalkan wanita yang sudah menemaninya selama dua tahun itu pada kedua orang tuanya. Berharap dengan pendekatan ini, bisa membuka jalannya untuk meresmikan hubungannya dengan sang kekasih ke jenjang yang lebih tinggi lagi, yakni pernikahan.
Dua orang paruh baya yang sedang bersantai di ruang tengah, menoleh tanpa minat.
"Megan, aku ingin istirahat. Tolong antarkan aku ke kamar," pinta Felix. Ia sedang malas berurusan dengan Orion. Bahkan untuk menatap wajah bungsunya itu, ia masih enggan.
Saat ini Felix tidak bisa berjalan, hari-harinya dihabiskan di atas kursi roda. Itu terjadi sejak dua tahun yang lalu, ia mengalami stroke hingga badannya lumpuh. Kini sudah berangsur membaik, cuma kakinya saja yang belum sanggup untuk berjalan. Dua minggu sekali, ia melakukan terapi, tapi masih belum menunjukkan hasil yang berarti.
"Iya, Dad." Megan menuruti keinginan suaminya. Dibantunya Felix naik ke atas kursi roda lalu mendorongnya pergi. Tak berbeda jauh dengan Felix, Megan juga enggan berurusan dengan putra bungsunya.
"Mom, Dad, aku membawa seseorang, tidakkah kalian ingin berkenalan dengannya?" Orion merasa frustasi. Sudah enam tahun berlalu, tapi sikap orang tuanya masih sedingin itu. Keberadaannya di rumah ini sudah tidak dianggap lagi.
"Ayo!" ajak Felix ketika Megan berhenti mendorong kursi rodanya. Ia mengabaikan begitu saja ucapan sang anak.
"Mommy, Daddy!" panggil Orion cukup keras. Ia mulai lelah kalau terus diperlakukan seperti ini.
Sepasang orang tua itu tetap tidak menghiraukan panggilan sang anak.
"Aku akan menikah!" ucap Orion lantang. Bagaimanapun juga, ia harus menyampaikan maksud dan tujuannya datang malam ini.
Akhirnya, Felix membalikkan kursi rodanya.
"Lakukan apapun yang kau inginkan!" sahut pria tua itu, dingin.
"Ya. Aku akan menikahi wanita di sampingku ini." Orion menoleh pada sang kekasih. "Namanya Shopia Clarkson , kami datang kemari ingin meminta restu kalian berdua."
Felix menatap datar calon menantu yang dibawa oleh putranya. Cantik, tapi penampilannya seperti wanita murahan. "Terserah. Lakukan apa yang kau inginkan. Bukankah kau selalu bertindak tanpa membicarakannya terlebih dahulu dengan kami."
"Dad!" Orion paham, ayahnya masih belum bisa memaafkan tindakan bodohnya di masa lalu.
"Mom?" Kini Orion beralih menatap wajah sayu ibunya. "Restui kami, Mom." Orion memohon dengan wajah memelas.
"Tidak."
Deg
Baik Orion maupun Sophia, terperanjat kaget mendengar penolakan tegas dari Megan.
"Tapi, Mom..."
"Sebelum kau berhasil membawa pulang putri kami, jangan harap kami akan merestui hubunganmu dengan wanita itu." Megan melirik sinis ke arah Shopia yang menciut takut.
"Ayo Dad, kita ke kamar."
Kali ini Orion tidak menghentikan lagi kepergian orang tuanya. Ia sudah putus asa. Semua ini karena Jasmine, entah kemana hilangnya perempuan itu hingga sampai saat ini keberadaannya tidak diketahui.
"Sophia, maaf..." Orion merasa bersalah begitu melihat kekasihnya sudah berlinang air mata.
"Daddy dan mommymu tidak menyukaiku. Hiks."
Orion memeluk tubuh Sophia sebagai upaya menenangkannya. "Mereka bukannya tidak menyukaimu. Hanya saja, saat ini aku ada sedikit masalah dengan kedua orang tuaku. Mungkin, lain kali mereka akan merestui hubungan kita. Kau tenang saja."
...----------------...
Sepasang manusia tengah bercumbu di ruang tengah sebuah apartemen mewah. Tepatnya di atas sofa, mereka berciuman panas, saling *******, membelit dan bertukar saliva.
"Mark!" protes si wanita begitu tangan lawan mainnya sudah berada di bagian bawah tubuhnya yang terbungkus rok span yang sudah sedikit tersingkap, menampilkan paha putih nan mulus.
"Sekali ini saja, boleh ya?" Mark menatap paras cantik Jasmine dengan mata sudah ditutupi kabut gairah.
Jasmine mendorong kasar tubuh Mark. "Kau lupa perjanjian kita. Aku akan membiarkanmu menyentuhku, tapi tidak dengan yang satu itu."
"Maaf." Gairah Mark menyurut saat Jasmine mengingatkan kembali mengenai perjanjian yang sudah mereka buat dua tahun lalu.
"Mine, apa kau mau menjadi kekasihku?"
"Apa? Kau gila, ingat kau sudah mempunyai istri!" protes Jasmine saat Mark memintanya untuk menjadi kekasih dari pria itu.
"Kau tahu kan, hubunganku dengan Teressa tidak seperti hubungan pasangan suami istri lainnya. Kami terikat hanya karena keberadaan anak itu, tanpa adanya rasa saling mencintai. Kalau dia sendiri bisa memiliki kekasih di luar sana, kenapa aku tidak?"
Jasmine menatap Mark kasihan, benar juga, rumah tangga pria di hadapannya ini memang semenyedihkan itu. Apakah harus ia terima tawaran untuk menjadi kekasih Mark? Baiklah. Anggap saja itu sebagai bentuk balas budi.
"Ok, aku mau menjadi kekasihmu, tapi dengan satu syarat."
"Apa?"
"No s**"
"Deal."
Awalnya pria itu menerima karena keinginannya hanya untuk merasakan bagaimana rasanya memiliki seorang kekasih, yang akan mendukung, menjadi tempat bercerita di kala resah, dan sandaran di saat lelah. Namun, seiring waktu berlalu, Mark menginginkan lebih. Apalagi memiliki kekasih seorang wanita cantik bertubuh sexy. Siapa yang akan tahan dengan godaan semacam itu.
"Sudahlah, sebaiknya kau membersihkan diri lalu istirahat." Jasmine berlalu dari hadapan atasannya, masuk ke dalam kamar. Mereka memang tinggal se atap tapi berbeda kamar.
...----------------...
"Aku tidak menyangka jika anak itu berani membawa seorang wanita ke rumah ini. Apa dia lupa dengan kesalahan yang sudah dilakukannya enam tahun lalu. Bukannya berusaha menemukan Jasmine, ia malah bersenang-senang dengan wanita yang terlihat murahan itu," omel Megan saat dirinya dan sang suami sudah berbaring di atas kasur.
"Jasmine, di mana kau, Nak? Apa kau baik-baik saja?" batin Felix merana. Rasa rindu dan bersalah terus menghantui setiap langkahnya. Ia tidak akan bisa hidup dengan tenang sebelum mengetahui jika putri angkatnya itu baik-baik saja.
Empat tahun yang lalu, Felix mengalami stroke karena terlalu banyak pikiran dan juga kelelahan mencari keberadaan Jasmine. Felix sudah berada di ambang batas kemampuannya. Kini, ia hanya pasrah, tetap berdo'a agar Jasmine baik-baik saja di mana pun ia berada.
Drrttt... drrttt... drrttt...
Megan menggerutu saat mendengar ponselnya yang berada di atas nakas bergetar. Siapa yang menghubunginya malam-malam begini. Tidak tahukah bahwa saat ini ia tengah merasa kesal dan tidak ingin diganggu.
"Halo." Ia akhirnya menjawab panggilan itu setelah mengetahui jika yang menghubunginya adalah orang dari rumah sakit.
"..............." Seseorang di seberang sana berucap panjang lebar, Megan mendengar dengan seksama.
"Apa? Benarkah?" Wanita tua itu memekik tak percaya. Ada rasa bahagia dan haru yang merasuki kalbunya.
"..............."
"Besok? Apa tidak bisa sekarang?" tanyanya tak sabaran.
"................"
"Baiklah, besok kami akan ke sana."
Tit
"Ada masalah apa?" tanya Felix yang begitu penasaran.
Megan menatap suaminya dengan penuh suka cita. "Dad, anak kita...."
...Bersambung...
Jangan lupa Like, Vote & Comment
Terima kasih sudah membaca🙏🏻😊
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 27 Episodes
Comments