Anak

...💠Selamat Membaca💠...

Setelah menandatangani kesepakatan bisnis, Mark mengajak Orion dan Sophia makan siang di sebuah restoran yang ada di tengah kota.

"Kapan terakhir kau pulang, Mark?" tanya Sophia. Sembari menunggu pesanan datang, mereka memilih berbincang sejenak.

"Satu bulan yang lalu, waktu Miley masuk rumah sakit terkena tipus."

"Apa kau tidak kasihan pada anakmu? Kenapa tidak diajak tinggal bersamamu saja. Lagi pula di sana, tidak ada yang mengurusnya selain para pelayan. Miley juga butuh kasih sayang, tapi ayah dan ibunya sama-sama sibuk, malang sekali nasibnya," tutur Sophia.

Mark terdiam, memang benar, ia jarang menghabiskan waktu dengan sang putri karena kesibukannya di perusahaan yang baru dirintisnya beberapa tahun ini. Jarak dari kota ini ke kota kelahirannya memang dekat, tapi Mark lebih memilih tinggal di apartemen dekat perusahaannya karena di sana ia bisa bertemu dan tinggal dengan Jasmine. Berbeda jika di rumah, bertemu dengan istrinya, di mana mereka seperti orang asing yang dipaksa hidup dalam satu atap.

"Kalau dia tinggal bersamaku, ujung nya-ujunganya aku pasti akan meminta bantuan asisten untuk mengasuhnya. Kau tahu kan, bagaimana kesibukanku di kantor?" Mark berkomentar. Bukannya ia ingin mengabaikan tanggung jawab pada sang anak, tapi memang seperti inilah kehidupannya. Selalu sibuk dengan yang namanya pekerjaan.

"Ku rasa itu lebih baik dari pada dia sendiri di rumah kalian yang besar itu. Ibunya saja jarang pulang ke rumah." Sophia kembali berucap. Ia tidak mengerti dengan rumah tangga seperti apa yang tengah dijalani oleh kakak sepupunya, tidak jelas mau dibawa ke mana. Kasihan anak yang menjadi korban keegoisan orang tua.

"Dari mana kau tahu?" Mark tahu jika di sana istrinya sibuk dengan pria lain, tapi ia tak tahu jika ternyata wanita itu juga mengabaikan anak mereka.

"Saat aku berkunjung ke sana, pelayan memberitahuku."

Sophia memang sangat peduli pada keluarga kakaknya itu. Ia tahu Mark menikah karena terpaksa, tapi seharusnya ia juga tidak melupakan perannya untuk mengasuh dan memberikan kasih sayang pada putri tunggalnya itu, sekali pun kehadiran Miley tidak diharapkan oleh kedua orang tuanya.

Sepanjang Mark dan Sophia bercerita, Orion hanya menyimaknya dalam diam, ia tidak ada hak untuk ikut campur dalam masalah keluarga dua orang itu. Dan lagi pula, ia tidak tahu masalahnya.

"Oh ya, kalian berdua sudah berapa lama berhubungan?" Setelah membahas tentang keluarganya, Mark beralih bertanya pada Orion dan adik sepupunya.

"Dua tahun," jawab Orion singkat.

"Oh." Mark menyahutnya lebih singkat. Ia memerhatikan wajah Orion dengan mata jeli, sepertinya wajah itu tidak asing di penglihatannya. Apa mereka pernah bertemu sebelum ini? Ah, rasanya tidak. Tapi kenapa ia begitu mengenali wajah itu, padahal ini pertama kalinya mereka bertemu.

"Kapan kalian pulang?" Mark bertanya lagi.

"Mungkin besok pagi, hari ini kami akan menghabiskan waktu untuk jalan-jalan di sini." Sophia yang menjawab.

"Oh, begitu. Selamat bersenang-senang. Jika butuh sesuatu, jangan sungkan untuk menghubungiku."

"Baiklah."

Mark mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja. Ia menatap benda pipih itu dengan dengusan kecil.

"Kenapa Jamsine belum menghubungiku juga, ya?" gumamnya pada diri sendiri. Sedari pagi ia menunggu kabar dari wanita pujaannya itu, tapi sampai sekarang Jasmine belum menghubunginya juga.

Deg

Mata Orion langsung membola begitu mendengar nama seseorang di masa lalunya keluar dari mulut Mark. Ia menatap tajam sepupu kekasihnya itu.

"Ada apa denganmu? Kenapa kau menatapku seperti itu?" sentak Mark begitu menyadari tatapan aneh Orion yang ditujukan padanya. Ia tidak suka dengan cara kekasih sepupunya itu melihatnya.

"Ah, ti-tidak apa-apa. Maaf," ucap Orion.

"Tidak mungkin. Di dunia yang luas ini, seseorang dengan nama itu pasti sangat banyak." Orion menyangkal di dalam hati, bahwa nama Jasmine yang terucap dari mulut Mark tadi bukanlah nama seseorang yang berada di masa lalunya.

...----------------...

"Hansel!"

Seorang wanita berambut coklat terang berlari tergopoh-gopoh menghampiri anak laki-laki yang terduduk sembari menangis di jalanan.

"Sayang, kau kenapa?" Wanita berkacamata itu mengangkat tubuh si bocah untuk berdiri, kemudian membersihkan celananya yang sedikit kotor.

"Ya Tuhan, lututmu berdarah!" Si wanita memekik saat menyadari lutut putranya lecet dan mengeluarkan darah. Ia mulai panik.

"Bilang pada mama, kenapa kau sampai terjatuh? Kenapa kau tidak menunggu mama di dalam sekolah, kenapa kau berlarian di jalanan? Bagaimana jika nanti kau ditabrak mobil? Mama bisa mati kalau kau sampai terluka, sayang." Wanita itu memarahi si bocah yang bernama Hansel. Bukan marah yang sebenarnya, hanya saja itu sebagai bentuk luapan akan rasa khawatirnya melihat kondisi anaknya yang terluka.

"Mama..." Tangisan yang sempat terhenti itu kembali terdengar. Hansel menghambur memeluk tubuh sang ibu dan menangis di dadanya.

"Ada apa, Nak?" Si wanita mengelus sayang kepala Hansel. Bingung, kenapa putranya yang pagi tadi sangat ceria tiba-tiba bersedih hati.

"Mama.. hiks, tadi mommy datang tapi dia pergi lagi, hiks."

Deg

"Jasmine..." Wanita itu membatin. Benarkah keponakannya tadi kemari, pikir si wanita.

"Apa mommy tidak sayang Hansel? Padahal Hansel ingin dipeluk mommy. Hansel rindu mommy, hiks."

"Hansel..." Wanita itu mengerti betul akan kesedihan yang dirasakan Hansel, namun dia tidak bisa berbuat apa-apa untuk mengabulkan keinginan putra angkatnya itu. Takdir yang membuat semuanya menjadi sulit

"Di sini ada mama, Nak. Mama sayang sama Hansel, mama akan selalu peluk Hansel seperti ini. Jadi, pangeran mama yang tampan ini jangan menangis lagi, ya?" Wanita itu mencoba membujuk Hansel, biasanya selalu berhasil.

"Hansel sayang mama." Perlahan tangisan bocah itu berhenti. Kesedihan yang tadi dirasakannya perlahan lenyap setelah mendengar perkataan sang ibu.

"Mama juga sangat menyayangimu, Nak." Si wanita melepas pelukannya dan menciumi pipi gembul itu bergantian.

"Ma, aku ingin es krim!" Setelah tangisan itu reda sepenuhnya, Hansel mulai meminta es krim, yang mana itu adalah makanan kesukaannya, tapi jarang sekali bisa ia nikmati karena ibunya berkata jika es krim itu bisa membuat sakit. Mumpung, ia habis menangis, biasanya sang ibu tidak akan tega untuk menolak permintaannya.

Wanita itu mengelus sayang rambut hitam putra tercintanya. "Karena Hansel anak pintar, maka mama akan membelikanmu es krim untuk hari ini."

"Hore...."

"Ayo, sayang!"

Anak dan ibu itu bergandengan tangan dengan ceria menuju ke sebuah cafe yang menyediakan es krim. Letaknya tidak terlalu jauh dari taman kanak-kanak di mana Hansel bersekolah.

"Kasihan sekali kamu, Nak. Tidak tahu siapa daddymu dan mommymu juga tidak bisa merawatmu karena traumanya. Semoga suatu saat nanti, kalian bisa bersama." Wanita itu hanya berharap.

...Bersambung...

Jangan lupa Like dan Comment

Terima kasih🙏🏻😊

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!