...💠Selamat Membaca💠...
"Argghhhh...."
BRAKK
Orion membanting gelas minuman beralkohol yang baru saja di tenggaknya. Terhitung, ini sudah gelas kelima yang ia habiskan.
"Wanita sialan!" jeritnya penuh kesakitan. Saat ini, bayangan pergumulan Sophia dan Justin tengah menari-nari dalam kepalanya. Dadanya menjadi sesak dan sangat sulit untuk bernapas.
"Tambah lagi minumannya!" pinta Orion pada seorang bartender yang tampak sibuk melayani pesanan tamu lain dari bar tersebut.
"Baik, Tuan." Setelah selesai melayani pelanggan lain, bartender pria yang terlihat masih muda itu, segera membuatkan pesanan Orion. Tak berselang lama, segelas vodka sudah tersaji di hadapan Orion.
Tanpa membuang waktu, bungsu dari Cannavaro itu segera menandaskan isi gelasnya. Setelah itu ia memesannya lagi. Niatnya adalah agar cepat teler dan dapat melupakan semua kesakitan yang hari ini dirasakannya.
Setengah jam berlalu, saat ini Orion sudah teler dan kehilangan kewarasannya. Pria itu sibuk bicara sendiri, dan kemudian tertawa seperti orang gila.
"Aku mau menari, hehe..."
Orion berjalan sempoyongan menuju lantai dansa. Di sana ia berjoget ria seperti orang gila, bergerak ke sana- ke mari tak tentu arah. Sesekali ia akan ikut bergabung pada sekumpulan orang yang berjoget, lalu pindah pada kelompok lainnya.
"Hei, kau tampan juga." Seorang wanita muda berpakaian se*si menggoda Orion, mereka berjoget saling berhadapan. Dengan nakal, tangan wanita itu mulai menggerayangi dada Orion.
Pria itu tersenyum sinis, mendapat perlakuan seperti itu, ia tidak tinggal diam. Tangannya merayap ke tubuh si wanita dan berhenti di ******, dengan gemas diremasnya bongkahan sintal milik wanita itu.
"Aghh..." Dengan sengaja wanita itu mend*sah. Sejak pertama kali melihat Orion turun ke lantai dansa, ia sudah mengincari pria itu. Siapa wanita yang tidak akan tergiur oleh wajah rupawan dan badan atletis Orion. Wanita itu ingin sekali merasakan Sasuke bergoyang di atasnya.
"What a Bit*h!" Orion menampar ****** itu berkali-kali.
BUKK
"Sialan! Berani sekali kau menyentuh wanitaku!"
Orion tersungkur ke lantai setelah mendapat bogem mentah dari seorang pria yang baru datang, entah dari mana.
"Sayang, dia tadi meremas pant*tku, dia kurang ajar sekali, padahal aku hanya ingin berdansa." Si wanita yang takut ketahuan karena telah menggoda pria lain, justru memutar balikkan fakta.
"Dasar brengsek!" Mendengar pengakuan kekasihnya, pria itu kembali meninju wajah Orion. Kakinya ikut menendang tubuh pria malang tersebut. Sudah dikhianati sang kekasih, kini ia harus babak belur di tangan orang asing.
Beberapa orang yang melihat kejadian itu bersorak riuh, hal itu tentu saja mengundang perhatian si penjaga keamanan.
"Cukup sudah, bubar!" teriak salah seorang penjaga keamanan berbadan besar dan berpakaian serba hitam.
Semua orang di sana langsung menjauh dan kembali pada kegiatannya masing-masing. Orion yang tubuhnya sudah lemah tak bisa bangkit lagi. Ia terbaring pasrah, masih di lantai dansa.
"Ayo keluar dari sini, Tuan." Si penjaga membantu Orion bangkit dan memapahnya keluar dari club. Ia tidak ingin pria itu mati terinjak dan akan membuat buruk nama club tempatnya bekerja.
Orion duduk bersandar di samping mobilnya. Pria itu belum memiliki tenaga untuk menyetir. Alhasil, ia hanya duduk termenung meratapi nasibnya yang begitu menyedihkan. Tak lama berselang, ia tak sadarkan diri.
...----------------...
Sebuah mobil melaju di jalanan tepat di depan club malam tempat Orion baru saja melampiaskan rasa frustasinya.
"Sayang, berhenti!" Seorang wanita di dalam mobil menyuruh pria yang mengendarai mobil tersebut untuk berhenti.
"Ada apa? Kenapa kita berhenti di sini?" Pria itu- Nicholas menatap bingung pada istrinya. Tidak mungkin mereka mengunjungi club malam, sementara saat ini mereka tengah membawa sang anak yang baru berumur satu tahun.
"Lihat! Bukankah itu sahabatmu!" Istri Nicholas menunjuk sesosok tubuh yang tergeletak mengenaskan di samping sebuah mobil yang terparkir di depan club.
"Apa? Di mana?" Nicholas mengikuti arah tunjuk sang istri. Dan kedua bola matanya membesar saat melihat seseorang yang begitu dikenalnya tak sadarkan diri.
"Tunggu di sini, biar aku lihat dulu!" Setelah Nicholas menepikan mobilnya, ia segera turun untuk melihat apakah benar jika sosok menyedihkan yang dilihatnya itu adalah sahabatnya atau bukan.
Deg
Ternyata benar, pria menyedihkan itu adalah sahabtanya- Orion. Wajahnya penuh luka, rambutnya awut-awutan dan pakaiannya kusut di semua sisi.
"Oriom!" Nicholas berjongkok, ia mengguncang pelan tubuh tak berdaya sahabatnya.
"Hei!" panggilnya.
Tak mendapat respon apapun, Nicholas akhirnya memutuskan untuk memapah tubuh Orion masuk ke dalam mobilnya. Ia menidurkannya di kursi belakang.
"Ada apa dengannya?" tanya istri Nicholas yang bernama Gloria.
"Entahlah! Anak ini semakin kacau saja, baru tadi pagi Christ memberitahuku bahwa semalam ia menjemput Orion di bar, dan malam ini ia mengulanginya lagi. Entah setan apa yang telah merasukinya," gerutu Nicholas.
Pria itu masuk ke kursi kemudi dan segera melajukan mobilnya pulang. Untuk malam ini, ia akan membiarkan Orion beristirahat di tempatnya.
...----------------...
Justin menghisap rokok di balkon apartemen miliknya. Ia baru saja selesai bercinta dengan kekasihnya. Siapa kekasihnya? Yang pastinya bukan Sophia.
"Sayang, ponselmu berbunyi." Wanita berambut pirang sebahu datang menghampiri Justin. Ia menyerahkan ponsel milik pria itu.
"Terima kasih, sayang. Sekarang kau masuklah!"
Wanita itu kembali masuk, baru setelah itu Justin menerima panggilan tersebut.
"Ya?"
"Bagaimana? Kau sudah berhasil memisahkan mereka?" tanya suara berat di seberang sana.
"Tenang! Semua berjalan lancar. Ku rasa saat ini pria itu sudah gila," ucap Justin sembari terkekeh.
"Bagus kalau begitu. Sebentar lagi aku akan mentransfer sejumlah uang yang ku janjikan."
"Ku tunggu. Senang berbisnis denganmu."
TIT
Sambungan telepon terputus, tak lama kemudian sebuah pesan masuk ke ponsel Justin. Sejumlah uang dengan nominal yang sangat besar sudah masuk ke dalam rekeningnya.
Pria itu tersenyum senang, lalu kembali menghisap rokoknya yang tinggal setengah.
"Waktunya pergi liburan..."
...----------------...
"Mark, kenapa kau tersenyum sambil menatap ponsel. Apa ada hal yang lucu di sana?" Jasmine yang baru kembali dari dapur, menatap heran pada pria yang menjadi malaikat penolongnya itu.
"Tidak, hanya saja malam ini aku merasa sangat senang."
Jasmine duduk di samping Mark. "Oh, jadi begitu... kau tak ingin membagi kebahagiaanmu denganku?" Wanita itu pura-pura merajuk.
Mark merebahkan kepalanya di pangkuan Jasmine. "Apa kau akan bahagia jika melihat orang yang telah menyakitmu menderita?" tanyanya.
"Hm? Maksudnya?" Jasmine belum paham apa yang tengah dibicarakan pria di pangkuannya.
"Ah, tak usah dipikirkan! Lagi pula tidak terlalu penting juga."
"Ish, aneh sekali."
Mark tertawa, ia bangkit duduk dan langsung mencium bibir Jasmine dengan panas.
...Bersambung...
Jangan lupa Like, Vote & Comment
Terima kasih sudah membaca 🙏🏻😁
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 27 Episodes
Comments