...💠Selamat Membaca💠...
Saat ini kandungan Jasmine sudah berusia 6 bulan. Remaja itu mengurungkan niatnya untuk menggugurkan kandungan, tapi bukan berarti ia menerimanya begitu saja. Selama tiga bulan ini, Jasmine sama sekali tidak memperhatikan kesehatannya begitu juga dengan janin di dalam kandungannya. Tubuh yang awalnya berisi, kini kembali kurus kering. Hanya bagian perut saja yang menonjol.
Mark, pria itu benar-benar merealisasikan ucapannya. Ia tidak pernah lagi mengunjungi Jasmine untuk sekedar melihat keadaannya. Kini, ia menikmati lukanya seorang diri. Ingin sekali pergi dari apartemen Mark, tapi ia tidak memiliki tempat tujuan. Kembali ke apartemen yang lama, ia takut jika bajingan itu datang dan akan melukainya lagi. Perempuan itu sudah pasrah akan apa yang akan menimpanya nanti, termasuk dengan mati mengenaskan di atas ranjang tempat tubuh lemahnya berbaring saat ini.
...----------------...
Mark tidak benar-benar mengabaikan Jasmine, sesekali saat tengah malam ia akan datang untuk memastikan keadaan perempuan itu. Dan saat dirinya datang, tentu Jasmine sudah jatuh terlelap dalam tidurnya. Pria itu bersyukur karena Jasmine tidak jadi melenyapkan janin di dalam perutnya, namun, ia sangat prihatin melihat kondisi remaja itu yang semakin menyedihkan.
Malam ini, Mark diam-diam kembali mengunjungi apartemen. Semua ruangan tampak gelap, tanpa menghidupkan lampu, pria itu berjalan mengendap menuju kamar Jasmine. Ditempelkannya telinga di daun pintu, tidak ada suara sama sekali yang terdengar dari dalam sana. Perlahan, dibukanya pintu itu. Sangat pelan, hingga tidak menimbulkan bunyi sedikit pun.
Mark melangkah menghampiri tubuh Jasmine. Jantungnya berdegup kencang saat melihat kondisi perempuan itu yang begitu mengenaskan. Rasanya baru satu minggu ia tidak melihat keadaan Jasmine. Tubuhnya semakin kurus, matanya cekung dengan lingkaran hitam seperti panda, bibirnya pucat seperti mayat.
"Jasmine..." Mark menyentuh pipi kempis Jasmine. Pria itu panik saat melihat napas Jasmine yang berhembus berat seperti orang sesak napas. Beberapa kali dibangunkan, dia tak jua terjaga. Akhirnya Mark membawanya ke rumah sakit.
...----------------...
"Istri bapak terkena anemia, ia juga kekurangan gizi. Bukankah sudah pernah saya katakan, jika anda harus menjaga asupan makanan dan juga kebutuhan vitamin untuk istri anda. Selain itu, dia juga mengalami stress berat, itu bisa berdampak sangat buruk untuk kesehatan ibu dan bayinya."
Mark hanya bisa diam mendengar perkataan dari dokter yang baru saja selesai memeriksa keadaan Jasmine, kebetulan dokter itu adalah dokter yang sama yang memeriksa Jasmine beberapa bulan lalu. Pria itu merasa bersalah dan menyesal karena secara tidak langsung dirinyalah yang membuat Jasmine menjadi begitu. Andaikan dulu ia lebih bisa bersabar menghadapi Jasmine, pasti kejadiannya tidak akan seperti ini. Lagi pula, Jasmine masih remaja, pasti sangat sulit baginya menghadapi masalah ini seorang diri. Ia yang sudah dewasalah yang harusnya lebih mengerti.
"Jika ingin anak dan istri anda selamat, maka jaga dan perhatikan mereka dengan sebaik mungkin. Permisi." Dokter meninggalkan Mark yang masih terpaku di tempat.
...----------------...
Setelah beberapa jam tertidur, Jasmine akhirnya membuka mata. Lagi-lagi ia terjaga di dalam kamar sebuah rumah sakit. Jasmine merasa rumah sakit sudah seperti rumah kedua baginya, saking seringnya masuk ke sana.
Perempuan itu mengalihkan pandangan ke samping dan menemukan Mark yang tengah duduk di samping ranjangnya. Air mata Jasmine tumpah seketika.
"Hei, kenapa menangis?" Mark berdiri dan mendekati Jasmine. Ia mengusap pelan rambut pirang perempuan itu.
Dengan susah payah Jasmine mencoba untuk mendudukkan tubuhnya. Setelah benar-benar duduk, ia langsung memeluk erat tubuh Mark yang berdiri di sampingnya.
"Jangan tinggalkan aku lagi!" lirih Jasmine diiringi isak tangis pilu. "Tetaplah peduli padaku, hiks. Aku tidak mau sendiri lagi," pintanya.
Mark merasa semakin bersalah, ia telah membuat Jasmine terluka. Pria itu pun membalas pelukan Jasmine tak kalah erat. "Maafkan aku," bisiknya penuh sesal.
"Hm, aku juga minta maaf, hiks."
...----------------...
Setelah semua kepahitan berlalu, Jasmine mulai menikmati kehamilannya. Mark begitu memperhatikan dirinya, mulai dari menjaga asupan makanannya, vitamin, juga kontrol kandungan setiap bulan.
Hari yang dinanti pun tiba, pagi ini Jasmine akan melakukan operasi sesar setelah semalam sempat menginap di rumah sakit. Mark dengan setia mendampinginya.
Dokter menyarankan agar Jasmine melakukan sesar karena bobot bayinya yang cukup besar. Jika menjalani persalinan normal, takutnya Jasmine akan kesulitan mengeluarkan bayinya karena pinggulnya yang lebih kecil dibandingkan bobot bayi yang akan dilahirkan.
"Aku takut," ucap Jasmine. Sebentar lagi, ia akan dibawa ke ruang operasi.
"Berdoa pada Tuhan agar diberi kemudahan." Mark coba menenangakan. Sebenarnya, pria itu sudah pernah melewati momen seperti ini, yaitu saat kelahiran putrinya dua bulan yang lalu.
"Apa kau akan menemaniku di dalam?" tanya Jasmine.
Mark mengangguk. "Jika dokter mengizinkan."
...----------------...
Tepat pada hari minggu, 27 agustus, pukul 11. 50 siang, Jasmine melahirkan seorang bayi laki-laki yang sehat dengan berat 3.8 kg dan panjang 52 cm.
Setelah memperlihatkan sejenak bayi itu pada kedua orang tuanya, dokter langsung membawanya pergi untuk dibersihkan. Mark memandang takjub bayi Jasmine, ia terlihat sangat tampan dengan rambut lebat berwarna hitam, badannya gendut, terlihat sangat menggemaskan.
Jasmine tidak terlalu memperhatikan bayinya karena masih dalam pengaruh obat bius, apalagi saat ini dokter tengah sibuk menjahit perut Jasmine yang sempat dibedah.
...----------------...
Jasmine sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Saat ini ia sedang beristirahat, Mark masih setia menemani.
Tak lama kemudian, pintu kamar ada yang mengetuk. Mark bangkit untuk membukakan pintu, biasanya kalau dokter yang datang, mereka akan langsung masuk begitu saja.
Cklek
Mark memandang sepasang manusia yang berdiri di hadapannya. Ia sama sekali tidak mengenali kedua orang itu.
"Maaf, anda mencari siapa?" tanya Mark sopan.
"Kami mencari perempuan hamil yang pagi tadi bersamamu." Wanita pirang menjawab.
"Jasmine?"
"Benar, dia Jasmine." Angguk si wanita.
"Silakan masuk!"
Mark mempersilahkan si wanita dan pria yang bersamanya untuk masuk ke dalam kamar rawat Jasmine.
Tanpa basa-basi, wanita itu langsung saja menuju ranjang tempat Jasmine terbaring.
"Sayang, dia benar Jasmine. Dia adalah anak Kak Rose," ucap si wanita yang langsung menangis begitu melihat Jasmine.
"Benar. Syukurlah, akhirnya kita menemukannya," jawab si pria yang ternyata adalah suami dari si wanita.
Kini wanita itu beralih pada Mark, dari wajahnya seperti menyimpan banyak pertanyaan.
"Maaf, apa kau adalah suaminya Jasmine?" tanya wanita yang belum diketahui namanya itu.
Mark merasa mereka akan berbincang panjang, jadi ia mempersilakan tamunya untuk duduk di sofa yang tersedia di kamar VIP itu. Sepertinya Kedua orang ini ada hubungannya dengan Jasmine.
...Bersambung...
Jangan lupa Like, Vote & Comment
Terima kasih sudah membaca 🙏🏻😊
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 27 Episodes
Comments