...💠Selamat Membaca💠...
Saat ini Orion berada di dalam kamar Lucas. Kakaknya itu meminta waktu berdua agar mereka bisa berbincang dengan nyaman.
"Ada apa? Kau terlihat tidak bersemangat?" Tanya Lucas. Sedari tadi ia perhatikan adiknya itu hanya duduk dengan kepala tertunduk. Seperti ada beban berat yang membebani pundaknya.
"Aku tidak apa-apa, Kak." Orion berdusta. Ia sungkan untuk bercerita masalah yang kini dideritanya. "Kakak sendiri bagaimana? Sudah jauh lebih baik?"
Lucas mengangguk. "Ya, seperti yang kau lihat. Aku sudah jauh lebih baik setelah melewati terapi yang cukup lama."
"Maafkan aku, Kak. Aku tidak tahu kalau kau sudah sadar..." katanya bersalah.
"Tidak masalah." Lucas paham. Pasti orang tua mereka tidak memberi tahu Orion jika dirinya sudah sadar. Mungkin, mereka masih merasa kecewa pada perbuatan adiknya itu di masa lalu.
"Bagaimana pekerjaanmu di kantor?" tanya Lucas kemudian. Ia ingin sekali berbincang hangat seperti dulu dengan adiknya. Biasanya Orion akan berceloteh panjang lebar, tapi setelah tujuh tahun berlalu, adiknya menjadi pribadi yang sedikit pendiam.
"Semuanya baik-baik saja, Kak." Orion menjawab masih ala kadarnya. "Apa kakak akan kembali ke kantor?" tanyanya.
Perusahaan itu pada awalnya memang dipimpin oleh Lucas sebagai CEO. Namun, saat ia mengalami kecelakaan dan koma, posisi itu terpaksa harus diisi oleh Orion karena Felix yang sudah tidak sanggup lagi untuk menggantikannya.
"Ya... Daddy memintaku untuk kembali memimpin perusahaan."
Orion tersenyum miris. Sudah jelas, ayah mereka memang lebih mengungulkan kakaknya yang memang jenius. Perlahan tapi pasti, ia akan segera tersingkir. Terlebih, selama ia memimpin, perusahaan tidak mengalami perkembangan yang cukup berarti, lebih sering berjalan di tempat. Berbeda jika saat Lucas yang memimpin, hanya dalam dua tahun, dia sudah bisa melambungkan nama perusahaan hingga dikenal oleh negara tetangga.
"Kau mau kan, membantu kakakmu ini di kantor?" tanya Lucas. Ia tak ingin adiknya itu beranggapan jika dirinya tak lagi dibutuhkan.
Orion mendongak dan tersenyum. "Iya, Kak. Aku akan membantumu." Sedari dulu memang sang kakak yang ia rasa lebih peduli padanya dibandingkan sang ayah.
Tangan Lucas terangkat, ia mengusap pelan punggung Orion yang duduk di sampingnya. Dalam hati, pria itu merasa sangat kasihan pada sang adik. Enam tahun ini, pasti telah ia lalui dengam berat.
"Orion!"
"Ya, Kak?"
"Sudah punya kekasih?" tanya Lucas penasaran.
"Eh? Su-sudah." Orion memang memiliki kekasih, tapi entahlah... hubungannya dan Sophia saat ini tengah renggang.
"Kapan-kapan perkenalkan padaku!" pinta Lucas.
"I-iya, Kak." Orion hanya bisa mengiyakan. Apakah itu akan terjadi suatu hari nanti, ia tidak tahu.
"Hari ini kau tidak ke kantor?"
Pertanyaan kakaknya kali ini membuat Orion langsung melirik jam dinding. Sudah pukul 10, ia lupa kalau ada rapat penting sebelum makan siang.
"Sepertinya aku harus pergi, Kak. Ada rapat siang ini," katanya sembari bangkit.
"Ya sudah, pergilah! Semoga sukses!"
"Ku tinggal dulu, Kak. Nanti kita berbincang lagi."
Setelah pintu tertutup, Lucas segera meraih ponsel yang tergeletak di atas tempat tidurnya. Ia menghubungi seseorang.
"Selamat siang, Bos." Seseorang di seberang sana menyapa.
"Siang, bagaimana?" tanya Lucas langsung pada intinya.
"Saya sudah menemukannya, Bos. Saat ini orang yang anda cari ada di kawasan xxx. Apa anda ingin saya kirimkan semua data tentang dia, Bos? "
"Ya, kirimkan!"
"Baiklah, Bos."
"Lalu, kau sudah menemukan keberadaan gadis itu?"
"Maaf, Bos. Kalau untuk gadis yang satu itu, saya masih belum tahu di mana dia berada. Saya akan melanjutkan pencariannya."
"Baiklah, jika ada kabar terbaru, segera hubungi aku!"
"Tentu, Bos."
TIT
"Besok aku akan menemuimu..." Lucas tersenyum senang.
.......
Setelah rapat usai, Orion dan rekan bisnisnya lanjut makan siang di sebuah restoran yang terletak tak jauh dari gedung perkantoran.
Saat tengah menikmati makanannya, mata elang Orion menajam begitu melihat dua orang manusia berbeda jenis masuk ke dalam restoran yang sama dengannya. Dua orang itu memilih duduk di sudut ruangan.
"Sophia, kau sedang bertengkar denganku tapi dengan santainya kau malah jalan bersama dengan mantan kekasihmu. Dasar, wanita tidak setia!" rutuknya dalam hati.
Orion tak berniat menghampiri, ia cukup melihat dari kejauhan saja.
...----------------...
"Kalau begitu kami pergi dulu, Mr.Cannavaro. Semoga hubungan kerja sama kita dapat berjalan dengan baik."
"Aku juga berharap begitu." Setelah jabat tangan tanda perpisahan dengan rekan bisnisnya, Orion langsung menuju parkiran dan masuk ke dalam mobilnya. Ia tak lantas melajukan kendaraan beroda empat itu, karena tujuannya saat ini adalah mengikuti kemana Sophia dan pria perak itu pergi setelah makan siang.
Hampir lima belas menit menunggu, akhirnya Sophia dan pria yang bersamanya keluar. Mereka langsung menuju ke parkiran. Orion sedikit was-was kalau-kalau Sophia akan mengenali mobilnya, tapi untung saja itu tidak terjadi. Wanita itu melewati mobilnya begitu saja, karena sepertinya mereka berdua tampak terburu-buru.
Orion melajukan mobilnya begitu melihat mobil yang ditumpangi kekasihnya sudah bergerak lebih dahulu. Ia mengikutinya dari jarak aman.
Deg
Jantung Orion serasa berhenti berdetak saat matanya melihat bangunan tinggi yang menjadi tempat perhentian kekasihnya, sebuah hotel mewah berbintang. Tangannya langsung mengepal. "Apa yang akan kau lakukan di hotel ini, Sophia!" geramnya.
Tak ingin menjadi pecundang dengan hanya melihat dari jauh, kini Orion memilih mendekat. Ketika dua orang itu masuk dan memesan kamar, ia juga melakukannya. Ia memesan kamar yang bersebelahan dengan kamar yang dipesan Sophia.
BRUKK
Pintu ditutup kasar oleh dua orang yang baru saja masuk. Orion mendekat dan berdiri di depan pintu tersebut. Hatinya sakit kala menyadari jika wanita yang dicintainya tengah bersama dengan pria lain dalam sebuah kamar hotel. Apa yang mereka lakukan? Ah... tak perlu ditanyakan lagi. Sudah pasti mereka berdua akan bergumul panas demi melampiaskan hasrat yang membara di dalam tubuh. Orion sadar, ia tidak bisa memberikan hal itu dan Sophia mencarinya dari pria lain.
Cukup lama ia termenung, bahkan beberapa tamu hotel yang melewatinya, memandangnya aneh.
"Sudah cukup!" Orion menggeram dengan gigi yang bergemeletuk. Ia tak ingin menjadi orang bodoh yang hanya diam saat dirinya dikhianati.
Dengan napas memburu, ia mengetuk pintu kamar itu dengan keras agar dua orang di dalam sana mendengarnya. Berkali-kali, hingga saat tangannya mulai merasa kebas, baru pintu itu terbuka.
"Apa-apaan ini!"
Deg
Pria yang membukakan pintu langsung melototkan matanya begitu melihat kehadiran Orion.
"Minggir kau, sialan!" Dengan paksa, Orion menerobos masuk. Saat ini amarahnya sudah sampai diubun-ubun.
Deg
Tubuh Orion membeku. Apa yang tersaji di hadapannya kini sungguh membuat jiwanya seakan-akan dicerabut paksa dari raga. Kekasihnya, wanita yang ia cintai, tengah terbaring pasrah di atas tempat tidur, tanpa busana dan dengan tubuh yang dipenuhi bercak merah.
"SOPHIA!" Ia berteriak nyaring. Sontak hal itu membuat Sophia yang baru saja mendapatkan pelepasannya beberapa saat yang lalu menjadi terperanjat.
"O-orion?" Mata wanita itu melotot dengan wajah pucat pasi. Tangannya spontan menarik selimut dan menutupi tubuh polosnya yang beberapa menit yang lalu dijamah pria lain.
Orion berjalan menghampiri Sophia, wajah pria itu merah padam. Matanya menghunus tajam seakan ingin menguliti setiap jengkal tubuh mulus kekasihnya.
"O-orion... apa yang akan kau lakukan?" Sophia bergidik, ia takut Orion akan membunuhnya karena ketahuan bercinta dengan pria lain.
PLAKK
Telapak tangan besar dan kasar milik Orion mendarat dengan keras di pipi kanan Sophia. Wajah wanita itu sampai terlempar ke samping saking kuatnya tamparan itu.
"Wanita murahan!" bentak Orion murka.
Sophia menoleh cepat dan menatap Orion dengan mata nyalang. Napasnya memburu, seumur-umur ia tidak pernah diperlakukan kasar seperti ini. "Berani sekali kau menamparku?" hardiknya.
Orion tersenyum miring. "Kau pantas mendapatkannya, wanita murahan!"
"Hahahaha..." Sophia tertawa keras. "Setidaknya aku lebih beruntung darimu, aku bisa merasakan sensasinya bercinta, daripada kau..." Telunjuknya mengacung tepat ke muka Sasuke. "Pria lemah, IMP*T*N!"
Deg
Langkah Orion tersurut, tubuhnya kehilangan tenaga mendengar hinaan Sophia.
"Kau berubah, Sophia..." lirihnya.
"Hah? Aku berubah? Hahaha... justru inilah aku yang sesungguhnya. Selama dua tahun ini aku berusaha menjadi wanita baik, penurut dan selalu mencintaimu, tapi semenjak kau mengatakan jika aku ternyata bukanlah wanita yang seperti kau harapkan, aku mundur. Cari saja di luar sana, wanita yang masih suci, seperti harapanmu!"
Orion terdiam memikirkan ucapan Sophia.
"Dengarkan aku, Orion! Carilah di luar sana wanita yang masih suci, tapi aku tak yakin wanita seperti itu mau denganmu. Kenapa? Karena kau adalah pria lemah, sia-sia waktu dua tahunku yang berharga hanya dihabiskan untuk bersama dengan pria tak sempurna seperti dirimu!" Hinaan Sophia berlanjut, sementara Orion mematung di tempat.
Di belakang sana, pria selingkuhan Sophia menyaksikan adegan itu dengan senyuman puas. Akhirnya, misinya selesai.
"Sekarang kita bubar, aku tidak mau lagi bersama dengan pria lemah seperti dirimu! Jangankan untuk membuatku puas, senjatamu saja tidak bisa berdiri walau aku sudah merayumu sedemikian rupa. Cuih..."
"Sayang, ayo kita pindah kamar saja. Aku masih belum puas merasakan senjatamu yang perkasa itu?" Sophia berdiri dan menghampiri mantan kekasihnya dengan tubuh dibalut selimut.
"Bagaimana kalau kita melanjutkannya di sini saja? Di depan mantan kekasihmu?" Pria yang bert*l*njang dada itu menyeringai melihat wajah pias Orion.
"Ah... boleh juga."
Dua orang yang tidak punya malu itu langsung bergumul di hadapan Orion. Suara des*h*n dan er*ngan menjadi melodi mengerikan di telinganya. Ia sudah tidak sanggup lagi.
"Dasar binatang!" Setelah melayangkan umpatannya, Orion segera pergi meninggalkan kamar terkutuk itu.
...Bersambung...
Jangan lupa Like, Vote & Comment
Terima kasih sudah membaca 🙏🏻😊
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 27 Episodes
Comments