“Mencoba?” tanya Lil O. “kita masak berdua saja!” sambungnya segera saat melihat wajah kecewa Hafisa. “Tetapi, setelah semua ini beres.” lanjut Lil O lagi.
Semua barang yang dibeli Lil O telah tersusun dengan rapi, rumah baru itu. Kini, telah terlihat seperti rumah berpenghuni.
Lil O dan Hafisa memasak, lebih tepatnya Hafisa hanya membantu saja. Dia sebenarnya putri seorang konglomerat yang tidak pernah memasak, mencuci, melakukan hal berat. Kini, karena diusir ia harus mandiri.
Qiram hanya melihat dua orang itu sambil memakan cemilan yang ia beli.
“Lil, masak yang macamnya banyak, ya! Sedikit pun tidak apa. Aku ingin makan seperti di restoran besar.”
“Cerewet! Aku akan memasak seperti penjual rumah makan Padang, puas?!” sahut Lil O. “Aku juga sekalian memasakkan mie gomak!” sambungnya lagi.
“Wah, kau mau memasakkan aku mie daerahmu? Kau harus membuatnya enak, ya!”
“Mi gomak?” tanya Hafisa.
“Iya, mi besar ini.” jawab Lil O menunjukkan mie pada Hafisa.
“Kok seperti mi Aceh?”
“Bukan, beda lah! Mie Aceh lebih kecil dari ini. Sedangkan Mi gomak lebih besar dan penyek dari mie Aceh.” jelas Lil O.
Qiram tersenyum. Sebelumnya, Lil O pernah bekerja jadi apa saja, mulai dari kerja bangunan, taman jalan, tukang sampah, tukang angkat di pasar, stokar angkot, pelayan kafe dan pernah jadi tukang masak di ampera. Jadi, tak diragukan lagi jika dia jago masak.
Beberapa menu makanan sudah terhidang, mereka mulai makan dengan lahap.
“Wah, makanan ini sangat enak!” Qiram mengelus perutnya. “Sepertinya berat badanku bertambah, deh!” gumamnya lagi.
“Kamu sih, kayak ayam gadis bertelur, waktu itu rajin banget jalan, maraton, lari mulai pagi sampai malam, sekarang malah banyak makan, jarang gerak!” sahut Lil O.
Qiram cuma bisa menggaruk kepalanya, yang dikatakan Lil O benar, tidak salah. Waktu itu ia memiliki tugas berjalan, lalu tugas mencari senyum berbalas, jadi dia harus banyak keluar rumah. Sekarang, dia harus mencicipi banyak makanan demi uang agar kaya.
“Nanti, aku olah raga lagi, deh!” jawab Qiram, kemudian menarik kantong cemilan, melihat bungkusan yang paling kecil, yang belum pernah ia cicipi.
“Nah, baru juga dibilang, udah ngemil lagi!” sungut Lil O.
“Hehehe!” Qiram nyengir kuda.
Pagi-pagi sekali, Qiram bangun dan maraton, Kurang lebih satu jam ia berlari, ia pun memilih berhenti dan duduk ditepi jalan.
“Ah, itu ada ATM, aku harus mengambil uang dulu!” Qiram segera ke sana dan menarik 2 juta dari sana.
‘Saldo Anda Rp. 51.026.000,00.’
Setelah itu, Qiram berbelanja 2 kantong penuh jajanan yang berbeda-beda. Ia memakannya dengan lahap.
“Bagaimana jika aku coba sedikit saja, bukankah katanya hanya mencicipi?” pikir Qiram. “Tapi, ini jadi mubazir?!” Ia dilema dengan pikirannya sendiri.
“Ya, gak apa-apalah, mumpung gak ada Lil O yang marah! Aku habisin uang beberapa, tetapi dapatnya 'kan 10 juta!” Qiram mulai menghitung.
Ia pun membeli tiga kantong makanan penuh, berbeda-beda rasa dan bentuknya. Ia buka semua bungkus cemilan itu, ia makan sedikit demi sedikit.
“Selamat Anda telah menyelesaikan mencicipi 100 makanan berbeda, Anda mendapatkan 10 juta rupiah, selamat menikmatinya! Anda harus menyelesaikan mencicipi 700 macam makanan berbeda lagi!” Terdengar suara notifikasi memberitahukan Qiram
‘Saldo Anda Rp. 61.026.000,00.’
“Wah, ini sangat berpengaruh! Kalau begitu, bagaimana kalau aku berbelanja lagi?!” pikirnya. “Tunggu! Bagaimana kalau aku ke suatu tempat?”
Qiram pulang, mengganti pakaiannya, menarik uang sebanyak enam juta rupiah. Lalu, membeli banyak cemilan dan nasi bungkus. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Daerah tujuannya itu, dulunya, pernah menjadi tempat ia bersembunyi dari kejaran Soleman, namun hanya sebentar karena kehadiran mereka diberitahu oleh yang lain, karena diberi sogokan uang.
Qiram mendesah. “Soleman, apakah kehidupan keduaku ini, aku harus berurusan denganmu lagi? Tak bisakah aku dan kau tidak saling mengenal!” gumam Qiram. Separuh hatinya masih trauma pada pria itu.
Tak lama, Qiram pun sampai. Tempat kumuh, banyak tumpukan sampah, rumah-rumah peok dan bau.
Semua orang melihat mobil keren berhenti di kawasan kumuh mereka, sehingga mereka keluar seperti kerumunan semut.
Qiram melambaikan tangannya, memanggil salah satu anak. “Hai, Adik Kecil. Namaku Qiram, namamu siapa?” sapanya dengan tersenyum.
“A-aku Rezki.” jawabnya gugup.
“Kalau Kakak boleh tahu, anak-anak kecil yang tinggal di sini berapa orang? Lalu, berapa juga orang besarnya?” tanya Qiram.
“Kalau rumah di sini hanya 10 buah, anak-anak sebaya aku ada 40 orang, sedangkan orang besar hanya 20 orang. Akan tetapi, kami banyak tamu.” jawab Anak berusia kira-kira sembilan tahun itu.
“Oh! Kalau begitu, apakah Kakak boleh mampir?”
Anak laki-laki itu melihat lama Qiram, kemudian menoleh ke belakang, memberikan kode tangan. Terlihat orang dewasa itu mengangguk.
“Iya, Kakak boleh mampir.” jawabnya.
“Terimakasih, Rezki. Kakak minta tolong, ya, bawakan makanan Kakak.” ujar Qiram.
Qiram mengeluarkan banyak kantong makanan.
Rezki terdiam lama. “Kak, apakah aku boleh minta bantuan teman-teman?” tanyanya, Qiram mengangguk.
“Priiiit!” Anak itu bersiul, kemudian keluarlah banyak anak-anak. Qiram tersenyum melihatnya. Ia sudah tahu dimana anak-anak itu bersembunyi karena dulunya ia pernah bersembunyi juga bersama anak-anak dari kejaran para preman senior.
Qiram duduk di salah satu rumah gubuk itu, ia membuka kantong keresek makanannya, mengeluarkan semua cemilan itu dan membagi nasi bungkus yang ia beli.
“Maaf, ya, aku gak tahu jumlah kalian. Nanti, jika aku main kemari lagi. Aku akan membeli sesuai jumlah.” ujar Qiram.
“Lalu, cemilan ini, kita makan bersama, ya.”
Alasan Qiram tak membagi cemilan itu perorangan, karena ia ingin mencicipinya satu persatu, lebihnya bisa dimakan oleh mereka beramai-ramai dari pada mubazir. Sedangkan nasi bungkus, ia tak mungkin mencicipinya, makanya ia bagi perorangan.
“Anak-anak ada 40 orang di sini, ya, Bu?” tanya Qiram pada Ibu paruh baya.
“Tadinya iya, Nak. Akan tetapi, sekarang jumlahnya sudah 48 orang, diantaranya ada 3 bayi yang dibuang orang tuanya.” jawab Ibu itu menjelaskan.
“Dibuang?!” tanya Qiram terlonjak.
“Iya, tiga bayi itu di letakkan di tumpukan sampah itu!” tunjuk Ibu itu. Qiram mendengarnya meneteskan air mata.
Ia merasa bersyukur karena terlahir dari rahim Ibu yang mencintainya, hanya karena takdir Tuhan saja mereka berpisah, ibu pergi terlebih dahulu dijemput Sang Pencipta.
Qiram berbincang-bincang dengan mereka sambil mencicipi cemilan bersama. Mereka terlihat antusias bercerita, saling menyahuti.
“Aku sangat senang berkunjung kemari. Namaku Qiram,” kata Qiram, kemudian ia berdiri dan mengeluarkan bongkahan uang 20.000 rupiah yang ditariknya dari bank.
Ia membagi rata semua orang, tidak terkecuali siapapun yang ada di sana. Ia menghabiskan uang sebesar Rp. 1.360.000,00.
“Ini khusus 3 juta untuk Ibu, karena ibu yang merawat tiga bayi itu. Ini untuk beli susu dan makanannya.” ucap Qiram.
“Lain kali, aku akan datang kemari dengan membawa beras dan sembako lainnya yang dibutuhkan.” Qiram tersenyum.
Mereka semua menangis terharu. Wanita yang ia beri uang 3 juta itu adalah pemimpin dari tempat ini. Dia yang memiliki keputusan mutlak.
Qiram meneguk teh hangat buatan ibu itu sebelum berangkat pergi.
“Selamat Anda telah menyelesaikan mencicipi 100 makanan berbeda, Anda mendapatkan 10 juta rupiah, selamat menikmatinya! Anda harus menyelesaikan mencicipi 600 macam makanan berbeda lagi!” Terdengar suara notifikasi memberitahukan Qiram.
‘Saldo Anda Rp. 65.026.000,00.’
Qiram tersenyum melihat notifikasi itu, tadinya uang itu tersisa 55 juta lagi karena ia ambil 6 juta. Kini, sudah 65 juta rupiah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments
Leader
tuhhkann bener 🤣
2022-10-05
0
Leader
langkah yang bagus Lil o, jangan biarkan dia mengbil alih🤣
2022-10-05
0
ZasNov
Beruntungnya jadi Qiram, bisa punya banyak uang sekaligus berbagi dengan orang2 yang membutuhkan..🤩
Benar2 definisi kaya yang sesungguhnya.. ☺️👍
2022-05-20
1