“Saldo Anda Rp. 53.026.000,00.” gumam Qiram pelan, namun Hafisa bisa mendengarnya.
“Apanya yang 53?” tanya Hafisa.
“Aku ingin mencicipi 53 macam makanan lgi.” jawab Qiram tersenyum.
Ya, tadinya uang yang dimiliki Qiram 54 juta 500 ribu rupiah, pagi hari ia memberikannya pada Lil O untuk membeli perabot, sisa 44 juta 500 ribu rupiah. Kemudian, ia menarik 1 juta 500 ribu rupiah lagi, untuk pegangannya di dompet dan membayar biaya klinik Hafisa. Jadi, sisa uangnya 43 juta rupiah lagi. Sedangkan barusan, ia mendapatkan notifikasi kalau ia telah menyelesaikan tugas mencicipi 100 macam makanan, jadi uangnya bertambah kembali menjadi 53 juta rupiah.
“Aku ingin menjemput peliharaanku, ayo, kita ke sana!” ajak Qiram.
“Ayo.” jawab Hafisa.
Qiram melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, “Nona.”
“Jangan panggil aku nona, Qiram! Namaku Hafisa.” cegat Hafisa segera. Dia merasa tak nyaman dipanggil nona oleh orang yang menyelamatkannya.
“Hm, baiklah.” ucap Qiram. “Hafisa,” panggil Qiram, Hafisa menoleh.
“Iya,”
“Jika seandainya nanti ... ayah dari bayimu datang, apakah kamu akan memberikan padanya?” tanya Qiram, membuat wajah Hafisa tampak berubah suram.
“Maaf, bukan maksudku mengusik masalah pribadimu. Tetapi, aku hanya ingin memastikannya saja.” tutur Qiram pelan.
“Dia telah mencampakkan aku dan anakku! Gara-gara dia, aku di usir, gara-gara dia, hidupku hancur... huhuhu....” Hafisa tiba-tiba menjawabnya dengan menangis.
“Maaf, maaf.” ujar Qiram khawatir, ia menepikan mobilnya. “Maafkan aku, Hafisa.” Qiram membuka sabuk pengamannya, mendekat ke arah Hafisa, langsung memeluknya erat.
“Maaf, maafkan aku, Hafisa.” Hanya itu yang bisa ia ucapkan saat menghadapi wanita menangis.
Qiram ingat, waktu kehidupan masa lalunya, Hafisa juga memeluknya saat itu. Kemudian, Hafisa menghilang dari dunia pertelevisian setelah berita scandalnya menjadi pelakor dan memiliki anak.
“Hafisa, aku tak berniat membuka lukamu, aku hanya ingin kamu dan anakmu baik-baik saja. Jika anak ini lahir nanti, aku akan merawatnya dengan baik. Kamu bisa melanjutkan sekolah dan cita-citamu menjadi artis.”
“Ba-bagaimana kamu tahu kalau aku ingin jadi artis?” tanya Hafisa, ia melirik Qiram dan mencoba melepaskan pelukan Qiram.
“Ah, maaf. Aku hanya bermaksud menenangkanmu. Tidak berniat macam-macam.” jelas Qiram melepaskan pelukannya, khawatir Hafisa buruk sangka.
“Aku tahu, saat membantu mengemasi barang-barangmu. Aku melihat brosur tes.” jawab Qiram.
“Oh..., iya, aku memang ingin menjadi artis. Tetapi, sekarang sudah tak ada artinya lagi...” lirih Hafisa. “semuanya sudah hancur.”
“Tidak, aku akan mendukungmu. Kamu harus semangat.” ujar Qiram tersenyum. “Sudah, jangan menangis lagi, ya. Nanti bayimu bisa ikut sedih juga.” Qiram melirik perut datar Hafisa.
Hafisa menghapus air matanya, kemudian tersenyum. “Makasih, Qiram. Kamu sangat baik padaku,” katanya.
Qiram telah sampai di klinik hewan milik Raina Ozra. Hafisa yang tadinya menangis, malah sedang tertidur pulas di atas mobil.
Qiram keluar sendirian, ia tak ingin membangunkan Hafisa yang telah tertidur lelap.
“Siang, Tuan Qiram.” sapa Raina.
“Siang, Nona Raina.” balas Qiram. “bagaimana keadaan Gippong? Apakah aku sudah bisa membawanya?” tanya Qiram.
“Gippong sudah membaik, ayo, mari!” ajak Raina membawa Qiram masuk ke dalam ruangan kucing-kucing yang dikandangkan.
“Meong! Meong!” Gippong langsung menyapa dan bermanja-manja pada Qiram.
“Wah, kau sudah sehat, ya. Sudah lincah!” Qiram berkata pada kucingnya.
“Meong! Meong!” Kucing itu mengeluarkan kepalanya, ekornya bergoyang-goyang.
“Wah, sepertinya Gippong juga rindu.” ucap Raina, ia mengelus kepala kucing berwarna hitam itu.
“Iya.”
“Oh, ya, Nona Raina. Apakah kamu sudah menemukan tempat baru yang kita bicarakan saat itu?” tanya Qiram.
“Belum, Tuan. Masih dalam pencarian.”
“Oh, nanti kabari saja, ya. Hm, ini berapa biayanya?”
“Ah, Tuan Qiram. Kita adalah partner bisnis, aku juga suka Gippong.”
“Bisnis tetap bisnis. Aku harus tetap bayar diong.” ucap Qiram.
“Tidak usah, Tuan Qiram.” tolak Raina.
“Kalau kamu tidak mau menyebutkan, ya sudah,” kata Qiram, ia berjalan ke arah luar, melihat tabel harga. Lalu memasukkan ke kandang kucing dengan tersenyum.
“Tuan Qiram.”
“Ssst, sudah, Nona, aku bawa Gippong pulang dulu, ya!” teriak Qiram, lalu pergi keluar dari klinik itu.
“Hufft!” Raina menghembuskan nafasnya, kemudian mengambil uang yang diletakkan oleh Qiram, bahkan pria itu membayarnya lebih.
“Dia pria yang baik.” gumam Raina.
Qiram menggendong Gippong ke dalam mobil, Hafisa pun juga sudah terbangun.
“Kamu sudah bangun?” tanya Qiram.
“Iya.” jawab Hafisa serak.
“Meong! Meong!” Gippong mengeong, expresi kucing itu terlihat marah.
“Hei, ada apa? Kau lapar?” tanya Qiram.
“Meong! Meong!”
“Sepertinya kucing ini tidak suka denganku.” ucap Hafisa.
“Masa, sih? Aku kira karena dia lapar.
“Hei, diamlah! Aku akan membeli makanan untukmu. Jadi, kamu diamlah!” Qiram menepuk-nepuk pantat kucing itu pelan. Lalu, meletakkan kucing itu di belakang kursinya.
Qiram kembali melajukan mobilnya, meminta Hafisa berbelanja di pusat perbelanjaan, karena Gippong terus mengeong.
“Tolong belikan makanan kucing ya, lalu sayuran dan beberapa makanan, secukup uang ini saja, ya.” pinta Qiram memberikan uang pada Hafisa.
Sekarang uang yang tersisa dikantong Qiram hanya 50.000 rupiah, minyak mobil masih full karena tadi pagi sebelum berangkat ia telah mengisi penuh di Pertamina.
Lebih dari satu jam, Hafisa juga belum keluar dari dalam pusat perbelanjaan, membuat Qiram jadi khawatir. “Diamlah di dalam mobil, aku harus melihatnya!” ucapnya pada Gippong.
Baru saja berniat, Hafisa telah keluar bersama seorang baju seragam, sepertinya ia minta bantuan untuk membawakan barang belanjaan.
Hafisa memberika tips kepada orang itu, setelah membantu memasukkan semua barang belanjaan ke dalam mobil.
“Kamu belanjanya kok bisa sebanyak itu?” Qiram menatap banyak kantong memenuhi mobil kerennya.
“Biar aku yang bawa mobil, Kucingnya kamu peluk saja.”
“Ok.” Qiram memberikan kunci mobilnya pada Hafisa.
Sebenarnya Hafisa penasaran apa pekerjaan Qiram, sehingga dia bisa beli rumah dan mobil keren ini? Tetapi, dia segan untuk bertanya. Apalagi kemarin mereka membahas bekerja menjadi badut, lalu tadi ia juga ikut lomba makan. Hafisa khawatir jika pertanyaan itu sensitif bagi Qiram, mungkin pria di sampingnya ini bekerja keras apapun itu dan menabungnya sudah lama, pikir Hafisa.
Tak lama, mereka sampai di rumah, tampak Lil O sibuk meminta orang memindahkan barang-barang.
Qiram tersenyum, Lil O membeli kulkas, televisi, sofa, tempat tidur dan banyak perabot lainnya. Tidak salah lagi, Lil O memang ahli bagian beli membeli ini.
“Bagaimana? Kau suka?” tanya Lil O.
“Tentu!”
“Wah, Gippong! Kau sudah kembali?!” Lil O langsung menggendong kucing hitam itu, dia pun juga bermanja-manja pada Lil O.
“Kalau begitu, aku memasak, ya!” ucap Hafisa.
“Kamu bisa?” tanya Lil O. Hafisa tersenyum canggung, lalu menjawab.
“Aku akan mencobanya.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments
Leader
sebaiknya hentikan niat baikmu itu, aku yakin kau tidak pernah memegang panci sebelumnya🤣
2022-10-05
0
Leader
selama ini kukiranya Kocheng Oren, soalnya Barbar gitu🤣
2022-10-05
0
Leader
ngeles nya jago bat🤣
2022-10-05
0