Qiram mengernyit saat seorang pemuda mengenalnya. “Hei, kalian, kemarin bantu Kakak!” panggilnya pada para pria berjas. Mereka adalah para pengawalnya.
“Kakak bekerja di sini?” tanyanya lagi, Qiram masih saja diam. Cukup lama, barulah ia ingat, remaja ini saat itu dikeroyok oleh beberapa preman.
“Ayo, kita obati dulu lebam dan memar Kakak!” ajaknya.
Qiram dibawa ke klinik terdekat, beberapakali Qiram meringis karena merasakan perih saat lukanya diobati. Lil O juga berdiri di samping Qiram menemaninya, pemuda itu baik-baik saja.
Setelah Qiram diobati, pria remaja itu mendekat dan memberikan Qiram dan Lil O sebotol air mineral.
“Minumlah dulu, Kak.” ucapnya.
“Terimakasih,” jawab Qiram dan Lil O mengambil minuman itu.
“Para preman itu sudah diurus, Kakak akan aman bekerja ditempat itu mulai besok, jangan khawatir.” tutur pria remaja itu dengan tersenyum manis.
“Terimakasih, kau tak perlu repot-repot, hutang Budi diantara kita sudah lunas, kali ini kau juga menolongku.” jawab Qiram. Ia sungguh tidak suka dengan orang-orang kaya, apalagi yang memiliki banyak bawahan seperti yang terlihat olehnya sekarang.
Masih jelas diingatannya, dikehidupan sebelumnya hanya karena tak sengaja menabrak seseorang, ia sudah meminta maaf berulang kali, bahkan lutut dan tangannya terluka karena terjerembab juga, tetapi tanpa ampun dia dihajar oleh para pengawal. Orang itu hanya berjalan acuh setelah berdiri, mengabaikan dirinya yang babak belur karena pukulan dan tendangan bawahannya.
“Tidak, kebaikan Kakak akan selalu saya ingat. Sedangkan yang saya lakukan hanya sebuah keterlambatan, Kakak sudah terluka dan memar begini, baru saya datang.” jawabnya.
Qiram menghela nafas panjang, kemudian bertanya, “Kenapa kau bisa mengenal wajahku? Padahal aku menggunakan riasan badut? Lalu, aku juga memar begini, sehingga wajahku mungkin gak jelas lagi.”
“Oh itu, tadinya saya sedang menikmati udara sore hari, ingin berlari-lari kecil, namun saat saya melihat anak-anak kecil berfoto dengan Kakak, saya tertarik dan memperhatikan. Hingga Kakak membuka penutup kepala, Kakak minum, setelah itu saya melihat dari cara Kakak menghajar para preman itu. Kakak sangat keren!” ujar pria remaja itu antusias.
Menurutnya gaya Qiram saat meninju itu terlihat berbeda, berkelas dan pemberani. Padahal Qiram seperti itu, karena saking takut dan trauma akan kehidupan masa lalunya, sehingga ia menjadi tak terkontrol, mengamuk, meninju tanpa arah.
“Keren apanya?! Kalau keren itu, aku tidak memar dan babak belur begini!” ucap Qiram menunjuk mukanya.
“Hehehe, ya itu biasa, kakak cuma satu orang, mereka banyak, jadi wajarlah. Tetapi kakak benar-benar keren. Oh ya, perkenalkan Kak, namaku Rangga Albusro, putra ketiga Bambang Albusro.” Pemuda remaja itu memperkenalkan dirinya.
“Oh, salam kenal.” jawab Qiram. “Kenalkan juga, dia teman dekatku, namanya Lil O.” lanjut Qiram lagi.
“Rangga Albusro!” Ia mengulurkan tangannya pada Lil O.
“Lil O.” jawab Lil O menyambut tangan itu.
~~
Pemuda remaja itu hendak mengantar Lil O dan Qiram pulang, namun Qiram menolaknya, ia merasa kepadanya sangat baik, hanya wajah saja yang nyeri. Ia masih ingin mencari banyak uang dengan menjadi badut.
Akhirnya, Rangga tak bisa berbuat apa-apa lagi, kecuali melihat atraksi Lil O dan Qiram kembali dilapangan, mereka melawak, membuat lelucon agar orang tertawa dan tersenyum.
“Selamat Anda menyelesaikan 1000 senyuman berbalas, Anda mendapatkan 500.000 rupiah, selamat menikmatinya! Anda harus menyelesaikan 49.000 senyuman berbalas lagi!” Terdengar suara notifikasi memberitahukan.
‘Saldo Anda Rp. 17.026.000,00.’
“Selamat Anda menyelesaikan 1000 senyuman berbalas, Anda mendapatkan 500.000 rupiah, selamat menikmatinya! Anda harus menyelesaikan 48.000 senyuman berbalas lagi!” Terdengar suara notifikasi memberitahukan.
‘Saldo Anda Rp. 17.526.000,00.’
Entah beberapa kali suara notifikasi terdengar, Qiram masih bersemangat, ia ingin mengumpulkan banyak uang, agar terlepas jauh dari Soleman the gank.
“Tuan Muda, jam sudah menunjukkan jam 10 malam, besok Anda akan ke sekolah, takutnya terlambat jika Anda telat tidur.” Salah satu dari pria berjas yang mengawalnya mendekat dan berucap.
“Oh, baiklah. Tunggu sebentar, aku akan berpamitan dulu kepada Kak Qiram!” jawabnya.
Ia berjalan mendekat ke arah Qiram dan Lil O. “Kakak kapan pulang?” tanyanya setelah mendekat.
“Masih lama. Kami bisa pulang, tak perlu repot-repot menunggu. Kami tak ingin menyusahkanmu!”
“Iya. Kalau begitu aku pulang dulu, Kak. Ini sedikit buat Kakak. Semangat bekerja, Kak!” Rangga memberikan sebuah amplop padat berisi uang.
“Tidak usah!” tolak Qiram.
“Terima saja Kak! Tidak boleh menolak rezki. Sejak tadi aku menikmati atraksi Kakak di sana, jadi ini upah atas kerja keras Kakak, sama seperti mereka yang memberikan kakak upah.” sahutnya dengan tersenyum, kemudian pergi sembari melambaikan tangan.
“Wah, dapat rezki tambahan!” seru Lil O.
“Simpan!” Qiram memberikan amplop itu pada Lil O, karena sumbangan yang diberikan beberapa pengunjung yang mereka hibur, memang Lil O yang memegangnya.
Malam sudah mulai gelap, pengunjung pun sudah pada pulang dan lapangan ini sudah mulai sepi. Qiram dan Lil O, membuka kostum dan membersihkan riasannya.
“Wah, tak disangka, kantong ini penuh!” seru Lil O.
“Kalau begitu, ayo kita beli makanan enak dan pulang ke Motel!” ajak Qiram.
Sepanjang jalan, mereka membeli nasi goreng, bakso bakar dan telur gulung, Qiram masih menyempatkan menebar senyuman, hingga mereka sampai dimeja resepsionis motel.
Ting!
“Selamat Anda menyelesaikan 1000 senyuman berbalas, Anda mendapatkan 500.000 rupiah, selamat menikmatinya! Anda harus menyelesaikan 40.000 senyuman berbalas lagi!” Terdengar suara notifikasi memberitahukan.
‘Saldo Anda Rp. 21.526.000,00.’
Senyuman Qiram semakin terkembang saat melihat notifikasi saldonya yang sudah berjumlah 21 juta.
Mereka berdua masuk ke dalam kamar, mandi dan berganti baju. Setelahnya Lil O langsung mengeluarkan semua uang di dalam kantong itu.
“Ayo Qiram, kita hitung uang yang kita dapatkan hari ini, saat menjadi badut!”
“Aku lapar!” jawab Qiram, ia sudah terlebih dahulu membuka bungkus telur gulung dan bakso bakar, memasukkan semuanya kedalam piring dan menuangkan kuahnya ke dalam.
“Kalau begitu, biar aku yang hitung, kau makanlah terlebih dahulu!” ujar Lil O.
Qiram hanya tersenyum, ia membawa nasi goreng dan meletakkannya dihadapan Lil O beserta air minum. Lalu, mengambil untuknya juga.
“Hei, aku mau menghitung ini dulu!” seru Lil O.
“Lebih baik, isi perut kita dulu! Baru menghitungnya!” ucap Qiram tergelak.
“Ah, baiklah kau menang!” Lil O mengalah dan mengambil nasi goreng itu.
Mereka berdua makan dengan sangat lahap.
Setelah menghabiskan makanannya, Lil O dan Qiram mulai menghitung uang-uang receh itu.
“Wah, Qiram, apa aku tak salah lihat? Uang ini jumlahnya satu juta lima ratus ribu?! Aku akan mengulang menghitungnya kembali!”
Qiram menghitungnya kembali, jumlahnya memang satu juta lima ratus ribu rupiah. “Qiram, ini sangat luar biasa, uang yang kita dapatkan ini, setengah bulan gajian biasa kita!”
Wajah Lil O berbinar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments
Leader
keren yang tidak disengaja🤣
2022-10-05
0
ZasNov
Ya sudah bekerja jadi badut saja, sambil menyelam minum air..
Dapat uang di rekening, dapat uang dari penonton juga kan..😄
Rangga pemuda yang baik meskipun dia orang kaya..Semoga tidak ada masalah kedepannya..
Sepertinya Qiram sangat tidak suka dengan orang kaya..
2022-04-26
3
Anonymous
gas Kun!
2022-01-16
1