Menelfon Bu Dokter

Qiram hanya tersenyum saat mendapati senyuman bahagia dari wajah sahabat yang pernah ia lukai perasaannya dikehidupannya yang lalu.

“Lil O, maafkan aku ya!”

“Heh? Maafkan tentang apa?” jawab Lil O.

“Maafkan atas semua kesalahanku yang pernah aku perbuat setiap kehidupanku, mulai dari kehidupan silam di masa lalu dan hari ini.”

Lil O menepuk pundak Qiram. “Aku tak pernah merasa kau melakukan kesalahan apapun, aku sudah menganggap kau seperti saudara kandungku. Setiap saudara saat memiliki kesalahan, bukan hanya harus diberikan maaf, tapi juga harus dibimbing dan digenggam agar selamanya bersama menuju jalan kebaikan.”

Qiram langsung memeluk Lil O. “Kau memang sahabat sejati!”

Lil O menepuk-nepuk kepala Qiram. “Sudah, badanku bisa remuk nanti kau peluk, aku juga masih normal! Jangan peluk lama-lama!” kelakar Lil O.

Qiram menonjok ringan bahu Lil O. “Sialan kau! aku juga normal kali!

“Nah, karena uangnya dapat satu juta lima ratus, satu juta kita simpan untuk mencari kontrakan baru, sedangkan lima ratus ribu ini kita bagi dua!” jelas Lil O. Ia membagi-bagi uang itu.

“Kau lupa, masih ada satu amplop yang belum dibuka!” kata Qiram mengingatkan.

“Eh, itu amplop buat kau seorang!” jawab Lil O.

“Bukan, untuk kita berdua.” Qiram langsung membuka amplop itu, isinya ada tiga juta rupiah.

“Nah, jumlah uang keseluruhan empat juta lima ratus ribu, jadi kita simpan tiga juta lima ratus, sedangkan satu jutanya kita bagi dua!” usul Qiram.

“Tapi-”

“Sudah! Bukankah kau berkata kita berdua saudara?”

Qiram mengangguk.

“Nah, kalau begitu simpanlah!” Qiram mengambil lima ratus ribu, selebihnya mendorongnya pada Lil O.

“Oh, ya, aku keluar sebentar dulu, ya!”

“Kemana?”

“Cari angin!” teriak Qiram, ia sudah berjalan keluar.

~~

Qiram mengetuk pintu kamar motel Hafisa.

“Nona Hafisa, ini saya!” ucapnya dari luar pintu.

Ceklek! Pintu dibuka.

“Maaf, berantakan! Aku sedang makan!” jelas Hafisa.

Kamar itu berantakan bekas kotak-kotak makanan, seperti mie, plastik makanan ringan dan lainnya yang tidak sehat.

“Nona, tolong perhatikan makanan Anda, makanan seperti ini tidak sehat untuk janin, usia kehamilan Anda sangatlah muda.” ucap Qiram khawatir.

Ya, ia memang belum pernah menikah, namun dikehidupan sebelumnya, ia pernah melihat seorang wanita hamil pendarahan hanya karena memakan makanan tak sehat. Anak yang dikandungnya tidak mendapatkan gizi yang cukup sehingga tidak bertahan di dalam rahim.

Waktu itu ia membantu ibu hamil itu dan membawanya ke klinik, suami ibu hamil itu datang dari pulang kerja terburu-buru dengan menangis dan menyalahkan sang istri.

“Maaf, bukan maksudku melarang dan mengekangmu!” ujar Qiram kembali setelah teringat suami wanita hamil itu. Perbuatan pria itu malah membuat mental sang ibu hamil semakin down.

“Aku hanya khawatir saja. Memakan makanan jadi seperti ini tidak baik.” jelas Qiram hati-hati, ia tak ingin membuat perasaan Hafisa berantakan. Menurut yang ia ketahui, wanita hamil muda itu sangat sensitif.

“Iya, aku tahu. Terimakasih, tapi makanan seperti ini lebih hemat dan membuat kenyang.”

“Tidak usah terlalu berhemat Nona, yang penting belilah makanan sehat untuk bayi ini.” sahut Qiram lagi, menatap perut datar Hafisa.

“Ini, aku mendapatkan cukup uang hari ini. Belilah makanan sehat, besok aku akan kembali lagi, jika aku mendapatkan uang.” Qiram memberikan empat ratus ribu ke tangan Hafisa.

“I-ini... bukannya kemarin kau baru memberikanku uang lima ratus ribu. Sekarang kau memberikannya lagi.“

“Iya, agar kamu membeli makanan sehat untuk bayi itu. Kalau begitu, aku keluar dulu, Nona.” Qiram memilih keluar dari kamar itu segera. Kemudian menelfon seseorang.

Tuuuut! Panggilan berdering, tak lama panggilan itu diangkat. Qiram menelfon di lorong-lorong kamar motel itu dengan suara pelan.

“Malam Dokter Aini Farha!”

‘Ya, Malam.’

“Maaf, telah mengganggu Anda malam-malam begini, Bu Dokter.”

‘Ya, tidak apa-apa. Saya juga belum tidur, ada apa? Apa kaki Anda kembali sakit?’ tanya Dokter Aini Farha.

“Tidak Dok, tetapi saya mendapatkan luka baru. Saya dihajar preman kembali.” jawab Qiram.

Terdengar Aini terkekeh kecil di sebrang sana. ‘Pria memang begitu ya, selalu saja tawuran.’ ujarnya masih terkekeh.

“Bukan Bu Dokter, tetapi mereka yang mencari masalah dan memukulku.” Qiram membela diri.

'Baiklah, anggap saja aku percaya!'

Qiram mengerucutkan bibirnya. “Besok pagi, Bu Dokter buka jam berapa? Aku ingin berobat ke sana!”

‘Pendaftaran mulai buka jam 9 pagi, tapi jadwal praktekku jam 11 sampai jam 4 sore.’ jelas Dokter Aini Farha.

“Oh, kalau begitu, aku daftar duluan ya, Bu. Aku akan datang jam 1 siang ke sana.”

‘Baiklah.’

“Kalau begitu, terimakasih Bu Dokter. Aku matikan dulu, maaf mengganggu ya. Selamat malam!”

‘Ya, selamat malam.’

“Yes! Akhirnya, aku punya alasan untuk bertemu Bu dokter yang baik hati, setelah jam makan siang besok, aku akan ke sana!” ucap Qiram bersemangat, kemudian ia kembali masuk ke dalam kamarnya.

“Dari mana saja?” tanya Lil O yang sudah memilih berbaring di ranjang.

“Habis nelfon Bu Dokter Aini Farha.” jawab Qiram, ia langsung melepaskan bajunya, dan memilih berbaring di samping Lil O.

“Eh? Kau ngincer Bu Dokter cantik itu?! Aku ngingetin aja sebagai sahabat! Jangan terlalu berharap dengan kita yang miskin dan burikan ini! Takutnya, nanti kau kecewa!”

“Iya, iya. Aku tahu! Aku cuma nelfon mau berobat besok ke sana!"

“Kan tadi sudah diobati di klinik? Ngapain berobat lagi!”

“Ya, sekalian bertemu Bu Dokter lah!” jawab Qiram.

“Dasar! Hahahaha!” Lil O terkekeh.

~~

Ke esokan harinya.

Lil O dan Qiram kembali menjadi badut, mengais rezki sambil menebarkan senyuman.

“Selamat Anda menyelesaikan 1000 senyuman berbalas, Anda mendapatkan 500.000 rupiah, selamat menikmatinya! Anda harus menyelesaikan 39.000 senyuman berbalas lagi!” Terdengar suara notifikasi memberitahukan.

‘Saldo Anda Rp. 22.026.000,00.’

Baru saja jam 7 pagi, Qiram sudah mengumpulkan seribu senyuman, mungkin karena hari ini minggu, banyak anak-anak yang sedang libur dan bermain dengan keluargannya.

“Selamat Anda menyelesaikan 1000 senyuman berbalas, Anda mendapatkan 500.000 rupiah, selamat menikmatinya! Anda harus menyelesaikan 29.000 senyuman berbalas lagi!” Terdengar suara notifikasi memberitahukan.

‘Saldo Anda Rp. 26.526.000,00.’

Qiram telah mengumpulkan tambahan senyuman berbalas hingga jam 1 siang.

“Lil, aku cabut dulu ya! Kamu lanjutkan sendirian gak apa-apa 'kan?”

“Iya, gak apa-apa.” sahut Lil O.

“Tapi... mungkin aku agak lama. Soalnya, setelah ke klinik Dokter Aini Farha, aku mau pergi ke klinik hewan, menjemput Gippong!” jelas Qiram.

“Oh. Iya, aku juga sudah rindu ingin bermain bersama Gippong. Kau hati-hati ya!”

“Ok!” Qiram pun memilih pergi menggunakan ojek ke klinik Dokter Aini Farha.

Terpopuler

Comments

Leader

Leader

bab yang isinya cewek cantik🤣

2022-10-05

0

Leader

Leader

mencari alasan demi dokter cantik🤣

2022-10-05

0

Leader

Leader

ciri khas pria🤣

2022-10-05

0

lihat semua
Episodes
1 Hidup Kembali
2 Kabur untuk Menghindari
3 Tugas
4 Dokter Aini Farha
5 Bertemu Perempuan Cantik Menarik Koper
6 Hafisa Inaya
7 Hewan Peliharaan
8 Gippong
9 Bertemu Soleman
10 Hutang Tak Jelas
11 Jadi Badut
12 Rangga Albusro
13 Menelfon Bu Dokter
14 Rencana Raina Ozra
15 Keahlianku?
16 Memesan Makanan
17 Lomba Makan
18 Menjemput Gippong
19 Daerah Kumuh
20 Hadiah Guru
21 Menyewa Kios
22 Memar
23 Pria tua
24 Professor
25 Putus
26 Makan Bersama Dokter Aini
27 Dipukul
28 Diet
29 Berenang
30 Mematahkan Tangan Soleman
31 100 Milyar
32 Marissa
33 Investasi
34 Bertemu Kembali
35 Di Hotel
36 Malam Panjang
37 7 Bulan
38 Gippong Berdarah
39 Tabung Darah
40 Makan Besar di Pagi Hari
41 Mengambil Hadiah
42 Mansion Tuan Beneno
43 Bertemu Bobi
44 Mengganti Ban
45 Ke Selatan
46 Ke Rumah Sakit
47 Bayi Prematur
48 Perusahaan Otomotif
49 Melahirkan Bayi Untukku
50 Bertemu Helmi
51 Keadaan Gippong
52 Mengubur
53 Pohon Rimbun
54 Mencari Guci Emas
55 Kekuatan Asli
56 Ruang Rahasia
57 Tes Darah
58 Pergi ke Desa Petarung
59 Bertemu Jingga Mutiara
60 Buangtai!
61 Adik laki-lakiku
62 Mengantarkan Lenggo
63 Ulat Bulan
64 Marissa Hamil
65 Disiksa
66 Bisnis Roki Albusro
67 Aini Hamil
68 Musnah
69 Agresif
70 Mari Menikah.
71 Ingatan
72 Marissa menghilang
73 Tidak Terpilih
74 Mantan Kekasih Aini
75 Fashion
76 Permohonan Bertemu Marissa
77 Cerita Tuan Beneno
78 Pangeran Dardail
79 Pilihan yang Tepat
80 ASI
81 Aini Kabur
82 Menikah dengan Hafisa
83 Tak Ada Baju
84 Makan dengan Cucu
85 Asyifa Melati
86 Ke Penjara
87 Naik Pesawat
88 Berkunjung Ke Penjara
89 Kepergian Marissa Untuk Selamanya
90 Perubahan Bayi Pangeran
91 Memutar Waktu?
92 Masa Depan Kita
93 Grindelwald
94 Melati dan Rangga
95 Guci Emas Berubah Warna
96 Menjaga Guci
97 Professor Azrul Meninggal
98 Membawa Melati
99 membawa melati
100 Aini Kesakitan
101 Orion dan Vega
102 7 Tahun kemudian
103 TAMAT
Episodes

Updated 103 Episodes

1
Hidup Kembali
2
Kabur untuk Menghindari
3
Tugas
4
Dokter Aini Farha
5
Bertemu Perempuan Cantik Menarik Koper
6
Hafisa Inaya
7
Hewan Peliharaan
8
Gippong
9
Bertemu Soleman
10
Hutang Tak Jelas
11
Jadi Badut
12
Rangga Albusro
13
Menelfon Bu Dokter
14
Rencana Raina Ozra
15
Keahlianku?
16
Memesan Makanan
17
Lomba Makan
18
Menjemput Gippong
19
Daerah Kumuh
20
Hadiah Guru
21
Menyewa Kios
22
Memar
23
Pria tua
24
Professor
25
Putus
26
Makan Bersama Dokter Aini
27
Dipukul
28
Diet
29
Berenang
30
Mematahkan Tangan Soleman
31
100 Milyar
32
Marissa
33
Investasi
34
Bertemu Kembali
35
Di Hotel
36
Malam Panjang
37
7 Bulan
38
Gippong Berdarah
39
Tabung Darah
40
Makan Besar di Pagi Hari
41
Mengambil Hadiah
42
Mansion Tuan Beneno
43
Bertemu Bobi
44
Mengganti Ban
45
Ke Selatan
46
Ke Rumah Sakit
47
Bayi Prematur
48
Perusahaan Otomotif
49
Melahirkan Bayi Untukku
50
Bertemu Helmi
51
Keadaan Gippong
52
Mengubur
53
Pohon Rimbun
54
Mencari Guci Emas
55
Kekuatan Asli
56
Ruang Rahasia
57
Tes Darah
58
Pergi ke Desa Petarung
59
Bertemu Jingga Mutiara
60
Buangtai!
61
Adik laki-lakiku
62
Mengantarkan Lenggo
63
Ulat Bulan
64
Marissa Hamil
65
Disiksa
66
Bisnis Roki Albusro
67
Aini Hamil
68
Musnah
69
Agresif
70
Mari Menikah.
71
Ingatan
72
Marissa menghilang
73
Tidak Terpilih
74
Mantan Kekasih Aini
75
Fashion
76
Permohonan Bertemu Marissa
77
Cerita Tuan Beneno
78
Pangeran Dardail
79
Pilihan yang Tepat
80
ASI
81
Aini Kabur
82
Menikah dengan Hafisa
83
Tak Ada Baju
84
Makan dengan Cucu
85
Asyifa Melati
86
Ke Penjara
87
Naik Pesawat
88
Berkunjung Ke Penjara
89
Kepergian Marissa Untuk Selamanya
90
Perubahan Bayi Pangeran
91
Memutar Waktu?
92
Masa Depan Kita
93
Grindelwald
94
Melati dan Rangga
95
Guci Emas Berubah Warna
96
Menjaga Guci
97
Professor Azrul Meninggal
98
Membawa Melati
99
membawa melati
100
Aini Kesakitan
101
Orion dan Vega
102
7 Tahun kemudian
103
TAMAT

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!