Gippong

Setelah mandi, Qiram kembali berjalan sambil menggedong hewan peliharaannya. Hewan mungil itu sudah diobati. Kini, Qiram sedang membawanya ke toko perlengkapan kucing. Ia membeli kandang, makanan, peralatan lainnya dan tempat buang kotorannya.

Ia menghabiskan tabungannya sebesar 3 juta untuk hewan peliharaannya.

Ia terus-menerus menebar senyum, tentu saja ia mendapatkan balasan senyum di toko yang ia singgahi, karena para karyawan selalu tersenyum dengan ramah. Qiram sengaja berlama-lama, memilih-milih di sana, agar ia mendapatkan banyak senyuman balasan.

Setelahnya, ia juga membeli beberapa buah di toko buah, ia juga memperoleh banyak senyuman.

“Selamat Anda menyelesaikan 1000 senyuman berbalas, Anda akan mendapatkan 500.000 rupiah, selamat menikmatinya. Anda harus menyelesaikan 70.000 senyuman berbalas lagi!” Terdengar suara pemberitahuan.

‘Saldo Anda Rp. 7.276.000,00.’

Qiram terus menikmati berjalan-jalan sambil tersenyum, benar-benar senyuman yang membuat ia bahagia, karena memperoleh banyak uang.

“Sungguh enak menjadi pengangguran banyak uang!” gumamnya mengelus kucing yang ia beri nama Gippong.

“Selamat Anda menyelesaikan 1000 senyuman berbalas, Anda akan mendapatkan 500.000 rupiah, selamat menikmatinya. Anda harus menyelesaikan 69.000 senyuman berbalas lagi!” Terdengar kembali suara notifikasi itu.

‘Saldo Anda Rp. 8.276.000,00.’

“Wah, tinggal 69.000 lagi? Hari ini aku lumayan banyak mendapatkan senyuman berbalas. Senangnya!”

“Ah, aku antar dulu, barang-barang belanjaan ini pulang! Baru kembali lagi jalan-jalannya!” Qiram bergegas pulang, mengantar barang belanjaannya dan kembali lagi berjalan-jalan santai bersama Gippong dalam pelukannya.

“Meong! Meong!” Gippong mengeong.

“Hei ada apa? Kau lapar?” tanya Qiram.

“Baiklah, tunggu! Mari kita membeli paha ayam di kedai sana!”

“Meong! Meong! Meong!” Gippong semakin mengeong.

“Heh, bersabarlah! Kita sedang menuju kedai, aku akan membelikanmu paha ayam, sampai ketemu toko besar yang menjual makanan kucing.” ujar Qiram mengelus-elus Gippong.

Kucing itu terus saja mengeong. “Meong! Meong! Meong!”

‘Aih, lain kali aku akan membawa makanan kucing ukuran kecil, jadi saat dia mengeong, bisa kuberikan makan kapan saja, dimanapun.’ gumam Qiram.

Gippong pun melompat dari pangkuan Qiram sambil mengeong, berhenti sebentar menoleh pada Qiram dengan mengeong, lalu terus berjalan, menoleh kembali mengeong pada Qiram, seolah kucing itu berkata, ‘Kemarilah! Ikuti aku!’

Sampai di sana, Qiram melihat seorang remaja kecil sedang dipukuli oleh beberapa preman.

Qiram diam terpaku, “Heh! Ngapain kau di sana?! Mau ikut campur kau gembrot?!” tanya salah satu preman yang melihat Qiram menatap ke arah mereka.

“To...tolong!” ucap pemuda remaja itu minta tolong.

“A-aku hanya lewat saja!” ucap Qiram. “A-aku hanya ingin mengambil kucingku!” jawab Qiram, bergegas ia peluk Gippong.

“Meong! Meong! Meong!” Gippong terus mengeong.

“Ahahahha, tidak ada yang akan menolongmu, Bocah! Bahkan sigembrot barusan, berjalan saja dia susah!” ejek preman itu. Qiram bisa mendengarnya dengan jelas.

Mau bagaimana lagi, ia tak mungkin ikut campur dengan urusan orang lain. Dia tidak bisa berkelahi, badannya gemuk dan mudah lelah.

“Meong! Meong! Meong!” Gippong terus mengeong, bahkan semakin keras.

“Hei, berisik, tenanglah! Aku akan mencarikan makanan untukmu!” Qiram mengelus Gippong.

“Meeeeongggg!” Gippong mencakar tangan Qiram, lalu kembali meloncat turun dari pangkuan Qiram.

“Meong! Meong! Meong!” Gippong terus mengeong, menuju ke tempat preman tadi.

“Meeeoongg!” Gippong berlari ke arah preman itu. Ia menggigit dan mencakar para preman itu.

“Sialaaan! Bunuh kucing itu!”

Gippong terus mencakar dan menggigit, hingga tubuhnya dicengkeram dan ditendang oleh salah satu preman yang sudah berdarah-darah bekas cakaran Gippong.

“Gippong!” Qiram berlari ke arah kucing itu. Gippong terlihat memejamkan matanya, namun masih mengeong.

“Meong... meong...” Ia bersuara dengan pelan.

“Rupanya kau cari mati ya gembrot! Kau menyuruh kucing sialaan ini melukai kami!” Preman itu langsung menjambak rambut Qiram yang terduduk melihat kucing itu kesakitan.

Entah kenapa saat melihat kucing itu kesakitan, ia terbayang kehidupannya yang lalu, ia dipukul beberapa orang, dibully, padahal dia tak salah apa-apa, dikejar rentenir. Pandangan mata bening kucing berwarna emerald itu membuat darah Qiram mendidih. Ia terbayang bagaimana saat itu Lil O menghembuskan nafas terakhirnya, bahkan masih mengingat dirinya untuk menyelamatkan diri sendiri.

“Pukul dia!” perintah ketua preman itu.

Qiram masih diam saat menerima satu sampai dua pukulan, karena pikirannya masih melayang pada kehidupan masa lalu. Tetapi setelahnya ia berdiri dan mengayunkan tangannya yang besar itu, meninju muka para preman itu dengan emosi yang membuncah, lalu menendangnya sekuat hati yang membara.

Bagi mereka yang terjatuh dan dipijak oleh Qiram mendapatkan kemalangan yang sangat malang. Qiram memijak dan melompat sekuat hati, melampiaskan dendamnya dikehidupan yang lalu, sehingga mereka mengalami patah tulang karena dihimpit oleh Qiram yang berbobot 150 kg.

“Sialaan! Lihat saja kau nanti! Kau akan mendapatkan ganjaran atas perbuatanmu!” teriak ketua preman itu yang tak terkena dampak tinjuan dan tendangan Qiram.

“Boss, tunggu!” Beberapa dari mereka lari terbirit-birit, terpincang-pincang, bahkan ada yang merangkak karena tulang pinggangnya patah.

“Terimakasih, Kak!” ucap pemuda remaja itu, wajahnya sudah memar-memar.

“Kenapa kau bisa dipukul mereka?” tanya Qiram tanpa menoleh, ia langsung menggendong Gippong dan mengelusnya, airmatanya menetes beberapa tetes melihat kucing malang itu.

Pemuda remaja itu segera mengeluarkan sesuatu dari tasnya. “Kak, coba beri minum dulu kucingnya! Dan ini, aku juga ada sosis.” Pemuda itu menyodorkannya pada Qiram.

Qiram mencoba meneteskan air mineral perlahan dengan telunjuknya ke mulut Gippong.

“Kau belum menjawab pertanyaanku?!” tanya Qiram masih meneteskan air ke mulut Gippong.

“Mereka di sewa oleh seseorang Kak, untuk membuat kakiku pincang karena ada lomba lari besok.” jawabnya.

“Hanya lomba lari? Sampai menyewa preman? Benar-benar sifat tidak terpuji! Kenapa orang-orang kaya dan berkuasa selalu melakukan tindakan tercela pada orang lemah!” gerutu Qiram geram.

“Lain kali kau harus berhati-hati, aku akan membawa kucingku ke klinik hewan dulu.” Qiram berjalan pergi.

“Kak, tunggu!”

“Apa?” Qiram menoleh.

“Kalau boleh tau, nama Kakak siapa?” tanyanya.

“Namaku Qiram! Qiram Candra!” jawab Qiram, kemudian berlalu pergi.

Qiram terus berjalan, ia benar-benar tidak mood untuk tersenyum, padahal ia berniat ingin mendapatkan senyuman 20.000 hari ini. Tetapi hatinya benar-benar kacau saat melihat Gippong terkulai lemah.

Pemuda remaja itu menelfon seseorang.

Tak lama, berhentilah mobil Porsche berwarna putih. Seorang pria berjas hitam langsung menunduk hormat dan membuka pintu.

“Ayo, aku ingin segera pulang dan bertemu Kakak!” perintah remaja pria itu.

“Baik, Tuan Muda!”

Mobil itu pun segera berlalu pergi.

Qiram kembali berjalan ke klinik milik Rania.

“Qiram, Gippong kenapa? Apa dia tidak cocok dengan obat yang diberikan dokter kemarin?” tanya Raina cemas, sebab wajah Qiram terlihat kusam tak ada senyuman yang selalu ia lemparkan seperti kemarin.

Terpopuler

Comments

Leader

Leader

apa apaan ini, bgaimana bisa pengangguran punya banyak uang?😂

2022-10-03

1

ZasNov

ZasNov

Wah Gippong ternyata kucing superhero, tidaj bisa melihat oranglain ditindas 😎
Kayaknya pemuda yang diselamatkan Qiram bukanlah orang sembarangan.. Pasti akan ada balasan kebaikan yang didapat Qiram dari pemuda itu..
Btw mantap ya rasanya kalau diinjek2 Qirem, remuk langsung tuh.. 😆

2022-04-25

2

Anonymous

Anonymous

lnjut

2022-01-16

1

lihat semua
Episodes
1 Hidup Kembali
2 Kabur untuk Menghindari
3 Tugas
4 Dokter Aini Farha
5 Bertemu Perempuan Cantik Menarik Koper
6 Hafisa Inaya
7 Hewan Peliharaan
8 Gippong
9 Bertemu Soleman
10 Hutang Tak Jelas
11 Jadi Badut
12 Rangga Albusro
13 Menelfon Bu Dokter
14 Rencana Raina Ozra
15 Keahlianku?
16 Memesan Makanan
17 Lomba Makan
18 Menjemput Gippong
19 Daerah Kumuh
20 Hadiah Guru
21 Menyewa Kios
22 Memar
23 Pria tua
24 Professor
25 Putus
26 Makan Bersama Dokter Aini
27 Dipukul
28 Diet
29 Berenang
30 Mematahkan Tangan Soleman
31 100 Milyar
32 Marissa
33 Investasi
34 Bertemu Kembali
35 Di Hotel
36 Malam Panjang
37 7 Bulan
38 Gippong Berdarah
39 Tabung Darah
40 Makan Besar di Pagi Hari
41 Mengambil Hadiah
42 Mansion Tuan Beneno
43 Bertemu Bobi
44 Mengganti Ban
45 Ke Selatan
46 Ke Rumah Sakit
47 Bayi Prematur
48 Perusahaan Otomotif
49 Melahirkan Bayi Untukku
50 Bertemu Helmi
51 Keadaan Gippong
52 Mengubur
53 Pohon Rimbun
54 Mencari Guci Emas
55 Kekuatan Asli
56 Ruang Rahasia
57 Tes Darah
58 Pergi ke Desa Petarung
59 Bertemu Jingga Mutiara
60 Buangtai!
61 Adik laki-lakiku
62 Mengantarkan Lenggo
63 Ulat Bulan
64 Marissa Hamil
65 Disiksa
66 Bisnis Roki Albusro
67 Aini Hamil
68 Musnah
69 Agresif
70 Mari Menikah.
71 Ingatan
72 Marissa menghilang
73 Tidak Terpilih
74 Mantan Kekasih Aini
75 Fashion
76 Permohonan Bertemu Marissa
77 Cerita Tuan Beneno
78 Pangeran Dardail
79 Pilihan yang Tepat
80 ASI
81 Aini Kabur
82 Menikah dengan Hafisa
83 Tak Ada Baju
84 Makan dengan Cucu
85 Asyifa Melati
86 Ke Penjara
87 Naik Pesawat
88 Berkunjung Ke Penjara
89 Kepergian Marissa Untuk Selamanya
90 Perubahan Bayi Pangeran
91 Memutar Waktu?
92 Masa Depan Kita
93 Grindelwald
94 Melati dan Rangga
95 Guci Emas Berubah Warna
96 Menjaga Guci
97 Professor Azrul Meninggal
98 Membawa Melati
99 membawa melati
100 Aini Kesakitan
101 Orion dan Vega
102 7 Tahun kemudian
103 TAMAT
Episodes

Updated 103 Episodes

1
Hidup Kembali
2
Kabur untuk Menghindari
3
Tugas
4
Dokter Aini Farha
5
Bertemu Perempuan Cantik Menarik Koper
6
Hafisa Inaya
7
Hewan Peliharaan
8
Gippong
9
Bertemu Soleman
10
Hutang Tak Jelas
11
Jadi Badut
12
Rangga Albusro
13
Menelfon Bu Dokter
14
Rencana Raina Ozra
15
Keahlianku?
16
Memesan Makanan
17
Lomba Makan
18
Menjemput Gippong
19
Daerah Kumuh
20
Hadiah Guru
21
Menyewa Kios
22
Memar
23
Pria tua
24
Professor
25
Putus
26
Makan Bersama Dokter Aini
27
Dipukul
28
Diet
29
Berenang
30
Mematahkan Tangan Soleman
31
100 Milyar
32
Marissa
33
Investasi
34
Bertemu Kembali
35
Di Hotel
36
Malam Panjang
37
7 Bulan
38
Gippong Berdarah
39
Tabung Darah
40
Makan Besar di Pagi Hari
41
Mengambil Hadiah
42
Mansion Tuan Beneno
43
Bertemu Bobi
44
Mengganti Ban
45
Ke Selatan
46
Ke Rumah Sakit
47
Bayi Prematur
48
Perusahaan Otomotif
49
Melahirkan Bayi Untukku
50
Bertemu Helmi
51
Keadaan Gippong
52
Mengubur
53
Pohon Rimbun
54
Mencari Guci Emas
55
Kekuatan Asli
56
Ruang Rahasia
57
Tes Darah
58
Pergi ke Desa Petarung
59
Bertemu Jingga Mutiara
60
Buangtai!
61
Adik laki-lakiku
62
Mengantarkan Lenggo
63
Ulat Bulan
64
Marissa Hamil
65
Disiksa
66
Bisnis Roki Albusro
67
Aini Hamil
68
Musnah
69
Agresif
70
Mari Menikah.
71
Ingatan
72
Marissa menghilang
73
Tidak Terpilih
74
Mantan Kekasih Aini
75
Fashion
76
Permohonan Bertemu Marissa
77
Cerita Tuan Beneno
78
Pangeran Dardail
79
Pilihan yang Tepat
80
ASI
81
Aini Kabur
82
Menikah dengan Hafisa
83
Tak Ada Baju
84
Makan dengan Cucu
85
Asyifa Melati
86
Ke Penjara
87
Naik Pesawat
88
Berkunjung Ke Penjara
89
Kepergian Marissa Untuk Selamanya
90
Perubahan Bayi Pangeran
91
Memutar Waktu?
92
Masa Depan Kita
93
Grindelwald
94
Melati dan Rangga
95
Guci Emas Berubah Warna
96
Menjaga Guci
97
Professor Azrul Meninggal
98
Membawa Melati
99
membawa melati
100
Aini Kesakitan
101
Orion dan Vega
102
7 Tahun kemudian
103
TAMAT

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!