Bertemu Perempuan Cantik Menarik Koper

Qiram menatap guci emas sejak pagi, bahkan kini sudah menjelang sore. ‘Kenapa aku tidak mendapatkan uang lagi saat berjalan?’ Ia bertanya pada guci itu. Menatap guci dengan sengit!

‘Hei, apa ini hukumannya untukku? Padahal aku memaksakan berjalan dalam keadaan kakiku sakit! Mengapa tak mendapatkan uang lagi?!’ Qiram menguncang-guncangkan guci emas itu.

“Aih, sial! Bagaimana aku bisa menolong Dokter Aini Farha, jika aku tetap saja menjadi pengangguran yang menyedihkan!”

“Apa?” jawab Lil O yang baru saja pulang dari bekerja.

“Kamu sudah pulang Lil O?” tanya Qiram.

“Iya, kamu kenapa? Tadi aku dengar kamu ngomong.”

“Oh, tidak ada apa-apa, aku ingin makan seblak keluar, tapi susah berjalan.” jawab Qiram berbohong.

“Oh, kalau begitu, ayo kita makan seblak, aku mandi dulu, aku akan bimbing kamu.”

Setelah mandi mereka membeli seblak, saat diwarung tanpa sengaja Qiram menabrak seorang wanita yang tampangnya biasa-biasa saja.

“Heh, kalau jalan itu lihat jalan dong. Main tabrak aja! Gak tau badan kayak gajah bengkak apa!”

Qiram duduk di kursi yang terbuat dari kayu, kemudian tempat duduk itu jadi bergoyang. “Ayo, pindah ke sana aja! Takut patah!” Pembeli yang lain yang sebaris dengan kursi yang diduduki Qiram jadi pindah.

“Udah pincang, menuhin tempat, mending makan dirumah aja deh!” dengus pembeli yang lain.

Qiram hanya diam saja, ia teringat kehidupannya dimasa lalu kembali, saat tangannya patah, ia cacat, badannya gemuk, ia juga dihina dan diejek, tetapi ini termasuk ejekan lebih baik dari pada ejekan dikehidupan masa lalunya.

Lagian, ia pincang hanya karena terkilir, kakinya akan segera sembuh, berbeda dengan kehidupan masa lalu, tangannya dipotong tak bisa lagi sembuh seperti semula.

Lil O menepuk pundak Qiram, “Gak usah didengar, mereka hanya tau kekurangan kita, tetapi tak tau betapa keras perjuangan kita.” Qiram tersenyum mendengarnya.

Setelah makan seblak, mereka kembali pulang. Di sepanjang jalan, orang-orang hanya cemberut saja melihatnya, padahal Qiram dan Lil O sudah mencoba ramah pada orang-orang yang tinggal disekitar jalan ke tempat tinggal baru mereka.

“Aku langsung tidur ya, soalnya harus kerja pagi-pagi, semoga kamu bisa mendapatkan pekerjaan besok.” ucap Lil O, ia langsung merebahkan tubuhnya.

Lil O telah tertidur, keheningan malam membuat Qiram mengingat kehidupan masa lalunya kembali, ia mengambil guci dan memeluknya. “Ibu, kenapa orang-orang tak sudi melemparkan senyumannya padaku, walaupun sekilas, hanya karena aku miskin dan gemuk? Ibu, aku ingin membuat orang tersenyum. Aku juga tak ingin kesepian, aku ingin memiliki teman yang bisa diajak ngobrol jika Lil O pergi bekerja.” Lil O memeluk guci emas semakin erat.

Ting! “Permohonan Anda dikabulkan, Tuan. Selamat, Anda mendapatkan hewan peliharaan untuk teman mengobrol dan Anda bisa menebar senyum 100.000 kali selama seminggu.”

Setelah terdengar suara itu, dua keping emas jatuh dari guci emas. Qiram mengambilnya dan tersenyum.

“Program telah diaktifkan, Anda telah menyetujuinya. Selamat Tuan, Anda berhak memiliki emas ini selamanya, kerjakan tugas Anda mulai dari sekarang!

“Anda harus menyelesaikan tugas Anda! Menebarkan senyum sebanyak 100.000 kali selama seminggu. Setiap satu kali menerima senyuman dari orang lain, Anda akan mendapatkan 500 rupiah. Jika Anda menyelesaikan tugas tepat waktu, Anda akan mendapatkan hadiah, sedangkan jika Anda gagal, Anda akan mendapatkan hukuman. Tugas dimulai dari sekarang dan berakhir 6 hari mendatang tepat jam 00.00.”

Qiram tersenyum sumringah.

“Aku tak akan menyia-nyiakan kesempatan ini lagi. Aku akan bekerja keras! Dokter Aini Farha, tunggu aku, aku akan membantumu!” ucap Qiram tersenyum, kemudian ia memilih tidur di samping Lil O.

~~

Esok paginya,

Qiram membawa sebotol air mineral, ia terus berjalan perlahan, karena kakinya masih belum sembuh total. Tujuannya yang pertama ingin menebar senyum pada orang, lalu berjalan adalah olahraga yang mampu ia lakukan, ia tak ingin menjadi gajah bengkak lagi.

Qiram mencoba tersenyum kepada semua orang yang ia lewati, para gadis-gadis tentu saja mengabaikannya, kemudian beberapa emak-emak dan tante-tante sebagian tersenyum. Tetapi juga ada yang berkata, “Dia kenapa senyum dari tadi? Orang gila bukan?”

“Wah, jangan-jangan orang gila!”

‘Tak mengapa Qiram, yang penting dengan tersenyum, jika di balas akan mendapatkan uang.’ Qiram bermonolog dengan hatinya untuk menyemangati dirinya.

Qiram terus berjalan menyusuri keramaian, menebar senyum, sebagian ada yang membalas, sebagian membuang muka, mengangkat alis merasa aneh dan berbagai macam reaksi orang-orang melihatnya tersenyum.

“Selamat Anda menyelesaikan 1000 senyuman berbalas, Anda akan mendapatkan 500.000 rupiah, selamat menikmatinya. Anda harus menyelesaikan 99.000 senyuman berbalas lagi!” Terdengar pemberitahuan. Kemudian hp Qiram bergetar.

‘Saldo Anda Rp. 33.576.000,00.’

Qiram tersenyum, ‘Aku akan menyelesaikan tugas ini, tak akan membuang waktu lagi seperti seminggu yang lalu.’ gumam Qiram.

Qiram terus menebar senyum hingga malam hari. Beberapa kali ia mendapatkan notifikasi, jika ia mendapatkan 1000 senyuman berbalas.

“Ah, sudah jam 9 malam, aku harus kembali ke kontrakan, sebelum Lil O kewalahan mencariku. Oh ya, sekalian aku belikan Lil O sate, dia sangat menyukai Sate padang.”

Qiram memesan 4 bungkus sate, selama ia menunggu penjual membungkus sate, ia beberapa kali melempar senyum pada orang-orang yang berjualan, orang lewat dan yang mengantri membeli sate juga.

Setelah mendapatkan sate, Qiram berjalan kembali pulang, masih dengan tersenyum kesetiap orang.

“Dia bodoh apa gila? Senyum-senyum terus!” dengus orang yang baru saja dilempar senyum oleh Qiram.

‘Sabar, namanya juga cari uang, jadi harus senyum, kalau enggak, males juga senyum sama orang itu. Aku dan Lil O sudah beberapa kali senyum sama mereka saat melewati jalan ini, tapi tak pernah dibalas.’ dongkol Qiram dalam hati.

Sebelum sampai di kontrakan, Qiram melihat seorang perempuan cantik menarik kopernya sambil menangis.

‘Rasa kenal? Tapi siapa, ya? Kenal dimana?’ pikir Qiram.

Perempuan itu terus berjalan, hingga punggungnya sudah jauh, hanya terlihat kecil saat Qiram mulai teringat siapa dirinya.

‘Dia Hafisa Inaya, artis terkenal dan terpopuler saat dikehidupanku sebelumnya.’

Qiram berlari mengejarnya, terengah-engah!

“Hei, tunggu! Nona Hafisa Inaya!” teriak Qiram.

“Nona Hafisa Inaya!” teriak Qiram, ia terus berlari.

Akhirnya wanita itu mendengar panggilannya dan menoleh.

“Tunggu, Nona Hafisa Inaya!”

Qiram sampai dihadapan gadis cantik itu. “Malam-malam begini, Nona mau kemana?” tanya Qiram.

Gadis cantik itu menatapnya dari atas hingga bawah. “Kau siapa? Apa kita saling kenal?” tanyanya.

Deg! Deg!

Qiram baru saja teringat, jika kini, gadis itu pasti tak akan mengenalinya, karena mereka saling kenal saat dikehidupan sebelumnya. Ya, jika pun Hafisa ingat, karena dia adalah artis populer.

“Hm, it-itu. Aku penggemarmu!” jawab Qiram asal.

“Modus!” dengusnya, kemudian menarik kopernya.

“Nona, mau kemana malam-malam begini, tidak baik anak gadis secantik Nona jalan sendirian, nanti diganggu preman. Di depan sana banyak preman.” Qiram mengingatkan.

Terpopuler

Comments

Min sua

Min sua

senyum itu termasuk sedekah Lo,
jadi ngga masalah dibilangin orang gila.
terus dapat uang pula, siapa coba yang nggak mau

2023-02-09

0

Leader

Leader

reaksi yang sungguh wajar😂

2022-10-03

1

Leader

Leader

sudah kuduga😂

2022-10-03

1

lihat semua
Episodes
1 Hidup Kembali
2 Kabur untuk Menghindari
3 Tugas
4 Dokter Aini Farha
5 Bertemu Perempuan Cantik Menarik Koper
6 Hafisa Inaya
7 Hewan Peliharaan
8 Gippong
9 Bertemu Soleman
10 Hutang Tak Jelas
11 Jadi Badut
12 Rangga Albusro
13 Menelfon Bu Dokter
14 Rencana Raina Ozra
15 Keahlianku?
16 Memesan Makanan
17 Lomba Makan
18 Menjemput Gippong
19 Daerah Kumuh
20 Hadiah Guru
21 Menyewa Kios
22 Memar
23 Pria tua
24 Professor
25 Putus
26 Makan Bersama Dokter Aini
27 Dipukul
28 Diet
29 Berenang
30 Mematahkan Tangan Soleman
31 100 Milyar
32 Marissa
33 Investasi
34 Bertemu Kembali
35 Di Hotel
36 Malam Panjang
37 7 Bulan
38 Gippong Berdarah
39 Tabung Darah
40 Makan Besar di Pagi Hari
41 Mengambil Hadiah
42 Mansion Tuan Beneno
43 Bertemu Bobi
44 Mengganti Ban
45 Ke Selatan
46 Ke Rumah Sakit
47 Bayi Prematur
48 Perusahaan Otomotif
49 Melahirkan Bayi Untukku
50 Bertemu Helmi
51 Keadaan Gippong
52 Mengubur
53 Pohon Rimbun
54 Mencari Guci Emas
55 Kekuatan Asli
56 Ruang Rahasia
57 Tes Darah
58 Pergi ke Desa Petarung
59 Bertemu Jingga Mutiara
60 Buangtai!
61 Adik laki-lakiku
62 Mengantarkan Lenggo
63 Ulat Bulan
64 Marissa Hamil
65 Disiksa
66 Bisnis Roki Albusro
67 Aini Hamil
68 Musnah
69 Agresif
70 Mari Menikah.
71 Ingatan
72 Marissa menghilang
73 Tidak Terpilih
74 Mantan Kekasih Aini
75 Fashion
76 Permohonan Bertemu Marissa
77 Cerita Tuan Beneno
78 Pangeran Dardail
79 Pilihan yang Tepat
80 ASI
81 Aini Kabur
82 Menikah dengan Hafisa
83 Tak Ada Baju
84 Makan dengan Cucu
85 Asyifa Melati
86 Ke Penjara
87 Naik Pesawat
88 Berkunjung Ke Penjara
89 Kepergian Marissa Untuk Selamanya
90 Perubahan Bayi Pangeran
91 Memutar Waktu?
92 Masa Depan Kita
93 Grindelwald
94 Melati dan Rangga
95 Guci Emas Berubah Warna
96 Menjaga Guci
97 Professor Azrul Meninggal
98 Membawa Melati
99 membawa melati
100 Aini Kesakitan
101 Orion dan Vega
102 7 Tahun kemudian
103 TAMAT
Episodes

Updated 103 Episodes

1
Hidup Kembali
2
Kabur untuk Menghindari
3
Tugas
4
Dokter Aini Farha
5
Bertemu Perempuan Cantik Menarik Koper
6
Hafisa Inaya
7
Hewan Peliharaan
8
Gippong
9
Bertemu Soleman
10
Hutang Tak Jelas
11
Jadi Badut
12
Rangga Albusro
13
Menelfon Bu Dokter
14
Rencana Raina Ozra
15
Keahlianku?
16
Memesan Makanan
17
Lomba Makan
18
Menjemput Gippong
19
Daerah Kumuh
20
Hadiah Guru
21
Menyewa Kios
22
Memar
23
Pria tua
24
Professor
25
Putus
26
Makan Bersama Dokter Aini
27
Dipukul
28
Diet
29
Berenang
30
Mematahkan Tangan Soleman
31
100 Milyar
32
Marissa
33
Investasi
34
Bertemu Kembali
35
Di Hotel
36
Malam Panjang
37
7 Bulan
38
Gippong Berdarah
39
Tabung Darah
40
Makan Besar di Pagi Hari
41
Mengambil Hadiah
42
Mansion Tuan Beneno
43
Bertemu Bobi
44
Mengganti Ban
45
Ke Selatan
46
Ke Rumah Sakit
47
Bayi Prematur
48
Perusahaan Otomotif
49
Melahirkan Bayi Untukku
50
Bertemu Helmi
51
Keadaan Gippong
52
Mengubur
53
Pohon Rimbun
54
Mencari Guci Emas
55
Kekuatan Asli
56
Ruang Rahasia
57
Tes Darah
58
Pergi ke Desa Petarung
59
Bertemu Jingga Mutiara
60
Buangtai!
61
Adik laki-lakiku
62
Mengantarkan Lenggo
63
Ulat Bulan
64
Marissa Hamil
65
Disiksa
66
Bisnis Roki Albusro
67
Aini Hamil
68
Musnah
69
Agresif
70
Mari Menikah.
71
Ingatan
72
Marissa menghilang
73
Tidak Terpilih
74
Mantan Kekasih Aini
75
Fashion
76
Permohonan Bertemu Marissa
77
Cerita Tuan Beneno
78
Pangeran Dardail
79
Pilihan yang Tepat
80
ASI
81
Aini Kabur
82
Menikah dengan Hafisa
83
Tak Ada Baju
84
Makan dengan Cucu
85
Asyifa Melati
86
Ke Penjara
87
Naik Pesawat
88
Berkunjung Ke Penjara
89
Kepergian Marissa Untuk Selamanya
90
Perubahan Bayi Pangeran
91
Memutar Waktu?
92
Masa Depan Kita
93
Grindelwald
94
Melati dan Rangga
95
Guci Emas Berubah Warna
96
Menjaga Guci
97
Professor Azrul Meninggal
98
Membawa Melati
99
membawa melati
100
Aini Kesakitan
101
Orion dan Vega
102
7 Tahun kemudian
103
TAMAT

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!