“Kenapa belum tidur? Apa kamu sedang menungguku?” tanya Zou Chen yang sudah membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, bersebelahan dengan Jenni.
“Aku memang menunggumu, tapi itu karena aku tidak bisa tidur seorang diri di tempat baru,” jawab Jenni sembari menaruh guling sebagai pembatas antara dirinya, dan Zou Chen.
“Untuk apa menaruh guling di sini? Ini hanya akan mengganggu istirahat kita,” ujar Zou Chen yang begitu saja membuang guling di dekatnya, dan sekarang tidak ada pembatas antara dirinya dan Jenni.
Jenni segera menyelimuti tubuhnya dengan selimut, sampai ke ujung kepalanya. Dia benar-benar belum siap, seandainya Zou Chen menginginkan hal itu malam ini juga. Setidaknya dia ingin melakukan itu setelah menikah.
Namun, sekian lama dia menyembunyikan tubuhnya di balik selimut, Jenni tidak merasakan adanya pergerakan dari pria di sebelahnya. Penasaran dengan apa yang sedang dilakukan Zou Chen, perlahan dia membuka selimut yang menutupi bagian kepalanya.
‘Eh, sudah tertidur?’ ujar Jenni dalam hatinya, melihat Zou Chen yang sudah tertidur, dan terlihat wajah pria itu yang begitu damai saat sedang memejamkan mata.
Jenni tiba-tiba tersenyum saat melihat wajah Zou Chen, dan dengan gerakan lembut dia menyentuh wajah pria yang telah mencuri hatinya, bahkan dia tidak bisa berpindah ke lain hati, sekalipun jarak dan waktu telah memisahkan mereka.
“Aku tidak tau, apa yang membuat keluarga Ling sangat membencimu?” gumam pelan Jenni, teringat dengan perlakuan keluarga Ling pada Zou Chen di masa lalu.
“Mengasingkan darah daging mereka sendiri, bukankah itu tindakan yang kejam! Mengingat perlakuan mereka terhadapmu, tidak aneh mereka tega menghancurkan keluargaku.” Jenni masih bergumam dengan suara pelan, karena dia tidak ingin membangunkan Zou Chen.
“Saat tertidur, wajahmu terlihat jauh lebih menggemaskan. Rasanya aku ingin terus memandangnya,” ujar Jenni masih memandangi wajah Zou Chen.
Zou Chen yang sudah terlelap dalam tidurnya, tiba-tiba dia memiringkan tubuhnya kearah Jenni, dan tanpa disengaja tangannya langsung memeluk tubuh wanita yang hanya bisa diam menerima pelukannya.
Jenni yang tahu itu hanyalah gerakan spontan saat tidur, dia justru merasa tenang berada di pelukan Zou Chen, dan pada akhirnya dia dapat tertidur pulas di dalam pelukan Zou Chen.
‘Aku berjanji akan senantiasa membuatmu tersenyum selama kamu berada di sisiku’ ujar Zou Chen dalam hati, dan ternyata sejak tadi dia hanya pura-pura tertidur.
Jenni tidak tahu kalau pelukan Zou Chen dilakukan dengan sengaja, bahkan saat dia sudah terlelap, pria itu merapatkan posisi tidurnya, dan memberikan pelukan yang hangat serta nyaman pada wanitanya.
°°°
“Paman, hari ini aku dan Jenni akan mencari sekolah terbaik untuk anak-anak. Selama kami pergi, tolong jaga mereka, dan jangan biarkan mereka pergi keluar tanpa pengawasan!”
Zou Chen memberikan tugas pada Zou Gao menjaga kedelapan adiknya. Sedangkan dia sendiri akan pergi bersama Jenni, mencari sekolah terbaik untuk adik mereka.
“Selama aku masih bernafas, tidak akan ada yang dapat menyakiti mereka!” sahut Zou Gao sembari memberikan kunci mobil yang akan dipakai tuan mudanya.
“Sayang, menurutmu sekolah seperti apa yang cocok untuk adik kita? Aku tidak ingin mereka mendapatkan pendidikan yang biasa-biasa saja,” ujar Zou Chen begitu berada di dalam mobil bersama Jenni.
“Bagaimana dengan sekolah tingkat dasar yang berada di dekat universitas kita? Aku dengar-dengar sekolah itu masuk sepuluh besar sekolah tingkat dasar terbaik di Kota Beijing.”
Jenni teringat dengan sekolah tingkat dasar, yang akhir-akhir ini sering masuk berita di TV, karena prestasi murid dan gurunya.
“Apa yang tempat itu yang kamu ketahui?” tanya Zou Chen yang ingin memiliki banyak referensi tentang sekolah untuk seluruh adiknya.
“Menurutku tempat itu sudah yang terbaik, dan lagi lokasinya tidak terlalu jauh dari mansion,” jawab Jenni sembari menunjukkan senyum manisnya.
“Baiklah, kita akan mendaftarkan mereka di sana,” sahut Zou Chen yang langsung menyalakan mesin mobil, dan mengendarainya menuju sekolah untuk adik-adiknya.
Karena hari masih pagi saat mobil Zou Chen memasuki tempat parkir sekolah, masih sedikit murid yang sudah berada di sekolah. Namun, begitu Zou Chen dan Jenni keluar dari mobil, dua orang petugas keamanan langsung menghampiri mereka.
“Tuan dan Nyonya, apa ada yang bisa kami bantu?” tanya salah satu petugas keamanan, yang sesekali mencuri pandang kearah kecantikan di sebelah Zou Chen.
“Kami ingin pergi ke ruang kepala sekolah. Apa diantara kalian ada yang ingin mengantarkan kami?” Zou Chen mengeluarkan empat lembar uang seratus yuan, dan memberi masing-masing dua lembar pada satu petugas keamanan.
“Saya yang akan mengantarkan Tuan dan Nyonya,” ujar petugas keamanan yang, masih saja mencuri pandang keindahan yang dimilik Jenni.
Zou Chen menganggukkan kepalanya, kemudian dia mengikuti petugas keamanan di depannya, dengan tangan kanan memeluk pinggang ramping Jenni.
‘Pasangan muda selalu membuatku iri, apa lagi mereka berasal dari kalangan atas. Pria tampan dan kaya memang sangat mudah mendapatkan wanita cantik’ kata dalam hati petugas keamanan di depan Zou Chen, tanpa sadar kalau ada singa jantan yang siap menjadi Dewa Kematian untuknya.
“Tuan, di sini ruangan kepala sekolah, dan kebetulan orang yang anda cari sudah berada di dalam.” Petugas keamanan itu ingin langsung pergi, tapi tubuhnya tidak bisa di gerakkan saat punggungnya di cengkram Zou Chen.
“Sayang, kamu bisa menemui kepala sekolah dan mengurus semuanya. Aku masih ada sedikit urusan dengannya!” Zou Chen melirik petugas keamanan yang tubuhnya sudah dibanjiri keringat dingin.
“Baik sayang, jangan terlalu kasar!” ujar Jenni yang sejak tadi menahan geram dengan cara petugas keamanan mencuri pandang kearah tonjolan di dadanya.
‘Sial, sepertinya aku salah menilai seseorang. Bukan hanya membuatku iri dengan wajah dan kekayaannya, sekarang aku juga dibuat iri dengan kekuatannya’ kata dalam hati petugas keamanan yang semakin ketakutan dengan pemuda di dekatnya.
“Bagaimana kalau aku mencongkel kedua matamu yang terus melihat apa yang tidak seharusnya kamu lihat?” ujar Zou Chen yang tidak suka wanitanya dipandang penuh hasrat oleh pria lain.
“Tu... Tuan, maafkan saya! Kejadian barusan tidak akan pernah terjadi lagi.” Petugas keamanan meminta maaf pada Zou Chen, tapi tidak semudah itu mendapatkan maaf darinya.
Zou Chen tiba-tiba saja memukul perut pria yang bertugas sebagai petugas keamanan.
“Ini peringatan awal untukmu! Kalau kamu mengulangi hal yang sama, aku tidak akan segan mematahkan lehermu!” ujar Zou Chen, lalu membiarkan orang itu pergi.
“Bagaimana? Apa kepala sekolah menerima kepindahan adik-adik kita?” tanya Zou Chen begitu Jenni keluar dari ruangan kepala sekolah.
Anggukan kepala Jenni menjawab pertanyaannya Zou Chen, kemudian wanita itu menyerah beberapa persyaratan yang harus diselesaikan dengan membayarkan sejumlah uang.
Zou Chen tidak masalah dengan seberapa banyak uang yang harus dia keluarkan, jika itu memang digunakan untuk memenuhi kebutuhan sekolah kedelapan adiknya.
Melihat nomor rekening yang tertera di lembaran kertas yang baru selesai dia baca, Zou Chen segera mentransfer sejumlah uang ke nomor rekening itu.
Selesai dengan urusan sekolah kedelapan adiknya, Zou Chen dan Jenni pergi jalan-jalan menghabiskan waktu berdua. Zou Chen membawa Jenni ke sebuah mall terbesar di Kota Beijing, dan membebaskannya membeli apapun yang dia inginkan.
°°°
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 74 Episodes
Comments
On fire
As
2024-09-01
1
On fire
😆
2024-09-01
0
Anonymous
lnjut thor
2024-07-27
0