Pagi hari yang menyebalkan setelah semalam harus bertengkar dengan Zion, entahlah tapi hati Lana sakit melihat air mata dan tangisan Zion semalam.
"Persetan." kesalnya, Lana berjalan keluar dari kamar apartemennya, sebentar lagi Arka akan menjemputnya, jadi sebaiknya Lana cepat sebelum Arka sampai.
Lana bisa saja meminta orang suruhannya untuk mencari tau siapa yang ada di bar hari itu. tapi emosi dan kekecawaan membuat Lana malas melakukannya.
Jadi biarkan saja semua berlalu seperti air, Lana tak mau pusing soal apapun lagi.
Lana melangkah cepat menuju lift, untung saja tak ada yang menggunakan lift saat ini. Lana langsung masuk begitu melihat Lift terbuka.
Ponselnya ramai dengan pesan dari berbagai manusia, ada yang bernama dan ada yang tidak.
Tapi Lana hanya membalas pesan Neron, Nalka dan Arka saja.
Ckrik!
Lana menoleh ke belakang sebelum masuk, seperti ada suara kamera, tapi dibelakangnya tak ada siapapun.
Lana mengabaikan suara itu, dia masuk lalu menekan tombol lantai 1. Pintu tertutup dan Lana sekilas melihat seseorang ada disana.
"Aish? itu siapa?" apa itu stalker? tapi bagaimana bisa Lana memiliki stalker, itu tak mungkin.
Lana abai saja, tak mau terlalu memikirkan kejadian tadi, isi pikirannya saat ini adalah pekerjaannya di kantor dan perjalanan keluar kantor.
Dia harus mengawasi lokasi proyek pembangunan cabang perusahaan yang baru, dan dia akan pergi bersama Michael.
Karena sekalian membicarakan tentang kerja sama mereka yang baru. Niatnya sih Lana mau menghindar tapi perusahaan Michael terlalu besar sampai kerja sama tak mungkin Lana lewatkan.
Demi kesejahteraan pegawai, Lana gak mau egois hanya karena masalah yang sudah berlalu sangat lama.
Lift sampai di lantai 1, Lana langsung keluar dengan langkah kaki anggunnya.
Lana memang secantik itu, walau usianya bukan lagi usia remaja tapi wajahnya seakan stuck diusia 20 tahun.
Masih sangat muda dan cantik.
Arka sendiri ternyata sudah menunggu, dia melambai pada Lana begitu gadis itu keluar dari Apartemen.
"Silahkan masuk, Ratu." ujarnya sembari membuka pintu mobil.
Lana mendecih geli, dia masuk dan langsung duduk tenang. Arka menutup pintu mobilnya perlahan lalu berjalan tenang menuju bagian kemudi.
Brak.
"Mau sarapan apa?" pertanyaan langsung Arka berikan begitu mobil melaju keluar dari area apartemen. Lana mengibas pelan sebelum menjawab.
"Bubur ayam aja." jawabnya.
"Yakin?"
"Hum."
"Okey."
Akhirnya Arka membawa mobilnya menuju kedai bubur ayam yang posisinya dekat dengan kantor Lana. Sarapan pertama Arka bersama Lana, ini akan menjadi kenangan yany tak Arka lupain.
"Bahasa kita diubah ya, jangan kau aku lagi, aku kamu, oke?"
"Iya, terserah."
Arka tersenyum senang, dia mencubit gemas pipi Lana. "Gemesin." geramnya tak tahan.
Lana mendelik. "Dih, pedo."
"Enak aja!"
"Kamu kan udah tua."
"Apasih!? masih 30 tahun ya."
"Udah tua dong."
"Ih belum!"
"Iya-iya, ngalah aja aku mah waras."
Arka menggembungkan pipinya kesal, dia mencubit pipi Lana pelan. "Nakal kamu ya."
"Sksd kamu Ka."
"Jangan gitu iiih."
"Iya deh iya, biasa napa."
Arka mengerucut sebal, sepanjang perjalanan Lana dan Arka terus berdebat hal yang gak penting sama sekali.
Tapi bagi Lana perdebatan itu lucu, Lana menikmati perdebatan mereka sedari tadi.
"Kamu tim bubur diaduk atau enggak?" tanya Arka.
"Diaduk lah, biar bumbunya kecampur."
Arka memicing geli. "Diaduk mah gak enak, kayak apa gitu warnanya."
Lana mendelik tak terima, dia menjewer telinga Arka karena merasa kesal.
Tapi bukannya merasa sakit, Arka malah tertawa, gila emang nih laki-laki satu.
Akhirnya mereka sampai di tukang bubur ayam, dengan cepat Arka turun guna membukakan pintu untuk Lana.
Baru setelah membuka pintu untuk Lana, keduanya berjalan memasuki kedai itu, dan memesan.
"Mas cepetan ya, kami harus cepet ke kantor." pesan Arka.
Dia sengaja merengkuh pinggang Lana karena banyak sekali tatapan penuh ketertarikan mereka berikan pada Lana.
Arka tak suka, Lana ini sebentar lagi akan menjadi miliknya, jadi tak boleh ada yang meliriknya lagi.
"Lepas."
"Ish..mereka lihatin kamu teruuus."
Lana menghela napas pelan, mulai nih ngerengek kayak gini lagi. "Biarin aja, kan mereka punya mata."
"Lana!"
"Iya maaf, ayo duduk." Lana merangkul lengan Arka dan membawanya duduk ke salah satu kursi.
Dan menenangkannya agar berhenti emosi dan menatap pengunjung lain tajam.
®^^©
......Bersambung😾......
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 28 Episodes
Comments
Ghaisa Gisa
setim
2022-06-01
0