"Nyonya, ada Tuan Michael." Lana mendesah pelan, untuk apa pria itu datang ke Kantornya segala.
"Bukankah perjanjian dengan mereka batal? Untuk apa lagi dia datang?"
"Saya tidak tau Nyonya." Lana mengibas pelan, membiarkan pria berusia 26 tahun yang tak lain adalah sekretarisnya bernama Neron.
Pria manis berkulit tan itu sangat sopan dengan suaranya yang lembut menenangkan. "Biarkan saja dia masuk."
Neron mengangguk pelan. "Baik Nyonya."
Tak lama setelah Neron keluar dari ruangan Lana, Michael masuk dengan berbagai plastik belanjaan dikedua tangannya.
Senyum manis terpatri diwajah tampannya. "Tuan Michael, apa niat anda datang kemari?" tanya Lana tenang.
Michael hanya tersenyum tipis, dia meletakan belanjaan itu dimeja lalu dia berjalan mendekati Lana, dengan tenang dia memegang 2 sisi kursi yang Lana duduki.
Michael menunduk guna menatap Lana lamat, senyum lembut terukir diwajahnya.
"Apa mau anda Tuan Michael?"
"Dirimu Ratu..."
Bisikan Michael dengan suara rendahnya membuat Lana merinding seketika, dia mendongak guna bersitatap dengan Michael.
Tatapan matanya bukan seperti orang yang jatuh cinta, melainkan rasa obsesi dan kagum yang sangat besar untuk Lana.
"Anda bukan mau saya, tapi anda hanya menganggap saya sebagai Lana di masa lalu anda." bisik Lana tajam.
Michael tertawa pelan, dia mencium pelan pipi Lana. "Tidak begitu sayang, bagaimana aku bisa menganggap mu sebagai Lana dimasa lalu jika yang dimasa lalu itu adalah dirimu."
DEG!
Lana melotot tak percaya, bibirnya sampai terbuka saking shocknya.
"Hah!? Maksud anda apa ya?"
Michael tertawa semakin kuat, dia memeluk Lana erat dan menyerukan kepalanya diceruk leher Lana.
"Aku merindukanmu Mommy..maafkan aku karena menembakmu sampai mati..tapi bukankah itu bagus karena akhirnya kamu bisa kembali ke tubuhmu yang asli saat ini."
Bulu kuduk Lana meremang, dia tak bisa berkutik. Dengan sekuat tenaga Lana melepas pelukan Michael dan berdiri menjauhi Michael.
"Anda sedang mabuk? Jangan terlalu meracau kan hal yang tak penting!" sarkas Lana seraya keluar dari ruangannya.
Tak mau satu ruangan lebih lama bersama psikopat gila itu, mengerikan.
Sementara Michael hanya terkekeh pelan. "Ratu..tak akan pernah dimiliki siapapun..aku akan menghabisimu dan menyimpan tubuhmu untuk diriku sendiri.." bisiknya serak.
Tatapan mata Michael tak main-main, itu mengerikan.
Dia benar-benar terobsesi pada Lana entahlah rasanya Michael bisa menggila kalau Lana bersama yang lain.
Lana kan miliknya, hanya untuk Michael dan bukan untuk yang lain.
...........
Lana sampai di taman depan kantornya, dia merasa tenang setelah menghirup udara segar di taman.
Suasana sangat sunyi, dan juga langitnya sedikit mendung. "Wajar saja sih, disini sepi. Kan masih jam kerja." gumam Lana.
Tatapannya berpendar, Lana sempat terpaku pada 1 object yang terlihat melintas tak jauh dari area taman.
"Itu Zion?" tapi kenapa Zion malah bersama wanita lain? raut wajah Lana mendatar seketika, rahangnya ketat menahan emosi.
Dengan cepat Lana menyusul Zion dan wanita itu, masuk ke sebuah club yang memang jaraknya hanya beberapa menit dari kantor Lana.
"Gila ya, ternyata dia sama saja dengan yang lain." Lana merogoh saku jas nya, dia meraih ponselnya guna menghubungi Neron.
"Halo, Neron."
"Ya Buk? ada apa?"
"Atur jadwal sampai malam, saya tak ada di tempat saat ini."
"Ah baik buk, akan saya atur ulang."
Lana mengangguk puas, dia menyimpan kembali ponselnya dan masuk ke club itu, hanya menunjukan kartu pengenal saja, Lana bisa masuk dengan bebasnya.
Suara berisik dari musik di dalam club sedikit membuat telinga Lana sakit.
"Kenapa orang mau masuk ke tempat berisik ini?" gerutu Lana kesal.
Dia mencari keberadaan Zion, sampai matanya terkunci pada object yang dicarinya sedari tadi.
Zion duduk dipangkuan wanita yang datang bersamanya tadi, mereka berciuman dengan nikmatnya.
Bahkan pakaian mereka hampir lepas saking nikmatnya mereka bermain. Lana menyunggingkan senyum miringnya.
Dia mengambil ponselnya cepat, merekam dan memotret kegiatan panas itu sebagai bukti, agar Zion bisa terdepak dari daftar calon suami Lana.
"Dasar murahan." cibir Lana.
"Hai Lana, kamu ngapain disini?" Lana merotasi malas matanya, kenapa harus bertemu Gabriel sih disini.
"Sedang memergoki calon suami ku yang tengah jual diri." gumam Lana tak acuh.
Dia fokus memotret dan mengambil momen Zion, sementara Gabriel tersenyum puas, bagus sekali rencana Michael.
Mereka menyingkirkan Zion tanpa harus mengotori tangan mereka sendiri.
Mematahkan kepercayaan Lana pada Zion adalah jalan terbaik, karena Lana akan membuang Zion begitu saja setelah tau Zion sama murahannya.
"Mau minum?" tawar Gabriel.
Lana menggeleng, walau Lana kesal pada tingkah Zion, tentu perasaan kecewa dan sakit hati terasa di dadanya.
Karena bagi Lana, sedari dulu Zion lah yang berhasil menempati ruang dihatinya.
Tapi sekarang itu tak berlaku lagi, kepercayaan yang Lana berikan pada Zion sudah hilang tak berbekas, itu semua karena ulah Zion sendiri.
Dia tau Lana benci pengkhianatan, tapi Zion tetap melakukannya, lantas apa lagi yang bisa Lana percaya dari Zion.
Tak ada tentu saja, kepercayaannya sudah hilang dibawa angin.
..........
Lana masih disana, dia tetap betah melihat pengkhiatan Zion sedari tadi.
Hatinya sudah mati saat ini juga, tak percaya lagi pada yang namanya cinta, karena yang ada hanyalah napsu semata.
Dia langsung menghubungi ibunya.
"Bu, batalkan semua perjodohanku! Aku bisa mencari calonku sendiri!"
"Seriously? Bagaimana dengan Zion?"
"Persetan, dia hanya ****** murahan!"
"Batalkan dengan semua bu."
"Terus kamu mau sama siapa? Alka? Atau Arka saja? Dia seorang Dosen dan dari data yang ibu cari dia bersih dan tak pernah bermain dengan siapapun, bahkan dia perjaka."
"Ck, gausah jodohin aku sama siapa-siapa. Aku bisa cari jodohku sendiri."
"Baik nak baik, ibu akan membatalkan semua perjodohan kamu."
Lana menyunggingkan senyum puas, tatapan matanya tertuju pada Zion yang masih asik berperang lidah disana.
Dengan santainya Lana memotret kegiatan itu dan menyimpannya.
"Aku benci ****** dan aku benci bekasan, murahan sekali." cibir Lana.
Mata hatinya terbuka guna melihat lebih jelas siapa yang pantas bersanding bersamanya.
"Lebih baik aku pulang, Alka juga sebentar lagi selesai kerja." mungkin, berfokus pada pekerjaannya lebih penting.
Lana harus mengumpulkan uang yang banyak, agar tak ada yang bisa merendahkan Lana lagi, dan dia benci berurusan dengan cinta lagi.
Perasaan Lana masih terkunci rapat, dia tak menyukai siapapun, tapi dia merasa nyaman bersama 1 orang, mungkin saja.
Itu hanya perkiraan, Lana masih tak yakin.
Lagipula, dia tak terlalu perduli soal laki-laki, selagi uangnya banyak dan bisa membeli apapun, hidup Lana sudah sempurna.
®^^©
...Bersambung😾...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 28 Episodes
Comments