Lana merotasi malas matanya, melihat motor ninja cantiknya rusak, bannya bocor, body motornya sudah dicoret.
"Huft, siapa kali ini pelakunya." gumam Lana seraya mengotak atik ponselnya guna meng hack CCTV sekolah area parkiran.
Lana mengabaikan tatapan miris dar8 sekitarnya, dia menatap tajam pelaku yang berhasil tertangkap kamera.
Tatapan matanya menyendu, dia menahan tangis seketika melihat siapa pelakunya. "Hahh, gue gaboleh nangis. Seorang Lana gaboleh lemah." bisiknya dingin.
Lana menetralkan napasnya sejenak, kemudian mengibas pelan rambut panjangnya. "Brengsek, gue habisin lo di rumah Alka." yah, pelakunya si Alka.
Lana segera berjalan menuju pagar sekolah, dia harus mencari angkutan umum agar bisa sampai di rumah.
Tapi baru saja dia hendak melangkah lebih jauh, sebuah motor NMAX berhenti disebelahnya.
"Lan, bareng gue aja." Lana menoleh, senyumnya langsung merekah.
"Makasih ya, tapi gue gak sudi duduk di jok yang biasa para lonT lo duduki, gue terlalu berlian buat duduk ditempat sampah." jawab Lana santai.
Gabriel yang diberi jawaban seketus itu sontak mengernyit. "Maksud lo apaan sih?" tanya nya heran.
Lana terkekeh pelan, muak melihat raut heran si Badboy di depannya.
"Jijik banget gak sih Bri, lo udah gak perjaka, lo sering main sama LonT di klub malam, udah gak ada lagi harga di diri lo yang bisa gue pandang, lo gak lebih dari cowok gila ****!"
Telak sekali, ulu hati Gabriel rasanya remuk mendengar cemohan yang sialnya benar dan nyata.
Gabriel membiarkan Lana pergi meninggalkannya dengan sejuta rasa sakit dihatinya.
"Gila..sakit hati gue." gumamnya lemas.
Ye, siapa suruh jadi cowok murahan, cih.
....
...Lana langsung menendang motor Alka begitu dia sampai di rumah, tanpa tedeng aling, Lana langsung menendangnya sampai jatuh ke tanah....
Dia berjalan menuju sudut taman dan mengangkat batu besar, tanpa rasa bersalah dia melempar itu kearah kaca depan mobil Sport merah milik Alka.
PRANK!
Kaca hitam yang baru saja Alka ganti semalam sudah hancur sampai merusak bagian dalam mobil.
Mendengar suara pecahan dan bantingan barang, Alka dan Arka langsung keluar dari rumah.
"LANA LO NGAPAIN!?" jerit Alka panik sembari mendorong Lana yang hendak membakar motor miliknya.
Tatapan pilu dia berikan saat melihat mobil nya sudah hancur dibuat Lana.
"LO GAK NGOTAK HAH!? MOBIL GUE LO ANCURIN SIALAN!" bentaknya marah, Alka menendang tubuh Lana kuat sampai terbanting ke belakang.
Lana terbatuk sejenak, sakit juga cuy.
Lana bangkit dan mengibas pelan rok sekolahnya, dia berjalan mendekati Alka dan tanpa menunggu lama dia langsung mengantam wajah Alka dengan siku nya.
BUAGH!
BUAGH!
"KALAU LO GAMAU DISENGGOL LO GAK USAH SENGGOL GUE! BABI TAU GAK LO ITU BABI! BABI! LO ITU BABIIII! LO RUSAK MOTOR YANG JADI HADIAH PERTAMA DIHIDUP GUE! LO YANG HARUSNYA NGOTAK BRENGSEK!" bentak Lana disusul air mata yang menetes pelan.
Tapi dengan kasar dia menyekanya.
"Lo babi! Lo anjing! Lo bangsat! Lo sialan! Lo setan! GUE BENCI SAMA LO! LO BUKAN ABANG GUE LAGI! GUE GAK SUDI ANGGEP LO SEBAGAI SAUDARA GUE!!"
Baik Alka dan Arka terhenyak mendengar jeritan Lana, apalagi Arka yang panik saat melihat darah mengalir turun dari hidung Lana.
"Lan, hidung lo-"
"Gausah sok peduli, lo berdua udah mati bagi gue. Anjing lo!" makinya sebelum akhirnya masuk ke dalam rumah.
Kepala dan dadanya sakit, tendangan Alka gak main-main ternyata.
"Alka, lo keterlaluan!" sentak Arka kemudian menyusul Lana ke dalam.
Meninggalkan Alka yang terdiam di dekat motor dan mobilnya, apa yang sudah dia lakukan beberapa tahun belakangan ini.
Dia memang tak pantas disebut seorang abang, dia memang tak pantas.
"Ck, Ya Allah beri hamba logika untuk berpikir dan hati untuk bersimpati."
Yeu, lo mah udah dikasih otak Ka, tapi gak lo pake!
..........
"Lana, lo gak papa?" Lana melirik sekilas dan kembali mengabaikan Alka.
Sakit hati dan badannya saat ini, perlahan Alka mendekati Lana yang duduk di kursi meja rias. "Lana, gue minta maaf untuk kesalahan gue selama ini." lirih Alka.
Lana tak acuh, dia masih asik membersihkan wajahnya dari sisa darah.
"Lana..abang minta maaf.." Alka serasa sudah putus asa jadinya, dia kan benar-benar merasa bersalah.
"Cium kaki gue." titah Lana. Alka menatapnya melas, tapi dia tetap menuruti keinginan Lana.
Perlahan Alka menunduk dan mencium kaki mulus milik adiknya itu. Seulas senyum puas terbentuk diwajah Lana, dia suka nih kalau sudah seperti ini.
Lana mengelus rambut Alka lalu mendongakan wajahnya. "Bagus, lo gue maafin bang. Jangan pernah perlakukan gue sama kayak dulu lagi."
Alka mengangguk cepat. "Iya, abang janji." Alka langsung memeluk Lana erat.
Dia merindukan pelukan seperti ini, dia merasa bersalah selama ini sudah memperlakukan adiknya buruk.
Adik kecil yang sangat dia sayangi ini, hanya ego yang menbuatnya tega membully adiknya sendiri.
"Mulai besok, ganti panggilan ya. Jangan lo gue lagi." pinta Alka.
Lana mengangguk pelan. "Ya, gue usahain."
"Iih, jangan pakai lo gue lagi!"
"Dih, ngatur lo?"
Bibir Alka melengkung kebawah seketika, kedua matanya berkaca-kaca.
"Jahat..hiks.."
Decak sebal Lana berikan, dia mengangguk saja lah. "Iya maaf, nanti aku usahain. Udah jangan nangis lah."
"Hiks.."
"Apa lagi yang abang tangisi?"
"Abang seneng..hiks.."
"Seneng kenapa?"
Alka menggeleng, dia mengeratkan pelukannya dan bersandar dibahu Lana. "Abang janji, gak bakal jahatin adek lagi." gumam Alka.
"Ya, liat aja nanti."
"Ish, kok gitu sih.."
"Ya kan kita gatau, kedepannya itu bagaimana."
Alka mengerucut sebal, dia mengeratkan pelukannya ditubuh Lana.
Nyaman sekali, Alka merasa bodoh jika mengingat kesalahannya dulu.
"Adek tolol! Nyapu yang bener goblok!"
"Hiks..iya bang maafin aku..hiks..aku gak sengaja bang."
"Halah, bacot lo!"
Alka menampari wajah adiknya berulang kali, sampai gadis itu mengeluarkan darah dari hidung dan sudut bibirnya.
Setelah adiknya itu tak sadarkan diri, Alka pergi meninggalkannya begitu saja.
"Kenapa lo harus ada di rumah ini, kenapa gak mati aja." cibir Alka risih.
Seandainya saja adiknya mati, pasti tak akan ada hama yang merusak pemandangan rumah ini.
Lana diam saja, itu semua adalah ingatan milik Yeen dulu, malang sekali nasibnya.
Tenang saja, Lana akan membalaskan dendam Yeen, siapapun yang pernah jahat pada Yeen akan dia hajar dan dia beri pelajaran.
Karena itu sudah sangat keterlaluan.
Untung saja, Yeen tak mengalami pelecehan seksual, hanya kekerasan fisik.
Mentalnya juga masih aman karena Yeen tak pernah menanggapi bully an itu secara serius.
Lagipula, orang tuanya menyayangi nya, bahkan sangat.
Jadi Yeen masih ada tempat berlindung walau sebentar.
®^^®
...Bersambung🖐...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 28 Episodes
Comments