Pagi setelah kasus Zion yang keciduk bersama wanita lain di bar, kehidupan Lana tak ada yang berubah, dia tetap melakukan aktifitas seperti biasanya.
Kali ini Lana terbangun karena ketukan pintu di apartemennya, Lana tak merasa meminta seseorang datang.
Dengan malas, Lana keluar dari kamar menuju pintu depan, ketukan itu ber jeda beberapa detik lalu diketuk lagi.
"Sabar." cetus Lana malas, dia tak melihat cctv pintu, dengan tenang Lana membuka pintu apartemennya.
Memperlihatkan sosok Asiste sekaligus Sekretaris Lana. "Oh? Neron. Ada apa?" Neron nampak gugup.
Ditangannya ada tas berisi bekal sarapan, tadi pagi saat Neron datang ke kantor, Lana tak ada, firasatnga mengatakan jika dia harus ke apartemen Lana.
"Buk, saya bawa sarapan untuk anda, apa saya boleh masuk?" Lana ber oh ria sejenak, lalu membiarkan Neron masuk.
Neron sempat membuka sepatunya sebelum masuk ke dalam. "Assalamualaikum." salamnya pelan.
"Waalaikum Sallam, duduk aja disana. Biar saya buatkan susu sebentar." Neron mengangguk patuh, jantungnya berdebar terlalu cepat saat ini.
Dia menepuk pelan sofa yang akan dia duduki, rasanya tak percaya jika dia berani datang ke Apartemen bos nya, jantung Neron berdegup terlalu cepat saat ini.
Tatapan matanya terpaku pada Lana yang adai dapur, rambut panjangnya diikat asal dan membuat leher indahnya terlihat.
Sangat indah, Neron tak menyangka jika dia akan melihat pemandangan seperti ini di dekatnya.
"Bersih sekali." gumamnya saat tak menyadari adanya debu di meja kaca depannya.
Tak sampai 10 menit, Lana kembali dengan 2 cangkir susu coklat hangat. "Kamu tata saja dulu sarapannya, saya mau mandi dulu."
Neron mengangguk patuh, dia langsung membuka tas berisi bekal yang dia masak sendiri dari rumah, dengan semangatnya Neron lakukan.
Sarapan bersama Lana, itu bagai mimpi. Neron tak menyangka sesuatu yang dia anggap mimpi bisa jadi senyata ini.
Selagi menunggu Lana dan selesai menata makanan, Neron hanya diam dengan tatapan yang terfokus pada kamar Lana.
Menanti Lana keluar dari kamar itu, menambah debar di dada Neron semakin cepat.
"Buk Lana memang terlalu sempurna." bisik Neron,
Mama nya Lana sudah memberitahu Neron, kalau semua perjodohan Lana sudah dibatalkan, maka kesempatan Neron untuk dekat dengan Lana semakin besar.
"Jangan berharap lebih Neron, ingat posisi mu dan buk Lana sangat jauh." benar, Neron harus sadar pada posisinya.
Dia hanyalah asisten, gak boleh berharap akan menjadi pasangan Lana.
Lana terlalu tinggi untuk dia gapai.
"Udah selesai?" Neron tersentak kaget saat suara Lana terdengar, ditambah penampilan Lana saat keluar dari kamar.
Cantik, dengan stelan kantor berwarna hijau mint yang indah.
"E-eh udah Buk. Ayo sarapan bersama."
"Heum, ayo."
Tangan Neron sampai tremor melihat betapa cantiknya Lana saat ini.
................
Selesai sarapan, Lana dan Neron berangkat ke kantor bersama.
Tapi Neron naik mobilnya sendiri begitu juga dengan Lana. "Kamu duluan aja." titah Lana.
Neron sebenarnya hendak menolak, tapi dia gak berani bantah ucapan Lana. "Baik, buk. anda harus hati-hati buk."
"Aku tau."
Lana masuk ke dalam mobilnya, melaju meninggalkan Neron disana yang masih terpaku. Bahkan hanya masuk saja ke mobil, Neron sudah mleyot.
Pasalnya Lana jadi kelihatan tambah cantik dari biasanya.
Perjalanan menuju kantor hanya butuh aktu 15 menit, di menit ke 10 Lana mendapat musibah.
BRAK!
Lana langsung mengerem mobilnya, sesuatu baru saja menghantam mobilnya. Dengan panik Lana keluar dari mobil dan melihat siapa yang sudah dia tabrak.
"Aw..sakit.." Lana terhenyak, disana terlihat Nalka terduduk di aspal dengan kucing putih dipelukannya.
sikunya berdarah. "Lo luka, gue minta maaf udah nabrak lo." ujar Lana sembari membantu Nalka bangun.
Nalka menunduk, dia mengelus bulu kucing digendongannya. "Bawa berobat kucingnya." lirih Nalka.
"Hah?"
Perlahan pria 29 tahun itu mendongak, dia menangis. "Ayo bawa berobat kucingnya..hiks..kucingnya harus segera dirawat." isaknya pilu.
Lana menghela napas kasar, dia membantu Nalka berjalan masuk ke dalam mobil Lana, kucing itu harus segera dibawa berobat, terlihat ada luka di bagian perutnya.
"Lo nemu kucing itu dimana?" tanya Lana begitu mobilnya mulai jalan lagi.
Nalka sesenggukan, dia paling sedih kalau masalah kucing. "Nemu di bawah pohon.." lirihnya.
"Terus lo ambil?"
"Heeum.."
"Terus, kenapa lo gak kerja?"
Nalka mendongak pelan "Restoran lagi gak terlalu ramai, ada koki pengganti jadi aku bisa keluar sebentar." lirihnya.
Lana ber oh ria, mereka menuju klinik hewan terdekat, begitu sampai Nalka langsung keluar dan berlari menuju klinik.
Lana dibelakang hanya berdecak singkat, dasar gak sabaran. Wanita itu menyusul larian Nalka masuk ke dalam klinik.
"Buk, tolong obati kucingnya. Kasihan." seru Nalka tak terbantahkan.
Nalka sangat tak sabar, padahal harus didata sejenak baru bisa diperiksa. "Iya sebentar ya Pak, secepatnya akan kami tangani."
"Nalka tenanglah, taruh saja kucingnya di kandang itu, nanti mereka urus." tegur Lana.
"Enggak mau! gimana kalau kucingnya mati?"
"Gak bakal mati kalau bukan ajalnya, udah keluar dulu. Kita beli minum sebentar mau?"
Nalka nampak enggan, tapi tadi dia belum minum apapum sejak keluar dari restoran. Kucing tadi Nalka letakan di kandang yang ada disana.
Lalu dia keluar bersama Lana menuju Alfamart yang ada disebelah klinik itu.
"Lo mau minuman apa?"
"Mau susu beruang."
"Nih, ambil." Nalka menerima sebotol kaleng susu beruang pemberian Lana.
Kemudian mereka membeli beberapa bungkus snack untuk cemilan. "Lo bisa tunggu kucingnya kan? gue harus ke kantor."
"Ih..kok gitu, Nalka ditinggal?"
"Ya kan itu kucing lo."
Nalka menunduk. "Tapi aku boleh ke kantor kamu nanti?" tanya nya sedikit bersemangat.
Lana mengangguk tak acuh, mereka membayar belanjaan masing-masing lalu keluar dari Alfamart saat itu juga.
"Lana, aku boleh kenal kamu lagi gak?"
"Enggak boleh."
"Kenapa?" raut wajah Nalka menyendu kembali, apa ini tandanya dia memang tak bisa mendapatkan Lana lagi?
Lana mengedikan bahunya. "Kita baru kenal ini, apanya lagi yang mau lo kenal?"
Iya juga ya. "Jadi, aku boleh deketin kamu?"
Lana mengedik tak acuh. "Siapapun boleh deketin gue, kecuali ****** murahan. Pastikan aja lo bukan ****** kalau mau deketin gue."
Nalka mengangguk ribut. "Baik! Nalka akan jadi anak baik, jadi boleh temenan sama Lana?"
"Ya terserah."
Senyum manis terbit diwajah tampan Nalka, dia tak membayangkan jika Lana mengizinkannya untuk dekat dengannya.
Sebagai teman juga tidak masalah, Nalka tak apa yang penting bisa dekat dengan Lana lagi.
Bisa bicara santai dengan Lana lagi. dan bisa melihat Lana tanpa takut Lana pergi darinya.
Bagi Nalka, main halus dan perlahan lebih penting daripada main kasar. Kepercayaan Lana harus dia dapatkan dulu baru setelahnya akan lebih mudah.
®^^©
......Bersambung😾......
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 28 Episodes
Comments
Aloexiyyz
g prcya gw dsr nalkanjing.
2022-03-08
0