Lana diberitahu asistennya, kalau Alka kecelakaan saat pulang dari hotel yang tadinya dia datangi.
"Kok bisa sih? ada-ada aja emang." gerutu Lana panik, kenapa bisa sampai kecelakaan padahal awalnya gak apa-apa.
"Lana, aku gamau ke rumah sakit." keluh Zion, dia merasa trauma pada rumah sakit.
Itu mengingatkannya pada Lana saat koma dulu, jadi Zion malas mengingat hal itu lagi.
"Yaudah kamu pulang aja."
"Tapi-"
"Pulang aja, udah malem juga ini." Zion merengut sebal, padahal dia mau bersama Lana tapi malah disuruh pulang.
Zion tak menjawab, dia menggenggam erat tangan Lana, Lana adalah miliknya dan tak ada yang boleh mendekatinya selain Zion.
Zion juga akan membuat pernikahan Lana yant lain batal, jadi Lana akan menikah dengannya saja.
Lana sampai di depan kamar Alka, dia masuk tanpa menimbulkan keributan, ternyata Alka masih memejamkan matanya.
Dengan kepala yang diperban, kemungkinannya sih kepalanya terbentur dan terluka makannya diperban.
"Dia tidur, kamu pulang aja Zion."
"Yaudah, besok ketemu lagi kan?"
"Tentu sayang."
"Yaudah, aku pulang ya."
"Heeum, hati-hati sayang." Lana menyempatkan diri untuk mencium bibir ranum Zion sebelum pria itu pergi.
Baru setelah keadaan hening tanpa ada suara lagi, Lana menyandarkan diri di kursi. "Ah..mimpi itu bakal jadi nyata kayaknya.." sejujurnya Lana tak tega pada Alka.
"Ugh.." Lana menegakan tubuhnya saat lenguhan pelan Alka berikan.
"Mas, mana yang sakit?" tanya Lana khawatir, dia mengelus pelan rambut Alka penuh kehati-hatian.
Alka menoleh kearah Lana pelan.
"Kepala aku pusing Lan." lirih Alka lemas, dia memejamkan matanya sejenak.
Lana sendiri agak ragu ingin mengatakan hal ini, tapi dia harus. "Mas, pernikahan kita dibatalkan, karena ternyata wanita yang kamu tiduri memang hamil anak kamu."
Alka diam, benar-benar diam seolah tak ada lagi nyawa di dalam tubuhnya. "Mas?"
"Keluar Lan.."
"Kenapa aku harus keluar? kita selesaikan saja ini sekarang."
"Enggak, udah jelas kan kalau kita batal nikah? jadi lebih baik kamu keluar aja, gak ada yang mau dibicarakan lagi." walau begitu, Alka menangis menyadari kesalahannya.
Kebodohannya, kenapa dia bisa sampai meniduri perempuan lain sampai hamil dan harus segera dipertanggung jawabkannya.
"Hiks..keluar..aku udah gak ada urusan sama kamu, keluar!!"
"Egois! lo itu egois Alka! lo yang salah! kenapa lo yang nangis hah!?" Lana muak, tentu saja siapa yang tidak muak diperlakukan seperti ini.
Alka memukul kepalanya kuat, tak perduli dengan rasa sakit yang datang, Alka tetap memukul kepalanya kuat.
"Bodoh," cibir Lana malas, dia menekan tombol merah diatas kasur, sebentar lagi Dokter akan datang.
Cklek.
"Alka!?"
Lana menoleh ke belakang, melihat seorang pria tampan datang bersama..ah..sialan..kenapa harus bertemu disini sih.
"Astaga Alka, kok lo bisa kecelakaan sih?"
"Tau nih,"
"Eh? Siapa nih?"
"Cakep ih, mau jadi Mommy aku gak?"
"Dih Nalka, lo binal banget sih!"
"Syirik aja loh Zelo."
Lana kira..pertemanan mereka hancur tapi nyatanya masih bersama juga, dan ada Michael juga.
Michael nampak bahagia bertemu dengan Lana lagi. "Selamat malam Lana, kita bertemu lagi."
Sontak perkataan Michael membuat ke 4 lainnya shock. "LANA!?" seru Jefrey tak percaya.
"Ah nama saya memang Lan-"
"HUAAAAAAAAA LANAAAAAA."
Anjir apaan sih ini!? Gausah pake acara peluk-peluk deh!
"Jangan peluk Lana!" sentak Alka saat Nalka berani-beraninya memeluk calon istrinya.
Alka mendorong Nalka kuat. "Gausah, sentuh Lana!" peringatnya
"Dia calon istri lo itu kan?" tanya Arka.
"Ooh ini calon istri lo itu Ka, yang katanya koma-tunggu sebentar...nama lo Lana Ratuadinata..mirip sama nama Adek gue dulu.." Arka nampak bergumam sendiri.
"Mantan Calon istri, perjodohan kami dibatalkan karena Alka menghamili wanita lain." sela Lana seraya bangkit dari duduknya.
Pandangan mereka tertuju pada Lana, sebuah kerinduan terlihat jelas dimata mereka, mereka rindu Lana, entah kenapa Lana yang ini mirip dengan Lana yang dulu mereka bunuh.
"Lana, kenalin, nama gue Vazelo." Lana berdehem sebagai jawaban, dia membenahi diri sejenak.
"Saya tak ada urusan lagi dengan Alka, saya permisi." Lana hendak pergi, namun Michael dan Nalka menahan tangannya.
"Bisa kita bicara sebentar?" tanya Nalka.
Lana menggeleng, dia menarik tangannya dari genggaman keduanya. "Tidak bisa, saya banyak urusan." tolak Lana dengan arogannya.
Dia melangkah pergi, tapi tak bisa begitu saja karena Michael, Gabriel, Nalka dan Vazelo mengikuti nya sampai keluar.
Sementara Arka menemani Alka di kamar inapnya.
Tatapan mata mereka tak berubah, selain obesesi dan rasa cinta yang terlalu besar.
..........
Disinilah Lana berada, di kantin rumah sakit atas paksaan ke mereka, entah apa tujuannya.
"Ada apa? kalau tak ada hal penting saya mau pergi." keluh Lana.
Mereka nampak diam, hanya menatap kedua bola mata indah Lana tanpa bersuara sama sekali, menyebalkan. Buang-buang waktu Lana saja.
"Tunggu sebentar, bisakah kita bertemu lagi besok?" tanya Zelo.
Lana mendelik, ogah banget dia ketemu sama mantan pembunuhnya ini. "Enggak, saya gak sudi ketemu sama kalian."
"But why?" tanya Nalka sedih.
"Karena kalian itu, gak pantes untuk saya temui. Saya sibuk dan banyak urusan jadi tolong jangan ganggu saya lagi."
Mereka merasa tertohok, memang sih pekerjaan mereka tak seberapa, hanya seorang Direktor, seorang Chef, seorang Pengawas dan Ceo tentu saja.
Mungkin tidak seberapa bagi Lana yang seorang Ceo wanita dengan kekayaan melimpah.
Pasti Lana akan mencari yang jauh diatasnya, bukan setara dengannya.
"Tenang saja, besok saya akan datang ke Kantor kamu Lan." cetus Gabriel tenang, raut wajahnya terlihat santai.
Dan itu membuat Lana kesal, apa-apaan wajah santainya itu, menghina sekali. "Terserah, yang jelas saya gamau ngeliat kalian lagi. Permisi."
Lana langsung pergi dari sana tanpa menunggu ucapan mereka lagi, meninggalkan mereka yang kini menatap Lana dalam.
"Kita, harus dapatkan dia lagi." bisik Gabriel.
"Tentu saja, kalau bukan kita lantas siapa lagi? Lana kan milik kita."
"Hehe, iya benar milik kita." Bisik Nalka, Lana akan tetap menjadi milik mereka karena Lana yang dulu dan yang sekarang tetap menjadi milik mereka.
"Tapi kita harus singkirin Zion." cetus Michael dengan senyum penuh misteri diwajahnya.
Mereka diam, namun isi kepala mereka sudah merencanakan banyak rancangan pembunuhan untuk Zion.
Karena Lana itu adalah milik mereka, kepunyaan mereka, tak boleh ada yang memiliki dia selain mereka.
"Oh, aku lupa bilang. Selain Zion, kita harus singkirin Arka."
"Loh? kenapa?"
Senyum tipis terlihat diwajah Zelo "Karena Arka itu, menyukai Lana. Lana yang dulu maupun yang sekarang. Arka sudah lama mengintainya dan mulai menyimpan rasa lebih."
Oh, berarti target mereka gak cuma Zion ya.
Baiklah, itu mudah.
®^^®
...Bersambung😾...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 28 Episodes
Comments