Gisya melajukan motornya perlahan, dengan perasaan was-was karena tidak memakai helm. Saat di persimpangan, dilihatnya sedang ada Razia polisi. Gisya berniat untuk putar balik, tapi sayangnya seorang Polisi sudah menghadangnya.
"Selamat pagi, apa ibu tau kesalahannya?" tanya Polisi.
"Uqii yang baik hatiii, jangan ditilang ya! Helmnya tadi kebawa sama Bang Fahri." ucap Gisya memelas.
"Gak bisa Teh, Uqi harus profesional dong. Harusnya malu! Masa adiknya Polisi, kakaknya doyan langgar aturan." bisik Syauqi.
Yap!! Bripda Syauqi Malik yang menilangnya.
"Ada apa ini, Syauqi?" tanya Iptu Aditya.
"Gak ada apa-apa Bang, ini mau saya tilang." jawab Syauqi sambil menuliskan surat tilang.
"Awas ya Qi, gak bakalan Teteh kasih kamu Airflow cake lagi!" bisik Gisya namun terdengar oleh Aditya.
"Ekheemm!"
"Maaf Bang, dia kakak saya!" ucap Syauqi.
"Meskipun keluarga, tetep profesional ya Syauqi." ucap Iptu Aditya.
"Cepetan Uqi! Teteh musti belanja bahan buat kue nikahan Ulil ini, nulis aja lelet banget sih!" kesal Gisya.
"Yee! Bentar atuh Teh, tunggu disini! Uqi ambil dulu helm buat Teteh pake," ucap Syauqi.
Saat Syauqi mengambilkan helm, Aditya mengajak Gisya berkenalan.
"Namanya siapa? Saya Iptu Aditya, rekan kerjanya Syauqi." tutur Aditya.
"Saya Gisya, kakaknya Uqi." jawab Gisya.
"Lain kali mematuhi peraturan lalu lintas ya, Gisya."
"Maaf Mas, tadi saya memang pake helm. Cuman kebawa sama--" ucapan Gisya terpotong oleh Syauqi.
"Nih, pake helm punya Uqi! 50ribu sehari ya teh," ucap Syauqi.
"Minta sama Bang Fahri!" kesal Gisya.
Tanpa berpamitan pada Adit, Gisya melajukan scooter matic kesayangannya. Setelah sampai rumah, Bunda Syifa sudah berkacak pinggang didepan pintu.
"Yaa Allah Gisya! Bunda kelaparan nungguin kamu dari jam 6.30 pagi. Bunda telponin gak diangkat-angkat, tau gak Bunda tuh khawatir! Datang-datang malah nyengir begitu!" kesal Bunda Syifa.
"Hehe, Assalamualaikum dulu Bunda."
"Walaikumsalam! Jelasin sekarang." titah Sang Bunda.
"Tadi waktu beli lontong kari, Caca ketemu sama Bang Fahri. Terus diajakin makan bareng sama Danki dan istrinya. Caca kan gak enak kalo nolak, Bun. Eh pas pulang Caca apes banget Bun. Ditilang sama anak Bunda, jadi deh Caca telat pulangnya." jelas Gisya.
"Hmm.. Kenapa Uqi tilang kamu?" tanya Bunda.
"Caca gak pake helm, Bang Fahri kelupaan gak buka helm waktu Caca anterin kedepan Batalyon. Begitu sampe langsung lari kedalem, takut telat Apel pagi katanya. Itu yang jaga gerbang, sampe ketawa-ketawa Bun liat kelakuan Bang Fahri," tutur Gisya yang antusias menceritakan.
"Alhamdulillah, kamu ceria lagi seperti dulu Nak. Terimakasih, Fahri." batin Bunda Syifa.
"Yaudah cepet siap-siap, 15 menit lagi Mama Rini sama Umma sampe!" ucap Bunda.
Gisya pun bergegas masuk kedalam kamarnya dan mengganti bajunya. Gisya memakai rok pink dan atasan warna hijau muda. Tanpa memakai make up dan hanya memakai pelembab bibir. Saat keluar kamar, dua sahabatnya itu sudah berkacak pinggang didepan pintu.
"Astaghfirulloh, berasa Syurga dan Neraka deh ada 2 penjaga." celetuk Gisya yang membuat kedua sahabatnya itu terheran.
"Kamu tadi pas nganterin Bang Fahri gak jatoh kan?" tanya Febri.
"Apaan sih! Udah ayok! Nanti kesiangan, banyak yang harus dibeli tau." tutur Gisya.
Mereka berbelanja kebutuhan pernikahan Yuliana dan Jafran. Saat ini Mami Lia dan Papi Yuda sedang melaksanakan ibadah Umroh. Mereka memiliki Nadzar, jika Yuliana menikah maka mereka akan melaksanakan ibadah Umroh. Karena Yuliana hanyalah anak mereka satu-satunya. Maka persiapan pernikahan Yuliana, semuanya dibantu oleh Bunda, Umma, dan Mama Rini.
Pasar Andir dan Pasar Baru, kedua tempat itu yang mereka kunjungi. Mereka membeli bahan-bahan untuk membuat kue. Yuliana meminta agar stand makanan pendampingnya diatur oleh Gisya. Sementara makanan utamanya diatur oleh Catering.
"Kamu mau bikin apa aja Ca buat stand makanan?" tanya Bunda Syifa.
"Gak banyak Bun. Cuman Airflow Cake, Puding buah, Soes buah, Beef Pastry sama Risoles Ayam." ucap Gisya.
"MashaAllah, kamu kuat bikin itu semua sendiri Ca? 1000 pcs loh!" ucap Umma Nadia.
"Gak sendirian atuh Umma! Kan dibantu sama karyawan yang lain. Calon manten juga kebagian tuh bikin Rujak Malaysia sama Es Goyobod." ujar Gisya.
"Iya Umma, udah tenang aja! Aman pokoknya mah!" ucap Febri.
"Terharu deh! Makasih semuanya," ucap Yuliana memeluk Umma.
Hari terus berlalu, tak terasa hari ini H-7 menuju hari pernikahan Yuliana. Gisya dan Febri sibuk membantu segala persiapannya. Seperti hari ini, mereka sedang menemani Yuliana untuk fitting kebaya pernikahan.
"Biw, kayaknya aku mulai kurusan nih! Baju nya muat sekarang," antusias Yuliana. Pasalnya saat minggu lalu ke butik untuk mencoba, kebayanya kekecilan.
"Alhamdulillah, akhirnya muat juga." tutur Febri.
"Mbak Caca sama Mbak Febri gak sekalian pesan atau coba kebaya yang ada disini? Siapa tau cocok jadi model bu Anne." Ucap Intan pegawai butik.
"Aku udah pesen buat bulan depan Mbak Intan. Suruh Caca aja tuh, yang belum ada hilal." Celetuk Febri.
"Gak usah Mbak Intan, saya sudah punya kebaya Bridemaids!" tolak Gisya.
Setelah selesai, mereka berjalan menuju parkiran membawa beberapa paperbag ditangan mereka. Saat Gisya berjalan, dia ditabrak oleh seorang laki-laki hingga semua paperbagnya terjatuh.
"Pak kalo jalan liat-liat dong!" kesal Gisya.
"Eh, maaf-maaf. Gisya!" ucap Aditya.
"Siapa ya?" tanya Gisya yang lupa pada Aditya.
"Ya ampun, saya Aditya. Atasan adik kamu, kita ketemu waktu kamu ditilang!" Tutur Aditya mengingatkan.
"Oh iya, Mas Aditya ya!" ucap Gisya sambil mengingat.
"Padahal belum lama lho, tapi kamu sudah lupa."
"Maaf ya Mas Adit, saya permisi dulu. Udah ditunggu sama temen." pamit Gisya.
Aditya terus menatap Gisya, entah kenapa hatinya begitu tertarik pada sosok Gisya.
"Siapa Ca?" tanya Febri.
"Atasannya si Uqi," Jawab Gisya.
"Ganteng fix! Kenal dimana?" tanya Yuliana.
"Heh! Udah mo kawin juga, jelalatan!" kesal Febri.
"Nikah Biw! Kenal pas waktu ditilang," jawab Gisya.
"Gawat! Antara hijau dan pink dong kamu, Ca!" celetuk Yuliana.
"Hah? Maksudnya?" tanya Febri penasaran.
"Antara Persit dan Bhayangkari! Gitu aja gak paham, heran deh!" kesal Yuliana.
"Yeee, ngaco banget sih!" ucap Gisya yang sudah masuk kedalam mobil.
Setelah fitting baju, mereka pergi ke Salon kecantikan muslimah untuk lulur dan perawatan.
"Aduhh enak banget, bisa-bisa ketiduran ini mah!" celetuk Yuliana.
"Emang kamunya aja tukang molor, Lil." kesal Febri.
"Undangan udah disebar semua kan, Ca?" tanya Yuliana.
"Udah aman sama Uqi, Jafran mulai cutinya kapan?" tanya Gisya.
"H-2 baru bisa cuti, biar agak lama menikmati suasana pengantin baru!" ucap Yuliana.
"Huhu, sahabatku udah mau pada Sold Out." ucap Gisya.
"Mudah-mudahan kamu juga nyusul, Ca." harap Febri.
"InshaAllah kalo udah ada jodohnya. Mas Andi datang pas hari H si Ulil?" tanya Gisya.
"Mudah-mudahan bisa ngambil cuti. Lagian kan gak bisa seenaknya cuti. Apalagi kita mau nikah bulan depan," ucap Febri.
"Yess! Jadi aku ada temen khaaaannn!" bahagia Gisya.
"Dih, malesin!" ketus Febri.
Wajah dan badan mereka jauh lebih segar setelah perawatan. Gisya dan Febri sudah berada di Toko, mempersiapkan segala kebutuhan untuk membuat dessert untuk stand nanti. Toko 'Caca Bakery' pun tutup selama 3 hari mulai dari H-2. Selama seminggu ini, Fahri tidak pernah menampakkan dirinya. Terakhir mereka bertemu ketika sarapan pagi bersama. Gisya sama sekali tidak memiliki kontak Fahri, begitupun sebaliknya. Tapi ketika mereka bertemu, pandangan mata mereka seperti pasangan kekasih yang lama terpisah.
"Assalamualaikum, Calon Makmum." sapa Fahri.
"Dih, walaikumsalam!" ketus Gisya.
"Gini nih, lama gak di apelin. Ngambek ya, Dek." goda Fahri pada Gisya.
"Apaan sih, abang tuh kayak Jailangkung! Datang gak di undang pulang gak diantar," kesal Gisya.
"Ciee ngambek!" tutur Fahri makin menggoda.
Mereka saling melemparkan candaan dan sesekali tertawa. Pemandangan itu tak luput dari pandangan Febri. Dia hampir saja meneteskan airmata bahagianya. Bahkan Febri memotret kebersamaan Candid mereka.
"Welcome back Gisya! Terimakasih Bang Fahri!" ucap Febri dalam hati.
"Abang! Helm Caca belum dibalikin, ya!"
"Huft! Kesel tau kalo inget helm itu, Abang diledekin satu Kompi gara-gara itu helm!" kesal Fahri.
"Hahahaha, rasain! Itu balesannya godain Caca," ucap Gisya sambil tertawa. Fahri terus memandangi wajah Gisya yang tertawa.
"Bahagia terus ya, Ca! Jangan ingat hal-hal yang membuat kamu sakit." ucap Fahri tiba-tiba.
"Bang! Setelah pengkhianatan hari itu, yang aku sadari adalah satu-satunya yang bisa menyembuhkan luka hati aku ya cuma diriku sendiri. Dengan menikmati dunia yang baru. Setelah kejadian itu, pada akhirnya itu hanya menjadi masalalu aku sama dia. Aku emang gak pernah berjanji setelah itu untuk selalu bahagia. Karena menurut aku, luka itu juga perlu untuk sebuah pendewasaan." tutur Gisya yang membuat Fahri terkesiap.
"Alhamduillah, Abang lega dengernya." ucap Fahri.
"Dengan memaafkan dan berdamai dengan keadaan, Caca paham bahwa cinta itu memang tidak bisa dipaksakan. Buktinya mereka sampai nekat melakukan dosa besar, demi mempertahankan cinta mereka Bang. Caca sudah ikhlas, semoga Abang juga."
"Memang tidak mudah, mengingat hampir 7 tahun kami menjalin hubungan. Tapi setelah Abang tau dia mengandung, Abang sudah mengikhlaskan semuanya." Tutur Fahri.
Pada akhirnya, hal yang paling berarti adalah seberapa Ikhlas kamu melepaskan sesuatu yang tidak dimaksudkan untukmu.
-Gisya&Fahri-
Salam Rindu, Author ❤
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 207 Episodes
Comments
Dandelion
pacaran 7 thn awet bgt bang ky kreditan ..hhh
2023-05-26
0
ν⃟α͢иͮуᷠαᷨ
In Sya Allah 😊
Semoga ikhlas 😊
2023-03-31
1
Irat Tok
slm rindu balik thor
2023-02-26
0