Fahri tertunduk lesu, selama ini dia sangat menjaga hatinya hanya untuk Santi. Tapi ternyata, selama 2 tahun ini dia dikhianati. Santi adalah cinta pertama Fahri, sudah sejak SMA mereka menjalin kasih. Tapi ketika Fahri memutuskan untuk menjadi seorang Tentara, kedua orangtua Santi tidak menyetujui hubungan mereka. Fahri masih tidak menyangka, wanita yang paling dia percaya mengkhianatinya.
"Kenapa kamu mengkhianatiku? Kenapa kamu menghancurkan kepercayaanku? Apa salahku? Kenapa Santi? Kenapa?!" teriak Fahri frustasi.
Fahri mengguyur tubuhnya dibawah shower, membiarkan rasa sakitnya mengalir bersama air.
Andi tidak menemukan Fahri dikamarnya, Andi mulai khawatir. Tapi saat mendengar suara air dikamar mandi, Andi bisa bernafas lega. Sudah hampir 1 jam, Fahri tidak kunjung keluar dari kamar mandi.
"Ri, kamu didalam? Fahri, jawab Fahri!" teriak Andi sambil menggedor pintu kamar mandi.
Karena tidak kunjung ada jawaban, Andi mendobrak pintu kamar mandi. Dilihatnya Fahri terduduk dibawah guyuran air shower.
"Bangun Fahri! Kamu itu seorang perwira!! Apa karna perempuan ****** itu kamu seperti ini? Sadar Fahri!!" teriak Andi mengguncangkan tubuh Fahri.
Namun Fahri masih tertunduk lesu dengan tatapan kosong. Meskipun Andi tidak berniat menyakiti Fahri, tapi untuk menyadarkannya Andi menampar pipi Fahri dengan cukup keras.
Plaaakkkkkkkkk!!
"Kamu laki-laki! Kamu perwira!! Gisya saja mampu!! Sadar brengsek!" teriak Andi yang membuat Fahri terkesiap. Mendengar Andi menyebutkan nama Gisya membuat Fahri tersadar.
"Kenapa semua wanita yang aku sayang meninggalkanku Ndi. Pertama Ibu, sekarang Santi." ucap Fahri masih dengan tatapan kosong. Mungkin airmatanya sudah tidak bisa keluar lagi.
"Kamu masih punya Mama Risma! Dia yang merawat dan mendidik kamu sampe kamu bisa seperti sekarang, Ayolah Ri, ini bukan Fahri yang aku kenal." ujar Andi mencoba menyemangati Fahri.
"Gimana kabar Gisya?" tanya Fahri tiba-tiba.
"Dia sudah sadar, hanya saja masih dalam perawatan insentif. Kita ditunggu Komandan di Kantor, cepat bersiap!" ucap Andi.
Setelah mengganti bajunya, Fahri dan Andi menuju ke Kantor Komandan. Mereka akan ditugaskan ke Papua besok pagi, sebagai seorang Abdi Negara mereka harus siap kapanpun dan dimanapun untuk bertugas.
Fahri merupakan putra dari seorang Tentara, namun Ayahnya gugur saat sedang bertugas. Sedangkan Ibunya meninggal dunia karena depresi. Saat itu Fahri berusia 8 tahun. Karena kedua orangtuanya merupakan anak tunggal, Fahri benar-benar tidak memiliki kerabat. Hingga akhirnya dia diangkat anak oleh Mayjen Hari Prabowo dan istrinya. Fahri dididik dan dirawat selayaknya anak mereka sendiri, karena pada saat itu beliau belum memiliki anak.
Flashback On
Fahri yang baru saja ditinggalkan Ibunya mengalami trauma psikis. Dia tidak mau bicara dengan siapapun dan tidak mau makan apapun. Hingga akhirnya Risma dan Hari memutuskan untuk mengadopsi Fahri. Setelah disetujui oleh Kesatuan, Hari mulai mendekati Fahri dan mengajaknya bicara. Fahri yang selalu mendapatkan perhatian keduanya pun mulai luluh.
"Fahri, mulai saat ini Om dan Tante ini adalah kedua orangtuamu. Kami akan menyayangi kamu seperti putra kami sendiri. Berjanjilah, teruskanlah perjuangan Dika sebagai seorang perwira. Fahri paham?" ucap Hari.
"Iya Papa Hari, Fahri paham. Terimakasih Papa dan Mama mau merawat Fahri," tutur Fahri.
"Kamu panggil Mama, Nak?" tanya Risma dengan mata yang berkaca-kaca.
"Iya Mama Risma, maafkan Fahri. Sekarang Fahri bahagia punya Mama dan Papa. Fahri berjanji akan membanggakan Ayah, Ibu, Mama dan juga Papa." tutur Fahri memeluk erat Risma.
"Terimakasih, Nak. Fahri anak Mama tersayang." Risma terus memeluk Fahri.
Risma membuktikan ucapannya, dia merawat dan mendidik Fahri seperti putra kandungnya sendiri. Hingga dua tahun kemudian, Risma mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki. Tapi Risma tidak pernah membeda-bedakan, mereka diperlakukan sama. Itulah yang membuat Fahri sangat menyayangi kedua orangtua angkatnya.
Singkat cerita, Fahri baru saja lulus SMA. Sudah 1 tahun ini, Fahri menjalin hubungan dengan Santi. Gadis manis yang selalu ada disampingnya. Fahri akan mengutarakan niatnya untuk masuk ke Akademi Militer. Saat ini mereka sedang duduk berdua di teras Rumah Santi.
"San, aku akan meneruskan ke Akmil. Apa kamu akan menungguku?" tanya Fahri pada Santi.
"Aku akan selalu mendukung apapun pilihan kamu, Ri. Aku selalu menunggu kamu, tapi maaf aku harus mengikuti kedua orangtuaku. Kami akan pindah ke Jakarta." tutur Santi menjelaskan.
"Tidak apa-apa, kita masih bisa berkomunikasi via telpon. Bisakah kamu setia menungguku?" tanya Fahri sambil menggenggam tangan Santi.
"Santi tidak akan menunggu kamu yang tidak jelas!" tegas Ayah Santi yang baru saja datang.
"Tapi Om, saya sangat mencintai Santi." tutur Fahri.
"Masa depan anak saya bukan hanya makan cinta! Masuk Santi!" tegas Ayah Santi.
Santi pun hanya bisa menuruti keinginan Ayahnya, dan Fahri pun tidak bisa berbuat apa-apa. Akhirnya Fahri memutuskan untuk kembali kerumahnya.
Risma melihat wajah lesu putranya, dia yakin bahwa putra kesayangannya itu sedang tidak baik-baik saja.
"Abang baru pulang? Sini duduk disamping Mama," pinta Mama Risma. Fahri berjalan mendekati sang ibu, dan berbaring dipangkuannya.
"Kenapa Abang lesu gitu? Kayak Mama gak kasih makan aja kamu bang!" canda Mama Risma.
"Orangtua Santi tidak mengizinkan kami berpacaran Ma," tutur Fahri.
"Loh kenapa? Bukannya selama ini baik-baik aja,"
"Karena Abang meneruskan ke Akmil Ma, Papanya bilang kalo Tentara itu tidak punya masa depan. Abang ingin meneruskan perjuangan Ayah, Ma. Abang ingin membuat kalian bangga sama Abang."
Risma menghela nafasnya, dia membelai rambut putranya dengan penuh kasih sayang. Saat ini Fahri sedang dalam usia yang labil, Risma tidak ingin putranya hanya mengikuti ego semata.
"Bang, jalan Abang masih panjang. Kalo Santi memang ditakdirkan menjadi jodoh Abang, sejauh apapun serumit apapun hubungan kalian. Pasti kalian akan bersatu, sekarang Abang harus mempersiapkan diri. Buktikan bahwa Abang mampu membanggakan kita semua. Menurut Mama, untuk saat ini kejarlah cita-cita Abang. Jangan pikirkan yang lain," tutur Risma menasehati putra kesayangannya.
"Iya Ma, Abang paham sekarang. Terimakasih ya, Ma. Sudah menjadi Mama terbaik buat Abang." ucap Fahri memeluk erat sang Ibu.
"Ih Abang kayak bayi peluk-peluk Mama," ucap Fabian adik Fahri satu-satunya.
"Biarin emang ini Mama Abang, wleee" Fahri menjulurkan lidahnya meledek sang Adik.
"Abaaaangggg!! Itu juga Mamanya Bian, awas Bian bilangin Papa," ucap Bian mengejar Abangnya yang sudah berlari.
"Abang, Bian, udah nanti capek! Sini, kalian berdua itu kesayangan Mama!" Mereka berhambur memeluk Risma bersamaan. Fahri merasa beruntung menjadi anak mereka, meskipun bukan anak kandung. Tapi kasih sayang mereka begitu besar.
Malam itu Fahri sedang mempersiapkan kebutuhannya selama Akmil. Ponsel Fahri berdering, satu pesan masuk dari Santi.
Santi.
Aku akan menunggu kamu Fahri, semangat! Semoga kamu cepet lulus dan bisa membanggakan semua orang. Aku pamit, hubungan kita akan baik-baik saja.
Fahri.
Terimakasih sayang. Jika sempat, aku pasti akan menghubungi kamu. Jaga hubungan ini, suatu saat aku akan meminangmu.
Santi.
Aku akan menunggu saat itu tiba 🤗❤
Mendapat pesan dari Santi, membuat Fahri semakin bersemangat untuk memperjuangkan hubungan mereka.
Setelah lulus Akmil, Fahri mendapat tugas di NTT. Namun karena prestasinya bagus, setelah setahun disana Fahri mendapatkan kenaikan pangkat dari Lettda menjadi Lettu dan kebetulan ditugaskan di Jakarta. Hubungan Fahri dan Santi pun dikatakan baik-baik saja, hanya mereka jarang berkomunikasi karena kegiatan Fahri yang sangat sibuk.
Saat tiba di Jakarta, Fahri menyempatkan diri untuk mengunjungi Santi. Dia sangat merindukan pujaan hatinya, tapi lagi-lagi Semesta tidak berpihak padanya. Fahri diusir oleh kedua orangtua Santi. Dengan berat hati, Fahri kembali ke Batalyon.
Santi terus membuat Fahri tetap bersemangat untuk memperjuangkan hubungan mereka. Itulah yang membuat Fahri sangat mempercayai Santi. Tapi ternyata, itu hanya untuk menutupi rasa bersalahnya terhadap Fahri.
Flashback Off.
Andi dan Fahri sedang menyiapkan barang-barang yang akan mereka bawa. Malam ini Andi menyempatkan diri untuk berpamitan kepada Febri dan orangtuanya. Kebetulan, mereka semua masih berada dirumah sakit menunggu Gisya yang kondisinya kembali kritis. Fahri menemani Andi, karena dia juga ingin melihat Gisya. Mungkin untuk yang terakhir kali, pikir Fahri. Saat ini mereka sedang berada di Ruang Tunggu.
"Assalamu'alakum," ucap Fahri dan Andi bersamaan.
"Walaikumsalam," jawab mereka semua.
Fahri menghampiri Bunda Syifa yang terlihat lemas dipelukan Uwak Ais.
"Bu, ini Fahri. Ibu harus kuat, Gisya gadis yang kuat. Fahri yakin semuanya akan baik-baik saja" ucap Fahri mengusap lembut bahu Bunda Syifa.
"Aamiin, do'akan Gisya ya, Nak Fahri. Percayalah, kalian akan mendapatkan pengganti mereka yang jauh lebih baik,"
"InshaAllah bu, saya pamit Bu. Saya ditugaskan ke Papua, sampaikan salam saya terhadap Gisya. Semoga Gisya lekas sembuh dan bahagia." Do'a Fahri tulus untuk Gisya.
Sementara Andi saat ini sedang berada di Kantin Rumah Sakit bersama Febri dan Ibunya.
"Dinda, Ibu. Saya mendapat tugas ke Papua, besok pagi saya akan berangkat. Saya tidak tau sampai kapan, maaf jika saya tidak bisa menepati janji saya untuk meminang Dinda bulan depan. Saya pasrah, apapun keputusan Ibu dan Dinda. InshaAllah saya terima," tutur Andi menjelaskan.
"Mama gimana Febri aja, Mama menyerahkan semua keputusan pada Febri. Mama hanya ingin anak Mama bahagia. Kalian bicara, dari hati ke hati. Mama menemani Bunda Syifa dulu," pamit Mama Rini.
"Bagaimana keputusan Dinda?" tanya Andi dengan rasa gelisah.
"Mas, bukan sekali dua kali kita seperti ini bukan? Bedanya, saat ini kita sudah berkomitmen. InshaAllah aku akan selalu menunggu, Mas. Aku percaya takdir Allah, hati-hati disana ya Mas. Harus ingat ada aku yang menunggumu disini," tutur Febri meyakinkan Andi.
"Terimakasih Dinda, Mas akan selalu ingat itu. Semoga Allah menjaga hubungan kita, hingga Mas menghalalkanmu nanti," ucap Andi memeluk Febri.
Fahri meminta izin untuk masuk ke Ruang Rawat Gisya, entah kenapa Fahri ikut merasa bersalah atas kejadian yang menimpa Gisya. Padahal dia dan Gisya sama-sama korban pengkhianatan. Fahri berjalan mendekati Gisya yang terbaring lemah dengan berbagai macam alat yang menempel pada tubuhnya.
"Gisya, ini aku Fahri. Aku tau, kamu bisa mendengarkan aku. Bangunlah Gisya, kasihan Bunda dan yang lainnya. Aku yakin kamu wanita yang kuat, aku pamit Gisya." Fahri melihat ada airmata keluar diujung mata Gisya.
"Semoga kamu menemukan kebahagiaanmu, begitupun dengan aku. Tersenyumlah Gisya, berbahagialah. Assalamualaikum," bisik Fahri ditelinga Gisya.
Para perawat yang menyangka Fahri kekasih Gisya merasa terharu dengan sikap Fahri.
"Romantis banget! Berasa nonton drama live," ujar salah seorang perawat yang bernama Indri.
"Jadi pengen punya pacar tentara," ucap salah satu Dokter.
Fahri keluar dari Ruang Rawat Gisya dan berpamitan kepada semuanya, begitupun dengan Andi.
"Kalian jaga diri! Jangan lupain aku, walau pertemuan kita singkat tapi pertemanan kita tetep berlanjut," tegas Jafran memeluk Fahri dan Andi.
"Siap pak pilot, kalian juga selalu jaga diri. Lancar pernikahan kalian, dan semoga aku bisa segera menyusul." tutur Andi sambil memegang erat tangan Febri.
"Aamiinn, Ingat kita semua tetap berteman! Kalian jangan lupakan itu," ucap Yuliana.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 207 Episodes
Comments
Ita Retno
❤️❤️❤️😍😍😍😍
2023-05-06
0
Daffodil Koltim
big hug💞💞💞😢😢😢😢
2022-06-18
0
Bilqis
suka
2022-06-03
0